Di dalam ruangan, setelah sama-sama terjatuh, Andra ingin melihat wajah Aina untuk memastikan dia tidak ketakutan, tetapi belum sempat melihat wajahnya, Juan sudah menembak ke dalam secara brutal. Andra langsung memeluknya dan berguling hingga ke depan sofa untuk menghindari peluru nyasar dari Juan.
Niat hati Andra ingin mengerjai Aina agar pertemuannya dengan Juan berlangsung dramatis. Namun, ia justru lupa bahwa, pistolnya belum dikosongkan. Alhasil Juan berpikir Aina akan menyerangnya dan Juan balik menembak untuk melindungi diri.
“Tenang, ok!” ujar Andra sambil memeluk Aina yang memejamkan mata ketakutan saat menunggu Juan menghentikan tembakannya.
Dua tangan Aina yang ada di depan d**a langsung menarik kerah kaos Andra untuk menyembunyikan wajahnya di leher Andra saat berondongan tembakan terus terdengar.
Andra dan Aina baru bisa mengendurkan tenaganya setelah tidak mendengar suara tembakan lagi.
“Na, mantan kekasihmu benar-benar keterlaluan!” ujar Andra di telinga Aina.
Aina tidak fokus dengan ucapan Andra mengenai mantan kekasih karena masih mengatur nafasnya, hingga ia mendengar suara yang sudah enam tahun tidak ia dengar.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin memperkosa dia?!” hardik Juan sambil menarik Andra agar menjauh dari tubuh Aina ada di bawahnya.
Aina langsung membuka matanya untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar suara orang yang ia pikir tidak akan kembali lagi.
"Kak Juan?!"
Aina segera berdiri dan memeluk Juan seerat mungkin sambil meluapkan tangis kerinduan serta kesedihan pada nasib Danu. Jika ia tidak sedang pura-pura bisu, mulutnya pasti langsung mengadu perihal kejanggalan kematian Danu di media dan penganiayaan yang ia saksikan.
Aina melepaskan pelukannya untuk menulis "Kenapa Kak Juan pergi lama sekali? Aku sangat merindukanmu, Kak!"
Juan sempat heran dengan cara Aina menyampaikan perasaannya yang lebih memilih menulis daripada bicara, tetapi ia mengikuti cara Aina karena tidak tahu apa yang terjadi selama dua hari dua malam antara Andra dan Aina hingga Aina tidak mau bicara.
“Aku juga merindukanmu,” balas Juan.
Andra yang baru saja beranjak dari posisi berbaringnya, langsung berdiri dan pergi karena tidak ingin mengganggu pertemuan dua saudara angkat itu.
“Nikmati pertemuan kalian,” ujar Andra sambil berlalu menuju kamarnya.
“Kenapa kamu tidak mau bicara?” bisik Juan sambil memeluk Aina.
“Aku pura-pura bisu, Kak," balas Aina dengan berbisik pula.
“Kenapa?”
Aina bingung, harus memberi alasan apa. Ia tahu Juan dan Danu sama-sama over protective dalam menyayanginya. Jika ia bilang bekerja, Juan pasti tidak akan mengizinkan. Jika mengatakan untuk membalas dendam, pasti lebih tidak mengizinkan lagi.
“Nanti saja, Kak, ceritanya. Aku ingin puas memeluk Kakak dulu.”
Juan langsung mengeratkan pelukannya sambil mencium kepala Aina dalam-dalam. “Aku juga merindukanmu. Maaf, jika aku pergi terlalu lama.”
“Kak, berjanjilah, Kakak tidak akan pergi lagi. Bang Danu sudah tidak ada, Aku cuma punya Kak Juan. Aku belum bisa hidup sendirian, Kak." Aina mulai terisak.
“Aku janji tidak akan pergi lagi. Kalaupun aku pergi, aku pasti akan membawamu.”
“Harus, Kak! Kakak harus membawaku. Aku pasti akan ikut ke mana pun Kakak pergi.”
Keduanya terus saling memeluk sambil terus berbicara pelan. Juan meluapkan semua kerinduan dan kasih sayangnya pada Aina, begitu juga sebaliknya. Pelukan keduanya melebihi sepasang kekasih yang baru bertemu. Juan berkali-kali mencium kepala Aina karena rindu yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata dan pelukan. Sedangkan Aina, menunjukkan rasa kebahagiaannya melalui pelukan eratnya karena kembali menemukan tempat untuk bermanja setelah ia pikir hanya tinggal seorang diri di dunia ini.
•••••
Seharian ini Andra lebih banyak di balkon kamar mengurusi pekerjaannya di New York melalui laptop yang Juan bawa, sedangkan Juan dan Aina, menghabiskan waktu siangnya dengan jalan-jalan bersama. Dua pintu yang rusak pun sudah diperbaiki oleh maintenance apartemen siang tadi, dan kini sudah bisa ditutup dan dikunci seperti semula.
Saat ini ketiganya sedang makan malam bersama dengan masakan buatan Juan dan Aina. Pada makan kali ini, Aina bisa duduk makan di meja bersama Andra karena Juan yang mengajaknya.
"Tuan Andra bilang, bodyguard tidak boleh makan satu meja dengan bosnya," adu Aina dalam tulisannya saat Juan mengajak duduk di sampingnya.
Andra hanya tersenyum kecut melihat Aina mengadu pada Juan.
“Aku yang menginginkanmu makan bersama. Kamu tidak usah pedulikan dia,” balas Juan.
Aina langsung memeluk Juan dari belakang dan mencium pipinya kuat-kuat "Kak Juan memang yang terbaik," tulisnya dengan tangan satu karena satunya sibuk memeluk.
“Tentu!” balas Juan.
Aina segera duduk di samping Juan dan mengisi piring kedua pria itu dengan masakkan yang ada di tengah meja.
“Kenapa kamu tidak mencariku?” tanya Andra pada Juan.
“Dari hari pertama kamu hilang, aku sudah mencarimu. Bahkan malam itu aku dan yang lain berkali-kali mendatangi area pemakaman. Hingga paginya aku bertanya pada penduduk sekitar dan mengatakan semalam ada seorang wanita meminta bantuan untuk membawa suaminya ke mobil satu jam setelah kamu hilang. Aku tidak berpikir sedikit pun kamu ada di sini dan terus mencari ke berbagai tempat bahkan ke luar kota. Mungkin jika tadi pagi kamu tidak memberitahu, aku masih tetap berkeliling mencarimu sampai detik ini,” jawab Juan.
“Apa tidak ada satu orang pun di rumah yang memberitahu keberadaanku?”
“Tidak ada. Bahkan Ibumu selalu memasang wajah sedih setiap kali aku kembali dari mencarimu.”
Andra tersenyum kecut ketika teringat kedatangan Levin dan Lucas kemarin. Jelas-jelas mereka melihat keberadaan dirinya, tapi tidak memberitahu pada Juan.
“Mereka benar-benar ingin menyingkirkan aku secara terang-terangan.”
“Mereka siapa?” tanya Juan penasaran.
“Dua bocah serakah itu!”
“Dua, tiga atau empat? Bukankah adik kesayanganmu ada empat?” ledek Juan, karena ia tahu siapa bocah serakah yang Andra maksud.
“Mereka bukan adikku, berengsek!” hardik Andra.
Juan menanggapi kemarahan Andra dengan senyum meledek. “Itu menurutmu, tapi tidak menurut orang lain.”
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggap mereka sauda—“ Andra tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi saat melihat Juan menempelkan jari telunjuknya ke bibir, tanda ia harus berhenti bicara.
Andra dan Juan langsung melihat Aina yang tanpa mereka sadari sudah memejamkan dengan tetap duduk.
Juan menarik piring yang ada di depan Aina perlahan saat wajah Aina semakin menunduk dan hampir mengenai piring.
“Dia tidur atau pingsan?” tanya Andra dengan suara kencang.
“Ssttt … pelankan suaramu, jangan sampai dia bangun!” tegur Juan dengan suara berbisik.
“Memangnya kenapa kalau dia bangun?” Andra semakin mengencangkan suaranya berharap Aina kaget lalu bangun.
“Berengsek!” hardik Juan.
Juan berdiri perlahan dengan menahan dagu Aina agar wajahnya tidak jatuh ke meja. Kemudian ia menggendong Aina sepelan mungkin agar Aina tetap tertidur lalu membawanya ke kamar.
“Begitu bertemu Juan, jiwa sok beraninya hilang entah ke mana dan berganti gadis manja,” umpat Andra.
Melihat Aina tertidur seperti itu, ia teringat perdebatannya tadi padi, saat Aina mengatakan hanya tidur satu jam karena menjaganya. Namun meskipun begitu, tidak sedikit pun ada perasaan bersalah di hatinya melihat Aina sampai tertidur saat makan.
Andra terpaksa melanjutkan makannya sendirian karena Juan tidak kembali lagi sampai makannya habis, padahal Juan baru memakan sedikit makanannya dan tersisa cukup banyak.
Kemudian setelah selesai makan, Andra duduk di ruang tamu, menonton televisi sambil menunggu Juan karena masih ingin melanjutkan perbincangannya dan menyusun rencana untuk mengungkap pembunuhan Danu dan papahnya. Namun, satu jam menunggu, Juan tidak kunjung datang hingga ia kesal sendiri lalu mendatangi Juan di kamar Aina.
Saat tiba di kamar, Andra melihat Juan sedang telentang dengan tangan kanan bermain ponsel dan tangan kiri memeluk Aina yang sedang tertidur.
“Kenapa kamu tidak keluar lagi!” tanya Andra, kesal.
Juan langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir agar Andra memelankan suaranya.
“Dia sudah tidur untuk apa aku harus memelankan suaraku!” protes Andra.
"Jika suaramu sekencang itu, dia pasti bangun."
"Aku tidak perduli, cepat keluar!" perintah Andra.
“Aku masih merindukan adikku dan masih ingin tidur bersama dia.”
“Apa? Dramatis sekali kalian. Masih ada hari esok. Sekarang waktunya kamu denganku. Kita harus membahas rencana yang akan kita lakukan selama di sini.”
“Itu masih bisa besok,” balas Juan.
Andra mendengus mendengar Juan lebih mementingkan Aina dari pada dirinya. Ia langsung menarik tangan kanan Juan hingga ponselnya jatuh.
“Ayo cepat!” ujarnya saat menarik Juan.
“Dra, nanti Aina bangun!” protes Juan.
Andra menghentikan gerakannya saat Juan menyebutkan nama yang baru ia dengar. “Aina?! Namanya Aina?”
“Iya, nama adikku Aina, kenapa?”
Andra melepas tangan Juan lalu bekacak pinggang sampai tersenyum kecut, menertawai kebodohannya. “Dia bahkan merancang kebohongan dari yang terkecil,” gumamnya.
“Kamu bilang apa?” tanya Juan karena tidak jelas mendengar ucapan Andra.
“Lain kali jika mencari adik angkat, cari anak yang baik bukan pembohong seperti dia!”
“Apa maksudmu?”
“Dia bilang padaku namanya Na, bukan Aina.”
“Itu hanya perkara nama bukan masalah besar dan tidak perlu menjelekan adikku!”
“Bukan masalah besar kamu bilang? Apa kamu tahu apa yang Si Bisu ini lakukan saat menculik dan menyekapku?”
“Apa?”
“Dia memukul tengkukku sampai aku tidak sadarkan diri kemudian mengikat tanganku dan membaringkan aku di lantai lalu membiusku berkali-kali. Tidak hanya itu, dia juga mengancam akan melucuti pakaianku dan menyebarkan videonya. Apa menurutmu itu bukan masalah besar?” Andra mengeluarkan unek-uneknya dengan berapi-api.
Alih-alih marah, Juan justru mencium kening Aina yang tertidur di lengannya. Lalu memuji dengan bangga. “Ternyata semakin dewasa dia semakin pemberani. Aku tidak menyangka, remajanya sangat manja pada aku dan Danu, begitu dewasa bisa menculik seorang Andra Prayoga. Bahkan, tidak ketahuan oleh puluhan bodyguardnya. Didikkan Danu memang tidak bisa diragukan lagi.”
Andra kesal dengan sikap Juan yang malah mengapresiasi wanita yang sudah menculik dan melecehkannya. Ia dengan kesal mengambil bantal dan melempar ke kepala Aina.
Juan dengan segera melindungi Aina dengan lenggang dan wajahnya. “Dra, jangan lempar ke Aina, nanti dia bangun!” omel Juan.
“Biarkan saja dia bangun. Kalian memang dua manusia menyebalkan!”
Andra mengitari tempat tidur dan berbaring di sisi satunya tepat di sebelah Aina. “Juan, apa Na benar-benar bisu?” tanya Andra langsung.
“Namanya Aina, bukan, Na,” protes Juan.
“Aku sudah terlanjur mengingatnya Na!” balas Andra.
“Telingaku terasa asing mendengarnya.”
“Jawab dulu pertanyaanku, Na benar-benar bisu atau tidak.”
Juan diam untuk berpikir. Ia sendiri bingung mengatakan ya atau tidak, karena hingga saat ini Aina belum menceritakan alasan kenapa dia berpura-pura bisu di depan Andra. “Kenapa kamu tanyakan itu? Apa kamu tidak percaya Aina benar-benar bisu?”
“Tidak sama sekali! Dia benar-benar gadis yang sangat pandai berbohong. Apa kamu tahu? Dia bilang Danu bukanlah kakaknya, melainkan pria yang menolongnya dari perampok dan kamu juga bukanlah kakaknya, tetapi mantan kekasih. Jadi wajar jika aku tidak percaya dia seorang tunawicara.”
“Aina berbohong sampai sejauh itu?” tanya Juan heran.