Sunkissed

1000 Words
Menemukan apartemen yang baru saja ia tinggalkan sebentar untuk naik ke unit Dorm Seven Antres, terlihat kosong tanpa Jean di dalamnya membuat Raiden panik, ia tidak pernah membayangkan jika wanita yang baru saja menjadi istrinya bisa senekat dan sekeras kepala itu, dan sialnya Raiden tidak bisa mengantisipasi kelakuan Jean yang sulit ditebak karena dia kan memang tidak mengenal gadis yang ia nikahi dengan baik. salahnya! Dia pikir meninggalkan Jean di apartemen seorang diri adalah pilihan yang tepat agar gadis itu bisa berpikir jernih dan menyetujui pernikahan dadakan mereka tapi sialnya malah dia kecolongan hingga membuat Jean bisa kabur seperti ini, meninggalkannya seolah pernikahan yang baru saja terjadi adalah lelucon!. demi tuhan walaupun kelihatan seperti lelucon namun Raiden benar-benar ingin menikah – dan mengakhiri masa lajangnya– Setelah mencoba menghubungi mertua nya, Keluarga Jean. Namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dan menyusuri seluruh lingkungan Keraton Regency malam itu tanpa mendapatkan hasil, akhirnya Raiden memilih menghubungi manajernya meminta tolong untuk melacak keberadaan Jean dengan koneksi yang dia miliki. dengan uang dan koneksi semua menjadi mudah apalagi kalau itu Manajernya yang memiliki banyak 'pengalaman hidup' dalam mengurus 'kebutuhan anak asuhnya' Jadi malam itu Raiden menunggu kabar dari Reza sambil memikirkan kembali perbuatannya– memaksa menikahi orang tidak dikenal– Sejujurnya Raiden tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini pada Jean, menyeretnya padahal gadis itu tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya. Dia harusnya melepaskan Jean dan berpura-pura tidak pernah ada pernikahan yang terjadi di antara mereka. Ia bisa saja melakukan itu tapi sekali lagi Raiden tidak memilih pilihan itu alasanya klise – dia tidak bisa melanggar janji pernikahan yang sudah ia ucapkan di hadapan yang kuasa, tidak bisa juga membuat harga dirinya jatuh di hadapan tamu undangan. Egonya melarang – Jadi pikirnya mengikat Jean disisinya adalah pilihan yang tepat, pilihan yang paling benar dari segala kemungkinan yang ada. jangan menghujatnya karena pilihan yang dibuatnya karena sejatinya dalam hidup tidak ada pilihan yang salah iya kan!. satu jam menunggu akhirnya Raiden mendapatkan kabar dari Reza kalau ia sudah menemukan keberadaan Jean dan mengantarkannya langsung ke tempat Jean berada. "Kamu yakin Raiden ingin kesana sekarang kenapa Kamu tidak menunggu matahari terbit?" Reza, manager Seven Antres bertanya dengan sedikit khawatir dia menatap keluar van yang sepi, mereka berhenti tepat di basement yang lumayan sepi karena jam sudah menunjukan pukul tiga pagi. Kekhawatirannya tentu ber sebab dia tidak tahu apa yang ada di otak Raiden akhir-akhir ini, yang ia tahu akhir-akhir ini Raiden tertekan dan kelihatan sedikit depresi, Reza ingat saat itu adalah bulan Mei saat dimana Raiden mengumpulkan mereka semua– personil dan semua staff Seven Antres– di ruang rapat dan mengutarakan keinginannya untuk menikah. Tentu saja! Semua tidak mudah, Agensi menolak dan member terlalu terkejut dan bingung tidak tahu alasan sebenarnya pria itu ingin menikah padahal sepanjang karirnya bersama Raiden tidak terlalu sering membicarakan 'wanita' tapi setelah negosiasi sana sini dengan member dan juga agensi akhirnya kesepakatan tercapai dan Raiden diijinkan menikah dengan beberapa pengaturan agar agensi dan Seven Antres tidak merugi. "Semakin cepat semakin baik, lebih baik aku segera memberinya pelajaran Bang." Raiden terkekeh pelan. “Tahu nggak kamu itu sekarang menyeramkan!.” Raiden yang melihat Reza bergidik ngeri tertawa hingga matanya menyipit. “Nggak ah perasaan kamu aja Bang.” "Yasudah lah terserah, yakin tidak perlu ditemani?" "Tidak usah, kamu pulang saja pasti lelah maaf ya merepotkan mu." "Tidak apa-apa, kalau begitu besok pagi aku akan kirimkan mobil pribadimu kemari." "Thanks ya Bang, aku akan keluar dulu." "Baiklah, hubungi aku jika ada sesuatu hati-hati loh ya jangan sampai ketahuan!." Reza mengulurkan key card– yang ia dapat dari menyogok staff hotel– ditangannya dengan sedikit tidak rela. “Jangan macam-macam juga dengan Jean! walaupun dia istrimu kamu tidak boleh semena-mena.” “Iya iya, Raiden Seven Antres tidak pernah menyakiti seorang perempuan.” Raiden mengangguk, meraih kartu itu lalu langsung turun dari mobil tanpa menoleh kebelakang, ia mengeratkan jaket hitam yang membungkus tubuhnya dan membenarkan kembali maskernya memastikan tidak ada orang yang dapat mengenalinya. Dengan langkah santai ia memasuki gedung hotel dengan tenang karena cukup sepi hanya ada staff yang berjaga juga resepsionis yang melayani check in 24 jam, hingga langkahnya berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat, Raiden mengeluarkan Key card nya menempelkan pada panel sensor dan seketika pintu di depannya terbuka, dengan langkah hati-hati Raiden masuk ke dalam ketika ia masuk lebih dalam ia menemukan sosok yang dicarinya tengah terlelap di atas sofa panjang tanpa selimut Jean meringkuk seperti bayi kelihatan kedinginan karena sepertinya gadis itu lupa untuk menaikan suhu ruangan. Menghela nafas lelah Raiden menarik kasar selimut di atas ranjang membawanya mendekati Jean yang masih tenang dalam tidurnya, Raiden tidak ingin membangunkan gadis itu jadi dia memilih untuk duduk di samping gadis itu mengamatinya dalam diam untuk beberapa menit ke depan. Se-besit perasaan bersalah mencuat karena melihat kondisi Jean yang tidak baik-baik saja setelah drama pernikahan hari ini tapi walaupun begitu Raiden tidak menyesalinya karena telah melibatkan Jean – menyeret orang lain untuk masuk ke dalam kubangan kerumitan hidup Raiden– Raiden tergoda ingin tidur juga, dia mengantuk dan juga sangat lelah, dengan sedikit keraguan Raiden ikut berbaring disana disamping Jean yang kelihatan tidak terusik sama sekali ketika Raiden membenarkan selimut yang membungkus keduanya. Raiden menopang kepalanya menatap bagaimana Jean tertidur dengan lelapnya, ia mendekatkan wajahnya lantas mengecup kening gadis itu dengan lembut, merasakan kelembutan kulit Jean berada di permukaan bibirnya. Dia menarik kepalanya ke atas tidak ingin kelepasan, Jean adalah penggoda walaupun dia tidak melakukan apapun. Dan walaupun mereka baru saja bertemu hari ini Raiden benar-benar suka berdekatan dengan Jean, ia sangat suka bagaimana beragam ekspresi yang di tampilkan gadis – Jean tersenyum, Jean marah, Jean bingung terlalu banyak yang ia sukai hingga Raiden tidak bisa mendeskripsikannya dengan sebuah kata-kata. "Selamat malam istriku, berhenti bermain-main lagi ya, semoga mimpi indah." Ucap Raiden dengan pelan menarik Jean mendekat kearah tubuhnya menempel sempurna tanpa jarak, ia melingkarkan lengan nya di sekitar tubuh Jean mendekap gadis itu erat tanpa memikirkan resiko yang akan ia hadapi esok ketika Jean melihat yang Raiden lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD