Rencana Bulan Kegelapan

1502 Words
Mary tersenyum manis di hadapan Indra dan Ricky, mereka berdua terpesona akan wajah yang begitu cantik dengan senyuman lesung pipinya. Bahkan mereka berdua semakin terpaku saat Mary masuk ke dalam kamar dan meletakkan bekal makanan di atas meja yang tak jauh dari tempat tidur Ricky. Mary menyiapkan makanan buat Ricky, namun lain dengan Indra benar-benar seperti orang yang terhipnotis ketika rambut Mary terurai menjuntai kebawah. "Kapten ..." Ricky menyentuh tangan Indra perlahan dan membuyarkan lamunannya yang sedari tadi menatap ke arah Mary. Mary tersenyum tertahan melihat Indra yang salah tingkah, dia beranjak dan berjalan keluar kamar lalu berpaling kembali lagi untuk mengingatkan Ricky. "Setelah makan mu selesai, segera temui aku di luar!" seru Indra di balas anggukan oleh Ricky. Mary hanya menggelengkan kepalanya, dia heran apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Indra. Mary menatap ke arah Ricky namun di balas dengan menggidikan kedua bahunya. "Emm ... sekarang demam mu sudah turun. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri yah." Mary tersenyum sembari menyentuh pipi Ricky dengan sangat lembut. Ricky pun menyentuh tangan Mary yang masih menempel mengusap lembut di pipi kirinya. "Boleh saya memanggil mu dengan sebutan Ibu?" tanya Ricky malu-malu dan wajahnya memerah. "Tentu sayang, siapa yang berani melarang kamu." Mary memeluk Ricky dengan pelukan kasih sayangnya bagai seorang ibu. "Tapi Bu ... Itu sepertinya Kapten akan iri sama aku Buu." Telunjuk jari kecil Ricky mengarah kepada Indra yang mengintip di depan pintu kamarnya. "Ehem ehem ... mesra sekali yah kalian. Lalu giliran ku di peluk kapan?" ucapan menggoda Indra membuat Mary menatap tajam ke arahnya. "Gak ada!!" seru Mary. Di balas gelak tawa Ricky membuat Mary dan Indra pun saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Seketika Mary sadar dan malah ia mengejek dengan menjulurkan lidah imutnya di hadapan Indra. Kini mereka bertiga keluar dari kamar setelah Ricky selesai dengan sarapannya. Mengajak anak kecil itu keluar rumah adalah rencana Indra untuk menyegarkan suasana hatinya yang sempat jatuh ke dalam kesepian dan rindu akan kasih sayang kedua orang tuanya. Dari kejauhan beberapa orang memantau setiap gerak gerik dan aktivitas yang di lakukan oleh Indra dan Ricky. Sebanyak 3 orang yang mengawasi dari kejauhan di tempat yang berbeda. Mereka bertiga dari kelompok yang pernah di kalah oleh pasukan Indra. Kelompoknya bernama Bulan Kegelapan, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang kejam dan keji. Kejahatan yang sering mereka lakukan adalah menjarah penduduk kecil yang tak berdaya. Merasa tidak puas akan hasil yang mereka dapatkan, kelompok Bulan Kegelapan akhirnya nekat menyerang dan ingin menguasai salah satu kota besar dan menyerang kota Orange. Namun pasukan dari kota Blue berhasil membantu dan memukul mundur para kelompok Bulan Kegelapan dari kota Orange. Bahkan ketua Bulan Kegelapan tertangkap dan di tahan seumur hidup. Penjara yang penuh dengan penjagaan super ketat dan canggih. "Sepertinya orang itu yang akan menjadi target kalian!" suara Edwin langsung mengejutkan pria yang sedari tadi tengah mengintai Kaptennya di tempat yang cukup strategis. Edwin sudah memperkirakan bahwa Kaptennya tengah di intai oleh kelompok-kelompok penjahat yang pernah di kalah pasukannya dulu. Pria tadi langsung berbalik dan menyerang Edwin, akan tetapi Edwin menghindar dengan begitu mudah. Wajah pria itu tampak kesal dan ia memanggil kedua temannya untuk membantunya membereskan prajurit yang sudah mengetahui lokasi pengintaiannya. Namun dia tidak menyangka bahwa kedua temannya pun sudah di lumpuhkan oleh Edwin bahkan dibawa ke hadapan pria tadi. "Kenapa..? tidak ada yang merespon panggilan mu? lihatlah di belakang ku dengan benar, apakah itu teman-teman mu?" ejek Edwin tersenyum liciknya. Pria tadi membulatkan kedua matanya dia tidak percaya dengan begitu mudahnya orang-orang pilihan dari kelompok mereka sudah di kalahkan begitu saja oleh seorang prajurit pasukan Blue. "Hebat juga kau bisa dengan mudah mengalahkan mereka berdua," ucap pria tadi sembari mengatur langkah untuk menyerang Edwin. Mereka saling berhadap-hadapan dan bersiap ingin saling serang. "Kalau hanya kutu-kutu seperti kalian, dengan sekali serang pun kalian sudah KO," Edwin tersenyum mengejek. "Dengan terpaksa aku harus mengalahkan orang ini dengan pil yang diberikan oleh penyihir itu." gumam batin pria tadi. Dia mengambil sebuah pil dari saku celananya dan langsung menegak tanpa memikirkan efek samping dari pil tadi. Edwin merasa ada yang tak beres setelah melihat pria itu menelan pil yang di ambil dari saku celananya. Edwin langsung bergerak maju mendekati pria tadi namun orang itu menyerang terlebih dulu. Refleks Edwin dengan sigap menghindari pukulan orang itu yang terlihat agresif. Edwin melancarkan pukulan ke bagian perut dan meraih lengan pria itu hingga membantingnya cukup keras ke tanah. Namun pria itu bukan merasakan kesakitan malah menertawakan pukulan yang diberikan oleh Edwin tadi. "Hahaha ... benar-benar luar biasa, pil ini langsung bekerja." Pria itu membalikan tubuhnya masih tergelatak di tanah, kemudian mencoba berdiri sembari tersenyum menyeringai menatap ke arah Edwin yang terlihat keheranan. Edwin mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan pria tadi. "Ada dengannya? benar-benar ada yang tidak beres ini!" gumam batin Edwin dengan mengepalkan tangannya ingin mencoba menghajar kembali orang itu. Pria itu tiba-tiba merasakan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya setelah beberapa menit menelan pil yang di konsumsinya tadi. Sel sel genetik dalam tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang di luar nalar manusia. Mengerang kesakitan bahkan teramat luar biasa sakit dan perlahan mulai dari tangan, menjalar berubah sampai kepalanya begitu juga kebagian tubuh lainnya berwujud batu. Mereka berada di atas bukit yang rimbun akan pepohonan. Kini Edwin mundur beberapa langkah dari tempat semula dan sedikit waspada setelah melihat pria tadi berubah menjadi sosok manusia batu bahkan tubuhnya benar-benar mengeras bagaikan batu-batu yang ada di sekitarnya. Hingga di setiap bagian otot-ototnya nampak batu yang sulit di pecahkan. Edwin mengirim pesan peringatan kepada Indra lewat gelang smart yang di milikinya bagian lengan sebelah kanan. Kini Edwin mengaktifkan setelan baju tempurnya karena merasa dalam situasi berbahaya. "Standby On!!" Setelan baju tempur Edwin menyelimuti seluruh badan hingga sampai kepalanya mendapat perlindungan aktif. Kostum tempur yang bermotif garis-garis di setiap lekuk lengan sampai ke jemari tangan berwarna biru dan hitam. Begitu juga bagian bawah kaki berwarna biru dan hitam, bagian lengan atas memiliki lambang khusus pasukan Blue. "Dia bukan manusia lagi!" gumam batin Edwin, dia sudah siap dengan tongkat logam khusus dari energi Lifestone. Pria tadi melihat perubahan di kedua tangannya dan menyentuh wajahnya. Menatap tajam ke arah Edwin yang sudah bersiap sedari tadi ingin menyerangnya. Dia tersenyum menyeringai seakan bisa mengalahkan prajurit elit dengan mudah, dia pun melangkah maju menyerang Edwin. Namun Edwin sudah terbiasa dalam sebuah pertarungan, dengan mudahnya menghindar dan langsung memukulkan tongkatnya beberapa kali tepat mengenai tubuh manusia batu itu. Gerakan brutal dan agresif dari manusia batu membuat Edwin sedikit kesulitan. "Kau memukul terlalu lamban prajurit!!" Pukulan tongkat yang seharusnya begitu keras apa lagi memiliki energi Lifestone, namun tidak berpengaruh sama sekali kepada manusia batu yang ada di hadapan Edwin sekarang. "Bagaimana dengan ini!" Edwin memutar tongkatnya seakan menari dengan gaya bela diri yang di milikinya sambil mengayunkan pukulan tongkat ke bahu, punggung, kaki dan bahkan tendangan lutut yang cukup keras dia kerahkan tepat mengenai bagian depan wajah pria itu. "Haha ... Apakah hanya itu yang kau miliki prajurit,?! aku seperti mendapatkan pijitan gratis hari ini." Pria batu tersenyum mengejek Edwin yang membuatnya menjadi kesal. Serangan terus-menerus di lancarkan bahkan sampai membuka tombak laser yang di aktifkan oleh Edwin tetap tak berarti apa-apa di hadapan manusia batu. "Keras sekali tubuhnya!" Edwin mulai kelelahan menghadapinya. Edwin sedikit lengah dan tombaknya di rebut paksa hanya dengan sebelah tangan saja dan mematahkannya seperti sebuah mainan. Edwin mendapat serangan balik yang sangat brutal, bahkan tak sempat menghindari serangan dari pria batu itu hingga tubuhnya di angkat dan ingin melempar tubuh Edwin ke jurang. Namun Edwin dengan segera membalikkan keadaan dia mencekik leher pria itu dengan kedua pangkal pahanya dan mencoba merobohkan tubuh yang teramat keras itu. Masih berada diatas bukit mereka bergelut saling merobohkan satu sama lain. Edwin terpental ke batang pohon yang tak jauh dari tempat mereka berkelahi dan tubuhnya mendapat hentakan keras hingga di tekan dengan sebelah kaki. Kostum tempur Edwin hampir mengalami kerusakan setelah beberapa kali di tekan dan di injak-injak berulang kali oleh pria batu. "Dengan kekuatan seperti ini yang di buat oleh penyihir itu, kami pasti bisa mengalahkan seorang Kapten. Dan target pertama yang harus kami kalahkan adalah Kapten Indra! Hahaha ... aku, aaaarrgghh ..." Seketika Pria itu merasakan sakit pada bagian dadanya, bahkan dia mengerang kesakitan yang tak di pahami oleh Edwin meski ia masih dalam keadaan tak berdaya kali ini. "Sekarang kesempatan ku." Edwin mengeluarkan senjata laser dan memaksimalkan kekuatan penuh kemudian menembakkannya tepat ke tubuh orang itu. Meski tembakannya tak cukup untuk mengalahkan pria batu yang ada di hadapannya sekarang, setidaknya cukup untuk mendorongnya ke belakang sampai pada ujung tepi jurang hingga terjatuh ke jurang yang cukup tinggi sekitar 20 meter sampai kebawah. "Benar-benar merepotkan sekali, lalu siapa yang dia maksud penyihir?" Edwin bertanya-tanya dalam benaknya. Dia berjalan ke tepi jurang dan melihat jasad pria itu hancur berkeping-keping tak berbentuk lagi di bawah sana seperti halnya batu yang berserakan. Edwin terduduk di tanah sesekali dia meringis kesakitan menahan bekas pukulan tadi. Mencoba untuk menghubungi Kapten Indra, dia sedikit khawatir akan apa yang sudah di rencanakan oleh pria tadi dan bahkan sampai-sampai menyebut seorang penyihir, baginya itu sebuah sebutan yang mengerikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD