Andra menarik Aina menuju walk in closet untuk mengambil peluru milik Danu yang tersisa cukup banyak.
"Kamu tahu jenis pistol ini?" tanya Andra sambil mengambil peluru di dekat belasan pistol peninggalan Danu.
"Tidak, Tuan."
"Pistol ini jenis semi-otomatis."
"Aku pikir semua pistol sama."
"Tidak. Ada beberapa jenis. Cara kerja pistol ini akan otomatis mengeluarkan selongsong peluru dari kamar peluru, lalu mengambil peluru baru dari magazen."
Aina mengangguk-angguk agar terlihat paham, padahal tidak ada sedikit pun perkataan Andra yang menyangkut di otaknya.
"Kamu tahu apa ini?" Andra menunjukkan benda berbentuk persegi panjang.
"Tidak, Tuan."
"Ini magazen—tempat peluru. Perhatikan caraku memasukkan magazen ini!" Andra memasukkan benda persegi panjang itu ke bagian bawah pistol. "Kamu masukkan peluru sesuai dengan kapasitas kamar peluru. Pistol ini memiliki kapasitas kamar peluru hingga 20 butir, setelah itu kamu kunci di posisi bagian belakang dengan tombol atau pin di bagian samping," jelas Andra sambil menunjuk bagian-bagian pistol.
"Apa bagian pistol ini juga ada nama-namanya?"
"Tentu saja ada, di bagian depan atas ada barrel, rullet. Di bagian depan bawah ada recoil spring. Di bagian atas belakang ada slide, breech block, dan pelatuk atau hammer. Di bagian dalam ini ada magazen Spring, dan magazen tempat peluru, lalu di bawah ini ada pemicu atau trigger untuk menembak."
Lagi-lagi Aina mengangguk pura-pura paham.
"Sudah mengerti?"
Aina dengan cepat menulis, "Sudah!" Padahal hingga penjelasan terakhir hanya kata peluru yang ia tahu.
Kemudian satu tangan Andra melingkari pinggang Aina dan satu tangannya lagi menarik tangan Aina untuk sama-sama memegang pistol lalu mengarahkan ke bagian bawah salah satu rak. Hingga tanpa disadari, mereka berpelukan dari belakang.
"Luruskan tanganmu dan fokuskan tatapan pada ujung pistol!"
Aina langsung mengikuti arahan Andra dengan serius dan tegang.
"Tarik triggernya dengan jari telunjukmu!"
Jari telunjuk Aina yang digerakkan jari telunjuk Andra langsung menarik trigger sesuai perintah Andra.
Dor … dor ….
Andra terus menembak bagian bawah rak yang kosong hingga beberapa kali.
Dari bunyi tembakan pertama, Aina sudah menunduk ketakutan, tetapi Andra tidak melihat wajahnya hingga setelah selesai menembak, ia mendengar nafas Aina cukup cepat.
"Na, Kamu tidak apa-apa?" Andra langsung membalikkan tubuh Aina agar bisa menatap wajahnya.
Belum sempat Andra melihat wajahnya, Aina sudah mengalungkan tangannya di leher Andra dan memeluk seerat mungkin lalu menangis ketakutan.
"Bang Danu, aku takut …," adunya dalam hati dan menganggap tubuh Andra adalah tubuh Danu.
Bukanya khawatir mendengar tangisan Aina, Andra justru menahan tawa tanpa membalas pelukannya.
"Kemarin dia sangat berani dan dengan angkuhnya menodongkan pistol ke keningku. Sekarang dia menangis ketakutan saat mendengar suara tembakan. Lalu untuk apa menyiapkan pistol tadi pagi, jika dia takut suara tembakan? Yang seperti ini ingin menjadi bodyguardku? Yang ada aku yang terus melindungi dia," batin Andra.
Kemudian Andra membalas pelukan Aina untuk menenangkannya. "Tenang, ok. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan suara tembakan, jika ingin benar-benar menjadi bodyguardku."
Aina mengangguk di ceruk leher Andra dan berusaha sebisa mungkin menghentikan tangisnya.
"Sudah bisa tenang?" tanya Andra saat pelukan Aina mulai mengendur.
Aina mengangguk lalu menulis. "Kenapa tadi ada peluru yang keluar dari bagian atas pistol?"
"Itu bukan peluru, tapi selongsong. Ledakan peluru akan menggerakkan sistem gas untuk mendorong hammer, sekaligus bagian atas pistol, ke belakang. Pada saat bagian atas mundur ke belakang, selongsong peluru akan terlempar dari kamar peluru, dan peluru baru akan masuk mengisi kamar peluru dari magazen."
"Saya pikir peluru dan selongsong itu sama."
"Tidak. Dua benda itu berbeda. Peluru itu ditembakkan dengan kecepatan tinggi, sedangkan selongsong, yang menjadi wadah proyektil peluru," papar Andra. "Bisa kita mulai lagi?"
"Bisa!" tulis Aina, lalu membalikkan badan sambil mengusap jejak air matanya.
Andra kembali memeluk Aina dari belakang dan mengarahkan tangannya untuk memegang pistol lagi.
"Fokuskan tatapanmu pada satu titik yang akan kamu tembak!" Perintah Andra, lalu Aina mengangguk dengan patuh.
"Siap!" ujar Andra sambil menurunkan tangannya agar Aina yang memegang sendiri pistol itu.
"Hmm!"
"Tembak!'
Kedua tangan Andra langsung menutup kedua telinga Aina agar bisa meredam bunyi tembakan di telinganya.
Dor … dor … dor ….
Wajah Aina menegang dan memucat. Tubuhnya terasa kaku setelah tiga kali menembak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Andra sambil membalikkan tubuh Aina karena tidak menunjukkan pergerakan.
Aina menghela nafas untuk mengembalikan kesadarannya yang terasa hilang. Kemudian ia menulis dengan tangan yang masih gemetar setelah memberikan pistol pada Andra.
"Bagaimana tembakan saya?"
"Masih sangat buruk. Bahkan tembakanmu sangat jauh dari titik target."
"Saya akan sering latihan menembak di sini mulai besok!"
"Jangan di sini bodoh! Cukup aku mengorbankan satu rak hari ini. Kalau kamu latihan menembak setiap hari di sini, kamu akan merusak seluruh ruangan ini."
"Lalu saya harus latihan di mana?"
"Tentu saja di shooting range."
"Di mana itu?"
"Di Jakarta banyak shooting range atau lapangan-lapangan yang menjadi tempat latihan menembak. Kamu bisa cari sendiri. Kamu pasti punya teman bergaul, 'kan? Kamu bisa tanyakan pada temanmu."
Aina langsung menunduk sedih mendengar kata bergaul dan teman-teman.
"Kenapa, Na? Apa kamu tidak punya teman? Atau tidak ada yang mau berteman denganmu?"
"Saya tidak boleh berteman dengan siapa pun oleh Kakak saya."
Andra berpikir setelah membaca tulisan Aina. "Apa Danu seketat itu menutupi identitas adiknya, sampai tidak boleh bergaul dengan siapa pun?" Lalu Andra kembali bertanya pada Aina. "Apa kamu tidak punya teman sama sekali?"
"Punya, tetapi hanya satu di kampus dan beberapa waktu sekolah SMA."
Andra mengusap-usap kepala Aina untuk menghibur, "Jangan khawatir, setelah ini kamu pasti banyak bergaul dengan ratusan bodyguardku."
Aina menunjukkan senyum tulusnya saat menunjukkan tulisan, "Terima kasih."
Senyum Aina membuat Andra kagum dengan wajah manisnya. "Senyumnya tidak terlalu buruk jika sedang seperti itu."
"Tuan, tadi Anda bilang saya bisa memulai tugas sebagai bodyguard hari ini. Lalu kapan kita akan pergi dari sini?"
Aina sudah sangat ingin memasuki kediaman keluarga Prayoga hari ini juga. Meskipun ilmu bela dirinya sangat cetek dan hanya bermodalkan niat juga ambisi.
"Lagi-lagi kamu berpikir kita akan pergi."
"Lalu jika kita tidak pergi, bagaimana saya bisa melakukan pekerjaan saya?"
"Tunggu sebentar!" Andra langsung merogoh sakunya untuk melihat pesan dari seseorang yang sejak tadi ia tunggu.
Senyum licik langsung terbit di wajah Andra sambil menatap Aina saat mengetahui seseorang yang ia tunggu sudah berada di basement apartemen menuju ke sini.
"Ada apa?" tanya Aina heran melihat ekspresi wajah Andra.
"Ikut aku sekarang!" Andra langsung menarik tangan Aina keluar dari walk in closet menuju ruang tamu.
Setelah tiba di ruang tamu, Andra memberikan pistol yang ia genggam pada Aina, hingga membuat Aina melayangkan tanya melalui tatapannya.
"Setelah aku mandi, aku memberitahu ratusan bodyguardku bahwa aku diculik dan disekap di sini. Sekarang mereka sedang berada di lift, siap untuk menembakmu karena telah berani menyekapku. Ini adalah pekerjaan sekaligus latihan pertamamu menjadi bodyguard. Aku ingin lihat, seberapa pandainya kamu melindungi diri dari serangan musuh menggunakan pistol ini saat tiba-tiba ratusan bodyguardku membuka pintu."
"Apa itu berarti saya akan membunuh?"
"Tentu! Seorang bodyguard itu harus terbiasa dengan membunuh."
"Apa tidak ada cara lain selain membunuh untuk melindungi diri? Misalnya saya menodongkan pistol ke kepala Anda dan mengancam akan menembak Anda jika bodyguard Anda menembak saya?"
"Itu sama saja kamu menjadikan aku tawananmu. Bagaimana jika suatu saat nanti kamu dihadapkan pada situasi dimana kamu harus melindungi aku dari serangan musuh yang ingin mencelakai atau membunuhku? Tidak mungkin kamu mengancam mereka dengan menodongkan pistol ke kepalaku dan balik mengancam akan menembak kepalaku jika mereka berani bergerak. Yang ada mereka akan ikut membantumu dengan menembak seluruh tubuhku."
"Tapi saya takut jika harus membunuh."
"Bukankah sudah kubilang, bodyguard itu harus terbiasa dengan membunuh."
Aina menarik nafas berat. "Aku pikir pekerjaan bodyguard hanya mengikuti saja dan tidak seberat ini," keluhnya.
"Siap-siap, sepertinya mereka sudah dekat!" ujar Andra. "Ingat cara memegang pistol yang aku ajarkan tadi!"
Aina langsung membalikkan badan menghadap pintu utama. Kedua tangan mengacungkan pistol ke depan. Tatapan mata mengikuti arah pistol dan fokus pada satu titik. Telinga Aina mulai menajam saat mendengar derap langkah semakin dekat.
saat handle pintu yang tidak bisa dikunci itu mulai bergerak. Aina mulai menggerakkan telunjuknya untuk menarik trigger bersamaan dengan handle pintu yang semakin ke bawah.
Di detik terakhir, Aina menarik trigger, Andra baru mengingat sesuatu yang sangat berbahaya jika tidak segera menghentikan Aina.
"Sial! Aku lupa mengambil magazen-nya!" Andra langsung memeluk Aina dari belakang dan sengaja menjatuhkan tubuhnya agar tembakan Aina meleset dari pintu.
Dor … dor … dor …
Aina menembak hingga beberapa kali saat jatuh ke lantai tepat di depan Andra.
Juan yang sudah ingin masuk langsung kembali ke luar dan bersembunyi di balik dinding.
"Berengsek! Andra bilang orang yang menculiknya tidak berbahaya dan tidak perlu menggunakan senjata," umpat Juan lalu mengambil pistol yang ada di balik jaketnya dan balik menembak ke dalam apartemen tanpa melihat.
Dor … dor … dor ….