Kesedihan Aina

2160 Words
Sepuluh menit duduk di sofa, Andra dikagetkan dengan Aina yang tiba-tiba membuka pintu dengan kencang karena memang pintu tidak bisa dikunci. Brak … “Kamu mengagetkanku, Bodoh!” Karena terlalu dirundung perasaan sedih bercampur kesal, Aina hampir saja berbicara untuk menyampaikan permintaan maafnya. Ia segera mencari kertas dan pulpen yang tadi ia tinggalkan di meja makan. "Maaf sudah mengagetkan Anda." Tulis Aina setelah kembali dari meja makan. Andra baru melihat wajah Aina yang memerah ketika Aina menunjukkan tulisannya. “Na, kamu menangis?” "Tidak!" “Lalu kenapa mata dan hidungmu memerah?” "Tadi saat di jalan mata saya tidak sengaja terkena binatang kecil yang sedang terbang." “Kamu tidak menutup kaca mobilmu?” Aina tidak menjawab lagi dan langsung menyerahkan paper bag yang ia pegang sejak tadi. “Tunggu! Kamu mau ke mana?” tanya Andra ketika Aina melangkah. Aina menghentikan langkahnya dan menulis. "Saya ingin tidur!" “Aku ingin bertanya sesuatu.” "Bertanya apa?" “Kamu kenal Danu?” Andra menunjuk foto Danu yang sedang merangkul Aina. Aina berpikir sejenak sebelum menulis. Ia tidak mau Andra curiga jika alasannya tidak tepat. "Kenal" tulis Aina. “Siapa dia? Apa di Kakakmu?” "Bukan!" “Lalu kenapa kamu bisa memiliki banyak foto dengannya?” "Saya adalah penggemar beratnya. Dulu dia pernah menolong, saat saya dirampok oleh beberapa orang. Sejak itu saya langsung mengidolakannya. Lalu saya meminta foto bersama dengannya cukup banyak, agar saya bisa mengingat jasanya." Andar menyunggingkan sudut bibirnya saat membaca alibi yang Aina berikan. “Apa kamu meminta foto dari tahun ke tahun?” "Tidak. Hanya satu waktu." “Apa itu salah satu perampok yang merampokmu dan kamu juga meminta foto dengannya?” Andra menunjuk foto Juan yang menyandarkan dagunya di kepala Aina. “Dia itu Juan—ajudan setiaku. Juan adalah perampok yang berhasil ditaklukkan Danu.” Aina kembali berpikir untuk mencari alasan yang tepat. karena ia tahu Andra juga mengenal Juan "Juan adalah mantan kekasih saya." Alibi Aina membuat Andra tersenyum kecut. "Rupanya dia wanita yang tidak mudah menyerah meskipun sudah terdesak,” pikir Andra. Andra membalikkan badan untuk menunjukkan foto Danu dan Juan memeluk Aina secara bersamaan. “Apa akhirnya mantan kekasihmu dan pria yang menolongmu bertemu dan memperebutkan cintamu?” "Foto itu diambil saat mantan kekasih saya ingin mengenal pria yang menolong saya." "Jadi seorang perampok ingin berterima kasih pada orang yang menggagalkan aksinya?" "Waktu menjadi kekasih saya, dia belum menjadi perampok!" “Apa setelah itu, mantan kekasihmu dan pria yang sudah menolongmu menjalin kasih?” Andra menunjuk foto Danu dan Juan yang sedang duduk bersebelahan di sebuah restoran. "Tentu saja tidak! Mereka berdua pria normal!" protes Aina dalam tulisannya. “Lalu di mana foto kakakmu yang bernama Bobi? Kenapa tidak ada foto selain Danu dan Juan di sini? Apa kakakmu sendiri tidak berarti dibanding mantan kekasih dan orang yang menolongmu?” Andra terus mendesak Aina agar dia mengakui tujuan mendekati dirinya. Aina pergi menuju kamarnya untuk mengambil satu foto yang cocok untuk alibi berikutnya. “Mau ke mana dia? Apa dia sudah tidak punya alasan lagi untuk berbohong?” gumam Andra saat Aina pergi begitu saja. Tidak lama kemudian, Aina datang membawa selembar foto dirinya bersama security apartemen. "Ini kakak saya yang berprofesi sebagai security. Anda tidak bisa menilai kedekatan suatu hubungan hanya dari sebuah foto. Tidak ada foto kakak saya, bukan berarti saya dan dia tidak dekat!" “Baiklah, pertanyaan terakhir. Ini adalah apartemenku yang aku berikan pada Danu. Bagaimana kamu bisa menempati apartemen ini? Apa Danu manusia berhati malaikat hingga dia memberikan apartemen ini pada wanita yang dia tolong?” Aina kembali menunduk untuk berpikir. “Ck! Kenapa aku tidak terpikirkan akan mendapat pertanyaan seperti ini? Seharusnya aku merancang jawaban saat dia pingsan kemarin, agar aku tidak bingung seperti sekarang. Ini apartemennya, jelas dia mengenali dan pasti akan bertanya kenapa apartemennya bisa berpindah tangan pada orang asing. Aku harus menjawab apa kalau begini?” Melihat Aina terlalu lama berpikir, Andra menghimpit Aina ke dinding dan menatapnya dengan intens. “Kenapa diam? Apa tidak menemukan kebohongan yang tepat?” Aina mendorong Andra agar ia bisa menulis. "Saya diam karena memikirkan tuduhan apa lagi yang akan Anda layangkan. Apa Anda sedang menyelidiki saya? Sepertinya Anda sedang menaruh curiga pada saya?" “Kamu bodyguardku, aku harus tahu siapa kamu sebenarnya.” "Apa maksud siapa saya sebenarnya? Apa saat ini Anda tidak percaya bahwa saya adalah wanita bisu yang benar-benar membutuhkan pekerjaan?" “Tidak sama sekali.” "Kenapa Anda tidak percaya?" “Aku Andra Prayoga yang sudah punya nama dalam dunia bisnis. Bahkan, sudah puluhan majalah bisnis yang menjadikan wajahku sebagai cover mereka untuk memikat pembeli. Prestasiku juga sering menjadi nominasi di berbagai versi dalam dunia bisnis. Salah satunya di Indonesia Most Admired CEO. Aku sudah banyak menemukan orang yang tiba-tiba ingin mendekatiku hanya untuk mencari titik kelemahan lalu menyerangku. Jadi, aku harus waspada pada orang-orang yang tidak aku kenal sebelumnya termasuk kamu.” "Baiklah, apa yang membuat Anda tidak percaya? Saya akan meluruskan." “Apartemen, Juan, dan Danu.” "Bukankah tadi saya sudah memberitahu hubungan saya dengan Juan dan Danu?" “Tapi aku tidak percaya. Apa Kamu ingat, kemarin kamu bilang tidak mengenal dua bodyguardku itu?" "Itu karena saya pikir Juan dan Danu yang Anda maksud berbeda dengan Juan dan Danu yang saya kenal" "Tetap saja, alibimu tidak bisa dipercaya!" "Itu bukan urusan dan bukan salah saya. Saya sudah mengatakannya. Jika Anda tidak percaya, itu hak Anda. Yang terpenting saya sudah mengatakan yang sebenarnya." “Kamu yakin itu yang sebenarnya?” "Jika saya menjawab yakin, apa Anda percaya?" “Kenapa balik bertanya?” "Percuma saya menjawab apa pun, jika Anda tidak yakin dengan jawaban saya, Anda akan tetap curiga. Atau Anda ingin saya berbohong saja, agar kecurigaan Anda tentang siapa saya bisa hilang?" “Dia memang pandai berkelit. Dalam sekejap dia membalikkan keadaan dan membuat aku harus berpikir untuk menjawab,” pikir Andra setelah membaca tulisan Aina. Aina kembali menulis saat Andra hanya diam menatapnya. "Kenapa diam? Apa Anda sedang memikirkan saya harus bohong atau tidak?" “Ok, baiklah. Untuk saat ini aku bisa yakin siapa kamu sebenarnya, tapi sedikit saja aku menemukan kebohongan, aku akan langsung memperkosamu!” Mendengar ancaman Andra, Aina langsung menahan tawanya, padahal kesedihan karena bertemu Abi tiba-tiba, masih ada di hatinya, tapi entah kenapa jika mendengar ancaman Andra yang berbau seks, pikirannya langsung tertuju pada nafsu Andra yang kecil dan ‘miliknya’ yang tidak bisa berdiri. “Kenapa tertawa?” Aina menggeleng sambil tetap menutup mulutnya. Bahkan saking sulitnya menahan tawa, suara tawanya yang lolos terdengar oleh Andra hingga membuat dia kesal. “Dasar wanita gila!” umpat Andra lalu pergi. “Dasar keturunan pembunuh!” Aina balik mengumpat setelah Andra menutup pintu dengan kencang. Begitu Aina masuk ke kamarnya, momen saat bertemu Abi kembali teringat hingga membuat tawanya seketika hilang dan berganti kesedihan. Aina terduduk lesu di tepi kasur. Mata yang baru saja memutih karena kesedihan yang sempat terlupakan, kini kembali memerah. “Kenapa harus lima tahun Kak Bi pergi? Kenapa tidak lima bulan saja? Jika Kak Bi menghilang hanya lima bulan, mungkin hatiku tidak sesakit ini, dan tadi aku pasti akan memelukmu. Kak Bi benar, cinta dan kerinduan ini masih ada untukmu, tapi entah kenapa tadi aku memilih mendahulukan kekecewaanku dari pada meluapkan kerinduan ini?" Aina mengambil foto Abi yang ada di laci nakas dan memeluk foto itu, cara yang biasa ia lakukan jika sedang merindukan Abi. “Kak, percayalah, cintaku hanya untukmu. Semoga kamu tidak marah dengan sikapku tadi. Jika kita bertemu lagi, aku janji akan langsung memelukmu. Aku tidak akan menunjukkan kekecewaanku seperti tadi.” Aina mengeratkan pelukannya pada foto Abi dan mengeluarkan semua tangisan hingga bahunya bergetar. Seolah foto itu adalah tubuh Abi yang sedang memeluknya. Aina mengusap air mata dan beranjak dari duduknya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan piama. Namun, baru saja melangkah, ia mendengar Andra mengetuk pintu sambil memanggilnya. Tok … tok … “Na, keluar!” “Ada apa lagi dia? Apa dia tidak tahu ini sudah jam sebelas malam? Sudah waktunya orang istirahat!” gerutu Aina sambil berjalan menuju pintu. “Kamu menangis lagi?” tanya Andra begitu Aina membuka pintu dengan mata dan hidung memerah seperti tadi. Aina menggeleng lalu mengangkat dagunya untuk menanyakan keperluan Andra memanggilnya. “Apa kamu akan tidur?” tanya Andra. Aina langsung mengangguk karena memang dia akan tidur sambil mengkhayalkan wajah Abi. “Apa kamu lupa tugas seorang bodyguard?” Aina langsung mengerutkan keningnya keheranan, dan kembali mengangkat dagunya untuk bertanya. “Bukankah bodyguard itu harus menjaga 24 jam?” Aina segera berlari ke nakas untuk mengambil kertas dan pulpenya. "Apa maksud Anda? Apa saya juga harus menunggu Anda tidur?" “Tentu. Pintu kamar itu rusak dan tidak bisa ditutup rapat. Begitu juga dengan pintu utama yang tidak bisa dikunci. Aku takut saat tidur, ada penyusup masuk dan menyerangku. Jadi kamu tidak boleh tidur dan harus menjagaku.” "Tapi saya sudah sangat lelah hari ini. Saya ingin tidur!" “Tidak bisa! Sejak kecil aku selalu dijaga 24 jam oleh para bodyguard Papahku, termasuk saat tidur,” bohong Andra, padahal ia tidak suka jika ada orang asing mesuk ke kamarnya. Kemudian Andra segera menarik tangan Aina ke kamarnya agar ia bisa segera menghukum Aina sekaligus membalas semua perbuatan Aina sejak kemarin. “Apa lagi ini?” gerutu Aina saat Andra menariknya. “Kamu harus terus berdiri tegak di sini. Jangan pergi ke mana pun tanpa seizinku meskipun hanya buang air kecil!” perintah Andra di samping pintu begitu memasuki kamar. Saat Aina akan menulis lagi, Andra dengan cepat mengambil kertas dan pulpenya. “Aku sedang malas membaca tulisanmu, jadi tidak usah melayangkan protes jika ingin aku pekerjakan sebagai bodyguardku.” Aina hanya bisa pasrah sambil menunduk lesu saat Andra pergi begitu saja menuju tempat tidur. “Bang, demi membalas dendam dan membersihkan nama baik Abang, aku rela berdiri semalaman asal aku bisa segera masuk ke keluarga itu,” batinnya. Andra melirik ke arah Aina sebelum membaringkan tubuhnya untuk memastikan Aina menuruti perintahnya. “Mudah sekali menyuruhnya, aku pikir dia akan melawan,” pikir Andra. Perintah konyol itu melintas di otak Andra saat ia teringat ketika Aina ingin melucuti pakaiannya serta tawa Aina saat mendengar ancamannya tadi. Ia merasa Aina benar-benar meremehkannya dan berniat membalas dendam yang sejak tadi terus berputar di pikirannya. “Dia sudah keterlaluan memperlakukan aku, mulai dari memukul tengkukku, menyekap, mengikat tanganku berjam-jam, mengancam, hingga meremehkan ancamanku. Hukumanku saat ini belum seberapa dibandingkan dengan perbuatannya padaku.” Andra menyunggingkan sudut bibirnya saat menatap Aina di tempat tidur. Kemudian Andra tidur dengan membelakangi Aina, karena ia tidak ingin mimpi buruk jika melihat wajah Aina sebelum tidur. Setengah jam berdiri, Aina mulai menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar. Ia mulai pegal terus berdiri tegak. Tatapannya mengarah pada punggung Andra. Namun, pikirannya tertuju pada Abi. Matanya mulai memanas, dan penyesalan karena penolakan tadi terus mengusik hatinya. “Pasti tadi Kak Bi berharap aku memeluknya setelah lima tahun tidak bertemu. Pasti sekarang Kak Bi sedang kecewa padaku," ucapnya lalu luruh perlahan hingga duduk di lantai. Aina kembali teringat pada pelukan ketenangan yang selalu Danu berikan di saat ia sedang sedih seperti ini. Hanya Danu yang selalu selalu menenangkan dan menghiburnya sejak kecil, kemudian beranjak dewasa Juan hadir memberikan kasih sayang yang sama meskipun hanya sebentar. Tetapi sekarang, dua lelaki itu pergi dari hidupnya. Tidak akan ada lagi dekapan kasih sayang yang ia dapat dari siapa pun ketika air matanya mengalir seperti saat ini. “Bang, aku kesepian,” lirihnya. Aina terus terjaga sepanjang malam, bukan karena benar-benar menjaga Andra, tapi karena bayang-bayang Abi dan rasa kehilangan Danu yang membuat kantuknya hilang. ••••••••••••••••••• Keesokan harinya ketika Andra membuka mata, ia langsung berhadapan dengan wajah Aina yang masih terpejam. Aina tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepala ia sandarkan di tepi kasur dekat tubuh Andra. “Dasar pemalas, bukannya berdiri di sana, malah ikut tidur di sini! lalu untuk apa aku menghukummu, jika akhirnya kamu tidur di sini?” omel Andra. Saat Andra akan bangun, ia melihat pelipis mata Aina membengkak yang menandakan ia menangis semalam. “Sejak semalam, aku beberapa kali melihat matanya memerah. Apa dia sedang sedih karena kematian Danu? Apa hukumanku semalam keterlaluan hingga menambah kesedihannya? Sebenarnya dia ini wanita yang kuat atau lemah? Jika dia menangis sampai matanya sembab seperti ini, itu berarti dia wanita yang cengeng, tapi jika mengingat gayanya saat menyekap dan mengancamku, dia seperti seorang bos besar yang memiliki banyak kekuasaan. Dua belas jam mengenalnya, dia cukup misterius dan penuh teka-teki. Entah aku harus menganggap dia remeh atau tidak.” Kemudian Andra beranjak dari tidurnya untuk ke kamar mandi. Namun, gerakannya terhenti saat merasa ada benda yang melingkari pergelangan tangannya. “Apa?” pekik Andra saat melihat tangan kirinya terborgol bersama dengan tangan kanan Aina. “Apa dia pikir aku buronan?” protesnya. Andra menarik-narik tangan yang terborgol dengan kencang agar Aina terbangun karena ia ingin melayangkan protes, hingga akhirnya Aina mulai menunjukkan pergerakan. “Cepat bangun!” perintah Andra, ketus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD