“Apa kamu membawa ponselku?” tanya Andra setelah selesai makan.
"Saya tidak menemukan ponsel di saku pakaian Anda, jadi tidak ada ponsel Anda di sini."
Andra lupa bahwa ia meninggalkan ponselnya di mobil saat menuju makam. “Apa ada dompetku?"
"Ada!"
“Belikan aku ponsel beserta kartu selulernya sekarang!”
"Baik, Tuan."
Aina langsung pergi meninggalkan Andra menuju kamarnya untuk mengganti piama dengan pakaian lebih rapi. Setelah itu ia langsung meninggalkan unit apartemennya dengan slingbag menggantung di bahu.
Begitu tiba di basement, Aina langsung menaiki mobilnya dan melaju menuju counter ponsel yang masih buka karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ia tidak tahu bahwa, saat mobilnya melaju ada mobil berwarna putih juga ikut melaju mengikutinya.
Sepuluh menit melaju, Aina menemukan counter ponsel yang masih buka. Ia segera menepikan mobilnya di sisi jalan, begitu pun Ferrari putih yang mengikutinya yang parkir tepat di belakang mobil Aina.
Setelah selesai membeli ponsel beserta kartu seluler, Aina segera kembali ke mobilnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat pria yang lima tahun lalu menghilang begitu saja sedang bersandar di mobilnya dengan kedua tangan melipat di d**a. Tatapan matanya masih sama seperti lima tahun lalu, senyum indahnya juga masih sama seperti terakhir kali ia lihat.
Seketika kaki Aina seperti tidak bisa bergerak, tatapan mata itu mengunci semua pergerakan. Ia ingin berlari memeluk pria itu saat pria itu berjalan ke arahnya.
“Kak, Bi,” ucap Aina saat pria itu sudah berdiri di depannya.
“Hai, apa kabar?” sapa Abi.
“Kak Bi datang?” Aina balik bertanya.
“Iya, aku datang.”
“Setelah lima tahun.”
“Maaf,”
“Kedatangan Kak Bi sekarang untuk apa?” tanya Aina dengan lirih.
“Untuk memperbaiki sekaligus melanjutkan yang sudah terhenti.”
“Semudah itu, Kak?”
“Tidak mudah, Aina.”
“Jika tidak mudah, lalu kenapa baru datang sekarang? Kenapa lama sekali menikmati ketidakmudahan itu?”
“Kamu tidak perlu tahu alasan aku menikmati ketidakmudahan itu. Yang kamu harus tahu, aku dan hatiku masih sama seperti lima tahun lalu.”
“Bagaimana jika hatiku yang berbeda?”
“Aku yakin hatimu masih tetap sama.”
“Aku permisi, Kak Bi.” Aina mulai melangkah karena tidak mau terlalu lama berbicara dengan pria yang masih ia cintai.
Abi segera menahan lengan Aina agar tidak meninggalkannya. “Tidak mau menikmati pertemuan kita dulu?”
“Aku takut terlalu menikmati pertemuan kita, hatiku akan jauh lebih sakit ketika berpisah nanti. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan.”
“Bagaimana jika kali ini tidak ada perpisahan? Penghalang terbesarku sudah tidak ada lagi. Aku yakin kita bisa mengulang semua kenangan delapan tahun lalu.”
“Kak Bi, sudah malam, aku ingin pulang sekarang!” Aina menghentakkan tangannya.
Abi mengikuti langkah Aina hingga memasuki mobil lalu menahan pintu mobil saat Aina akan menutupnya.
“Kak, lepas!” pinta Aina.
“Aku mengerti kemarahanmu sekarang, mungkin kita harus mengulang semua dari nol. Aku akan kembali mendekatimu seperti saat dulu kamu masih berseragam SMA yang menangis karena mendapat hukuman dariku. Dulu kamu juga marah seperti ini, tapi dalam dua bulan kamu sudah memaafkan aku dan dalam satu tahun kamu sudah tergila-gila padaku."
“Tapi setelah tiga tahun tergila-gila, Kak Bi pergi begitu saja.”
“Aku terpaksa.”
"Apa kedatangan Kak Bi saat ini juga terpaksa?"
"Tidak. Karena baru sekarang semua kembali normal." Abi langsung mencium kening Aina guna meluapkan kerinduan pada kening yang dulu selalu menjadi luapan kasih sayangnya. “Aku masih melihat cinta dan kerinduan itu di matamu untukku.” Kemudian Abi menutup pintunya.
Aina memberanikan diri menatap mata Abi. "Cinta ini memang tidak pernah berubah, Kak, meskipun kamu akan menghilangkan ribuan tahun, hati ini masih tetap mencintaimu."
Kemudian Aina langsung tancap gas karena takut tidak bisa mengendalikan diri dan ingin memeluk Abi setelah mendapat kecupan di keningnya.
“Aina, hati-hati!” teriak Abi saat mobil Aina melaju. "Aku tidak pergi, Aina. aku tetap ada di sekitarmu. Hanya saja, aku tidak bisa mendekatimu," gumamnya.
Abi langsung kembali ke mobil Ferarri-nya untuk mengikuti Aina hingga ke apartemen, kegiatan yang sudah lima tahun ia lakukan tanpa sepengetahuan Aina.
“Aina, kini kakakmu sudah tiada, tidak ada alasan bagiku untuk sembunyi-sembunyi lagi dalam menjaga dan memastikan kamu masih milikku. Mulai malam ini, aku akan kembali seperti dulu. Aku akan meraih cintamu lagi dan langsung menikahimu tahun ini juga,” ucap Abi saat menatap mobil Aina yang memasuki basement apartemen.
•••••••••••••••
Setelah Aina pergi, Andra langsung kamar Danu sekaligus kamar miliknya dulu yang sekarang kembali menjadi miliknya. Ia masuk ke ruang walk in closet untuk melihat semua dokumen dan berkas penting kekayaan keluarga besarnya juga berbagai dokumen kepemilikan milik ibunya yang sudah mengatasnamakan dirinya.
Andra menggeser salah satu rak yang menjadi pintu masuk ruang rahasianya. Ia melihat tidak ada satu benda pun yang berubah posisi dari terakhir kali ia tinggalkan enam tahun lalu.
“Sepertinya Danu tidak tahu ada ruangan ini,” gumamnya saat melihat semua barang masih tertata rapi.
Andra membuka kain hitam yang menjadi penutup meja dan kursi yang dulu menemani waktu kerjanya saat pertama kali memegang kendali semua perusahaan Prayoga Grup.
“Kursi ini masih empuk seperti dulu,” ujar Andra saat bokongnya mendarat di kursi yang sudah enam tahun ia tinggalkan.
Andra membuka map yang ada di laci meja dan melihat semua kertas di dalamnya belum memiliki cap keluarga yang menjadi pengesahan semua properti atas namanya, Seketika Andra kembali teringat dengan kedatangan Levin dan Lucas tadi.
“Mereka mencari stampel? Apa itu berarti stampel yang Papah pegang tidak ada di rumah? Jika mereka sampai mencari ke sini, apa itu berarti Danu yang membawa stampel itu? Atau mungkin mereka membunuh Danu karena stampel itu? Tapi Danu bukan bagian dari keluarga besarku, kenapa stampel itu harus ada pada Danu? Apa stampel itu juga yang menjadi alasan mereka membunuh Papah?” Andra menutup map yang ia pegang lalu bersandar pada kursi untuk berpikir.
“Lalu apa alasan gadis bisu itu ingin menjadi bodyguardku? Aku yakin bukan uang yang ia butuhkan. Hidup Danu terjamin setelah bekerja dengan keluargaku, hidup adiknya juga pasti terjamin. Jika benar dia mencari perlindungan, perlindungan dari apa? Danu benar-benar menutup rapat identitas adiknya agar adiknya bisa hidup normal tanpa takut mendapat teror dari musuh-musuh atau pesaing bisnis Papah yang berhasil Danu taklukkan, termasuk keluarga wanita serakah itu. Si Bisu itu juga tidak mengaku bahwa dia adik Danu. Jika dia memang meminta perlindungan, tentu dia akan sebutkan identitasnya agar aku bisa langsung melindungi. Apalagi aku tidak mengenal adik Danu sebelumnya, yang mungkin bisa membuat aku curiga jika dia tidak menyebutkan identitasnya, tetapi dia malah menjadi orang lain dan memilih menjadi pekerja.”
“Apa mungkin dia punya tujuan lain mendekatiku? Sepertinya si Bisu itu juga tidak bisa dianggap remeh. Cara dia berkelit menunjukkan kepandaian dalam menyerang dengan kata-kata. Cara dia memaksaku juga menunjukkan dia wanita yang berambisi dan tidak takut pada resiko. Dia bahkan berani mengancamku, meskipun ancamannya sangat konyol dan memalukan, tapi dia tidak takut sedikit pun jika ada akibat yang harus dia tanggung karena melecehkan aku. Sepertinya dia bukan wanita yang lemah. Aku harus mencari tahu apa tujuannya.”
Kemudian Andra keluar dari ruang rahasianya menuju kamar Aina yang berada di sebelah kamarnya.
“Cukup rapi dan terlalu banyak boneka,” komentar Andra begitu melihat kamar Aina.
“Dulu kamar ini adalah ruang kerjaku selain ruang rahasia tadi. Danu merubahnya menjadi kamar untuk si Bisu itu. Beruntung sekali nasibnya bisa mendapatkan bekas ruang kerjaku. Harusnya dia tidur di gudang atau di ruang loudry bersama kecoa, bukan di sini.”
Kemudian Andra melihat-lihat beberapa barang yang ada di meja rias, lemari, dan laci nakas, hingga ia menemukan foto salah satu adik tirinya sedang memeluk Aina dengan mesra dari belakang.
“Bukankah ini Abi?” ujar Andra. “Itu berarti ada salah satu dari keluarga serakah itu yang mengenal Na? Apa hubungan Na dengan Abi? Apa mereka sepasang kekasih? Sepertinya Si Bisu itu memiliki banyak teka-teki. Aku harus benar-benar waspada dengannya, bisa saja Abi dan Na sedang bekerja sama memanipulasiku.” Andra menaruh kembali foto itu di laci nakas dan melangkah keluar kamar.
Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba ia menghentikan pergerakannya saat menyadari pikirannya. “Tunggu! Na itu adiknya Danu, yang merupakan orang setia pada keluargaku. Sedangkan Abi anak pertama dari wanita serakah itu, yang pasti bukan orang baik. Mereka ada di dua kubu yang berbeda, tidak mungkin bekerja sama menjatuhkan aku. Ck! Otakku dibuat pusing memikirkan ini semua!” Andra mengacak-acak rambutnya, meluapkan kebingungannya, lalu kembali melanjutkan langkah menuju ruang tamu.
Begitu tiba di ruang tamu, Andra memperhatikan interior ruang tamu, tata letak barang, dan pajangan di dinding. Sebagian barang yang ia beli dulu masih ada dan terawat, sebagian lagi barang yang Danu beli untuk melengkapi ruang tamu.
“Ternyata Si Bisu itu masih kurang pandai menutupi identitasnya. Dia mengatakan tidak mengenal Danu, tapi foto-foto kedekatannya masih terpajang di ruang tamu. Bahkan hampir semua fotonya menunjukkan kasih sayang di antara mereka. Itu berarti Na tidak sepandai yang aku pikir,” ucapnya saat melihat foto yang berjajar rapi di dinding.