CHAPTER 2

720 Words
Pagi yang cerah untuk wilayah kota hari ini, gadis itu terbangun dari kursi bacanya di apartemen yang dicicilnya sejak kuliah tanpa melibatkan uang pemberian orang tuanya. Wina memutuskan untuk menempuh pendidikan di salah satu sekolah hukum terbaik di Indonesia untuk mencapai keinginannya yakni hidup bebas tanpa orang tuanya. Sedari kecil Wina terbiasa diatur dan dikekang oleh orang tuanya terlebih semenjak ibunya mengalami keguguran pada saat Wina berusia lima tahun. Hal itu menjadi trauma dan membuat orang tua Wina sangat menjaga dan mengatur Wina. Namun akhirnya orang tuanya mau memenuhi keinginannya untuk keluar rumah setelah Wina menyelesaikan sekolah menengah atasnya di New York. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah buku-buku hukum manajemen yang kembali dibukanya karena harus membantu orang tuanya mengurus perusahaan yang diancam berhutang 2 miliyar oleh Teuku Wicaksono setelah kecelakaan yang terjadi pada Rinjani pada malam batalnya pertunangan Wina dengan Jo beberapa hari lalu, gadis itu tidak dapat menemui Jo dan Rin. Bahkan Wina mendengar kabar bahwa Rin mengalami amnesia. Wina kemudian bersiap untuk menuju restoran di salah satu daerah termacet di kota, untuk menemui Ethanoah Tjandrawinata, pengacara Ayah Rin untuk menandatangani surat yang entah apa maksudnya. Wina hanya mengenakan kaos putih dengan jeans yang membentuk lekuk kakinya, memperlihatkan kaki jenjangnya dan mengenakan sepatu yang dia temukan di rumahnya. Tentu saja Wina terlihat menakjubkan. Diantara para banyak pengunjung restoran yang mengenakan setelan kerja, jelas Wina terlihat sangat berbeda dan menawan terlebih dengan paras campurannya. “Selamat pagi, Wina” sapa Ethan yang sudah memiliki secangkir kopi didepannya. “Sarapan?” “Selamat pagi juga Ethan. Sepertinya boleh, terima kasih” Wina mengambil duduk di depan Ethan dan menyebutkan pesanan gadis itu pada pelayan yang menghampiri meja mereka. Setelah Wina menyelesaikan pesanannya dan pelayan itu pergi, keduanya mulai bicara serius. Ethan lalu mengeluarkan sebuah map dengan selembar kertas didalamnya. “Ini adalah surat yang harus kamu tanda tangani. Beberapa klausal diubah sesuai permintaan tuan Teuku Wicaksono" “Jadi ini berbeda dengan yang kamu berikan kepada aku kemarin?” “Kurang lebih” Wina kemudian membacanya dengan seksama surat yang berisi klausal untuk meninggalkan Jonathan dan tidak menemui Rin dan keluarga barunya karena amnesia gadis itu, termasuk untuk tidak hadir dalam pernikahan Jo dan Rin. hingga dering ponsel Wina menganggu keduanya. Bersamaan dengan itu pelayan mengantarkan pesanan mereka. “Maaf tapi sepertinya aku harus mengangkat ini” ujar Wina namun tidak beranjak dari duduknya. Ponsel Wina disetel sangat lirih untuk menjawab panggilan itu hingga Ethan tidak perlu mendengarnya. “Silahkan” balas Ethan yang kemudian melihat pelayan menyajikan pesanan Wina. ”….” hening lama bahkah Wina belum mengatakan apapun pada lawan bicara yang menghubunginya. Wajah panik gadis itu tidak pernah bisa ditutupinya, setidaknya tidak kepada Ethan yang merupakan kakak tingkatnya pada organisasi di universitas dulu. Keduanya memang saling kenal hingga tidak perlu repot-repot menggunakan bahasa formal ataupun berbasa-basi. Kalau diingat-ingat, Wina pernah berdebat dengan Ethan hingga pagi saat sedang kumpul organisasi dulu, sehingga kedunya tidak perlu meninggalkan kesan yang baik untuk satu sama lain. Wina menutup sambungan telpon dan menatap Ethan yang sedang menyesap kopinya. “Apa yang terjadi jika aku tidak menandatanganinya?" “Aku tidak tahu apalagi yang bisa diperbuat client aku” “Ethan, tahu kah kamu kalau client kamu membuat ayah ku meninggal dan ibuku kritis di New York sana?” “Huh?” “Kedua orang tua aku baru saja kecelakaan dan barusan bibi aku menelepon untuk mengabarkan itu” “Tidak mungkin” “Aku akan menandatanganinya setelah tertulis hutang keluarga aku yang sebelumnya tidak pernah ada, akan dilunasi oleh client kamu. Dan mereka akan meninggalkan Indonesia untuk dua tahun” “….” “Sudah cukup nyawa ayah aku untuk membayarnya” “…” “Ubah itu dan aku akan menandatanganinya sebelum keberangkatan tercepat yang aku miliki” Keduanya kemudian terdiam, dan Wina sibuk mencari tiket penerbangan tercepat. Dan Ethan sibuk menelepon Teuku Wicaksono dan mendapat persetujuan. Ketika Wina sudah mendapatkan tiketnya dan menyelesaikan sarapannya dengan tergesa, dan seseorang utusan Ethan datang membawa surat dengan klausal tambahan yang baru, Wina menandatanganinya setelah membacanya secara cepat. Kemudian meninggalkan Ethan dengan terburu-buru untuk pergi ke bandara. “Semoga kita tidak bertemu lagi Ethan” ujar gadis itu yang membuat Ethan membatu. Sejak kuliah Ethan sudah menyukai Wina yang begitu tegas dalam mengambil keputusan di organisasi, bahkan Wina memiliki banyak sekali piagam debat yang dimenangkan gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD