BAB 6 Isi hati yang lain

1028 Words
Aku mengikuti langkah Mbak Sarah yang sudah duduk di atas gazebo itu. Dia kemudian memberikan secangkir teh yang ku buat tadi. “Minum lah,” suruhnya. “Iya, Mbak,” jawabku. “Oh iya, gimana rasanya jadi istri Mas Fatih?” tanyanya tiba-tiba. Sontak aku terkejut. Aku pikir dia marah atau mungkin sedang melemparkan sindirannya padaku. “Eh? Maksud Mbak?” Aku berpura-pura tak paham, agar tidak salah berkata padanya. Wanita itu tersenyum lembut, lalu meletakkan cangkir teh yang sempat ia pegang. “Gimana hari pertama kamu jadi istri Mas Fatih? Mbak berharap kamu bahagia,” katanya. Mendengarnya hatiku berucap syukur, aku pikir dia marah atau sejenisnya. Tapi ternyata aku yang terlalu berpikir negatif padanya. “Belum terbiasa, Mbak,” jujurku. Senyum lembut wanita itu kembali terukir, “Nanti lama-lama juga terbiasa kok,” katanya. “Iya, ya, Mbak, mungkin butuh waktu. Soalnya aku ngerasa masih canggung gitu,” jujurku. “Wajar. Mbak dulu juga gitu. Tapi sekarang udah terbiasa. Yang terpenting kamu lakuin semua kewajiban kamu sebagai seorang istri. Semuanya tanpa terkecuali. Jangan seperti Mbak,” tuturnya. Kalimat terakhir dari wanita itu terdengar menyedihkan. “Emangnya Mbak Sarah kenapa? Dari yang aku lihat, Mbak Sarah udah lakuin semua kewajiban Mbak kok,” hiburku padanya. Dia tersenyum tipis sembari meraih cangkir tehnya kembali. Lalu, perlahan ia menyesap teh hangat itu. “Kamu tahu, 'kan?” Mbak Sarah mulai berkata lagi, “Mbak punya penyakit,” timpalnya “Itu....” Jujur saja, aku merasa tidak enak hati kalau membahas tentang kelemahan orang lain. Apalagi ini kelemahan istri pertama suamiku. “Tidak apa-apa, jangan canggung seperti itu sama Mbak,” ucapnya yang menyadari ketidak enakan hatiku. “Maaf, Mbak,” kataku apa adanya. Lagi-lagi ia tersenyum lembut, ia kembali menyesap teh hangat itu, lalu kemudian meletakkan cangkir teh itu ke atas nampan. “Mbak belum sepenuhnya menjadi seorang istri yang baik,” terangnya. Aku diam mendengarkan. “Selama beberapa tahun menikah dengan Mas Fatih, Mbak belum pernah ngasih sesuatu yang di butuhkan sama dia,” imbuhnya. “Sesuatu yang di butuhkan?” tanyaku, tak paham, “Tapi, dari yang aku lihat, Mbak udah kasih semua yang Mas Fatih butuhkan kok, Mbak Sarah itu menurutku contoh istri yang baik,” tambahku, bukannya melebih-lebihkan, tapi faktanya memang seperti itu. Mbak Sarah, dia istri yang sempurna. Namun, ku lihat wanita di hadapanku itu menggelengkan kepalanya pelan. Raut sedih pun tepahat di wajahnya. “Kamu pernah dengar tentang kebutuhan biologis seorang suami?” tanyanya. Aku terhenyak, tentu saja aku tahu, apalagi aku belum lama kemarin lulus SMA jurusan IPA, aku paham betul tentang masalah itu. “I..iya, Mbak. Fera tahu,” jawabku, ragu. Mbak Sarah tersenyum, “Maaf ya kalau pembahasan kita terdengar sensitif. Tapi ini hanya antara kita berdua yang merupakan istri Mas Fatih,” katanya, “Mbak bahas ini karena Mbak rasa ini perlu, apalagi kamu baru menikah dengan Mas Fatih, kamu juga lebih sempurna sebagai seorang wanita dari pada Mbak.” “Maksud Mbak Sarah itu gimana? Fera enggak paham,” ujarku. “Mbak punya kanker rahim, Fera,” cakapnya. Aku diam, tak berani berkata apalagi berkomentar. “Dari awal menikah dengan Mas Fatih, Mbak sudah mengidap penyakit itu. Jadi, otomatis Mbak enggak bisa jadi istri sepenuhnya buat Mas Fatih. Mbak enggak bisa kasih apa yang dia butuhkan sebagai seorang laki-laki. Setiap kali memikirkannya, jujur, Mbak merasa berdosa sama dia,” papar Mbak Sarah. Air mata wanita itu meluncur bebas, hatiku terenyuh melihatnya. Kasihan, kata itu terukir jelas di kepalaku, wanita baik sepertinya pun masih merasa bagai orang jahat, padahal hanya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Sungguh, sosok Mbak Sarah adalah wanita luar biasa di mataku. “Fera,” lirihnya, selepas ia mengusap air mata yang terurai tanpa isakan. “Iya, Mbak?” “Maaf, tapi Mbak berharap lebih sama kamu soal Mas Fatih,” katanya, seperti menuangkan beban pada pundakku. “Berharap gimana, Mbak?” “Mbak berharap kamu jadi istri yang sepenuhnya untuk Mas Fatih. Jangan seperti Mbak. Nanti... kalau seandainya Mas Fatih mau me-wisudamu entah itu siang atau malam, kamu harus siap, ya?” Aku menggigit bibirku, walaupun Mbak Sarah memakai kata kiasan 'wisuda', tapi aku paham apa maksudnya. Wanita itu secara tidak langsung berkata kalau Mas Fatih ingin menyalurkan hasratnya, entah itu siang atau malam, aku sebagai seorang istri yang tanpa penyakit ini harus siap sedia. Hatiku mencelos menerjemahkan maksud dari Mbak Sarah itu. Tapi bagaimanapun juga, apa yang dia katakan memang benar. Dalam agama pun di jelaskan seperti itu. Hanya saja, aku belum siap. Aku masih gadis berusia delapan belas tahun, bagaimana bisa aku harus melayani seorang pria yang sudah menginjak usia dua puluh enam. Membayangkan semua itu, aku merasa seperti seorang p*****r yang menjual diri dengan cara halal. “Fera?” panggil Mbak Sarah, membuyarkan segala lamunanku. “Eh, iya, Mbak?” “Ngelamun, ya?” Mbak Sarah menatapku penuh tanya, “Lagi mikirin perkataan Mbak tadi?” tebaknya. “Enggak, Mbak,” bohongku. “Terus lamunin apa?” “Aku... bukan apa-apa kok, Mbak," jawabku. “Ya sudah kalau enggak mau bilang. Mbak juga enggak mau maksa kamu,” tuturnya penuh nada kelembutan. “Makasih, Mbak,” ucapku yang di balas oleh senyumannya. *** Seorang pria masuk ke dalam ruang kerjanya. Tak lama setelah pria itu masuk, terlihat pria lain dengan dasi biru bercorak polkadot masuk ke dalam ruangan tersebut. “Pak Fatih,” sapanya, “Ini dokumen kerja sama dengan distributor dari Bandung,” katanya sembari menyerahkan sebuah map berisi dokumen kerja sama. “Kamu sudah baca isi kontraknya?” tanya Fatih sembari membuka dokumen tersebut, lalu membacanya kata demi kata. Pria yang di tanya itu mengangguk, “Sudah, Pak,” jawabnya. “Baik, nanti saya tanda tangani sekalian sama dokumen perpanjangan kerja sama yang kemarin,” kata Fatih. “Baik, Pak. Kalau gitu, saya permisi,” tutur pria itu, kemudian melenggang keluar dari dalam ruangan Fatih. Fatih sibuk membaca dokumen itu dengan seksama. Namun, tiba-tiba bayangan wajah Fera yang tersenyum cantik sembari melambaikan tangan padanya menyusup masuk ke dalam memorinya. Fokus Fatih pun terpecah seribu kepingan. Pria itu mendesah pelan, ia menutup map itu gusar, lantas ia pun melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. “Ada apa denganku?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Pria itu kemudian tampak memijat keningnya, mencoba mengusir pikirannya tentang Fera. Padahal baru kemarin ia resmi menjadi suami Fera. Tapi, pesona gadis itu seolah mampu mengobrak-abrik seluruh fokusnya. Fatih sampai terlihat tidak profesional di tempat kerja hanya karena bayangan senyum Fera yang terngiang di benaknya. Pria itu kemudian mencari ponselnya. Setelah menemukannya, ia segera mencari nomor orang yang saat ini sedang mengganggu pikirannya. Sebuah pesan singkat pun ia kirimkan pada sosok itu, 'Nanti malam, aku tidur di kamarmu'.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD