Wina berhasil masuk ke dalam jajaran top 10 senior lawyer dengan bayaran tertinggi di Tedjaja & Partners, firma hukum milik ayah Jo—Erwin Tedjaja yang sudah berdiri sejak tiga generasi lalu dengan nama yang berubah-ubah karena hukum negara dan menjadi firma hukum terbesar di negara ini.
Tidak ada alasan bagi Wina untuk menolak perusahaan mantan calon mertuanya itu karena memang hasil tes Wina yang mengagumkan dan gadis itu sudah masuk sebelum pertunangannya dengan Jo dibatalkan.
Dan Wina harus menandatangi surat yang menyatakan tidak akan menemui Jo, Rin, dan ayah Rin dalam waktu tertentu, dan juga sebagai gantinya, Jo dan Rin meninggalkan negara ini atas permintaan Wina pada Jo.
Wina sedang memimpin sebuah rapat bersama timnya untuk membahas klien-klien minggu ini ketika sekretaris Erwin Tedjaja memintanya untuk menemui atasan tidak langsungnya itu.
“Ada hal penting apa sehingga saya harus menunda rapat saya kali ini, tuan Tedjaja?" Wanita itu berujar tegas dan sedikit kesal saat dirinya melihat Erwin Tedjaja berdiri di dalam ruangan Wina dengan tongkat yang dipegang pria tua itu.
“Wina ku yang pemarah" ujar pria tua akhir 50-an itu dengan senyum yang merekah. “Pak tua, ini sudah kedua kalinya dalam satu minggu anda menginterupsi rapat saya" Ujar Wina sembari menggeram marah pada Erwin Tedjaja.
Keduanya lebih dekat setelah Wina masuk kedalam perusahaan, walaupun Erwin masih sering menjodohkan Wina dengan Zubair Tedjaja-putra pertamanya. “Aku harap alasan kali ini benar-benar penting pa”
Karena kedekatan Wina dengan keluarga Tedjaja menjadikannya sudah seperti salah satu anak dalam keluarga itu. Terlebih setelah kematian orang tua Wina dan pernikahan Jo dengan Rin.
Erwin tersenyum kemudian mendekati Wina yang duduk di salah satu sofa miliknya. “Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan aku dengan Floura, dan aku ingin memberinya hadiah. bersamaan dengan peresmian rumah sakit baru Floura di Afrika,”
“Lalu?”
“Bantu aku memikirkannya”
“Tidak. Ini perayaan kalian kenapa aku harus ikut memikirkannya?”
“Atau hadiah terbaiknya adalah kamu menikah dengan Zu?”
Wina jengah dan pasrah. “Baiklah, apa permintaan kali ini?”
“Kamu harus ikut dengan aku besok malam ke acara lelang Kastara.” Erwin memberikan box beludru kepada Wina yang berisi undangan berwarna navy dengan tulisan berwarna emas dengan logo Kastara yang sangat jarang orang ketahui, namun sangat khas untuk kalangan mereka.
“Lelang privat yang kamu datangi tahun lalu untuk membeli guci seharga rumah?” Erwin mengangguk mengiyakan Wina, “Tidak terima kasih”
“Kamu yakin Win? Aku dengar mereka akan memamerkan koleksi yang baru saja mereka dapatkan” Erwin berhenti untuk mengamati reaksi Wina yang masih tidak setuju. “Dan asal kamu tahu itu adalah karya Abdullah Suriosubroto”
Wina terdiam, kemudian menatap Erwin dengan penasaran. “Karya yang mana?” Wina terjebak.
Erwin selalu tahu apa yang disukai perempuan yang sudah bersamanya selama beberapa tahun itu, semenjak batalnya pertunangan Wina dengan putranya. Erwin tahu kalau Wina adalah wanita baik dan satu-satunya orang yang bisa merubah Tiffany menjadi seperti sekarang ini.
“Kamu harus ikut untuk mengetahuinya”
Abdullah Suriosubroto adalah cinta pertama Wina dalam bentuk lukisan pemandangan, untuk itu Wina tidak pernah akan melewatkan untuk melihatnya dalam pameran dan museum mana pun, bahkan Wina pernah meminta secara khusus kepada grup study tour sebuah sekolah untuk mengikutinya dalam kunjungan ke istana negara demi melihat karya idolanya itu.