Suasana hati Ricky menjadi takut dan debaran jantung semakin berdegup kencang, tangannya meraih pedal pintu kamar Indra membuka perlahan pintunya. Terlihat Indra menahan rasa sakit yang hebat, dia berada di atas tempat tidurnya dalam posisi membungkuk dan berlutut kedua tangannya mengepal sangat erat. Ricky membulatkan kedua matanya saat melihat aura hitam seperti asap yang keluar dari 4 mata luka di punggung Indra.
Semakin bergetar hatinya dan berkeringat melihat sesuatu terus mengeluarkan asap hitam tipis dari luka sang Kapten. ketika sekujur tubuh Ricky gemetaran terdengar suara bisikan dalam hatinya.
"Gunakan tangan mu!"
Dengan perasaaan bingung dan takut bercampur aduk di benaknya Ricky, dia melangkah perlahan mendekati Indra yang masih mengerang menahan sakit serasa terbakar. Meski ragu-ragu Ricky mencoba untuk mengusap punggung Indra yang terluka masih terlihat kepulan asap hitam tipis.
Tangannya sangat pelan mendekati punggung Indra, cahaya biru pun terpancar di telapak tangan Ricky. Masih bersinar di telapak tangannya, kepulan asap hitam itu seketika menghilang samar hingga lenyap. Bahkan 4 goresan luka di punggung Indra mulai semakin membaik tidak seperti sebelumnya tampak mengerikan. Meski bekas cakaran itu tidak mudah hilang dan masih membekas.
"Menghilang??" gumam Ricky masih penasaran melihat telapak tangannya sendiri dan melihat ke arah punggung Indra yang sudah tampak membaik.
Keringat yang sudah membasahi tubuh Indra akibat menahan rasa sakit bagai terbakar tadi. Kini dia sudah bisa menghela nafas lega membenarkan posisi duduknya dan melihat ke samping betapa terkejutnya ia mendapati Ricky ada disebelahnya sedari tadi
"Kamu ... Kamu dari tadi ada di sini?" tanya Indra di balas anggukan oleh Ricky dan menunjuk ke arah punggung Indra.
"Hah??" Indra pun meraba-raba punggungnya dan turun dari tempat tidurnya berjalan menghampiri cermin yang tak jauh dari sana.
"Luka ku sembuh! kamu apakan tadi?" Bolak balik Indra melihat punggungnya kini terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Kapten! bekas luka apa itu? Kenapa tadi Ricky lihat seperti kepanasan bahkan mengeluarkan asap hitam?" tanya Ricky, Indra pun terdiam sejenak dan menelan salivanya.
"Luka ini, ... Luka ini karna..." perbincangan mereka terhenti ketika sebuah ledakan terdengar cukup keras berasal dari depan rumah.
Indra dengan segera mengenakan kedua sarung tangan tempurnya yang berada di dalam lemari khusus. Dia merasakan firasat buruk tentang hal ledakan tadi.
"Kamu tetap di dalam kamar! Biar Kapten yang periksa keluar, jangan khawatir yah," ucap Indra mencoba untuk menenangkan Ricky agar ia tidak merasa takut.
Indra berjalan keluar kamar, perlahan jalan menuju pintu depan rumah. Dia membuka pedal pintu depan dan betapa terkejut ketika di hadapannya ada seseorang dengan kostum tempur melawan kelabang bertubuh raksasa berukuran seperti pohon kelapa dan berkepala bagai manusia, juga memiliki tanduk kecil di bagian kepalanya. Bahkan bergigi taring mengerikan di mulutnya, di tambah lagi berambut panjang, matanya merah menyala.
"Standby On!" Sarung tangan Indra langsung membentuk dan menyelimuti kedua lengannya menyeluruh sampai ke pundak.
Sebilah pedang laser dikeluarkan Indra, dia langsung berlari menyerang bagian ekor kelabang raksasa itu. Namun tidak semudah yang di bayangkan karena pergerakan makhluk Kill begitu liar dan agresif.
Serangan balik dengan mengibaskan bagian ekornya akan tetapi Indra mulai merasakan tenaganya benar-benar pulih kembali dan mampu menghindar berguling ke arah sisi lain dengan cepat.
"Boy!! Sebutkan kode mu!" teriak Indra ingin mengetahui siapa seseorang yang sedari tadi bertarung dengan menggunakan kostum yang sama dengan pasukan Kota Blue.
Karena menggunakan pelindung kepala, Indra tidak bisa mengenali wajahnya namun kostumnya yang sama membuatnya penasaran dan bertanya.
"Blue 05 Kapteeenn!!" balas orang itu dengan lincahnya menghindari serangan makhluk Kill.
"Edwin? sialan kau! kenapa makhluk jelek ini kau bawa kemari. Apa kau tidak tahu aku sedang menikmati masa cuti ku!" seru Indra sembari ia masih saling serang dan menghindari dari serangan makhluk mengerikan itu.
Mereka bekerja sama menyudutkan Kill itu, merasa tersudut makhluk itu menyemburkan cairan panas dari mulutnya berwarna hijau pekat. Mereka berdua menghindar dan melompat berguling kesamping, Edwin dengan tombak lasernya memaksimalkan kekuatan ujung tombak hingga pancaran cahaya laser semakin membesar dan ingin melemparkan fokus ke jantung Kill.
Sebelum melemparkan tombaknya, Edwin menatap ke arah Indra di balas anggukan olehnya, seakan mereka mempunyai strategi untuk bisa mengalahkan kelabang raksasa berkepala manusia itu.
Namun lemparan tombak dari Edwin mampu dihindarinya, ternyata serangan tombak Edwin hanya sebagai pengecoh saja. Sedangkan dari arah lain Indra berlari dengan cepat sudah menghadang dengan kekuatan maksimal pedang laser miliknya.
"Kenapa kalian menghalangi ku!!" tegas makhluk Kill sebelum kena tebasan Indra yang tepat mengarah dan membelah tubuh beserta jantungnya.
Indra mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti maksud ucapan makhluk tadi. Pertarungan yang cukup melelahkan Edwin dan Indra, melihat kematian kelabang raksasa perlahan tubuhnya hancur dan menghilang.
"Kau yang membawa keributan kesini?" tutur Indra membuat Edwin beku dan langsung memberi hormat.
"Maaf Kapten! saya tidak bermaksud lancang. Tapi, tadi dari kejauhan saya melihat sebuah lingkaran dengan cahaya terang lalu dua sosok makhluk keluar dari sana. Tapi yang satunya sudah saya lenyapkan dengan power gun." Indra semakin menatap tajam kearah Edwin setelah penjelasannya dia jadi salah tingkah.
"Maaf Kapten! saya ... saya sudah beberapa hari ditugaskan untuk mengawasi anda dan anak kecil itu," Edwin terbata-bata menjelaskannya kepada Indra.
"Siapa yang memerintahkan kamu untuk mengawasi ku!!" balas Indra semakin tajam tatapannya seperti ingin sekali menerkam.
"Itu ... perintah langsung dari atasan, Kapten!" Tangan Edwin yang memberi hormat sedikit gemetaran.
"Hmm Ryuga! yaa sudah lah."
Indra membuang nafas kasar, dia berbalik badan dan saat itu dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Ricky melihat aksi mereka berdua melawan kelabang raksasa yang mengerikan.
Terlihat Ricky seperti syok berat, nafasnya tak beraturan tubuhnya kaku gemetaran, terlintas di kepalanya bayangan insiden dalam kecelakaan itu, perlahan tubuhnya menjadi lemas dan pingsan. Karena sebelum terkena tebasan Indra, makhluk itu menatap tajam kearah Ricky yang menyaksikannya dari dalam rumah.
Indra langsung berlari menghampiri Ricky yang terjatuh pingsan.
"Ricky ... Ricky ...!! kau tidak apa-apa?" Indra merangkul dan menggendong membawa Ricky masuk kedalam ruang tengah.
Indra merebahkan tubuh Ricky yang terkulai lemas di sofa. Edwin masih berada di luar dia menginformasikan ke atasan bahwa terjadi pertempuran dengan makhluk tak kenal. Apalagi Edwin menyaksikan langsung sebuah dimensi dari alam lain terlihat di dekat rumah Kaptennya dan dia pun menduga bahwa apa yang di hadapi mereka tadi adalah salah satu makhluk Kill yang di bicarakan oleh Ryuga.
Sebelumnya sudah Indra ceritakan semuanya kepada Ryuga tentang kejadian pertempuran melawan sosok Kill dan juga sebuah dimensi hingga energi biru yang di pancarkan oleh ayah dari anak kecil itu. Namun indra dan Ryuga masih tidak mengetahui asal usul sebuah dimensi itu.
"Sudah ku duga, pasti makhluk aneh itu akan muncul kembali dan mengincar anak kecil itu." Ryuga berbicara di balik layar hologram di gelang milik Indra.
"Tapi yang kami hadapi ini sedikit berbeda dari sebelumnya!" ucap Indra.
"Maksud mu?" tanya Ryuga tidak memahami perkataan Indra.
"Makhluk pertama yang ku hadapi itu seperti ingin membunuhnya. Sedangkan yang barusan tadi ... memang terlihat menyeramkan tapi matanya menunjukan ingin pertolongan kepada anak kecil itu." Indra langsung menutup panggilan, dia tidak tau pasti apa maksud dan tujuan para makhluk itu yang datang hanya untuk seorang anak kecil.
"Dasar! malah di tutup saat aku mau kejelasan yang lebih detail. Hmm ... tapi, mungkin saja Indra memang tidak mengetahui apa yang saat ini tengah terjadi dan apa sebenarnya tujuan makhluk-makhluk itu?" gumam batin Ryuga, dia duduk di kursi tempat kerjanya yang berada di markas pusat.
Ricky masih terlihat berkeringat di pelipis dahinya, dia sesekali mengerang seperti ketakutan yang dirasakannya. Dia berteriak cukup kencang hingga mengejutkan Indra yang tengah bersantai berada di luar halamannya. Bergegas Indra berlari menghampiri anak itu masih berteriak histeris di dalam kamarnya.
Saat membuka pedal pintu kamar Ricky, seketika Indra di kejutkan tatapan yang sangat tajam dari seorang anak kecil menatap ke arahnya bahkan matanya memancarkan warna biru menyala.
"Mata ... mata itu!! Seperti waktu itu." Indra tidak langsung mendekati Ricky, dia terpaku saat melihat keadaan yang masih terlihat dari raut wajah trauma seorang anak kecil seakan dia baru saja bermimpi semua kejadian yang menimpanya benar-benar sangatlah mengerikan.
Tiba-tiba tubuh Ricky kembali lemas dan hampir tersungkur dari tempat tidurnya. Namun dengan segera Indra memegang tubuhnya yang lemas dan penuh dengan basah keringat.
Indra memeluk lembut tubuh Ricky dan mengusap kepalanya perlahan. Indra sangat memahami apa yang di rasakan oleh Ricky, kesepian, rasa takut dan amarahnya terpancar dari raut wajahnya.
"Kapten ... aku, aku tadi bermimpi." suara Ricky terbata-bata sangat pelan dan tubuhnya sedikit gemetaran.
"Hmm ... nanti saja kamu ceritanya. Aku sangat khawatir, kamu sudah beberapa hari terbaring di tempat tidur, tubuh kamu demam tinggi. Jangan memaksakan diri yaah." Indra mencoba menenangkan Ricky, dia mengusap punggungnya dengan lembut.
"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, kondisi tubuhmu masih belum pulih sepenuhnya. Nanti ada seseorang yang akan datang membawakan sarapan untuk mu." Indra tersenyum tipis sembari merebahkan tubuh Ricky ke tempat tidurnya.
"Apakah wanita itu yang Kapten maksud?" Ricky melirik ke arah belakang Indra. Di depan pintu kamar sana terlihat seorang gadis dengan membawa beberapa bekal makanan di tangannya.
Indra pun menoleh ke belakang yang di mana Mary sedari tadi berdiri di depan pintu kamar dan hanya membiarkan apa yang di lakukan oleh Indra saat memperlakukan seorang anak kecil kali ini.
"Eeh ... Mary, kenapa aku tidak mendengar suara ketukan pintu di luar?" gumam Indra, dia mengerutkan dahinya saat Mary membalas dengan senyuman manisnya.