Tiba-tiba di lamar

1250 Words
Di mansion megah keluarga Narendra, pemandangan pasangan paruh baya yang bahagia tengah terlihat bersantai , setelah menyelesaikan makan malam maka sang nyonya dan tuan Narendra akan bersantai diruang tv dengan beberapa maid yang berdiri disudut ruangan, berjaga apabila tuan dan nyonya mereka membutuhkan sesuatu. Tap tap tap Suara langkah kaki mendekati mereka, sontak kedua orang itu mengalihkan perhatian kepada pemuda yang berjalan kearah mereka diikuti sang asisten, raut wajah tuan muda Narendra sangat kusut dan dingin, karena mengetahui penyebab hal yang membuat putranya murung, Dania hanya bisa terkekeh geli sementara sang suami mengerutkan kening tanda tak mengerti. "Ma... mama tahu kan Daisy menghindariku?" Regan memilih langsung bertanya kepada sang ibu sesaat setelah mendudukkan diri dihadapan orang tuanya. "Iya mama tahu" masih dengan senyum geli Dania menjawab. "Siapa Daisy?" tanya tuan besar Narendra, namun tak ada yang berniat menjawab. "Tapi kenapa? aku merasa tak ada salah padanya?" suara putus asa terdengar lirih dari Regan. "Mungkin risih dengan kamu" Dania senang sekali menggoda anaknya itu. "Kalian sedang membicarakan siapa?" tuan besar Narendra masih mencoba bertanya namun tetap tak ada yang menjawab nya. "Risih... benarkah? apa perlakuanku terlalu mengganggunya?" kembali Regan bertanya pelan pada ibunya. Tak kuasa melihat raut murung sang anak, Dania menghentikan godaannya dan mulai berbicara serius. "Mama rasa Daisy merasa rendah diri, kamu tahu kan bagaimana ia menjalani kehidupan nya selama ini, apalagi ditambah ia sekarang... bisu, bukan tidak mungkin ia tak sadar akan perasaan kamu, tapi mungkin ia berusaha menjauh karena ia merasa tak pantas" Regan diam dan menunduk, "Tapi aku mencinyai nya ma..." lirihan Regan kembali membuat tuan besar penasaran, mencoba kembali ikut menyahut walau sedari tadi tidak ada yang menganggapnya ada. "Kalau kamu mencintai nya dan perempuan itu mulai menjauh karena merasa tak pantas, mungkin ia hanya takut kamu memainkan perasaannya, coba saja langsung lamar dia biar dia tidak meragukanmu" ucapan sang ayah sontak membuat Regan mengangkat wajahnya dengan sorot mata tajam dan binar bahagia seolah mengatakan 'intu ide yang bagus'. Tuan besar Narendra menampilkan senyum bangga nya karena akhirnya berhasil ikut serta dalam pembahasan ini, namun suara istrinya membuat ia mendelik tidak suka. "Tapi, apa papa tidak keberatan bermenantukan wanita bisu?" "Apa-apaan mama ini, hal itu bukan masalah besar jikapun bisa diobati biar kita obati nanti, jikapun tidak semua tidak ada masalah selama Regan memang mencintai wanita itu apa adanya" Jawaban Dion membuat Regan dan Dania merasa lega sekaligus terharu, Dania langsung memeluk sang tuan besar, sementara Dion Narendra hanya tertawa dan mengusap punggung istrinya sayang, Regan menatap ayahnya dengan rasa terimakasih yang besar dimatanya. Dion balas tersenyum, ia akan mendukung apapun keinginan tuan muda Narendra selama itu hal baik. "Jadi kapan kita akan melamar gadis itu?" setelah melepaskan pelukan haru itu Dion kembali bersuara. "Besok pa!" sahut Regan semangat. "Oke besok kita kesana untuk melamar" jawaban sang tuan besar menjadi penutup obrolan mereka kali ini, sang istri yang memeluknya makin erat karena bangga kepada sang suami, dan Regan yang bangkit dengan semangat dan raut bahagia itu segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk dan mempersiapkan diri untuk lamaran dadakan besok. *** Sudah satu bulan lamanya Daisy berusaha menghindari Regan, sebisa mungkin ia pulang cepat teoat setelah toko tutup disaat Regan belum sampai untuk menjemput ibunya. Hal itu tentu mengundang rasa penasaran Cici pada awalnya, namun Romi yang menceritakan hal sebulan lalu tentang kelakuan Regan pada nya membuat Cici faham jika Daisy menghindari pertemuan dengan pria tampan itu. Hari ini hari libur untuk Daisy, ia bisa bebas berada dirumah walaupun merasa kesepian, hanya saja bebannya berkurang karena kini ia tidak akan melihat dua makhluk menyebalkan yang biasanya selalu menghinanya, mereka sudah resmi pindah saat Hera merengek kepada Arsya bahwa ia eneg serumah dengan Daisy, tentu saja Arsya menyalahkan Daisy akan hal itu "kamu harusnya tidak usah sering muncul dihadapan istriku dan membuatnya kesal!" ucapnya tak tahu diri, Daisy sama sekali tidak menghiraukan mereka dan berlalu dari sana dengan santai seolah mereka tak terlihat, akhirnya mereka pindah karena muak melihat sikap Daisy yang menurut mereka tidak tahu diri. 'Apa mereka kehilangan ingatan? siapa yang sebenarnya tak tahu diri?' batin Sy. Sedang asik menikmati hari tenang sendirian tiba-tiba mbok Marni menghampirinya dengan tergesa. "Non... tuan dan nyonya sedang dalam perjalanan pulang" sahut mbok Marni gugup, 'ah waktunya masuk sangkar ternyata', menatap pembantunya dengan senyum tipis, Sy segera beranjak dan memasuki kamarnya, tentu saja sang ayah sudah pasti tidak ingin melihatnya. Fitnah dan hasutan masih terus berjalan hingga saat ini, entah apa saja hal yang diucapkan ibu tirinya itu, Daisy sama sekali tak peduli, rasa sakitnya sudah berubah menjadi kebencian yang membekukan hatinya. *** Seharian menghabiskan waktu dikamar membuat Daisy sedikit bosan, sore ini ia sedang menikmati teh hangat di balkon kamarnya sebelum ketukan pintu terdengar menghentikan kegiatan nya. *Tok tok tok "Non, dipanggil tuan dan nyonya... dibawah ada tamu yang ingin bertemu" Panggilan mbok Marni membuat Sy mengernyit, namun segera membuka pintu dan bertanya 'siapa' dengan isyarat matanya. "Mbok kurang tahu non, seorang ibu cantik dengan pria muda tampan" Jawaban mbok Marni makin membuat Sy bingung, namun dengan patuh ia segera menghampiri mereka ke ruang tamu, disana telah duduk sang ayah bersama ibu tirinya yang telah lama tak bertemu dengannya namun mereka sama sekali acuh kepada Daisy, namun saat melihat tamu yang dimaksud Sy menghentikan langkahnya karena terkejut, 'itu tante Dania' dan... 'itu seperti orang yang berada disamping mas Regan dikantor'. "Daisy! ngapain kamu bengong cepat duduk!" suara ibu tirinya membuat ia tersadar, mendudukkan diri disofa tunggal yang ada, memberikan senyum kikuk kepada tante Dania dan pria asing itu. "Nah Daisy, ini ada bu Dania pemilik toko bunga tempatmu bekerja, beliau datang kemari katanya mau melamar kamu untuk anaknya" ucapan Merisa membuat Daisy terkejut, 'lamaran? tapi anak tante Dania hanya mas Regan satu-satunya, berarti..." "Maaf tante datang tiba-tiba ya Sy, semoga Sy mau menerima pinangan tante" ucapan lembut itu membuat Daisy menatap tante Dania. "Tentu saja Daisy pasti akan menerima nya bu Dania, siapa lagi yang sudi meminang Daisy kalau bukan anaknya bu Dania ini" kekehan dan hinaan Merisa membuat tante Dania menatap tidak suka, dan Daisy duduk dengan gugup sementara sang ayah tak memberikan ekspresi yang berarti. "Ngomong-ngomong anaknya yang ini kah bu? kerja apa ya anaknya? mohon maaf loh ya saya lancang bertanya" perkataan Merisa sama sekali tidak menampilkan raht merasa tak enak, ia dengan tidak sopannya bertanya kepada tamunya seakan meremehkan. 'Andai kamu tahu dia adalah istri tuan besar Narendra maka kamu pasti akan langsung kejang ditempat!' batin Sy. Sy menatap tante Dania tak enak, namun Dania hanya membalas dengan senyum teduhnya. "Tidak apa bu, anak saya kebetulan sedang bekerja karena merupakan karyawan kantor, sedangkan yang bersama saya ini merupakan sodara jauhnya yang menemani dan mewakilkan ketidak hadiran anak saya" 'Cih cuma karyawan kantor biasa ternyata' batin Merisa. "Kami terima lamaran dari anda bu Dania" suara sang ayah akhirnya terdengar, namun tunggu, ia langsung menyetujuinya tanpa bertanya kepada Daisy? Daisy hnya bisa meremas gaun yang dikenakannya, ia kecewa pada ayahnya yang benar-benar tak memedulikan nya. "Terimakasih pak Aryo, namun apakah lebih baik kita tanyakan pendapat Daisy dulu? karena merekalah yang akan menjalani ini semua" "Tentu saja Daisy akan setuju bu Dania, benarkan Daisy?" pertanyaan dengan penuh penekanan dari sang ayah merupakan vonis bagi Sy, sehingga ia hanya bisa tersenyum tipis kepada Dania dan mengangguk patuh. Ia pasrah akan semua hal kedepannya. Dania berucap syukur kemudian, mereka melanjutkan obrolan ringan mengenai persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi, Sy mendengarkan dengan seksama walaupun fikirannya melayang entah kemana. 'Apa maksud tante Dania memilihku, tidakkah ia keberatan bermenantukan gadis bisu sepertiku?' *** Tbc Dukung terus ya ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD