9. Bleached White Hair (2)

1166 Words
Chapter 9 : Bleached White Hair (2) ****** ADA suara-suara di belakang kepala Kanna yang terus berbisik kepada Kanna. Suara-suara itu terus memberitahu Kanna bahwa sikap Riley itu aneh, tetapi Kanna tak ingin memercayainya. Kanna masih ingin percaya kepada Riley. Kanna masih bersimpati kepada Riley. Meski dia telah mendengar beberapa hal yang janggal, dia tahu bahwa Riley seperti itu pasti karena sebuah trauma. Sebuah luka. Agaknya, ada rasa takut yang masih bersemayam di hati pemuda itu. Mungkin saja…itu akan hilang setelah beberapa lama. Mungkin saja, jika Kanna berhasil meyakinkannya selama beberapa waktu dengan tanpa masalah, Riley akan berhenti ketakutan seperti itu. Ya, waktu akan mengubah segalanya. Itu adalah solusi yang paling tepat. Ekspresi Kanna akhirnya normal kembali. Gadis itu meneguk ludahnya, kemudian menggeleng. “Tidak, Riley, aku bukan orang yang seperti itu.” Mendengar jawaban Kanna, ekspresi Riley langsung berubah. Matanya kembali berbinar, wajahnya tampak segar kembali, seakan merefleksikan kegembiraan di hatinya. Senyumnya merekah, manis sekali. Dia seakan mampu menerangi malam itu hanya dengan senyumannya. Mood-nya berubah total. “Aku senang sekali, Kanna… Kau selalu membuatku senang. Aku akan membuatmu senang juga,” ujarnya. Kanna tersenyum. Gadis itu pun berdiri seraya mengajak Riley untuk berdiri bersamanya. “Thank you, Riley.” Riley baru saja ingin merespons Kanna saat tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Oh, aku membuatkanmu makan malam. Aku terus memikirkanmu saat memasak... Berpikir bahwa kau akan memakannya; kau akan memakan apa yang kubuat untukmu. Itu membuat jantungku berdebar-debar.” Kali ini, giliran mata Kanna yang berbinar-binar. “Benarkah? Kau memasak apa?” Riley tertawa kecil. Pemuda itu lalu menggenggam tangan Kanna, mengajak Kanna untuk berjalan ke meja makan yang ada di dapur. Selagi menyeberangi ruang tamu, Kanna mulai menghidupkan lampu. “Mengapa lampu rumah tidak dihidupkan, Riley?” tanya Kanna. “Aku takkan menyadari keberadaanmu jika kau tidak duduk di balik pintu.” “Ah…” Mata Riley melebar. “Iya. Aku lupa. Tadi siang aku mematikan semua lampunya karena di dalam sudah terang. Pikiranku kacau hingga aku lupa menghidupkan lampunya kembali…” Kanna mengembuskan napasnya, lalu tersenyum. Oalah. “Begitu, ya. Ada-ada saja. Padahal, kau tak perlu setakut itu.” Riley menatap Kanna dengan lembut, lalu tersenyum. “Hm. Terima kasih karena telah menenangkanku, Kanna.” Kanna mengangguk. Saat sudah sampai di dapur, Kanna pun menghidupkan lampunya. Dia langsung bisa melihat meja makan yang ada di sana; di meja itu terdapat beberapa piring dan mangkuk yang berisi makanan. Semua piring dan mangkuk itu ditutup dengan penutup kaca. Riley dan Kanna mendekati meja itu. Kanna bisa melihat bahwa di sana ada sup sayuran dengan tahu, ada udang goreng tepung, nasi, dan ada hamburger steak. Semua bahan untuk memasak menu itu memang ada di kulkas Kanna, tetapi Kanna lebih terkejut melihat Riley benar-benar memasakkannya hamburger steak. Ia merasa takjub saat melihat semua lauk yang enak itu. Riley benar-benar pintar memasak. Namun, Riley tiba-tiba berkata, “Sepertinya, aku harus memanaskannya.” Kontan saja mata Kanna membulat; gadis itu langsung menoleh kepada Riley. “Tidak, Riley, tidak usah! Ini salahku karena pulang telat; aku tak mau merepotkanmu lagi. Ayo makan sekarang.” Riley balas menatap Kanna, lalu kedua alisnya sedikit terangkat. “Apakah tidak apa-apa? Makanannya sudah dingin, Kanna.” Kanna menggeleng seraya tersenyum. “Tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah membuatkan makan malam untukku, Riley. Ayo makan.” Akhirnya, Riley pun tersenyum lembut. Matanya memandangi Kanna seakan-akan Kanna adalah manusia yang paling ia cintai. “Hmm. Ayo.” Mereka pun duduk berhadapan. Sama-sama membuka penutup kaca yang menutupi makanan-makanan itu. Saat melihat hamburger steak buatan Riley secara langsung, Kanna spontan menganga. Air liur berkumpul di mulutnya dan ia buru-buru menelan air liur itu. Matanya berbinar-binar. “Huaaaaaaa! Ini kelihatannya enak sekaliiii!!” Meski sudah dingin, aromanya tetap menguar tatkala Kanna membuka penutup kacanya. Tampilannya juga sempurna. Kanna langsung menoleh kepada Riley. “Riley, jujur padaku. Apakah kau dulunya seorang koki?” Mata Riley melebar. Satu detik kemudian, Riley spontan tertawa. “Bukan, Kanna. Aku bukan seorang koki,” jawabnya, dia tampak terhibur dengan kekonyolan Kanna. Setelah itu, dia melanjutkan, “but if you want me to, I’ll become one.” Kanna kontan cemberut. “Kau ini. Aku serius.” “Aku juga serius, Kanna…” Mereka ujung-ujungnya sama-sama tertawa. Saat mulai makan, Kanna berkali-kali mengucapkan, “Mmmmm!!” atau “Uwaaaaah, ini enak sekaliiii!” seraya memegang pipinya sendiri karena kesengsem. Dia betul-betul jatuh cinta dengan masakan Riley. Dengan Rileynya jug— Ekhem. Riley pun berkali-kali tertawa kecil melihat reaksi Kanna. Pemandangan itu sungguh membuatnya senang; dia sibuk memperhatikan Kanna sampai hampir tidak menyuap makanan sama sekali ke mulutnya. Kanna terlihat sangat imut… Namun, sekitar dua menit kemudian, Kanna tiba-tiba melebarkan matanya; dia seolah teringat sesuatu. Jadi, dia pun menelan makanan di mulutnya dengan cepat dan berkata, “Oh, ya, Riley, kau benar-benar tidak punya ponsel, ‘kan?” Kanna harus menanyakan ini, mengingat bagaimana resahnya Riley tadi saat Kanna telat pulang. Riley—yang sedang mengunyah makanannya itu—mulai menoleh kepada Kanna. Pemuda itu lalu menjawab, “Apa yang kubawa saat pertama kali kau menemukanku adalah semua barang yang kupunya. Ada apa, Kanna?” Ah, itu tandanya Riley hanya memiliki sepasang piama berwarna putih yang waktu itu ia pakai. Kanna pun meletakkan sendok yang ia pegang itu ke piringnya, tetapi tangannya masih memegang tangkai sendok itu. Ia menunduk dan mengernyitkan dahinya. Agaknya, ia sedang berpikir keras. “Umm…” Ia sedikit menggigit bibirnya, lalu mengangkat wajahnya lagi untuk menatap Riley. “Itu…aku…punya sedikit tabungan. Bagaimana kalau aku…membelikanmu sebuah ponsel? Dengan begitu, aku bisa memberimu kabar kalau aku pulang telat…” Mata Riley melebar. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Riley selama lima detik lamanya. Lima detik itu terasa bagai satu tahun untuk Kanna; dia gugup sekali. Apakah dia terlalu ‘maju’? Apakah dia berlebihan? Agaknya, bukan Riley saja yang mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan kepada orang yang baru dia temui. Kanna juga sama; Kanna malah ingin membelikan sebuah ponsel untuk orang yang baru dia temui. Kanna pasti sudah hilang akal. Namun, kegugupan Kanna langsung hilang ketika tiba-tiba Riley tersenyum padanya. Senyuman pemuda itu terlihat sangat lembut, penuh kasih, dan pengertian. Mata berwarna mint-nya tampak begitu indah. Ah, tidak. Kanna tidak berlebihan. Riley memang…pantas mendapatkan itu. Suara Riley pun mulai terdengar. “Aku…akan sangat senang jika aku tetap bisa terkoneksi denganmu saat kau jauh dariku, Kanna,” jawabnya. “tetapi…apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” Diam-diam, Kanna mengembuskan napasnya lega. Untunglah. Ternyata, Riley menyukai idenya. Kanna lantas tersenyum. Dia kini mulai menatap Riley dengan penuh keyakinan. “Kau hanya perlu melakukan dua hal. Dua saja,” ujar Kanna. Gadis itu berbicara dengan serius meskipun masih ada senyuman di wajahnya. “Aku mau kau tidak mengkhianatiku dan tidak jahat padaku.” Mata Riley lagi-lagi melebar. Namun, dua detik kemudian, pemuda itu menyatukan alisnya. Dia menggeleng pelan. “I know it’s hard for you to trust me, someone whom you just met,” ujarnya. “tetapi bagaimana mungkin aku mengkhianatimu dan jahat padamu, sedangkan aku begitu takut kau akan meninggalkanku?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD