Rahasiaku
Tatapan matanya fokus melihat hasil laboratorium di atas meja, di depan dokter yang terus mengawasinya. Degup jantungnya berdebar kencang, tangannya sedikit bergetar meraih pulpen yang tersedia di sisinya.
Satu coretan tangannya ini akan menjadi manfaat bagi orang lain dan mungkin musibah bagi dirinya jika dalam kondisi tidak memungkinkan. Menarik napas dalam-dalam, wanita di sampingnya ini memegang tangannya yang siap untuk menggores tinta di kertas perjanjian tersebut.
"Lu yakin, Nai. Dia bukan siapa-siapa Lu! Jika dia sembuh, belum tentu dia ingat sama pengorbanan Lu atau—"
Tanpa merasa terusik, dia mantap menggores tinta itu dengan lambang S dan sedikit goretan pagar yang diakhiri huruf R di bawahnya.
"Anda bisa membatalkan jika berubah pikiran, " kata pria yang berada di depannya ini dan siap mengeksekusi permintaannya.
"Demi Allah Nai, gue gak rela Sinar! Orang baik kayak Lu, selalu gak dapat timbal balik yang sepadan dari manusia lain, " ucap si perempuan ini lagi. Dia mengguncang tubuh Sinar. Dia berharap Sinar sedang tidak sadar dan sekarang sedang berusaha menyadarkannya.
"Kalau manusia gak memberikan timbal balik maka Allah adalah sebaik-baiknya penolong. Gue ikhlas Mi, udahlah," jawabnya yakin tanpa keraguan.
"Gila!" ucap wanita ini. Satu kata yang disebut itu memang ada dalam benak Sinar berapa hari ini. Tapi dia hanya ingin menolong seseorang yang mana sangat membutuhkan pertolongannya.
Hal ini pun bisa dianggap mukjizat yang mustahil. Tanpa memiliki ikatan darah dan gen keluarga pada orang tersebut, dia bisa menyumbang sesuatu yang berharga.
"Kalau siap, kita lakukan sekarang ya Mbak," ucap dokter mengkonfirmasi.
"Ya dok, saya siap." jawabnya lantang. Wanita yang disebelahnya mendadak lesu. Bahu tegaknya terhempas ke bawah. Dia tidak habis pikir dengan keputusan yang dibuat oleh temannya ini. Alih-alih menjadi seorang malaikat buat orang lain tapi malah akan mempengaruhi kesehatan tubuhnya di kemudian hari.
"Suster akan membantu Anda untuk mengganti pakaian Anda. Kita akan ke ruangan khusus."
"Baik dok, "
Seorang suster masuk dan mengarahkannya untuk pindah ke ruangan lain. Sembari menyusuri lorong, wanita berhijab cokelat yang disisinya ini masih ingin menyadarkan.
"Nai, se cinta itu lu sama dia, kalau cinta Lu gak berbalas sakit Nai."
"Gue gak ngasih nyawa gue ke dia kok. Pas gue cek ternyata gue bisa menyumbangkan sesuatu yang berharga buat dia. Lagi pula gue masih bisa recovery dan apa yang diambil dokter ini akan berganti lagi."
"Tapi kan gak secepat itu penggantiannya, kalau tiba-tiba sebulan ke depan tubuh Lu ada apa-apa, belum tentu dia akan membantu Lu." balas si teman yang masih kekeh untuk menggagalkan niat tulus Sinar. Wanita yang begitu baik. Demi orang yang dia cinta, dia tidak perhitungan memberikan apa yang dia punya.
"Dia sudah pasrah sama hidupnya. Dan sebagai manusia yang punya hati nurani, gue hanya bantu semampunya, " jawabnya tegas. Langkah kakinya semakin laju meninggalkan sang teman yang ngos-ngosan mengikutinya.
"Dia tahu gak siapa pendonornya?"
"Ya nggak lah, kalau tahu dia pasti marah dan jangan sampai tahu. Lu hanya jadi saksi, tolong jangan ember oke!"
Tindakan medis yang panjang selama berapa hari berlangsung untuk memastikan kesehatan tubuhnya. Hari ini adalah puncaknya untuk pengambilan sum-sum tulang belakang miliknya.
Tidak semua orang bisa melakukan tindakan yang mulia seperti ini dan tidak semua orang memiliki kecocokan. Seperti mendapatkan mukjizat dari Tuhan, Sinar berpikir bahwa lewat dia, seorang hamba Allah memerlukan bantuannya. Kenapa dia tidak mau membantu, sedangkan raganya adalah ciptaan Allah.
Setelah proses itu selesai, Sinar langsung menelpon di pendonor yang akan menerimanya. "Halo Nai, gimana, kamu berhasil gak? Sudah selesai mereka mengeceknya?"
"Alhamdulillah Mas, sudah ada nih. Kamu bilang mamah kamu ya dan semoga sukses ya Mas operasinya."
"Makasih ya Nai, kamu nanti jangan lupa jenguk aku ya. Oh ya, minta nomor rekening orang itu, biar saya transfer uang ke dia karena sudah mau membantu saya."
"Nggak usah Mas, dia ikhlas katanya, " ucapannya ini dilirik sinis oleh Mimi. Geramnya hati Mimi saat mendengar kata 'Ikhlas' itu. Saat panggilan telepon itu berakhir, Mimi kembali melancarkan aksi protesnya.
"Dia tuh ya, apa-apa kamu. Dia minta tolong seperti ini, seolah kamu pasti bisa mendapatkan apa yang dia mau. Dia minta cariin transfusi darah buat dia juga, kamu. Kalau dihitung-hitung, isi tubuh dia itu setengahnya kamu. Harusnya dia itu langsung ikut sama kamu, untuk lihat siapa pendonor tersebut."
"Aku yang gak bolehin, dia itu sakit Mi. Wajahnya udah pucat. Gue gak tega dong ajak dia dan pasti dia nyerah kalau emang gak ada. Udahlah Mi, ya Allah. Sekarang cepat pulang, kok gue mual ya."
"Kan-kan-kan gue bilang juga apa?! "
Mimi terus mengomel sembari mendorong kursi roda sampai ke parkiran. Dia meminta bantuan satpam untuk menggendong Sinar yang terlihat sulit untuk berdiri. Rasa ngilu di persendiannya sedikit tarik menarik. Risiko menghadapi hal seperti itu. Belum berapa jam saja efeknya sudah terasa apalagi nanti.
Sampai di rumah, Mimi keluar dari mobil lebih dulu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras. Sinar berusaha turun dari mobil secara perlahan. Dia tidak ingin orang rumahnya curiga apa yang terjadi dengannya.
"Eh, bisa Lu jalan?"
"Bisalah, udah makasih ya," ucap Sinar masuk ke dalam rumah saat pintu dibuka oleh kakaknya. Kakak yang lahir berapa detik sebelum dirinya.
"Kenapa Nai?" tanyanya pada Mimi yang masih memperhatikan sohib terdekatnya itu jalan tertatih.
"Dia, ah udahlah malas gue cerita yang penting dia lagi gak baik-baik aja," katanya tapi gadis cantik ini menarik tangan Mimi untuk bertahan.
"Dia kembaran gue loh, kalau ada apa-apa kan gue juga yang merasakan. Cepat gak Lu ngomong, apaan?"
"Tapi lu jangan tanya dia lagi ya, janji Lu!" Ancam Mimi dan gadis ini mengangguk cepat.
"Dan jangan juga lu beberkan ke semua orang atau berapa orang termasuk ortu Lu, paham Lu Sekar! "
Sekar nama gadis cantik ini yang memiliki tanda tahi lalat di pipinya sebagai pembeda antara dia dan Sinar. Kesal karena Mimi terlalu berbelit-belit dia memaksa, "Cepat ngomong susah amat Lu!"
Mimi berbisik pelan di telinga Sekar dan gadis ini kaget. Dia tidak menyangka saudari kembarnya yang selalu pendiam itu ternyata bisa mencintai pria secara ugal-ugalan.
Senyum picik terukir diwajah cantik Sekar.
Mereka kembar tapi sikap mereka sangat bertolak belakang. Sinar menggunakan hijab sedangkan Sekar tidak. Dia lebih suka melibatkan tubuhnya yang indah dan rambutnya yang panjang terurai.
"Lu janji jangan bilang siapa pun ya, ingat Lu, janji adalah hutang dan dosa kalau dilanggar" ancam Mimi lagi. Mimi sedikit riskan bercerita tentang ini pada Sekar tapi karena mereka adalah saudara maka Sekar harus tahu apa yang pernah kembarannya lakukan.
"Siap, makasih infonya. Oh ya, si dia itu satu angkatan dengan kalian 'kan. Yang cowok putih tinggi wajahnya mirip oppa Korea itu 'kan."
"Iya, dia itu idola para mahasiswa. Bentar lagi dia naik jabatan Dekkan kalau dia berhasil sembuh. Dah dulu, awas Lu tanya-tanya dia lagi."
Sekar masuk kembali ke rumah, langsung menuju kamar Sinar. Dia memperhatikan wajah Sinar yang pucat dan lesu. "Lu sakit apa, mau dibawa ke dokter atau minum obat?" Sekar berbasa-basi.
"Gak usah, mau tidur aja," balas Sinar. Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga d**a.
"Gue boleh pinjam HP Lu gak, " pintanya. Karena tubuhnya berasa lemah, Sinar tak bertanya apa kepentingan kembarannya ini meminjam ponselnya.
Sekar meraih ponsel berlogo apel digigit itu dan membawanya keluar kamar. Sinar memejamkan mata, tak peduli dengan apa yang Sekar mau. Dia sedang mengontrol rasa sakitnya, merasakan setiap tarikan urat saraf di seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dia melakukan sesuatu yang besar dan hebat.
'Aku tidak tahu apakah ada yang mampu menyaingi rasa cintaku padamu.'