Aina baru melepas pelukannya setelah mendengar teguran Andra. Lalu dengan wajah lesu ia berjalan keluar ruangan untuk mengambil kertas.
“Kenapa dia sesedih itu mendapat ciuman dari pria tampan seperti aku? Harusnya dia merasa beruntung karena tidak semua wanita mendapatkannya,” gumam Andra saat melihat Aina berjalan.
"Bagaimana? Apa Anda sudah menerima saya?" Aina kembali menunjukkan tulisannya dengan wajah lesu karena masih tidak rela Andra menciumnya.
“Apa? Kamu tidak malu bertanya seperti itu? Jelas-jelas tadi aku yang melindungimu!”
"Tetapi saya melindungi Anda lebih dulu. Jika tadi saya tidak membangunkan Anda, Anda pasti masih tengkurap di lantai. Itu adalah bukti saya bodyguard yang sigap dan cekatan saat bahaya datang."
“Tingkat kepercayaan dirimu memang di atas rata-rata,” ejek Andra.
"Terima atau tidak?" tulis Aina lagi.
“Tidak!”
"Saya sudah lelah bernegosiasi sejak pukul setengah tujuh tadi hingga sekarang pukul delapan. Mungkin pria seperti Anda memang tidak bisa mencapai kesepakatan dengan musyawarah secara baik-baik, jadi, maafkan saya harus bertindak tegas!"
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Andra dengan wajah ketakutan saat Aina menjatuhkan kertas dan pulpenya begitu ia selesai membaca. Ditambah lagi ekspresi wajah Aina yang menunjukkan kelicikan.
Aina membuka kancing kemeja Andra yang tersisa dua buah lagi, lalu menurunkan dengan kasar sampai ke pinggang dan tidak bisa lepas seluruhnya karena terhalang tangan yang terikat hingga Andra bertelanjang d**a.
“Hei, Wanita gila, apa yang kamu lakukan?!” ujar Andra saat Aina membelai perutnya dengan tatap menantang dan kedua alis yang dinaikkan. “Jika kamu berani membuka ikat pinggangku, aku akan langsung menendangmu!” ancam Andra dengan kepanikan.
Aina tidak takut sedikitpun, ia malah membuka pengait celana Andra tanpa mengalihkan tatapannya dan perlahan menurunkan resleting.
Andra bingung harus bagaimana lagi, jika ia melangkah celananya pasti akan melorot jika ia diam saja, Aina yang akan menurunkan celananya.
Aina kembali mengambil kertas dan pulpen di dekat kakinya untuk menulis kata penegasan. "Bagaimana? Menerima saya atau tidak?"
“Gadis gila, kamu benar-benar memaksaku!”
"Terima atau tidak?"
Andra masih tetap berusaha berkelit dan mencari kata-kata lain agar bisa menolak wanita gila di hadapannya itu. Ia berpikir Aina sedang mencari perlindungan dengan tetap ngotot ingin menjadi bodyguardnya, padahal tanpa memaksa pun, Juan pasti akan melindunginya jika mereka sudah bertemu nanti. Namun, yang membuat ia bingung untuk menerima adalah, Aina pasti akan terus mengikutinya ke mana pun dan ia sangat malas diikuti siapa pun selain Juan.
Aina memukul-mukul kertas di depan wajah Andra agar Andra kembali membaca tulisannya karena terlalu lama berpikir.
“Jika kamu hanya ingin dilindungi, aku pasti akan melindungimu, tapi kamu tidak perlu menjadi bodyguardku.”
Aina langsung melempar kertas beserta pulpenya karena lagi-lagi Andra mengulur waktu. Selain itu ia tidak paham melindungi yang Andra maksud, karena ia berpikir Andra belum tahu ia adalah adik Danu. Dengan kesal ia memegang dua sisi celana Andra dan siap menurunkannya.
“Ok, ok, aku menerimamu sebagai bodyguardku!” ujar Andra sebelum Aina benar-benar menurunkan celananya.
Seketika wajah kesal Aina berubah jadi ceria. Senyum lebar langsung terbentuk di wajahnya. Mungkin, jika tidak malu Aina akan melompat kegirangan di depan Andra untuk meluapkan rasa senangnya karena pintu untuk masuk ke lingkungan keluarga Prayoga baru saja ia lewati dan tinggal membalas satu-persatu para penganiaya kakaknya. Ia dengan semangat mengambil kertas yang ia lempar untuk menulis ungkapan terima kasih.
"Terima kasih, Bosku!" tulisnya.
Andra memutar bola malas. Baru kali ini ia kalah telak dengan seorang wanita dan benar-benar dilecehkan harga dirinya sebagai pria tampan dan berwibawa. Jika Aina membuka pakaian karena tergoda dengan tubuhnya, mungkin ia tidak kesal dan tersinggung, karena ia sudah sering menghadapi wanita yang tergila-gila padanya, tapi Aina ingin melucutinya hanya untuk mengancam dan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali, seolah tubuhnya tidak indah sedikit pun.
Aina dengan semangat menaikkan kemeja Andra yang ia buka tadi.
“Tidak perlu! Biar aku saja!” hardik Andra kesal.
Aina langsung menarik tangannya dan kembali menulis, "Baik, Tuan,"
“Cepat buka ikatan tanganku!” perintah Andra.
Aina segera berlari ke meja nakas dekat tempat tidurnya untuk mengambil gunting dan segera menghampiri Andra untuk menggunting dasi yang melilit dua pergelangannya.
“Ck! Kamu benar-benar keterlaluan. 24 jam mengikat tanganku sampai tanganku mati rasa,” keluh Andra sambil mengibas-ngibaskan tangannya setelah terbebas dari ikatan.
"Tidak 24 jam, saya baru mengikat tangan Anda dini hari tadi, ketika pertama kali Anda sadar."
“Sama saja!” hardik Andra.
“Galak sekali. Tahu begitu, tidak akan aku buka ikatannya,” gerutu Aina membatin.
Andra kemudian keluar dari ruang walk in closet menuju lemari Danu untuk mencari pakaian ganti.
"Tuan mencari pakaian?" tanya Aina di samping Andra.
“Tidak! Aku sedang mencari musuh!” balas Andra ketus.
"Kenapa begitu saya melepas ikatan, Anda jadi galak? Apa Anda ingin saya ikat lagi?"
Andra mendengus membaca tulisan Aina. Ia membalikkan badannya hingga mereka saling berhadapan. “Bagaimana jika aku membalas perbuatanmu saat ini? Aku mengikat tanganmu lalu melucuti pakaianmu setelah itu aku memperkosamu.”
Bukannya takut, Aina malah menunduk sambil menahan tawa. “Ingin memperkosa? Seperti miliknya bisa bangun saja. Nafsunya saja kecil, bagaimana bisa memperkosa wanita?”
Andra heran melihat Aina tidak takut dengan ancamannya, malah tertawa dan terkesan meledek. “Kenapa tertawa?”
Aina menggeleng lalu menulis. "Tuan tidak perlu mencari pakaian di lemari kakak saya, belum tentu ukurannya pas. Tadi siang saya sudah membeli beberapa pakaian termasuk pakaian dalam untuk Anda. Saya mengukurnya dengan jumlah jengkal tangan saya di tubuh Anda saat pingsan."
Aina menunjukkan tulisan sambil menahan senyum. Kini, di matanya Andra adalah pria impoten dengan nafsu kecil dan bagian bawah yang juga kecil, bahkan tidak bisa berdiri, padahal tidak ada kaitannya d**a tanpa bulu dengan impoten.
“Katakan dulu kenapa kamu tertawa mendengar ancamanku?”
"Ini salah satu cara saya mengelabui musuh. Jika suatu saat saya menghadapi ancaman, saya harus bersikap santai. Namun, otak tetap berpikir, agar musuh tidak merasa berhasil telah menekan saya. Setelah musuh merasa gagal dengan umpanya, baru saya mengambil langkah."
“Sepertinya otak licikmu tidak bisa dianggap remeh.”
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan."
Andra lagi-lagi dibuat tersenyum kecut membaca tulisan Aina. “Sepertinya mulai malam ini kamu harus belajar membedakan pujian dan celaan.”
"Bukanya saya tidak bisa membedakan antara pujian dan celaan, tapi saya pura-pura merendah agar Anda tidak merasa puas telah mencela saya, jika saya tunjukkan ketersinggungan saya dengan kemarahan meskipun hanya berupa tatapan sinis, Anda pasti akan merasa puas dengan celaan Anda pada saya. Jadi saya sarankan, mulai malam ini Anda harus belajar memahami gerak-gerik lawan sebelum berbangga diri."
“Kenapa setelah aku menjadikanmu bodyguard, aku seperti sedang diajarkan banyak cara memahami lawan?”
"Bukan seperti, Tuan, tapi saya memang sedang mengajari Anda cara memahami lawan agar Anda tidak salah langkah. Atau Anda memang tidak memahami arti kata seperti?"
Andra mendengus membaca tulisan Aina yang mengatainya “Berani sekali kamu mengatai aku bodoh!”
"Apa ada kata-kata bodoh dalam tulisan saya sejak tadi?"
“Memangnya tidak ada, tapi itu intinya!”
"Maaf, Anda salah. Intinya bukan itu, tapi intinya saya sudah berhasil balik menyerang Anda dengan celaan yang lebih halus dan Anda dengan mudah tersinggung hingga membuat saya sedikit puas."
Andra sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia akui wanita bisu di depannya ini pandai menyerang balik dengan kata-kata dan ia tidak mau buang waktu hanya untuk merangkai kata tak berarti.
"Kenapa diam, Tuan? Apa Anda mulai merasa bangga memiliki bodyguard pandai bersiasat seperti saya?" ejek Aina saat melihat Andra terus menatapnya, tapi tidak bicara.
“Cepat ambilkan pakaianku!” perintah Andra dan mengabaikan pertanyaan Aina.
Aina menunduk sopan lalu keluar kamar untuk mengambil pakain Andra di kamarnya.
Kemudian keduanya melakukan kegiatan masing-masing, Andra membersihkan diri dan Aina membersihkan sekaligus merapikan kamar yang sudah berantakan oleh ulah Levin dan Lucas, bahkan hampir semua ruangan mereka porak-porandakan kecuali kamarnya dan dapur.
“Dasar pembunuh! Bisanya hanya membuat kekacauan!” gerutu Aina saat menyapu lantai.
Setelah itu Aina menghangatkan makanan yang sudah ia buat sore tadi untuk makan malam Bos baru dan juga dirinya. Namun, saat ia akan duduk untuk makan, Andra mencegah dan tidak mengizinkan ia makan satu meja bersama.
“Bodyguard itu selalu menjaga tuannya 24 jam, termasuk saat makan dan tidur. Jadi, jika kamu ikut makan denganku, siapa yang akan menjagaku? Bagaimana jika ada musuh yang menyerangku saat makan?”
"Tetapi ini masih di dalam apartemen, Tuan, mana mungkin ada yang menyerang?" protes Aina dalam tulisannya.
“Kamu harus berlatih dari sekarang, agar ketika aku berada di luar, kamu tahu apa harus dilakukan.” Andra mulai menyuap makanan dan benar-benar tidak membiarkan Aina makan malam.