Pagi ini Daisy sedang bersiap untuk pergi bekerja, ya... setelah 2 bulan lalu keluar dari rumah sakit, Sy bagai seorang makhluk transparan di rumahnya sendiri, ayahnya yang jarang dirumah tentu saja jikapun ada tidak akan memperdulikan Sy, namun hal itu sedikit menguntungkan untuk Sy karena ia tak lagi dikurung dan tak lagi diperintah dengan semena-mena.
Setelah vonis yang menyatakan ia bisu, Sy tidak berniat sama sekali melakukan terapi atau kontrol rutin, ia menerima semuanya dengan lapang d**a karenapun ia merasa puas jika tidak perlu repot berbicara, hatinya sudah hampa dan membeku untuk sekedar berbasa-basiberbasa-basi.
kahancuran Sy dua bulan lalu tentunya tidak berhenti pada kejadian dirumah sakit saja, ternyata kabar mengejutkan sudah menanti saat ia resmi pulang kerumah.
***
*Flasback
Sy pulang dijemput supir dan pembantunya mbok Marni yang membantunya membawakan barang yang tak seberapa, namun saat memasuki ruang tamu rumahnya Sy mendengar suara wanita dan pria yang tak asing untuknya, sontak saja Daisy menghentikan langkahnya dan menatap mereka yang asik bercengkrama.
"Dede nya gak mau ditinggal lama-lama sama papa nya tau!" Suara manja Hera terdengar.
"Hanya dua hari kok, nanti setelah aku pulang dari Bangka, kita jalan-jalan deh aku janji" jawaban dari Arsya membuat Hera tersenyum dan mereka berpelukan.
Daisy bukan orang bodoh yang tak mengerti situasi di depannya, seorang pria yang sedang mengelus sayang perut buncit wanita dipelukannya tentu saja berarti mereka telah menikah dan sang adik sedang hamil oleh mantan calon suami Daisy, ironi sekali bukan.
Tanpa memdulikan dua orang manusia tersebut, Daisy segera pergi menuju kamarnya. Tentu saja rasa sakit itu masih ia rasakan, cintanya kepada Arsya tak mudah terhapuskan, hanya saja kini hatinya yang beku membantunya dalam mengendalikan emosi.
"Eh si bisu sudah pulang ternyata, mentang-mentang bisu sampai ga ada sopan sopannya!" Suara Hera tak membuat Sy menoleh, ia sama sekali tak peduli, Sy meneruskan langkahnya menuju kamarnya.
"Dasar ga tadu diri gak tau malu!"
"Hera sudah, jangan membuat keributan"
"Kamu kok belain dia sih, jangan-jangan kamu masih cinta ya sama si bisu itu!"
"Ya enggak lah! apa kata orang dan orangtua ku kalau aku bersama dengan wanita bisu, kamu sudah lebih dari sempurna apalagi kita akan segera mempunyai bayi, jangan berfikir hal-hal yang aneh!"
Ucapan Arsya berhasil membuat Daisy menghentikan langkahnya, 'ah ternyata masih sesakit ini, beruntung kah aku karena tuhan menampakkan keburukkan Arsya sebelum aku menikah dengannya? aku cukup punya sedikit keberuntungan ternyata' batin Sy berkata, kemudian melanjutkan lagi langkahnya yang tertunda.
*Flashback off
***
Tak ingin terlalu lama terpuruk dengan seringnya ia berada dirumah dan menyaksikan interaksi menjijikkan antara Arsya dan Hera, Sy mulai sering berjalan-jalan sekedar ke taman kota atau ke perpustakaan dan disanalah ia melihat pengumuman adanya lowongan pekerjaan di toko bunga didekat perpustakaan tempat yang sering ia kunjungi, sudah resmi Sy bekerja disana sejak satu bulan yang lalu.
Bergegas mempercepat langkahnya menuju tempat kerjanya membuat Sy selalu terlihat semangat, berbeda dengan saat ia ada dirumah.
*Krincing
Lonceng pintu berbunyi saat Sy membuka pintu masuk toko, disana sudah ada dua teman kerjanya yakni Cici dan Romi, dan wanita paruh baya bernama tante Dania sang pemilik toko yang sangat baik padanya.
Mereka menyambut kedatangan Sy dengan tersenyum.
"Selamat pagi Daisy...!" sapa Cici dengan ceria.
"Pagi Say....ang!" sapaan dengan godaan receh itu tentu saja Romi.
"Pagi sayang" sapaan hangat lembut itu dari tante Dania, wanita yang sudah Sy anggap seperti ibunya sendiri. Sy segera menghampiri mereka sambil menuliskan sesuatu di buku kecilnya.
'maaf aku terlambat', tante Dania tersenyum menatap gadis cantik di hadapannya "Santai saja, kita belum membuka toko nya, istirahat lah dulu kamu pasti lelah setelah berlari seperti itu, lain kali jalan lah pelan karena kamu tidak akan terlambat hanya untuk bekerja ditoko bunga yang tidak seberapa ini".
" Ya Sy, tentu saja kamu tak perlu lari seperti itu, selamat ada Aa Romi disini toko akan aman terkendali " dengan menepuk dadanya Romi mendekati tante Dania dan Daisy.
"huuu dasar cari muka!"
Semua sontak tertawa mendengar gerutuan Cici, apalagi kemudian Romi membalasnya dengan ledekan juga, Sy tersenyum... senyum yang benar-benar tulus, disinilah ia merasa jadi dirinya sendiri. Daisy akhirnya menemukan dan merasakan kehangatan keluarga yang dirindukan nya.
"Sudah sudah kalian ini! ayo mulai balik papan closed nya, mari kita mulai aktifitas hari ini semoga banyak pembeli" tante Dania melerai percekcokan Cici dan Romi, mereka segera menurut, Cici yang segera menyusun bunga-bunga, Romi yang membalik papan closed dan kemudian mengangkat beberapa barang yang diperlukan, sementara Daisy segera ke belakang meja tempat pelanggan memesan dan sekaligus menjaga mesin kasir disana.
Dania tersenyum melihat pekerjanya yang penuh semangat dan ceria, ia segera naik kelantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya.
*Krincing
"Selamat datang di Sweet Florist" Sapaan ramah Cici terdengar menyapa pelanggan pertama kami hari ini, Sy hanya memberikan senyum terbaiknya, dan bertanya dengan kertas catatan kecil yang sudah ia sediakan diatas meja untuk memudahkan nya berkomunikasi, karena Sy memang tidak belajar bahasa isyarat.
Kertas bertuliskan 'Selamat datang tuan/nyonya ada yang bisa saya bantu?' dan lain sebagainya, sang costumer tersenyum dan mengatakan bunga yang ingin ia pesan, Sy dengan cekatan menuliskan pesannya dan mengarahkan pelanggan mereka untuk menunggu sementara ia menghampiri Cici dan memberikan kertas tulisannya.
Hari ini Daisy memulai harinya dengan manis dan lancar, walaupun dirumah ia merasa ketidak adilan dan kehampaan, namun ia bersyukur saat ini ia bebas keluar rumah bahkan bekerja, berkesempatan mengenal Cici dan Romi yang sudah ia anggap seperti saudara nya sendiri, serta bu Dania yang sudah ia anggap seperti ibunya. Ia berharap kali ini dunia membiarkan Sy bahagia dengan hal yang diinginkan nya.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah sore, waktunya menutup toko. Mereka bertiga segera membereskan pekerjaan nya dan merapikan beberapa kekacauan.
*Krincing
Sontak mereka semua beralih menatap ke arah pintu, disana berdiri seorang pria tampan dan gagah dengan kemeja yang digulung hingga siku.
"Ya ampun mas Regan, saya kira masih ada customer!" Ucap Romi mewakili kami, kamipun bernafas lega karena tidak harus lembur.
Orang yang dipanggil mas Regan itu kemudian terkekeh dan mendekati kami. "Emang hari ini toko lagi rame ya?" tanyanya entah kepada siapa, namun matanya malah menatap Daisy, membuat Sy sedikit tidak nyaman, sementara kedua temannya tidak menyadarinya karena sudah melanjutkan pekerjaan kembali.
"Iya mas, rame banget hari ini sampe kami jarang duduk, semenjak ada Sy pelanggan memang bertambah, Sy memang pembawa rezeki soalnya wajannya yang cantik dan manis benar-benar menarik para pelanggan datang lagi dan lagi" kekeh Romi, sementara Cici tertawa sambil mengangguk mengiyakan, Daisy pura-pura tak mendengar dan menyibukkan dirinya, tatapan mas Regan masih belum beralih darinya malah semakin intens membuat Sy makin salah tingkah.
"Loh, Regan kok ga panggil mama kalau sudah jemput" suara tante Dania berhasil mengalihkan perhatian pria itu, membuat Sy menghela nafas lega.
"Ini aku baru sampai kok, baru aja mau naik ke atas eh mamah keburu turun"
"Pantesan, mau istirahat dulu apa langsung pulang aja?"
"Ayo lah keburu kemaleman ntar papa ngomel" kekeh pria itu, dibalas senyum geli tante Dania, sementara kami bertiga ikut tersenyum dan sama-sama keluar dari toko untuk pulang.
"Babay Sy..." Cici melambaikan tangannya pada Sy, Cici pulang bersama Romi karena mereka memang bertetangga, Sy membalas lambaian itu dengan senyuman manisnya. Setelah Cici dan Romi berlalu Sy melangkahkan kakinya untuk pulang.
"Sy... ayo pulang bersama" Teguran mas Regan membuat Sy berhenti dan menatap pria yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.
Degupan jantung Sy tiba-tiba berdetak lebih cepat, mungkinkah karena ia terkejut atau ada hal lain?
***
Tbc, mohon dukungannya ya ?