So Warm [Part 9]

2004 Words
"Aku? Aku Belve, bukan Luna." Protes Belve pada Derren, lalu memukul d**a bidang pria itu pelan. Belve masih belum paham, Luna siapa yang Derren bicarakan? dimana dia? Sepertinya si Luna ini sangat penting bagi Derren. "Kau adalah, Luna Belve Princiella." Derren melonggarkan pelukannya, lalu mengganti posisinya keatas tubuh Belve yang terdiam bingung. "Aku berjanji, akan menjelaskan semuanya. Tapi tidak sekarang oke?" ucap Derren tanpa beralih posisi, lalu mengamati wajah mungil milik Belve. Wajah yang selalu menyimpan kesedihan, ketakutan dan kemarahan. Mungkin sebagian kalian berfikir, kalau Belve terlalu mudah di bujuk. Tapi Belve berfikir, dia memang selalu tidak bisa melawan. Dia sudah terbiasa, menerima perlakuan orang lain. Tapi kali ini, Derren ingin membuat Belve menghargai dirinya sendiri. Derren baru ingat, bahwa Belve tidak makan dengan baik akhir-akhir ini. Yaa karena Belve lebih banyak tidur, sejak tiba di Herodotus. Belve bertahan, karena Derren memberi Belve darahnya setiap hari. Tujuannya untuk membuat tubuh Belve bertahan, selama koma. Tapi takaran yang Derren berikan hanyalah satu tetes, karena darah Derren terlalu kuat. Jika melebihi batas, nanti bukannya sembuh..... Belve justru tersiksa. "Ayo kebawah, kau pasti lapar." "Memangnya boleh?" tanya Belve dengan polosnya. Seingat Belve, Derren pernah bilang kalau dia tak boleh pergi kemanapun. "Tentu saja boleh." "Kau bilang, aku tidak boleh pergi kemanapun." Cup. "Tidak masalah, selama kau bersama dengaku." Derren mengecup bibir Belve singkat, yang membuatnya melotot marah. Derren hanya tidak tahan, melihat tingkah menggemaskan gadis di depannya ini. Rodoph yang sedang tertidur, sampai menggeram saking gemasnya. Untung saja, Derren tidak melahapnya saat itu juga. "Jangan asal menciumku," cetus Belve sambil mengelap bibirnya kasar. "Apa aku harus meminta ijin–mu, huh?" Belve mengabaikan pertanyaan kacau Derren, dan memalingkan wajahnya. Sedangkan Derren, memasang wajah jahilnya disana. "Bolehkan, aku menciummu?" "Derreeen!" Belve dengan cepat mengambil bantal di sampingnya, lalu memukul wajah Derren yang tertawa puas disana. "Tidak adil jika kau membawa senjata," Derren juga berisiniatif mengambil bantal. Lalu memposisikan dirinya di ujung ranjang. Disusul dengan Belve, yang duduk bersiap tempur dengan Derren. "Yang tidak adil itu kau, kau ini laki-laki." "Inilah peperangan Belve, kau bisa melawan siapapun yang ada di hadapanmu." "Kau kejam." Buggh!!! Bugghh!! Belve Memukul Derren tanpa henti dengan bantalnya, Derren yang belum bersiap hanya menahannya dengan bantal juga sebagai perisai. Beginilah kebahagiaan sederhana yang Derren inginkan, melihat Belve ceria seperti ini. Heh? Belve terdiam seketika, saat dia menyadari kalau tak ada rasa takut lagi di dalam dirinya. Belve tak pernah merasa kesal pada orang lain, bahkan dia berani meneriaki Derren sekarang. Tanpa terasa, air mata membasahi pipi tirusnya. Belve berfikir, rasanya begitu menyenangkan bisa bicara pada seseorang. "Eh," Belve mengusap air matanya cepat, dia sadar bahwa Derren sedang menatapnya sekarang. "Kenapa kau menangis?" "Tidak tahu....." "Mendekatlah, aku akan memelukmu," ujar Derren sambil merentangkan tangannya. "Apa? tidak perlu..." Belve baru saja ingin menolak tawaran Derren, tapi lelaki itu seolah tak mau mendengar sebuah penolakan. Derren memeluk tubuh mungil gadisnya, yang sangat pas di pelukannya. Lalu mengusap punggung Belve, seperti yang Ibunya lakukan saat Derren kecil. Saat memeluk Belve, Derren merasakan sakit dihatinya. Belve terlihat begitu rapuh, jika saja badai datang, Belve pasti akan tumbang. "Ayo makan. Menurut manusia, makanan bisa membuat bahagia, kan?" Belve mengangguk, tak tahu harus bereaksi seperti apa jika Derren seperti ini. "Ngomong-ngomong, kau melupakan syarat janjimu padaku." "Syarat apa?" Belve kembali teringat, dengan percakapannya dengan Belve beberapa waktu lalu. Lalu Belve memijit keningnya pelan, dia benar-benar lupa tentang perjanjian itu. "Haruskah, dengan ciuman?" "Tidak, kan aku sudah memberimu pilihan deng-" "Iya iya. Jangan dijelaskan lagi, oke?" potong Belve cepat. Dari pada ia kembali mendengar, sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. "Jadi, apa pilihanmu?" "Boleh lain kali saja?" "Tidak," Belve menghela nafasnya panjang. Merasa tidak ada pilihan, Belve akhirnya mau untuk mencium Derren yang sedang bersenandung ria disana. Begitu juga Rodolph yang ikut bahagia, walau sebenarnya Rodolph juga ingin bertemu langsung dengan Belve. "Tutup matamu," pinta Belve pada Derren yang langsung menutup mata–nya, lalu menunggu ciuman dari Belve. Gercep banget Derren_Minky. Cup. Belve mengecup pipi kanan Derren singkat, lalu menutupi wajahnya sendiri karena malu. Walaupun Derren sedikit kecewa, karena Derren kira, Belve akan mencium bibirnya. Tapi ini adalah permulaan yang bagus, setidaknya katakutan Belve sedikit mengurang. "Kenapa kau menutup wajahmu?" goda Derren sambil menarik pelan tangan Belve, tapi Belve langsung menolaknya. "Aku malu... ini memalukan." "Tidak perlu malu, aku adalah calon Suamimu." Tok! Tok! Tok! Baru saja Belve ingin memukul Derren, suara ketukan pintu membuat tangannya otomatis berhenti. "Come in," ucap Derren menahan marahnya. Yaaa, karena momennya bersama Belve jadi terganggu. "Alpha, pangeran Revano menunggu anda untuk makan malam bersama," ucap salah satu Omega. Umurnya sekitar 40 tahun dalam hitungan manusia. "Baiklah, kami akan turun." Omega itu membukukkan badannya, lalu kembali menutup pintu kamar Derren. "Ayo," Derren segera beranjak dari ranjangnya, lalu menggandeng tangan Belve tanpa aba-aba. "Siapa itu, Vano?" tanya Belve penasaan, dia belum mengenal siapapun di kerajaan ini selain Derren. Dari pertama Belve di bawa oleh Derren, dia selalu berada di dalam kamar. "Dia, Adik–ku," jawab Derren sembari mengajak Belve keluar kamar. Mata Belve berbinar, melihat megah–nya tempat yang tempati sekarang. Kastil ini terlihat mewah, dengan gaya jaman pertengahan. Pack Herodotus, adalah Pack paling besar serta paling kuat, di antara semua Clan Werewolf. Saat Alpha Meirion masih memimpin, banyak Pack-Pack kecil yang sudah dia taklukkan. Luna Audellia, yang berstatus sebagai istri Alpha Meirion, juga ikut berkerja keras membangun kerajaan mereka. Dan setelah Derren tumbuh kuat, dia bisa menguasai kekuatan dalam dirinya. Menjadi Alpha penerus pack Herodotus, dia juga berperan penting dalam pengembangan. Bahkan saat Derren masih berusia begitu muda, dia sudah bisa mengalahkan King Demon. Yang akhirnya, darah Demon mengalir dalam dirinya. Saat tiba satu lantai di bawahnya, ada pasangan muda yang terlihat mempesona, tengah menunggu di ruang makan. Mereka adalah Revano Gardolph, Adik Derren. Dan Arianne Vancous, Vampire yang menjadi Mate Revano. "Hai!" sapa Arianne pada Belve, tapi yang di sapa justru kebingungan. "Ha-Hai aku? oh hai..." jawab Belve kikuk, setelah menunjuk dirinya sendiri untuk bertanya. Pasalnya dia tidak kenal dua orang didepannya ini. "Memangnya siapa lagi, tidak mungkin dia, hahahahaha!" tawa renyah Vano menggema di seluruh ruangan. Sembari menunjuk salah satu Omega, yang sedang menyiapkan makanan mereka. "Kalian jangan berisik. Dia baru saja sembuh," cetus Derren yang kesal. Tentu pada Vano yang cekikikan tidak jelas, seperti biasa. Sedangkan Belve merapatkan tubuhnya, di lengan Derren saat berjalan ke arah meja makan. Karena Derren lah, satu-satunya orang yang Belve kenal untuk saat ini. "Belve, orang aneh itu adalah, Adik–ku dan Istrinya." Derren mengenalkan anggota keluarganya, pada Belve. "Yang sebenarnya aneh itu Kakak, kau selalu menolak saat diajak makan bersama." "Diam, atau ku lempar tubuhmu kekumpulan Orc," ucap Derren, memberi peringatan pada Revano. Lagi pula, Derren sangat tidak suka kebisingan. Orc, adalah monster yang biasa digunakan untuk memberi hukuman mati para penghianat. Orc, dikenal dengan sikap yang sering membabi-buta. Mereka menyerang, dan mencabik apapun yang berada di hadapan mereka. Orc juga bisa membantu mereka saat berperang, karena yang mereka takuti hanyalah api milik Derren. "Kau membosankan, seperti biasanya. Mau jus merah, Sayang?" Vano menawari Arianne, yang langsung di sambut anggukan semangat dari istrinya itu. Derren telah berada tepat di depan meja makan, banyak makanan lezat telah tersaji. Mereka jarang menyantap makanan, layaknya manusia. Hanga setiap 2 minggu sekali, para Omega akan memasakkan segala jenis makanan sebagai jamuan. Tapi sekarang, karena sang Luna adalah manusia normal... maka para Omega harus memasak tiap hari untuk kebutuhannya. "Kau duduk disini saja," Derren menyiapkan kursi untuk Belve, sengaja di dekatnya. Dan berjauhan dari Adik-Adiknya. "Mom, tidak ikut?" tanya Derren yang juga sudah duduk di kursinya. "Mom, pergi ke tempat Ibu mertua. Akhir-akhir ini... mereka sangat suka minum teh bersama," jawab Vano sambil mengambil sebuah anggur di tengah meja, lalu memakannya dalam sekali lahap. "Kau mau makan apa, Kak? Biar aku ambilkan," Belve yang merasa Vano mengajaknya bicara, langsung menjawab. "Tidak usah. Aku ambil sendiri saja," Belve beranjak. Berniat mengambil mangkuk omelete, yang berada agak jauh dari tempat duduknya. Tapi meja makan yang lumayan besar, membuatnya tak bisa menggapai omelete itu. "Biar aku ambilkan," Arianne yang memang lebih dekat dengan mangkuk omelete, segera mengambilkan beberapa potong pada piring Belve. "Terimakasih." "Tidak usah sungkan, Kak. Kami adalah keluargamu," ucap Vano semangat. Walaupun Belve sedikit bingung, karena Vano dan Arianne yang terus memanggilnya Kakak Ipar. Tapi setelah mendengar kata keluarga, hati Belve merasa bahagia luar biasa. Jadi rasanya seperti ini makan bersama seseorang ? Diperhatikan oleh orang.... Di ajak bicara... Makan makanan lezat... Kalaupun ini berlangsung sementara, Belve ingin mengingat rasa bahagia ini. "Keluarga," gumam Belve sambil tersenyum manis. Keluarga ya. Arianne, Vano dan Derren ikut tersenyum melihat Belve, Derren juga tidak menyangka bahwa kebahagiaan Belve adalah seperti ini. "Kenapa tersenyum?" ejek Vano pada Belve yang senyum senyum sendirian. "Aku hanya senang. Karena baru kali ini, ada yg mau menganggapku," jelas Belve. Lalu menyuapkan sesendok emolete, yang sudah ia potong-potong. Sedangkan Derren yang tak memakan apapun, sudah puas melihat wajah lucu gadisnya saat mengunyah makanan. "Maksudmu?" tanya Arianne yang bingung, dengan kisah hidup Belve. Menurut Arianne sendiri, Belve adalah sosok perempuan yang baik dan juga pengertian, jika dilihat dari tingkah lakunya. "Aku besar didalam keluarga, yang katanya menemukanku di hutan. Mereka tak pernah menganggapku. Dan aku juga tak punya satupun teman disana," jelas Belve yang mengingat kembali, betapa kesepiannya dirinya saat itu. Yang setia menemaninya tiap hari, hanyalah kesedihan. "Wow membosankan," kali ini Arianne dengan cepat memukul kepala Vano, dengan sendok yang dia pakai. Tapi ada benarnya juga Revano. "Tapi aku menghargai mereka seperti keluarga. Aku juga tidak keberatan jika di anggap pembantu sekalipun," Kali ini, perkataan Belve membuat emosi Derren naik, dia tidak suka jika Belve merendah seperti orang tidak berguna. "Ngomong-ngomong, apa Kakak–ku bersikap kejam juga padamu?" pertanyaan Revano membuat Derren menatap padanya tajam, pertanyaan macam apa itu. Sedangkan Belve hanya diam, karena tak tau harus menjawab apa. "Saat aku masih kecil... Kakak selalu memukulku jika aku salah," Revano tersenyum tipis mengingat bagaimana wajah kejam kakaknya itu. Terkadang Revano pikir, Derren itu bukan kakaknya. Lalu bergumam... "Ini hanya latihan, kenapa kakak serius sekali?" "Kenapa, Kakak terus memukulku?" "Aku bisa menangis loh." "Aku akan mengadu pada, Mom. Jika Kakak terus memukulku." Tapi sebelum Revano mengadu pada Ibunya, Derren datang dengan membawa roti s**u kesukaannya. Lalu mereka makan bersama seolah tak terjadi apapun, setelah itu Derren meminta maaf. "Hei, kau tau bagaimana pedang bisa tajam?" Tanya Derren yang masih berumur 14 tahun, sedangkan Revano masih berumur sekitar 9 tahun. "Pedang hanya bisa tajam, ketika sudah di pukul berkali-kali. Dan aku... tidak ingin kau tumpul," Revano memiringkan kepalanya karena bingung. Tidak tau maksud dari perkataan kakaknya itu. Mungkin karena Revano masih terlalu muda, jadi dia hanya mengganggap itu sebagai angin lalu. Kemudian saat dewasa, Revano paham betul dengan apa yang di katakan Kakaknya itu. Derren selalu memukul dan melatih Revano, agar tidak mudah di kalahkan. Dulu Revano sempat berpikir... "Tapi, aku ini bukan baja." "Aku bisa hancur, jika terus dipukul." Tapi itu hanya pemikiran sementara, karena dia paham dengan apa yang di alami kakaknya. Pelatihan Derren lebih ketat dari pada Revano, ya karena dia adalah Alpha di masa depan. Bahkan Revano pernah tidak tega saat melihat, Kakak–nya dengan nafas yang tersegal-segal. Namun dia terus berlatih, hingga akhirnya pingsan. Sedangkan yang Derren ingat adalah, bagaimana Revano merengek padanya jika ingin bermain bersama. Padahal dia tau betapa dingin–nya sifat Kakaknya itu, tapi saat Revano terkena masalah.... Derren maju paling depan untuk melindungi–nya. "Angkat pedangmu! bidik panahmu! atur kekuatanmu! itulah yang biasa dia katakan dulu," ujar Revano. Lalu mempraktekkan, bagaimana wajah Derren saat melatihnya dulu. "Haah, aku pikir Kakak membenciku dulu. Tapi sekarang aku sadar... kau sayang padaku kan, Kak?" "Hentikan omong kosongmu itu," geram Derren karena Revano yang membual tentang dirinya. "Aaw~ sepertinya wajah kakak memerah," ucap Revano menggoda kakaknya, padahal wajah Derren tak memerah sama sekali. "......" "Baiklah lanjutkan makannya," ucap Revano mengalihkan pembicaraan. Revano takut Kakak–nya marah, lalu mereka berempat memakan makanan mereka masing-masing. Terkadang, mereka dibuat tertawa dengan lelucon yang dibuat oleh Vano dan Arianne. Mereka memang pasangan yang serasi. "Oh iya, apa kalian pernah berciuman?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD