Apa... Bisu??!!

1163 Words
Hening, hanya bau obat-obatan dan bunyi alat ventilator saja yang terdengar diruangan serba putih tempat Daisy mendapatkan perawatan selama sebulan ini, ia dinyatakan koma setelah berhasil melewati masa kritisnya pasca mendapatkan tindakan medis akibat kecelakaan maut yang menimpanya sebulan lalu, tubuhnya menjadi lebih kurus dan makin pucat namun tak menghilangkan kecantikan alaminya. Kesunyian di ruangan rawat Daisy bukanlah tanpa sebab, sang ayah jarang mengunjunginya karena kecewa pada sang anak sehingga lebih memilih sibuk menguruskan pekerjaannya dan sering pergi ke luar kota bahkan luar negri, sedangkan ibu tiri dan adiknya tak akan mungkin sudi menjenguknya, apalagi sang tunangan, oh mungkin mantan tunangan. Ia tak akan repot memikirkan Daisy yang terbaring lemah karena ia sedang menikmati indahnya kebersamaan bersama Hera. Dalam sebulan ini banyak hal yang tak disadarinya telah terjadi, keheningan di ruang rawatnya itu memiliki arti, arti bahwa Daisy sudah tak berarti dan dipedulikan lagi. Semua berawal saat Hera mendengar kabar kecelakaan Daisy, Hera segera menghubungi ibunya yang ada diluar kota. ***** *Flashback satu bulan lalu Tut tut tut Hera mengigiti kuku tangannya sambil mondar-mandir gelisah karena ibunya belum menjawab telponnya, sementara Arsya terpaku dikursi kebesaran nya, masih shock dengan kabar kecelakaan Daisy. "Halo, ada ap... " Ma! Daisy kecelakaan!" sahut Hera cepat. "Apa?!" Merisa segera menutup mulutnya, menoleh ke kanan kiri kemudian dan mencari tempat yang lebih aman untuk meneruskan pembicaraan dengan putrinya. "Bagaimana bisa! bukankah ia mama larang kemana-mana selama ini!" "Cerita nya panjang ma, dia datang ke kantor Arsya dan memergoki kami... yah dia mengetahui semuanya kemudian ia lari dan berujung kecelakaan!" "Sial! kenapa kalian begitu ceroboh! apa dia... mati?" "Tidak, atau mungkin belum aku tak tahu, namun menurut saksi ia terluka sangat parah! bagaimana ini ma... bagaimana kalau ia sadar dan mengadukan semua hal ini!" Hera panik, ia sudah susah payah bertingkah bagai anak manis penurut untuk ayah tirinya itu, jika Daisy melaporkan kelakuannya ia akan tamat. "Kamu tenang dulu! jika ia terluka parah berarti ia tak akan cepat siuman, mama punya ide" senyum sinis Merisa tersungging, ia sudah merencanakan semua untuk kebaikan ia dan anaknya dengan cara menjatuhkan dan memfitnah Daisy kepada suaminya. Hera yang mengerti maksud ibunya segera tersenyum dan merasa tenang, ia percaya ibunya tak akan mengecewakannya. Sementara Arsya masih shock ditempatnya, Hera segera menghampirinya dan menenangkan kekasihnya itu, hingga akhirnya mereka bisa bernafas sedikit lega. Karena ibunya telah mengambil alih, mereka hanya harus mengikuti alur yang dibuat ibunya. Dengan penuh drama dan airmata buaya, Merisa mengabarkan kecelakaan yang menimpa Daisy kepada suaminya, tentu saja membuat Aryo shock dan memutuskan untuk pulang dari perjalanan bisnisnya, namun ular berbisa itu menghasut Aryo dengan fitnah keji yang di rangkainya. Merisa menceritakan dengan tangis penuh dusta, bahwa Daisy kecelakaan saat pulang dari hotel bersama lelaki lain, ia menceritakan bagaimana kelakuan Daisy jika Aryo sedang tidak ada dirumah tentunya dengan penuh kebusukan. "Itu tidak mungkin Meri! Sy tidak mungkin seperti itu!" sangkal Aryo marah. "Sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini, namun asal mas tahu saja, setiap mas tidak ada dirumah aku sudah lelah menasehati nya, padahal aku sangat menyayangi Sy tapi kenapa ia begitu membenci ku dan Hera, hanya saat mas dirumah ia akan bertingkah seolah gadis yang baik" Merisa membual seraya pura-pura menyusut air mata di sudut matanya. "Sy... mana mungkin ia berubah" dengan suara parau Aryo berusaha menampik ucapan istrinya. "Sebenarnya menurut Arsya, Sy sudah berkali-kali terlihat bersama lelaki yang berbeda, dan kebetulan saat itu ia terpergok oleh Arsya saat Sy keluar dihotel bersama pria lain, namun mereka malah bertengkar dan Sy pergi bersama pria itu dan mereka kecelakaan. Akupun tak menyangka, namun kelakuan Sy yang selalu pergi ke club setiap malam membuat kecurigaan ini jelas mas!" Aryo terdiam dengan tangan yang mengepal, ia kecewa kepada Daisy yang ternyata berubah liar dan nakal setelah kepergian ibunya, bersikap lugu saat ia ada dirumah namun berubah saat ia tak ada, itu benar-benar membuat Aryo marah. Setelah mereka sampai di tempat tujuan dan mendengar kesaksian Hera serta Arsya yang sudah berada disana, akhirnya mau tak mau Aryo percaya bahwa Daisy sudah mengecewakan nya. Menengok sebentar keadaan Daisy di rumah sakit, ia tak pernah lagi mengunjungi nya, hanya mengatur perawatan terbaik untuk Daisy namun kemudian pergi tanpa memedulikan nya. *Flashback off ***** Dua bulan kemudian, tepat sudah Daisy memejamkan matanya selama tiga bulan lamanya, di sore hari yang cerah masih dengan keheningan yang sama, tak lama seorang suster yang masuk hendak memeriksa keadaan Daisy menyaksikan kelopak mata gadis cantik itu bergerak, sontak saja suster tersebut segera menekan tombol disamping ranjang Daisy sehingga dokter dan beberapa perawatan segera berdatangan dan memeriksa gaids itu. "Ini keajaiban, akhirnya nona Daisy kembali" sahut dokter dibalas ucapan syukur para perawat, mereka sangat prihatin karena Daisy tidak pernah ada yang membesuk nya selama terbaring disini, hanya perawat yang akan berganti rutin mengecek keadaannya bahka sesekali menjaga gadis itu. Tak menunggu lama dokter segera menghubungi keluarga Daisy, dan mereka berkata akan segera datang. Jari tangan Daisy bergerak, kelopak mata gadis itu mengerjap pelan, bibir kering mungil itu sedikit terbuka dan bergerak seakan bicara namun tak ada suara yang keluar, dokter mengira itu karena efek ia kehausan dan tertidur yang begitu lama, setelah mata itu bisa terbuka dengan sempurna dokter membetulkan tempat tidur Daisy agar sedikit naik untuk memudahkan gadis itu minum. Diberikannya minum dengan perlahan oleh suster, Daisy kembali menggerakkan bibirny seakan mengucapkan terimakasih, namun tak ada suara yang keluar. Dokter kemudian mengernyit dan melakukan pemeriksaan kembali, beberapa saat kemudian anggota keluarga Daisy masuk, namun raut yang didapat Daisy bukanlah raut kepanikan, hanya terpampang raut dingin dan acuh dari mereka semua, Daisy terpaku melihat ayahnya yang seakan membencinya. "Ada apa ini? kenapa ayah memandangku seperti itu?" kemudian kilasan penyebab ia kecelakaan terlintas dimatanya, "Apa mungkin ayah dihasut mereka?" Daisy mulai mengerti dengan perangai ibu dan adik tirinya, ia diam dengan pandangan kecewa terhadap ayahnya. "Pak Aryo, nona Daisy saya nyatakan sudah pulih dari koma dan tak ada luka berarti, semua sudah pulih dalam waktu tiga bulan ini" 'Apa... tiga bulan. selama itu aku koma, sehingga ayah sudah banyak termakan hasutan wanita itu' batin Daisy sedih. "Tapi... nona Daisy sepertinya mengalami trauma akibat kecelakaan tersebut dan membuat ia tidak dapat bicara... 'Riak terkejut nampak dimata semua orang yang ada disana tak terkecuali Daisy, 'apa ini? aku bisu?' air matanya menggenang. Sementara Merisa dan Hera diam-diam tersenyum licik karena yakin Daisy tak akan bisa mengadukan perbuatan mereka. Sementara menyimak semua penjelasan dokter, namun masih dengan raut dinginnya. "..... jadi untuk beberapa lama nona Daisy harus menjalani terapi, mungkin ini hanya bisu sesaat karena efek trauma kecelakaan nya" "Baik dokter terimakasih" sahut Aryo, dokter pun pamit dan berlalu pergi meninggalkan mereka diruangan itu. "Tuhan masih memberimu kesempatan hidup, jadilah wanita yang lebih baik!" ucapan tegas sang ayah membuat Daisy menatap ke arah pria itu. 'Tapi Sy sudah menjadi anak baik, ayah' batin Sy terluka dengan perkataan ayahnya. Mereka kemudian berlalu meninggalkan Sy kembali sendirian disana. Sy menatap langit-langit dengan air mata yang meleleh dipipi tirus nya, langit kembali runtuh untuk kedua kalinya bagi Daisy. ***** Tbc... dukung ya teman supaya lolos peninjauan ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD