Herodotus Castle, 9 AM
Cahaya matahari menyeruak masuk, kedalam ruangan dimana sang bunga sedang tertidur pulas. Cahaya itu membuat tidurnya terusik, dan perlahan membuka kelopaknya. Bunga yang sudah lama tertidur, kini mulai mekar kembali. "Eeunghh," lenguh Belve.
Setelah kejadian itu, Belve sampai koma selama 2 minggu. Bahkan Dokter sempat frustasi menanganinya. Jika Belve tidak selamat, maka taruhannya adalah nyawa sang dokter. Dan kesalahan fatal yang baru Derren ketahui adalah, tubuh manusia tak sekuat tubuh mahluk immortal. Pantas aja Belve langsung koma, karena cambukan itu.
"Kakak Ipar! Vano! Dia bangun, Luna sudah bangun!" suara teriakan perempuan, membuat Belve langsung membuka matanya cepat. Namun penglihatannya masih buram, dan tubuhnya tidak bisa bergerak.
Braakkk!!!
Revano masuk dengan terburu-buru, hingga tak sengaja membanting pintu kamar kakaknya itu. Dia sangat bersemangat, mengetahui Belve yang sudah bangun. padahal Revano saja tidak tau, apa yang membuat Belve koma.
"Sebentar, aku panggil Kakak dulu.
Kau tunggu disini," ujar Revano pada wanita yang sedang menemani Belve.
Dia adalah Arianne Vancious, Vampire yang beberapa waktu lalu Revano klaim sebagai Mate–nya. Arianne merupakan putri mahkota dari kerajaan Vampire. Putri yang memimpin kelompok pemberontak, hanya karena ingin dianggap oleh Ayahnya.
"Tunggu sebentar, Kakak ipar akan segera datang," ucapnya sembari menggenggam tangan Belve. Yang perlahan sudah bisa menggerakkan tangannya. Lalu Arianne tersenyum manis.
"Kakak Ipar?" tanya Belve bingung, dia juga tak mengenali siapa wanita di depannya ini.
"Alpha Derren, dia Kakak Iparku," jawab Arianne penuh keyakinan. Tapi jawaban yang Arianne berikan, adalah sumber ketakutan Belve saat ini.
Mendengar nama Derren, rasa takut Belve kembali muncul. Yang ada di pikirannya, bagaimana jika pria itu mencambukinya lagi? atau bahkan melakukan yang lebih parah?. Tangan Belve bergetar hebat, air matanya tak terasa telah menuruni pipi. Nafasnya naik turun secara tidak normal, dadanya merasa sesak saat mengingat betapa sakitnya di cambuk. Belve ingin mati saja dari pada harus dicambuki, rasa sakit yang menjalar di tubuhnya seolah tak tertahan.
"Kau kenapa, Kak?" tanya Arianne panik. Belve menggenggam erat tangan Arianne, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kumohon aku ingin pulang, aku takut dia-" ujar Belve sembari memohon, berharap Arianne mau membantunya.
"Belve?" sayangnya, Derren telah datang sebelum Belve selesai bicara.
"Kenapa dengannya?" tanya Derren dengan nada mengintimidasi, pada Arianne. Derren pikir, Arianne lah yang telah membuat Belve menangis. Karena raut muka Arianne terlihat aneh, padahal Arianne juga panik karena Belve. Memang sih, tidak ada yang bisa tenang saat berhadapan dengan Derren. Walaupun tampan, sifatnya itu terlalu menyeramkan.
"A-aku tidak tau," jelas Arianne sambil memegang kedua tangan Belve. Dia juga tidak tega, melihat Belve menangis seperti ini.
"Dia ketakutan," lanjut Arianne. Derren yang langsung mengerti alasan ketakutan Belve, hanya pura-pura mengangguk.
"Kau boleh pergi. Vano menunggumu di luar," titah Derren pada Arianne, yang menunduk hendak pamit. Namun saat baru beranjak, tangannya langsung di tahan oleh Belve.
"Jangan pergi! jangan tinggalkan aku," ucap Belve yang masih sambil meneteskan air matanya. Belve pikir, mungkin Derren tidak akan menyakitinya jika ada orang lain.
"Tenang saja.... kau akan ditemani Kakak Ipar," jawab Arianne yang tak tahu, tentang kejadian dimana Derren mencambuki tubuh Belve. Arianne melepaskan genggaman tangan Belve, lalu melambaikan tangannya sambil menutup pintu.
Kini tinggal Belve dan Derren, di kamar penuh kecanggungan. Pria berwatak keras itu, tengah menatap Belve dengan rasa bersalahnya. Sedangkan Belve, dengan cepat menarik selimut. Berniat menutupi seluruh tubuhnya, hingga tak ada cela untuk Derren melihat. Derren yang mengamati gerak-gerik Belve, hanya diam seribu-kata. Bukan salah Belve jika dia masih ketakutan, bahkan Derren sudah menyesali perbuatannya. Dan mengerutuki dirinya sendiri, selama Belve tak sadarkan diri.
Bagaimana Derren bisa semarah itu pada Belve? bagaimana Derren melukai Mate-nya sendiri?. Bagaimana bisa Derren membiarkan air mata Belve, mengalir dengan bebasnya? semua itu juga tidak pernah terpikirkan oleh Derren. Padahal Derren sendiri yang sudah berjanji, akan menjadi tempat berteduh untuk Belve. Tapi yang Derren lakukan, justru membawa petir didalam kegelapan hidup Belve.
Derren mendekati tubuh Belve yang masih tertutup selimut rapat-rapat, lalu menarik pelan agar terbuka. "Jangan.... maafkan aku," gumam Belve saat menyadari gerakan Derren.
"Bukalah. Aku ingin melihat wajahmu," pinta Derren lembut, sambil menarik selimut Belve. Derren benar-benar ingin meminta maaf pada Belve, dan memperbaiki hubungan mereka.
Dua-tiga kali Derren mencoba membukanya, namun yang ada Belve semakin mengeratkan genggamnnya sambil menangis ketakutan. Derren yang memang tidak memiliki rasa sabar, segera menyibak kencang selimut Belve, hingga tergeletak begitu saja di lantai. Belve yang terkejut, segera menjatuhkan dirinya kelantai untuk menghindari Derren.
"Jika kau ingin aku mati, bunuh saja aku. Jangan cambuk lagi," ucap Belve kembali sambil sesegukan memeluk Kakinya sendiri. Meringkuk dengan tubuh yang gemetaran, hingga rasa bersalah semakin menguasai Derren. Pria itu mendekati tubuh Belve di sebelah ranjang, lalu menekuk lututnya agar sejajar.
"Belve..." tangan Derren terulur, menyentuh puncak kepala Belve yang langsung terkejut hebat. Belve takut.... sangat takut.
Tanpa aba-aba Derren memeluk tubuh Belve erat. Menarik tubuh Belve, dan menghapuskan jarak di antara mereka. Tanpa Belve sadari, perlahan Derren Mengangkat tubuhnya ke atas ranjang. Kemudian mengusap pelan rambut panjang Belve, sambil sesekali mengecupnya. Hatinya terasa sakit, melihat betapa takutnya Belve padanya.
"Maaf...." ucap Derren, yang justru mendapat dorongan dari tangan Belve. Namun dorongan itu, tak berpengaruh dengan badan kekarnya.
"Let me go," sekali lagi Belve mendorong tubuh Derren. "I want to go home," lanjutnya.
"Kau harus tetap disini, soal waktu itu aku hanya kelepasan sedikit emosi. Aku min-"
"Sedikit? Kau bilang sedikit?! Tuan..... emosimu yang sedikit itu sangat menyakitkan! lepaskan aku."
"Tidak akan, sebelum kau berjanji tidak akan meninggalkanku."
"Kau bukan manusia, kau seorang Monster..."
"Aku akan menjelaskan semuanya, setelah kau tenang."
"Apa lagi yang mau kau jelaskan?! Kau sama saja dengan mereka.... Mereka yang melukaiku, lalu meminta maaf untuk mengulangi hal yang sama."
"Diam! Kau sendiri yang membuatku kehilangan kendali, Belve," bentak Derren. Sambil melepaskan pelukannya, lalu melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Belve dengan beribu pertanyaan, dan kemarahan. Sekarang hidupnya benar-benar berantakan, terjebak di tempat tak dikenal bersama mahluk kejam seperti Derren.
Lumayan lama Belve menangis, membuat mata–nya terasa berat. Lama kelamaan matanya tertutup, bersamaan dengan tubuh–nya yang terlentang di ranjang dengan bebasnya. Belve menggunakan dress santai berwarna kuning selutut, yang menampilkan kaki jejang–nya. Rambut panjangnya yang tidak di ikat, menutupi sebagian wajah cantik–nya.
Sedangkan Derren masih berdiri di luar kamar, agar tidak melukai Belve lagi karena amarahnya. Bersama kedua penjaga, yang gemetaran menahan rasa takutnya. Saat sang Alpha keluar, dengan aura yang mencekam. Merasa tak mendengar tangisan Belve lagi, Derren memutuskan membuka kembali pintu kamarnya dengan perlahan.
Rupanya Belve tertidur dengan posisi yang tidak mengenakkan, yaitu kaki yang masih menggantung di sisi ranjang. Derren mendekati tubuh Belve, merapikan beberapa helai rambut Belve, lalu mencium puncak kepalanya. Derren berinisiatif membetulakn posisi tidur Belve, dengan mengangkatnya ke atas bantal. Kemudian Derren ikut berbaring di samping Belve, sambil memeluknya erat. Satu tangan kokoh Derren, di gunakan sebagai bantalan tidur Belve. Dan tangan yang satunya, menarik tubuh Belve agar lebih merapat.
"Sulit menaklukanmu ternyata," ucap Derren menatap dalam gadis di dekapannya itu. Derren pikir, Belve akan suka dengan wajah tampan Derren, lalu mulai mencintainya. Atau jika melihat kekayaan, dan segala yang Derren punya. Tapi Belve tak tertarik sama sekali, pada hal-hal seperti itu. "Aku akan membuatmu, mencintaiku."
Cupp
Derren mencium bibir Belve lalu mengulumnya lembut, lidahnya menyesap masuk untuk lebih menperdalam ciuman–nya dan mengakhirinya dengan gigitan ringan di bibir bawah Belve. "Mhh," Derren menjilat bibirnya sendiri.
"Lain kali, kau yang harus menciumku," ucap Derren lalu menyusul Belve menuju mimpinya.
****
5 PM
"Eeeuummhhh," lenguh Belve yang terbangun dari tidurnya. Lalu menggeliatkan badannya, karena merasakan benda berat menimpa pinggangnya. Belve terbelalak kaget, saat melihat Derren yang masih tertidur pulas. Rasa takut itu datang kembali, tapi Derren memeluknya erat.... bagaimana Belve bisa membebaskan diri kalau begini. Belve memegang lengan kekar Derren, berniat untuk menggesernya tanpa menggangu tidurnya. Namun tanpa sadar, Belve memandangi wajah tenang Derren. Kemudian, bergumam pada dirinya sendiri.
"Andai dia setenang ini terus.... aku tidak akan ketakutan," gumam Belve pada dirinya sendiri, sambil mengamati wajah Derren.
"Diam-diam memandangiku, Luna?" ucap Derren, yang sukses membuat Belve terkejut.
Derren sebenarnya tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Derren tahu, kalau Belve memandangi wajah tampannya diam-diam. Lagipula, Derren ingin tau apa yang akan Belve lakukan ketika bangun. Sedangkan Belve masih berusaha melepaskan dirinya, dari lengan kokoh Derren dengan segala cara. Namun, pria itu malah kembali menarik tubuh Belve dalam pelukannya.
"Kenapa kau ketakutan lagi? Sebelum aku bangun, sepertinya kau tenang-tenang saja," tanya Derren, yang sebenarnya bertujuan untuk menenangkan Belve. Derren harus sangat berhati-hati, saat menghadapi Belve.
"Aku memang selalu ketakutan," jawab Belve. Lalu melipat tangan didepan dadanya, untuk membatasi tubuh Derren.
"Apa yang kau takutkan?" Derren semakin erat memeluk Belve, rasa senang menguasainya karena berhasil membuat Belve tenang.
"Kau tau. Aku hanyalah mahluk lemah, yang terus-menerus disakiti oleh orang-orang kuat sepertimu," ujar Belve dengan lirih, dia takut Derren akan marah lagi nantinya.
"Aku tidak akan menyakitimu lagi," janji Derren sambil mengelus puncak kepala Belve.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Derren yang bingung, kenapa Belve diam. Gadis itu bahkan tak menyahuti kata-katanya.
"Apa yang harus aku jawab? lagipula apapun jawabanku, hasilnya akan tetap mengikutimu." Belve pasrah dengan takdirnya, dia tidak akan pernah bisa lari dari Derren.
"Apa yang kau pi-"
"Yang aku pikirkan? Aku memikirkan, bagaimana keluar dari kekejaman dunia. Aku hanya ingin bebas dari rasa takut ini. Tapi dunia seolah menolak permintaanku, aku masih saja merasakan takut dan tidak berguna."
"Aku pikir, mati adalah jawaban terakhir agar aku bebas. Tapi aku kembali terbangun, dengan keadaan yang sama."
"Kau terus menahan marahmu, hingga marahmu berubah menjadi air mata." Derren berusaha menenangkan tangisan Belve, dia hanya ingin Belve bisa meluapkan emosinya mulai sekarang. Derren ingin, Belve mengekspresikan apa yang ada didalam hati dan pikirannya. Terkadang, tak semua hal yang dipendam menjadi baik.
"Lepaskan aku, Tuan...." ucap Belve kembali berusaha melepaskan diri. Dia tahu bahwa pria dan wanita yang tak berstatus, tidak baik jika berada di posisi seperti ini.
"Sudah kubilang. Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kau berjanji tidak akan meninggalkanku."
"Tidak ak-"
"Kalau kau mau posisi kita seperti ini terus, aku dengan senang hati menerimanya," goda Derren sembari mengelus rambut Belve dan mengecup pipi Belve.
"Sesuatu akan mengeras dibawah sana," bisikan Derren membuat Belve melotot kaget, sebenarnya apa yang pria m***m ini bicarakan.
"Kenapa kau-"
"Hhmm? Bagaimana? Atau kau suka posisi seperti ini?"
"Bukan seper-"
"Kalau begitu berjanjilah," Belve mengendus kesal. Dia mulai kesal, karena Derren terus-menerus memotong kata-katanya.
"Bagaimana aku berjanjinya?"
tanya Belve dengan polosnya. Dia tidak tahu, bahwa didapannya ini adalah pria m***m tingkat tinggi.
"Cium aku," Belve mengerutkan dahinya bingung seolah berkata, hah? Cium?.
"Selain itu?" tanya Belve, yang membuat Derren terkekeh pelan, dengan tingkah manis Mate–nya itu. Walaupun masih sedikit takut, setidaknya Belve tidak menangis lagi.
"Sebenarnya, aku ingin melakukan yang lebih dari-" Derren dengan sengaja terus menggoda Belve, dia suka melihat wajah Belve yang memerah karena malu.
"Hey!" otomatis Belve berteriak, dan menutup mulut Derren sambil melotot. Kenapa Derren dengan percaya diri memintanya melakukan hal itu.... hal yang seharusnya di lakukan Suami–Istri.
"Ada apa ? Kenapa kau semarah itu?" tanya Derren berpura-pura polos dengan gadisnya, padahal dialah yang paling m***m disini.
"Selain itu lagi?" tawar Belve yang membuat Derren mengendus pelan. Ini bukanlah pasar, yang didalamnya terdapat tawar-menawar antara penjual dan pembeli.
"Tidak ada, Luna. Kau bisa memilih antara dua pilihan itu," jawab Derren lagi sambil mencium puncak kepala Belve lama, menikmati harum alami Mate–nya.
"Kau tahu namaku, kenapa kau memanggilku, Luna?" Tanya Belve, saat pikiran Belve teralih. Belve heran, sendari tadi Derren memanggilnya dengan nama lain, yang bahkan dia tidak kenal.
"Karena kau memang, Luna."
"Aku harap kau salah orang, Tuan Der-"
"Panggil Derren saja."
"Eum Derren, mau aku bantu mencari Luna?" pernyataan Belve membuat Rodolph yang sedang tertidur bangun, dan langsung cekikikan didalam sana.
"Tapi aku sudah menemukannya" jawab Derren santai
"Dimana dia? Lepaskan aku, bagaimana jika Luna melihat kita dengan posisi seperti ini?" Belve kembali berusaha melepaskan pelukan Derren, tapi Derren tidak menggubrisnya sama sekali.
"Bagaimana jika dia marah, Derren?" rasa senang menjalar di hati Derren. Baru pertama kali ini, Belve menyebut nama Derren dengan lembut. Rodolph juga sangat senang di dalam sana.
"Tidak akan," jawab Derren singkat.
"Kenapa?"
"Karena kau adalah, Luna."