BAB 10 Fera Yang Disalahkan

1032 Words
Mata Fatih terlihat menajam seperti elang. Tangannya bergerak lincah menyetir kemudi mobilnya. Pria itu beberapa kali mendapatkan klakson peringatan dari pengendara lain. Tapi, semua itu hanya bunyi ricuh yang tidak akan dia pedulikan. Karena kini pikirannya telah melayang, rasa cemas dan panik sudah menjadi primadona di hatinya. Fatih kalut, ia takut hal terburuk yang bersemayam di pikirannya menjadi sesuatu yang nyata. Decitan mobil terdengar nyaring di area parkir rumah sakit. Fatih memarkirkan mobilnya asal. Terlihat seorang petugas keamanan mendatangi pria itu. Namun, Fatih mengabaikannya, dia bahkan terlihat menyingkirkan tubuh satpam yang menghadang jalannya itu. Fatih berjalan gusar, langkahnya cepat, tetapi tak beraturan. Pria itu kemudian mendekat ke arah meja informasi. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pegawai rumah sakit itu. Fatih mengatur napasnya sesaat, wajah pria itu tampak pucat, butiran keringat pun tampak mengalir membanjiri area kening dan lehernya. “Pak?” panggil petugas bagian informasi itu. “Tolong beritahu saya ruangan pasien atas nama Sarah Anastasia,” katanya. “Sarah Anastasia?” ucap petugas itu sembari mencari nama yang di sebut ulang olehnya, “Maaf, apa hubungan anda dengan pasien?” tanyanya. “Saya suaminya,” jawab Fatih. “Anda suaminya?” Fatih mengangguk, “Iya.” “Atas nama bapak siapa?” “Fatih Al-Habib,” jawab Fatih, “Mbak, bisa tolong kasih tahu saja ruangannya segera? Saya pasti akan urus administrasinya, tapi sebelum itu biarkan saya tahu ruangan istri saya dulu,” tukasnya. “Oh, iya. Maaf, Pak,” ucap pegawai itu, “Pasien atas nama Ny. Sarah Anastasia ada di ruang IGD, Pak,” katanya sembari menatap layar komputer yang ada di hadapannya. Setelah mendapat kabar itu, Fatih lantas berjalan cepat menuju ruangan yang di sebut oleh petugas bagian informasi dan administrasi tadi. Sesampainya di sana, mata Fatih kembali menajam, pandangannya beredar ke penjuru tempat. Area IGD terlihat ramai dari dugaannya, banyak orang berlalu lalang dengan urusannya masing-masing. Fatih menghembuskan napas beratnya, pria itu tampak mengusap wajahnya kasar. Kemudian, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok Fera yang duduk di sebuah kursi panjang dengan wajah tertunduk lemas. *** Aku menatap pintu ruangan bertuliskan IGD itu dengan mata menyalang. Jari-jari tanganku tak henti-hentinya beradu satu sama lain. Tubuhku gemetar, bayangan tentang kecelakaan tadi masih belum lenyap dari kepalaku. Aku menghela napas berat, menangkup wajahku sembari menangis lirih, semua ini seperti mimpi buruk bagiku. Aku harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Mas Fatih? “Fera?” Aku terkejut, baru saja aku menyebut namanya dalam hati, tapi tiba-tiba suara Mas Fatih terdengar memanggilku. Sontak, aku pun menoleh mengikuti arah suaranya. “Mas Fatih,” lirihku dengan bibir bergetar menahan tangis. Wajah Mas Fatih terlihat pucat, rasa panik dan khawatirnya tercetak jelas di wajah tegasnya. Jujur saja, melihat sosoknya yang kokoh berdiri tegak di sampingku, membuat hatiku meronta ingin memeluknya, mengadukan segala resah dan takutku padanya. Namun, aku kemudian sadar, Mas Fatih bukanlah suamiku seorang. Istri pertamanya sedang dalam keadaan kritis, aku yakin pikirannya lebih kalut dariku. “Bagiamana keadaannya?” tanya Mas Fatih. Sudah aku duga, pria itu tidak mungkin peduli dengan kondisiku yang jelas sekali gemetar ketakutan di hadapannya, apalagi jejak air mataku dan wajahku yang pucat pasi terlihat jelas di matanya. Namun, pria ini seolah tutup mata dengan keadaanku. “Fera enggak tahu, Mas,” jawabku lirih. Helaan napas berat terdengar dari diri Mas Fatih, membuatku semakin menunduk, merasa takut padanya. “Kenapa kalian bisa ada di pasar swalayan?” tanyanya kemudian. Aku menggigit bibirku, tidak mungkin aku berbohong kalau aku yang ingin pergi ke pasar itu, alih-alih Mbak Fera lah yang mengajakku pergi ke pasar yang ramai itu, kalau pun aku berbohong apa untungnya untukku? “Mbak Sarah ajak Fera belanja di sana, Mas,” jujurku. Maaf, Mbak. Bukan maksud Fera aduin Mbak Sarah ke Mas Fatih. Tapi, Fera enggak tahu harus jawab apa selain jujur sama Mas Fatih. Maafin Fera, Mbak Sarah — batinku. “Kenapa kamu mau di ajak pergi ke sana, hah?” tanyanya, “Seharusnya kamu tolak ajakannya Sarah. Dan dengan begitu kecelakaan ini enggak akan terjadi,” tukasnya. Aku terhenyak mendengarnya, kepalaku pun mendongak seketika itu. Aku menatap Mas Fatih dengan keningku yang berkerut bingung. Mas Fatih tidak sedang menyalahkanku, 'kan? Dia tidak mungkin menjadikan aku kambing hitam atas kecelakaan yang menimpa istri pertamanya, 'kan? Pria ini... dia tidak mungkin sejahat itu, 'kan? “Mas...,” lirihku, “Maksud Mas, ini salah Fera?” tanyaku dengan keberanian setipis kertas. “Kamu sadar diri lebih cepat dari dugaanku ternyata,” kata Mas Fatih, “Tapi, seharusnya kamu sadar lebih awal sebelum kecelakaan itu terjadi, sebelum kamu menerima ajakan Sarah untuk pergi ke pasar itu. Kamu tahu Sarah punya kanker, tapi apa kamu pernah berpikir untuk menjaga dia dari hal buruk di luar sana, huh?” “Aku nikahin kamu itu bukan sekedar untuk pajangan, bukan sekedar untuk mendapatkan keturunan, bukan hanya untuk menuruti keinginan orang tuaku. Tapi juga agar Sarah ada teman yang bisa menjaganya saat aku tidak ada di sisinya,” timpalnya. “Mas...,” “Pulang,” selanya, “Lebih baik sekarang kamu pulang ke rumah, aku enggak mau lihat kamu di sini,” kata Mas Fatih. “Tapi Mbak Sarah,” “Ada aku di sini yang menjaganya. Kamu enggak perlu khawatir, aku ini suaminya, sudah jadi tanggung jawabku menjaga dan merawatnya,” pungkas Mas Fatih. “Tapi, Mas. Aku— ” “Kamu bisa enggak sih sekali aja dengerin perintah suami kamu?” potongnya, “Aku suruh kamu pulang, bukannya terus ngebantah perkataanku. Kamu lihat diri kamu itu, dari atas sampai bawah kusut semua, bahkan wajah kamu itu sama sekali enggak enak di pandang. Jadi lebih baik kamu pulang, bersihkan diri kamu dan jangan khawatirkan Sarah,” kritik Mas Fatih. Pria itu menghela napasnya sejenak, ia kemudian duduk di sisiku, tapi tak sedikitpun berniat menatapku walau hanya sekejap saja. “Pulanglah, aku akan pesankan taksi untukmu,” katanya, kali ini nadanya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. “Iya,” jawabku. Lantas, aku pun meraih tasku dan berdiri dari posisi dudukku. Sebelum pergi, aku menghadap ke arahnya, hendak berpamitan dengan suamiku itu. Tanganku pun terulur ke arahnya, meminta tangannya untuk ku salimi sebelum aku pergi. Seolah paham dengan gerak-gerikku. Mas Fatih pun menyambut uluran tanganku. Ia diam saat aku menempelkan keningku pada punggung tangannya. “Fera pulang dulu, Mas. Assalamu'alaikum,” pamitku. “Hm, wa'alaikumussalam,” jawabnya, “Kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabarin aku, tapi kirim pesan saja,” cakapnya. Aku mengangguk paham, “Iya, Mas,” ucapku. Lalu kemudian, aku melepaskan tangannya, dan pergi dari hadapan pria itu. Sesaat aku menghela napas ketika mataku tertumpu pada ruangan yang tak kunjung terbuka itu. Mbak Sarah, semoga Allah melindungimu. Aku berharap Mbak Sarah baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD