Aku mengembuskan napas lega setelah selesai menjemur semua pakaian yang baru saja aku cuci.
Ini pertama kalinya aku mencuci pakaian sebanyak ini. Apalagi bukan pakaianku sendiri. Dan, lebih parahnya lagi, aku harus mencuci sesuatu yang membuat tanganku merasa gemetar saat menyentuhnya. Ya, pakaian dalam Mas Fatih. Rasanya sangat memalukan.
“Fera, udah selesai jemurnya?” Mbak Sarah terlihat berjalan mendekatiku.
Aku tersenyum, membalas senyumannya yang selalu terlihat ramah di mataku.
“Udah, Mbak,” jawabku.
“Capek?” Dia kembali melontarkan pertanyaannya.
“Sedikit,” jujurku sembari mengeluarkan cengiran khasku.
Mbak Sarah tersenyum, tangannya kemudian meraih lenganku. Wanita itu tiba-tiba menarikku lembut setelah berkata, “Ayo, ikut Mbak,” ajaknya.
Aku pun menuruti ajakannya. Kakiku bergerak mengikuti setiap langkah kakinya. Tubuhnya yang terlihat kurus kering itu terus berjalan menuju sebuah gazebo berwarna cokelat mengkilap.
“Ayo duduk sini,” suruh Mbak Sarah, saat dia sudah lebih dulu duduk di gazebo itu.
“Iya, Mbak.” Lagi-lagi aku menurut. Kakiku kemudian naik ke atas gazebo itu. Lalu kemudian, aku duduk bersila di hadapan Mbak Sarah yang duduk dengan posisi anggunnya.
“Ah iya, seharusnya tadi Mbak bawa teh sama camilan,” kata Mbak Sarah, “kamu tunggu di sini sebentar, ya? Mbak mau ambil camilan sama teh dulu,” imbuhnya.
“Eh, enggak usah, Mbak,” ucapku, “biar aku aja yang ambil, Mbak Sarah yang tunggu di sini,” tawarku.
“Bisa buat teh?” tanyanya.
Hatiku mendengus, apa semua orang di rumah ini menganggapku anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa? Aku tentu saja bisa melakukan pekerjaan wanita, kecuali masak, hanya itu yang belum mampu aku sanggupi.
“Bisa kok, Mbak,” jawabku dengan senyum ramah.
“Ya sudah, kalau gitu tolong ya, Fera,” katanya.
Aku mengangguk menanggapinya. Kemudian, setelah itu aku turun dari atas gazebo yang tidak berlalu tinggi itu.
Kakiku melangkah menjauhinya, terus berjalan menuju pintu belakang rumah Mas Fatih yang sebenarnya cukup besar menurutku.
Aku melenggang masuk ke dalam rumah itu, langkahku langsung tertuju pada dapur yang tak jauh dari pintu belakang.
Karena tidak ada orang lain di dalam rumah ini selain aku. Aku pun bersenandung kecil sembari menyeduh teh dan menyiapkan camilan yang baru saja aku ambil dari dalam kulkas.
“Kamu terlihat senang. Di mana Sarah?” kata seorang pria yang membuatku terkejut hingga tak sengaja air panas yang hendak aku tuang ke cangkir pun tumpah mengenai tangan kiriku.
Spontan aku mengaduh, mengibaskan tanganku yang terasa panas.
Detik selanjutnya, pria itu menarikku mendekati wastafel, ia membuka aliran air wastafel itu, lalu menjulurkan tanganku yang tersiram air panas tadi agar terguyur air dingin dari wastafel itu.
“Dasar ceroboh,” katanya.
Aku mencebik tanpa sepengetahuannya. Ya, baiklah, aku akan menganggap cibirannya itu sebagai pujian buruk untukku.
“Lain kali hati-hati, terus kalau kena air panas langsung siram pakai air dingin atau air biasa, ingat itu,” pesannya.
Aku menganggu, “Em, iya,” jawabku.
“Lagian tadi kalau kamu enggak kagetin aku, aku juga enggak akan kena air panas,” gumamku.
“Kamu bilang apa?” tanyanya, aku yakin ia mendengar gumamanku tadi, walaupun hanya sebatas samar-samar belaka.
“Enggak, enggak bilang apa-apa kok,” jawabku, berbohong.
Pria itu terlihat menghela napasnya, lalu kemudian menutup keran air itu.
“Tunggu sebentar di sini, Mas ambilin salep dari kotak P3K dulu,” katanya, kemudian melenggang pergi dari hadapanku.
Lalu, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa salep berwarna putih. Pria itu lantas meraih tangan kiriku dan mengusapkan salep itu ke bagian yang terlihat merah karena air panas tadi.
Selesai memberikan salep ke tanganku, pria itu meniup-niupnya sesaat.
“Sudah,” ucapnya kemudian.
“Terima kasih,” kataku.
“Oh iya, Mas kok ada di rumah? Bukannya tadi udah berangkat kerja?” tanyaku dengan setumpuk rasa penasaran yang masuk ke dalam hati.
Pria itu menatapku, raut wajahnya tampak berbeda dari sebelumnya, tatapannya terlihat lembut, aku sampai terbuai ingin terus beradu tatap dengannya.
“Ada yang ketinggalan, makanya Mas balik lagi ke rumah,” tuturnya, menjawab pertanyaanku tadi.
“Oh,”
“Sarah mana?” tanyanya.
“Ada di halaman belakang, tadi dia ajak aku ke gazebo belakang rumah,” jujurku.
“Terus kamu di suruh ambil camilan dan buat teh sendiri?” Dia bertanya lagi.
“Enggak. Bukan di suruh, tapi ini aku sendiri yang mau buatin teh sama ambil cemilan,” sergahku, tak mau ia salah paham dengan istri pertamanya itu. Tapi, setelah di pikir-pikir, kenapa aku harus khawatir begitu? Karena aku yakin Mas Fatih tidak akan pernah berpikir negatif pada Mbak Sarah. Wanita itu selalu sempurna di mata Mas Fatih.
“Oh, ya udah. Kamu selesaiin buat tehnya. Tapi hati-hati, jangan sampai kena air panas lagi,” lontarnya, kembali mengeluarkan pesannya padaku.
“Iya, Mas,” jawabku.
“Mas berangkat kerja dulu, assalamu'alaikum,” pamitnya.
“Wa'alaikummussalam,” balasku sembari menyalami tangannya.
Pria itu lagi-lagi mengeluarkan ekspresi lembutnya, senyumannya pun tampak berbeda.
Mas Fatih kemudian mengusap puncak kepalaku, dan, tanpa aba-aba dia mencium keningku cukup lama, membuatku merasa berhenti bernapas walau hanya sesaat.
“Jangan bilang Sarah kalau aku balik lagi ke rumah karena ada sesuatu yang ketinggalan. Nanti suamimu ini bisa kenal omel sama dia,” katanya dengan senyum lebar layaknya orang yang melempar candaan.
Aku mengangguk paham, “Iya, Mas,” jawabku.
Sekali lagi ia mengusap kepalaku, lalu kemudian pergi sembari membawa serta tas kerjanya.
Tanpa aku sadari, kakiku bergerak refleks mengikutinya.
Aku berhenti di depan pintu utama rumah ini, menatapnya yang sudah masuk ke dalam mobil. Pria itu membuka kaca mobilnya saat menyadari kalau aku mengikutinya sampai luar rumah. Suara klakson mobil yang berbunyi satu kali pun mengawali kepergiannya.
Aku tersenyum, kepergian Mas Fatih kali ini terasa berbeda dari sebelumnya.
Tapi kemudian senyumku luntur, “Ya ampun, aku lupa. Mbak Sarah pasti udah lama nunggu di sana.”
Aku pun berlari masuk ke dalam rumah, tak lupa ku tutup kembali pintu rumah itu.
Lalu berjalan cepat menuju dapur, menyelesaikan pekerjaan kecil yang sempat tertunda.
Setelah menyelesaikan semuanya, aku meletakkan sepiring camilan dan dua cangkir teh itu ke atas nampan. Lalu membawanya keluar pintu belakang rumah itu.
Saat kakiku melangkah ke gazebo tadi. Aku tidak melihat sosok Mbak Sarah di sana. Mataku pun mengernyit, mencari di mana keberadaan Mbak Sarah.
“Fera,” panggil seorang wanita.
Aku menoleh, lalu tersenyum sumringah, ternyata Mbak Sarah tengah melihat bunga di taman kecil yang tak jauh dari gazebo itu.
“Kok lama?” tanyanya dengan nada lembutnya.
“Iya, Mbak. Tadi sempat kena air panas, tapi sekarang udah enggak apa-apa kok,” jujurku, tapi tidak sepenuhnya jujur.
“Loh, kok bisa? Udah kamu kasih salep belum?” Wanita itu terlihat khawatir.
“Udah, Mbak,”
“Beneran enggak apa-apa? Masih sakit enggak?”
“Iya, enggak apa-apa, Mbak. Ini udah enggak sakit lagi,”
“Ya udah, ayo duduk di sana,” ajaknya sembari mengambil alih nampan yang ku pegang.