BAB 9 Kecelakaan

939 Words
“Duduk sini,” suruh Mbak Sarah sembari menepuk-nepuk tempat kosong di samping kanannya. Aku mengangguk, lalu duduk di sisinya dengan helaan napas lega. “Capek, ya?” tanyanya. Cengiranku pun terukir, “Iya, Mbak. Sedikit,” kataku. “Kalau Mas Fatih tahu kita belanja di pasar kayak gini, dia pasti marah,” ujar Mbak Sarah. “Loh? Kok marah Mbak?” tanyaku tak paham. “Dia bilang, belanja di sini mudah buat kita lelah,” jelasnya. “Oh,” lirihku, “Tapi mungkin itu larangan khusus untuk Mbak Sarah kali. Dan, enggak mungkin berlaku untukku,” timpalku. “Karena kamu wanita tanpa penyakit?” Aku terkejut, sadar kalau perkataanku tadi bisa saja menyinggung hatinya. Bodoh Fera — rutukku dalam hati. “Maaf, Mbak,” ucapku dengan kepala tertunduk padanya. “Sudah, enggak perlu minta maaf, kamu enggak salah kok. Mungkin juga kamu ada benarnya,” tutur Mbak Sarah. Aku mendongak, masih menatapnya dengan segudang rasa bersalah atas ucapanku tadi. “Tapi, Mbak. Aku pikir, Mas Fatih bersikap seperti itu pasti karena takut Mbak Sarah kenapa-kenapa. Mas Fatih 'kan sayang banget sama Mbak Sarah,” kataku, mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa canggung. Mbak Sarah tersenyum, wanita itu kemudian menghela napasnya, lalu menatapku lembut. “Dia juga sayang kok sama kamu,” balasnya. Aku terdiam. Namun kemudian, aku tertawa renyah. “Mana mungkin, Mbak. Ya, mungkin sayang, tapi aku yakin sayangnya beda, aku ini bagi dia cuma anak kecil yang enggak lebih dari sekedar adik,” ujarku, mengutarakan fakta yang selama ini aku rasakan. Mbak Sarah tampak tersenyum lebar, ia kemudian meraih tanganku, menggenggamnya lembut. “Salah,” ucapnya, “Mas Fatih itu punya perasaan yang lebih dari sekedar sayang sama kamu,” paparnya. Aku mengernyit bingung, “Maksudnya?” tanyaku. “Fera, dengerin Mbak.” Wanita itu kini menatapku lekat, pembicaraan kami pun terasa lebih serius dari sebelumnya. “Mas Fatih, dia itu cinta sama kamu,” terangnya, “Emangnya kamu enggak ngerasainnya?” “Mbak Sarah ini suka bercanda ya ternyata. Enggak mungkin lah, Mbak. Enggak mungkin Mas Fatih cinta sama aku. Orang dia sering marah-marah gitu sama aku, cinta dari mananya?” sanggahku yang tak percaya. Mbak Sarah kembali mengukir senyumannya, “Ada alasan kenapa dia sering marah-marah sama kamu. Mbak enggak bisa kasih tahu kamu. Akan lebih baik kalau kamu tahu sendiri,” katanya. Wanita itu kemudian berdiri dari duduknya. “Udahan yuk istirahatnya. Kita pulang,” ajak Mbak Sarah. “Iya, Mbak,” Aku kembali mengikuti langkah kaki Mbak Sarah yang berjalan di depanku. Wanita itu sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau aku tidak tertinggal karena kerumunan orang-orang di pasar yang semakin ramai. Kaki kami terus melangkah tanpa halangan, hingga akhirnya sesuatu yang tidak kami harapkan terjadi begitu saja. Kecelakaan itu terjadi seperti adegan slow motion yang mampu membuat kepalaku berhenti berfungsi walau hanya sesaat. “Mbak Sarah, AWAS!” pekikku tak tertahan saat tubuhnya tertabrak pengendara motor yang entah bagaimana bisa masuk ke area pasar. Mataku membelalak melihat Mbak Sarah yang sudah terjatuh di lantai semen. Belanjaan yang ia bawa pun ikut tergeletak tak berdaya. Tubuhku membeku sesaat. Namun, beberapa orang yang berlarian membantu wanita itu menyadarkanku dari keterkejutan. Aku pun lekas menerobos kerumunan orang-orang yang sudah mengelilingi tubuh Mbak Sarah. Saat sampai di bagian paling depan. Aku kembali di buat kaget ketika mataku menangkap aliran darah yang merembes keluar dari kepala wanita itu. Rasa panik dan takut pun seketika itu bergerilya menjajah wilayah hatiku. Tubuhku bergetar, aku tahu harus berbuat apa, tetapi otakku terasa kosong dan seolah tidak tahu harus bagaimana. “Bukannya tadi kamu bersama wanita itu?” tanya seorang pria. Aku menoleh padanya, kemudian kepalaku mengangguk cepat. “Kamu keluarganya, 'kan?” Aku kembali mengangguk. “Cepat hubungi keluarga kalian, sebentar lagi ambulans akan datang,” ujar pria lain. Aku hanya mengangguk, kepalaku terasa berputar dengan keriuhan dari kerumunan orang-orang ini. Keringat dingin pun melingkupi tubuhku, bersamaan dengan itu napasku terasa sesak, aku seperti orang yang lupa bagaimana cara bernapas dengan benar. Kendatipun begitu, tanganku yang gemetar ini mulai bergerak mencari ponselku yang tersimpan di dalam tas. Kemudian aku mencari nama pria yang belum lama tadi Mbak Sarah bicarakan denganku. Tidak perlu bagiku menunggu lama, panggilan itu langsung di jawab oleh pria itu. “Halo, Fera?” “Mbak, ambulans-nya sudah datang,” kata seorang yang lain sebelum aku sempat menjawab perkataan Mas Fatih. “Ambulans? Ambulans apa, Ra? Siapa yang sakit?” tanya pria itu dari seberang sana. Bibirku bergetar, aku ingin menjawab tapi mulutku seakan terkunci rapat. “Fera, jawab, Fera,” desaknya yang membuatku semakin gemetaran. “Mbak Sarah, Mas,” lirihku dengan isak tangis yang mulai terdengar. “Sarah kenapa?” tanya Mas Fatih, nada suaranya berubah panik. “Mbak Sarah kecelakaan,” jawabku, pelan. “APA?!” serunya, aku yakin dia terkejut. Suara decitan mobil pun sampai aku dengar darinya, pria itu sepertinya sedang berkendara. “Beritahu aku, sekarang kalian ada di mana?” tanya Mas Fatih. “Pasar swalayan dekat rumah. Tapi, ini mau ke rumah sakit,” jawabku tak karuan. Helaan napas berat pun terdengar dari pria itu, “Rumah sakit mana?” tanyanya lagi. “Fera enggak tahu, ini baru masuk ambulans,” jawabku sembari masuk ke dalam ambulans yang mengangkut tubuh Mbak Sarah. Pria itu kembali menghela napasnya, “Gini, kamu share lokasi aja, nanti aku susul kalian,” ujar Mas Fatih. “Iya, Mas,” ucapku. Setelah itu, Mas Fatih mematikan panggilannya. Aku menatap ponselku sesaat, lalu kemudian memasukkannya ke dalam tas. Kini aku beralih menatap Mbak Sarah yang sudah di tindak oleh tim medis darurat. Alat bantu pernapasan pun telah terpasang di bagian mulut dan hidungnya. Aku menggigit bibirku saat mataku kembali menangkap warna merah pekat yang telah mengering di kepala Mbak Sarah yang terbalut khimar biru itu. “Mbak keluarganya, 'kan?” tanya seorang tenaga medis. Aku mengangguk, “Iya, sudah,” jawabku. “Sudah menghubungi keluarga kalian, Mbak?” tanya tenaga medis itu lagi. “Sudah, Mas,” jawabku singkat. “Kita ke rumah sakit terdekat dulu ya, Mbak. Nanti setelah mendapat penanganan pertama, kalau keluarga Mbak mau pindah rumah sakit, silakan. Tapi juga lihat kondisi pasien dulu,” terangnya. Aku mengangguk paham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD