Malam telah tiba, waktu yang saat ini ingin aku hindari. Aku berharap malam segera pergi dan tergantikan oleh mentari pagi. Tapi, itu mustahil.
Aku menghela napasku sembari duduk di tepi ranjang, menenangkan jantungku yang berdetak tak karuan. Ini semua karena pesan yang Mas Fatih kirimkan padaku pagi tadi. Aku benar-benar merasa kacau setelah membacanya, apa maksud dia ingin tidur di kamarku? Apakah aku harus melayaninya dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri? Atau— kita hanya tidur saja?
Sekali lagi aku mendesah frustasi, pria itu berhasil membuat pikiranku terpecah.
“s**t!” umpatku, pelan.
“Fera?” Aku terlonjak saat mendengar suara Mbak Sarah memanggil namaku dari luar kamar.
Tak ingin membuatnya menunggu, aku lantas menjawab panggilannya, “Iya, Mbak?”
“Sudah selesai mandi, 'kan?” tanyanya.
“Sudah,” jawabku menyahuti pertanyaannya.
“Ayo keluar, kita makan malam,” ajaknya.
Aku mengernyit, apa hanya kami berdua? Tidak menunggu Mas Fatih pulang, kah?
“Ah entahlah, lagian bagus juga kalau enggak ada dia di meja makan. Dengan begitu, aku bisa makan tanpa canggung,” ucapku.
Lantas kemudian aku berjalan mendekati pintu, membuka pintu itu dengan senyum yang aku persiapkan untuk Mbak Sarah.
Namun, senyumku seketika luntur saat mataku bertabrakan dengan manik hitam pekatnya.
Jantungku kembali berdetak kencang, napasku pun seakan tercekat oleh sesuatu yang besar di tenggorokan. Rasanya aku ingin menghilang detik ini juga. Takut, kata itu mendeskripsikan semua yang aku rasakan saat ini.
“Apa Sarah itu pembantumu? Apa kamu tidak bisa keluar sendiri tanpa perlu di panggil, huh?” katanya, nadanya terdengar sinis, membuat kenangan manisku dengannya pagi tadi habis terkikis karena rasa kesal yang kini telah masuk ke dalam hatiku.
Persetan dengannya, kenapa dia selalu mencari kesalahanku?
“Sudahlah, Mas. Jangan seperti itu pada Fera,” cakap Mbak Sarah, membuatku tersenyum penuh kemenangan.
“Fera, ayo makan malam bersama,” ajak wanita itu yang langsung aku tanggapi dengan anggukan.
Dia— Mbak Sarah kemudian menarik tanganku pelan. Kami berjalan beriringan menuruni anak tangga dan terus melangkah hingga sampai di ruang makan.
Sesampainya di sana, kami duduk di tempat masing-masing. Mbak Sarah duduk bersebrangan denganku. Lalu, Mas Fatih menyusul dan duduk di kursi yang menjadi simbol dari seorang kepala keluarga.
“Mas mau makan apa?” tanya Mbak Sarah, ia mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
“Biar Fera yang gantian melayaniku,” kata Mas Fatih.
Aku terkejut, netraku langsung tergerak menatapnya, “Aku?”
“Kenapa? Kamu juga istriku, mau sampai kapan kamu lepas tanggung jawab sebagai seorang istri?” lontar Mas Fatih.
Aku terdiam, “Tapi— ”
“Fera, benar kata Mas Fatih, Mbak bukannya mau mojokin kamu. Tapi, mungkin kamu bisa belajar sedikit demi sedikit, contohnya ya ambilin makan untuk Mas Fatih,” sela Mbak Sarah.
Aku mendesah dalam hati, ‘Bahkan aku tidak pernah melihat Bunda memperlakukan Ayah seperti apa yang Mbak Sarah lakukan pada Mas Fatih. Ck, pria ini benar-benar manja sebagai seorang suami.’
“Fera?” panggil Mbak Sarah.
“Eh, iya, Mbak. Fera paham,” jawabku. Lantas mengikuti arahannya, mengambilkan lauk pauk dan nasi untuk pria itu.
“Sudah cukup nasinya,” ujar Mas Fatih. Tapi entah kenapa rasa kesal membuat tanganku tak mau berhenti. Aku bahkan kembali memberikan satu centong penuh nasi padanya.
“Fera!” bentak Mas Fatih.
Aku terhenyak, tanganku refleks bergetar ketakutan, sendok yang baru saja aku pegang pun jatuh berdenting di atas piring berisi lauk yang ingin aku berikan padanya.
“Kalau aku bilang sudah cukup, seharusnya kamu berhenti memberiku nasi dan lauk pauk. Bukannya malah menambahkannya terus,” serunya dengan nada tinggi.
Aku menundukkan kepala, takut dengan amarah pria itu.
“Mas, istighfar. Sudah, jangan bentak Fera, kasihan dia,” sahut Mbak Sarah, mencoba memadamkan api yang membakar hati suaminya, suami kami.
“Masuk kamar,” suruhnya.
Aku mendongak, memastikan siapa yang dia suruh untuk masuk ke dalam kamar, apakah aku?
“Aku bilang masuk kamar. Jangan keluar sampai aku menyuruhmu keluar. Itu hukuman untuk kamu,” katanya sembari menunjuk kamarku yang berada di lantai dua.
“Mas, Fera belum makan dari siang tadi, jadi biarkan dia bawa makanan ke kamar, ya?” bujuk Mbak Sarah, membantuku mendapatkan keringanan hukuman.
“Sarah, aku mohon kamu jangan ikut campur. Biarkan aku mendisiplinkan istriku yang satu ini. Kalau kamu terus membelanya, dia bisa besar kepala nanti, dan ujung-ujungnya dia bakal jadi istri yang tidak punya tanggung jawab pada suaminya,” pungkas Mas Fatih.
“Cepat masuk ke kamar kamu,” suruhnya lagi, padaku.
Aku pun berdiri, lalu berjalan meninggalkan meja makan, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarku, sesuai perintahnya.
Tubuhku bersandar pada pintu yang telah aku kunci rapat. Aku luruh di atas lantai yang dingin, isak tangisku yang sempat aku tahan kini pecah. Aku meringkuk, memeluk lututku bersama air mataku yang berderai.
“Bunda...,” lirihku. Di saat kesedihan menyapa, orang pertama yang aku ingat adalah sosok Bunda, sifatnya yang lembut dan tidak pernah membentakku, membuatku sangat merindukannya. Aku ingin pulang.
Aku ingin pulang, lirihku di sela isak tangis.
***
“Mas, menurutku Mas terlalu berlebihan sama Fera. Mas seharusnya enggak hukum dia seperti itu. Mas harus ingat. Umur Fera itu masih usia remaja, dia masih belum paham betul tentang bersikap dewasa, apalagi menuruti setiap kemauan Mas Fatih. Jadi, aku mohon sama Mas, tolong kasih kelonggaran untuk Fera beradaptasi. Jangan terlalu menekan dia,” usul Sarah.
Fatih menghela napasnya, pria itu meletakkan sendoknya, menatap makanannya tanpa nafsu lagi.
“Malam ini aku mau lembur kerja, kamu tidur duluan aja, jangan tunggu aku,” katanya sembari berdiri dari duduknya.
“Mas.” Sarah menahan tangan pria itu. Fatih menatap Sarah tanpa ekspresi, wajahnya datar, jelas sekali kalau dia sedang dalam suasana hati yang buruk.
“Mas tidur aja di kamar Fera. Selama kalian menikah, Mas belum pernah tidur di sana. Sekalian, Mas minta maaf sama Fera. Kasihan dia, aku yakin Fera pasti merasa terpukul berat melihat Mas yang tiba-tiba bentak dan hukum dia,” pintanya.
“Sarah,”
Wanita itu diam, siap mendengarkan perkataan suaminya.
“Berhenti mempedulikan orang lain. Aku mohon, pedulikan saja dirimu sendiri,” pesan Fatih.
“Enggak, Mas. Bagiku, Fera bukan orang lain. Semenjak ada dia di rumah ini, aku merasa hidup kembali. Fera itu gadis yang ceria dan sangat lugu, aku suka dia. Aku sudah menganggapnya lebih dari sekedar adik maduku. Dia seperti adik kandung bagiku,” jelas Sarah.
Mendengar bujuk rayu Sarah, Fatih luluh, pria itu terlihat menghela napasnya, “Baiklah, aku mengerti,” ucap Fatih.
Sarah tersenyum senang, “Kalau begitu, aku akan siapkan makanan untuk Fera. Mas tolong antarkan ke dia, sekalian Mas malam ini tidur sama dia,” kata Sarah.
Fatih menghembuskan napas beratnya, “Tidak malam ini, Sarah,” ujarnya, “Seperti yang kamu bilang, Fera masih gadis remaja, aku juga tidak ingin membuatnya tertekan, jadi aku tidak bisa tidur bersamanya untuk saat ini dan sampai dia siap,” tegasnya.
“Tapi, Mas. Mas butuh keturunan untuk— ”
“Sarah,” selanya, “Terkadang, ada sesuatu yang tidak bisa kita paksakan,” jelas Fatih. “Kamu paham, 'kan?” imbuhnya.
Sarah mengangguk, mencoba paham walaupun hatinya menghela napas pasrah.