Gadis bisu dan Tuan Muda

1233 Words
"Sy... ayo pulang bersama" Teguran mas Regan membuat Sy berhenti dan menatap pria yang ternyata sudah berdiri di hadapannya. Degupan jantung Sy tiba-tiba berdetak lebih cepat, mungkinkah karena ia terkejut atau ada hal lain? *** *Pov Daisy "Daisy... ayo pulang bersama, lagian kita kan se arah" panggilan tante Dania menyadarkan ku yang sempat terpaku tadi, jantungku mulai mereda dari debaran yang menggila namun terasa panas merambat hingga pipiku. Kulirik tante Dania dengan raut tak enak seraya menggerakkan tanganku tanda menolak. Namun tante Dania yang hampir menaiki mobil itu kemudian menghampiri ku dan menarik tanganku lembut. "Ayo ah, nanti kemaleman bahaya anak gadis jalan sendirinya" karena tak enak menolak akupun akhirnya ikut ajakan beliau, sementara mas Regan tersenyum dan kemudian memasuki kursi kemudi. Perjalan hanya 10 menit menggunakan mobil untuk sampai ke rumahku, aku turun dengan perlahan dan kemudian membungkuk untuk berterimakasih kepada mereka, tante Dania dan mas Regan tersenyum kemudian berlalu. *** Entah kenapa malam ini Daisy tidak dapat tidur, ia bukannya tidak sadar bahwa Regan yang merupakan anak dari atasannya itu memperhatikan Daisy dengan cara berbeda, ia bukan gadis polos yang tidak mengerti tatapan pria itu namun Sy selalu berusaha menyangkal dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbuai, ia harus tahu diri bahwa ia bukanlah gadis sempurna yang pantas bersanding dengan orang-orang luar biasa, apalagi seorang tuan muda. Ya... Sy mengetahui fakta itu tanpa sengaja, tepatnya sekitar seminggu yang lalu. *Flashback "Ah iya tuan, baik saya akan minta pak Joko mengantarkan nya ke kantor bapak sekarang, iya..." Mbok Marni menutup telpon rumah tersebut tepat saat aku menghampirinya, kutatap ia dengan pandangan bertanya. "Ini non bapak bilang ada berkas ketinggalan dan harus diantarkan segera, tapi pak Joko baru aja pergi nganter non Hera periksa kandungan" bi Marni dengan raut paniknya membuat aku mengerti, segera kuraih buku kecil di saku dan menuliskan kalimat dengan cepat. 'Biar aku saja yang antar, aku sedang libur bekerja toko sedang tutup' "Tapi non..." aku tahu kekhawatiran mbok Marni. 'Aku tak akan menemuinya, aku akan berikan kepada ka Rika' kembali aku buru-buru menulis, ka Rika adalah sekretaris ayahku dikantor yang merupakan kakak sepupuku. "Kalau begitu mbok benar-benar minta tolong dan maaf jadi menyuruh non Sy" 'Aku sekalian ada keperluan keluar kok' mbok Marni kemudian merasa lega dan segera mengambil berkas yang dimaksud, aku segera berangkat dengan taksi online pesananku. Menempuh perjalanan selama 15 menit aku sudah sampai di lobby perusahaan, segera ku langkahkan kakiku menuju ke tempat dimana kak Rika menunggu, namun keheningan yang baru saja kulalui di sepanjang lobby tiba-tiba menjadi aneh dan terasa mencekam saat ku lihat beberapa staf sedang membungkuk hormat didepan sana, memutuskan untuk tidak menjadi perhatian aku segera berlalu mengambil arah lain. "Sy, disini!" pekikan wanita dewasa didepan sana membuat ku tersenyum tipis, kutemui ia dan menyerahkan berkasnya seraya menunjukkan kalimat dibuku kecilku. 'jangan bilang aku yang mengantarkan nya' ia kemudian mengangguk mengerti setelah membacanya. Bukan rahasia lagi dalam keluarga besarku bahwa ayahku sendiri kini membenciku, hanya ada beberapa saudara yang masih sedikit memedulikan aku salah satunya kak Rika dan ibunya tante Mita. "Oke siap aku ngerti, s**l ternyata tuan muda Narendra sudah datang" cicitan pelan namun dengan nada panik ka Rika membuat ku menatap heran ke arahnya. "Ah, itu tuan muda Narendra, ia satu-satunya putra dari tuan Dion Narendra pengusaha terkaya dan berpengaruh di Indonesia, ia yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita, sangat sulit membuat pertemuan dengannya, dan semoga saja pertemuan yang sangat sulit kami dapatkan itu akan membuahkan hasil yang baik" ka Rika segera menjawab tatapan heranku. "Kamu penasaran gak orangnya, dia tampan dan masih muda, sini kita intip dari balik dinding. Itu dia tuan muda Regan Putra Narendra" Deg 'Regan? ah mungkin kebetulan nama yang sama dengan anaknya tante Dania'. Batin Daisy, namun ternyata sangkalan yang sempat aku fikirkan melebur dan terhempas begitu saja saat kak Rika menarik tanganku seraya menunjuk pria tampan yang sedang dengan gagahnya berjalan didepan sana, dengan seorang tangan kanan kepercayaan nya yang berwajah kaku disebelahnya serta beberapa bodyguard yang mengiringi langkahnya. Aku terpaku... 'dia... mas Regan, bagaimana mungkin? bukankah mas Regan bilang ia hanya karyawan kantor biasa? bukankah tante Dania hanya seorang pemilik toko bunga?' Setelah sang tuan muda Narendra berlalu, kak Rika segera pamitan padaku dan pergi dengan lift lain untuk mempersiapkan meeting mereka. Aku melangkah pelan dengan beberapa fikiran berkecamuk di otakku, mas Regan... pria yang selalu menatap ku intens, tante Dania yang sangat baik padaku, bantuan dan perhatian mereka, senyuman mas Regan. Ternyata aku sudah salah menempatkan diri dan hatiku 'lagi', bayangan penghianatan Arsya kembali menghantuiku, membuatku berniat mundur dan mengubur hati yang mulai memercik getaran saat bertemu mas Regan, bahkan sebelum benih perasaan itu memunculkan tunas nya aku harus segera membunuhnya. *Flashback off *** Pagi ini toko bunga sedang lumayan sepi, beruntungnya karena aku hanya bekerja berdua saja bersama Romi karena Cici sedang sakit, jadi kami tidak terlalu keteteran. Seharian itu aku selalu menghabiskan waktu senggangku dengan menyibukkan diri atau sekedar melamun menatap orang yang berlalu lalang dari jendela toko, sampai tepukan Romi mengejutkan ku "Hey, bengong aja. Gak mau pulang? ayo ku antar" Kutatap Romi dengan kerjapan mata bingung namun segera tersadar maksudnya akupun menulis beberapa kata. 'Tidak usah biar aku pulang sendiri, kita kan beda arah' "Tak apa sekali-sekali itung itung ngapelin, hayu aku antar" dengan cengegesan Romi menarik tanganku, aku tersenyum saja padanya. Romi memang teman kerja yang cukup usil, lumayan lah ada tumpangan. *Krincing Pria yang baru masuk itu menatap kearahku dan Romi , kemudian menatap kearah tautan tangan kami, aku merasa udara terasa dingin dan mencekam, tatapan tajamnya begitu terasa mencekikku, namun Romi yang tidak peka malah menyapa nya. "Eh mas Regan, tante Dania masih di atas. Kami duluan ya mas" sahutnya dengan enteng tidak menyadari tatapan tidak suka yang tertuju padanya. "Kalian pulang bersama?" sungguh demi apapun aku merasa bahwa setiap kata barusan mengandung rasa tidak suka, namun dengan begitu bodohnya Romi masih belum peka. "Iya mas, mumpung lagi gak ada Cici, jadi ada kesempatan nganterin Sy pulang sekalian ngapelin hehehe" Romi malah cengengesan, aku hanya menunduk enggan menatap sepasang mata elang itu. Tatapan mas Regan makin tajam, tanpa aku sadari dan tanpa sempat aku mengerti situasi, tiba-tiba tautan tangan aku dan Romi terlepas dengan paksa diganti dengan genggaman tangan erat dari mas Regan, aku terkejut dan menatap nya bingung bahkan Romi pun ter bengong di tempat, namun ternyata yang lebih mengejutkan ku adalah perkataan mas Regan setelah nya. "Tidak usah repot, saya yang akan mengantar Sy pulang" Tanpa aku sempat menolak, tiba-tiba mas Regan sudah menarik tanganku segera ke arah mobilnya dan mengarahkan ku masuk, setelah aku duduk ia pun masuk ke kursi kemudi, dengan bengong aku menatap Romi didepan toko yang sedang garuk-garuk kepalanya yang aku yakini tidak gatalgatal. Terlambat menyadari keadaan, aku di kembali dikejutkan dengan wajah mas Regan yang sangat dekat denganku, jantungku kembali berdetak dengan kencang, tanganku tremor, wajah tampan itu hanya beberapa centimeter saja dari wajahku. "Seatbelt nya belum dipasang" katanya... aku otomatis menahan nafas akan perlakuannya, semoga saja ia tak mendengar debaran gila di dadaku, setelah memasangkan seatbelt kemudian ia menjauhkan wajahnya dan mulai menjalankan mobilnya, aku yang baru tersadar tiba-tiba merasakan leher, pipi hingga telingaku memanas, 'ah ternyata aku sudah sejauh ini, apa aku terlambat untuk menjauh?'. "Sy..." panggilannya membuatku tersadar, kutatap ia masih dengan raut bingung dan pipi yang bersemu 'sial pasti aku terlihat konyol'. "Kedepannya jangan pulang dengan lelaki lain selain saya" Tunggu... apa? apa maksud tuan muda ini?. *** Tbc Tap love ya teman ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD