Jane sudah mengirim alamat dan jam berapa aku harus membawa Syuja besok, tapi aku masih belum menemukan alasan yang tepat agar Syuja mau ikut denganku.
Dengan resah, aku menatap Syuja yang sedang duduk di sampingku sore ini.
Alasan apa yang harus aku katakan??
"Ada apa?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terkejut menatapnya, merasa seperti dia baru saja membaca pikiranku.
"Kenapa?" ulangnya.
Aku menggelengkan kepala sebelum kemudian bersuara, "gimana koordinasinya??" tanyaku coba mencari topik pembicaraan biar dia tak bertanya lagi
"Pusing."
Responnya membuatku menatap dengan sorot sesal. Akhir-akhir ini dia memang terlihat kelelahan dan ada beban pikiran. Tapi Syuja jarang sekali mengeluhkannya secara spesifik.
"Agak sulit ngadepin anak-anak non-teknik."
"Sulit gimana??"
"Istilahnya kalau anak teknik ngobrol langsung ke inti, anak-anak non-teknik kebanyakan kata pengantar." jelasnya, "banyak sekali pertimbangan kalau mau ambil keputusan," tambahnya lalu membuang nafas pelan.
"Aku anak non-teknik juga." sahutku tanpa bermaksud tersinggung.
Dia tersenyum melihatku. Meski kampus Syuja dikenal sebagai kampus teknik, tapi ada beberapa jurusan non-teknik yang jumlah mahasiswanya juga tak sedikit. Itu sebabnya, kepanitiaan yang sedang dia jalankan terasa kompleks karena mencakup semua jurusan yang secara mindset ada perbedaan mencolok.
"Ajarin mereka cara berpikir anak teknik dong."
"Kalau aja semudah itu."
Kali ini aku yang tersenyum. "Kamu sudah bekerja keras," kataku coba menghiburnya sambil menepuk-nepuk pundaknya pelan.
Dia mengangguk lalu melihatku. "Maaf ya?"
"Maaf kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku justru sibuk saat kamu di sini."
Sekali lagi aku tersenyum padanya. "Paling nggak kamu udah sempatin mampir ke rumah meski sebentar," hiburku.
Aku sempat bicara dengan Luthfi sebelumnya, menanyakan apa ada masalah di kampus. Luthfi bilang, beberapa orang sengaja mempersulit Syuja karena mereka merasa Syuja belum pantas menjabat sebagai ketua panitia kegiatan besar, apalagi ini baru tahun pertamanya. Mereka juga sempat di sidang di senat mahasiswa, sebagian besar anggota senat yang merupakan mahasiswa-mahasiswa senior mengatakan tak keberatan dengan penunjukkan Syuja, karena setelah proses seleksi sebelumnya memang tak ada calon yang pas. Meskipun panitia-panitia senior itu mengatakan setuju dengan keputusan senat mahasiswa, prakteknya mereka tetap saja mempersulit Syuja saat koordinasi.
Syuja yang duduk di sampingku terlihat lelah dan memejamkan kedua mata.
Lalu bagaimana dengan besok???
Aku teruskan atau harus aku batalkan??
Tapi Jane berulangkali mengingatkanku agar membawa Syuja. Ditambah lagi, ini ulang tahun Papanya.
Tepukan tanganku di pundak Syuja beralih ke kepalanya, dan berganti dengan belaian lembut, khawatir akan membangunkannya.
Ponsel Syuja yang diletakkan di meja tiba-tiba bergetar. Melirik ponselnya sekilas, ada notifikasi sebuah pesan masuk.
"Bisa tolong lihatkan?" pinta Syuja masih dengan mata terpejam.
Aku meraih ponselnya dan melihat nama Mila sebagai pengirim pesan.
"Ja, bisa ke kos sekarang?"
Hatiku rasanya seperti kena cubit membaca pesan yang masuk ke nomor Syuja
"Siapa?" tanya Syuja.
"Mila," jawabku singkat lalu meletakkan ponsel. Aku juga menghentikan tanganku yang membelai kepala Syuja.
"Kenapa?" tanya Syuja, dia sudah membuka matanya sambil melirik padaku.
"Diminta ke kos sekarang," kataku sembari menatap ujung kakiku sendiri.
Syuja meraih ponselnya, mengutak-atik entah apa sebelum kemudian menempelkan ponsel ke telinga.
Apa ini pertama kalinya Mila memintanya datang ke kos?? Atau sudah kesekian kalinya??? Kemarin malam apa dia juga menemuinya di kos, bukan di kampus??
"Gam, bisa ke kos Mila sekarang?" tanya Syuja ketika panggilannya sudah diterima.
Sepertinya dia menelepon Gama.
"Aku juga nggak tahu, dia minta aku ke sana tapi aku nggak bisa," kata Syuja menjelaskan, tangan kanannya yang bebas meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Aku lagi sama Ai'."
Aku menatap Syuja, dia mengatakannya dengan jelas di depanku.
"Makasih, Gam," kata Syuja mengakhiri pembicaraan.
Dia menatapku sambil meletakkan ponsel di meja lagi. "Kenapa?" tanya Syuja heran.
Aku menggelengkan kepala.
"Apa aku harus pergi ke sana?" tanyanya lagi.
Aku memelototkan mata padanya, Syuja justru tersenyum melihat reaksiku.
"Ini bukan pertama kalinya kan??"
Bukannya mengelak, Syuja menganggukkan kepala.
"Kamu sering ke sana??"
Dia menganggukkan kepalanya lagi, aku tak tahu bagaimana reaksiku tapi Syuja tersenyum menatapku.
"Ke sana nggak sendirian kok."
Aku diam menatapnya dengan sorot menyelidik.
"Aku beneran nggak pernah sendirian kalau ke sana, biasanya ngajak salah satu dari mereka bertiga," jelasnya.
Aku tetap memilih diam.
Ponselnya kembali bergetar. Dia meraihnya lalu menatap layar ponsel cukup lama.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Nggak penting," jawabnya lalu meletakkan ponsel lagi.
"Siapa??" ulangku makin penasaran.
Syuja menatapku.
"Cewek lain lagi??"
Dia tersenyum dan menggeleng.
"Terus siapa??"
"Orang rumah," sahutnya sambil menyandarkan punggungnya lagi. Syuja menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.
Orang rumah?? Papa?? Atau Mamanya?? Kenapa responnya datar??
"Apa ada masalah??"
Dia lagi-lagi menatapku sembari tersenyum.
"Aku akan sempatin ngantar ke stasiun," kata Syuja mengalihkan topik pembicaraan.
Aku melihatnya selama beberapa saat.
Kenapa mengalihkan pembicaraan?? Apa memang sedang ada masalah di rumah??
Mau tak mau, karena tahu Syuja sedang banyak pikiran, aku menganggukkan kepala dan dia tersenyum.
"Cha ...," panggilku ragu.
"Apa?"
"Besok, ada waktu luang??" tanyaku.
"Jam berapa?"
"Habis maghrib."
"Kenapa?"
"Bisa nemenin aku sebentar??" Terus terang dadaku berdegup kencang saat mengatakannya.
"Ke mana?"
"Aku mau ketemu seseorang."
"Di mana?"
"Di rumah makan Handa***i."
Dia menatapku sekian detik sebelum kemudian bersuara. "Siapa?"
"Saudara teman yang di Jogja, dia minta aku menemuinya," kataku berusaha menyembunyikan kegugupan.
Syuja diam lalu tanpa kuduga malah menganggukkan kepala tanpa bertanya lebih jauh. "Aku jemput setelah maghrib."
Aku mengiyakan dengan senyuman dan menghela nafas lega.
Kalau dia tahu yang sebenarnya, matilah aku!
Ponsel Syuja kembali bergetar, kali ini cukup lama, sepertinya sebuah panggilan masuk.
Syuja melihat sekilas lalu segera meraihnya. "Kenapa?" tanyanya.
Aku diam menatap Syuja.
"Memang tadi kamu di mana?" tanyanya lagi. "Oh, ya udah. Thanks, Gam," pungkas Syuja lalu meletakkan ponselnya lagi.
"Gama??" tanyaku memastikan.
Dia mengangguk.
"Kenapa??"
"Sudah dari kos Mila."
"Kok cepat??"
"Kebetulan dia tadi masih di kampus, jadi langsung ke sana."
"Terus??"
"Nggak ada apa-apa."
"Hah??"
Syuja menatapku dengan bibir kembali menyunggingkan senyum.
"Terus kenapa tadi dia minta kamu ke sana??"
Syuja mengedikkan bahu.
"Mila suka sama kamu ya??" tanyaku refleks.
"Kok ngomong gitu?"
"Jujur deh, dia suka sama kamu kan???"
"Tahu dari mana?"
Aku menyandarkan punggung karena mendadak kesal.
Ternyata perkiraanku benar, cewek yang di foto selalu di samping Syuja, yang menatap dan tersenyum begitu manis di samping Syuja, ternyata memang menyukai Syuja.
"Tahu dari mana?" ulang Syuja.
Aku menatapnya kesal, mendengkus sekali sebelum kemudian kembali bertanya. "Dia kan alasan kamu ngelarang aku ke kampus???"
Bukannya menjawab Syuja justru mengembangkan senyumnya sekali lagi.
"Tuh kan benar!!!" seruku tak suka.
"Iya iya, dia suka sama aku, tapi kan aku nggak suka sama dia."
"Halah, bohong!!"
"Kok bohong?"
"Aku sempat lihat kamu merhatiin dia lagi nyanyi malam itu!!"
"Aku nikmatin lagunya aja Ai'."
"Serah deh!" sungutku.
Tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku, justru sekarang makin mengeratkan genggamannya
"Nggak perlu cemburuin dia," bujuknya tenang, "Mila cuma teman kok," tambahnya.
"Itu sih menurutmu, tapi buat dia kan enggak!"
"Bukannya yang penting adalah perasaanku?"
Duuh, kenapa yang dikatakannya selalu benar????
Ponsel Syuja kembali bergetar.
"Banyak banget sih yang neleponin??!!" protesku tak suka.
Dia cuma tersenyum. Tapi Syuja membiarkan ponselnya terus bergetar.
"Kenapa nggak diterima??" tanyaku kesal.
"Masih ada yang ngambek."
"Alesan, bilang aja khawatir itu Mila yang nelepon terus takut aku dengar kan??"
"Kalau aku takut, kenapa tadi kubiarin kamu baca pesannya?"
Satu lagi kata-katanya yang masuk akal!!! Dan betapa kekanak-kanakannya aku!!!
Ponsel Syuja sempat berhenti sebentar tapi kemudian kembali bergetar.
"Angkat gih!!" seruku sewot.
Syuja memainkan genggamannya, semacam kode agar aku tak lagi ngambek.
"Aku bilang angkat!!" seruku lagi dengan nada kesal.
Dia tersenyum lalu meraih teleponnya. Setelah melihat siapa yang menelepon, dia menyalakan speaker agar aku mendengar.
"Woy Ja!! Ponselmu beratnya berapa kilo sih??? Kok nggak diangkat-angkat!!!" teriak Luthfi tanpa tedeng aling-aling.
"Barbel kali diangkat!!" sahut suara di belakang Luthfi, sepertinya suara Gama.
"Diem kamu Teripang!!!"
"Ada apa?" sela Syuja sebelum Gama dan Luthfi debat tak jelas.
"Kamu di mana?"
"Rumah Ai'."
"Heeuh, pantesan lama ngangkat!!!! Lagi asik yangyangan ternyata!!!!" protes Luthfi.
"Kan tadi sudah kubilang lagi sama Kahiyang! Nggak percaya sih!! Dasar orang nggak beriman!!"
Hanya Gama yang selalu bersedia dan lancar membalas omongan Luthfi.
"Diem tutup panci, percaya kamu musrik!!" balas Luthfi keras.
"Justru percaya sama aku itu sebagian dari iman!!"
"Percaya kamu langsung auto murtad!!"
"Tinggal syahadat lagi!! Gitu aja kok repot!!"
"Sebenarnya ada apa?" tanya Syuja kembali menyela perdebatan Luthfi dan Gama.
"Kamu yangyangannya mau sampai jam berapa, Ja??? Mau kulaporin Pak RT biar diusir??"
"Memang kamu kenal sama Pak RTnya??" tanya Gama.
"Pak RTnya Bapakku."
"Bukannya Bapakmu bagian keamanan?" tanya Gama lagi, menggoda Luthfi.
"Bapakku rangkap jabatan!!"
"Lah, yang kemarin kulihat di puter balik terus kamu dadah-dadah??"
"Itu kerjaan sambilannya, puas cuilan genteng??!!!"
Aku tersenyum mendengar perdebatan mereka.
"Aku tutup," kata Syuja dengan raut malas.
"Eeeh, Ja.. Ja..!!! barusan aku ketemu Bang Ranu!!"
"Kenapa?"
"Mau ngajak ngopi sambil ngobrol, katanya suruh manggil kamu juga."
"Di mana?"
"Tempat biasa lah."
"Oke."
"Beneran loh Ja!!! Awas nggak datang, kulaporin Bang Ranu kalau kamu lebih berat yangyangan!!"
"Sial," sahut Syuja lalu memutus sambungan begitu saja
"Kenapa yang Gama tadi nggak di speaker?? Takut ada omongan rahasia??" tanyaku setelah dia meletakkan ponsel.
"Gama sama kayak Bintang sebenarnya. Kalau ngomong berdua nggak bertele-tele, kamu pasti bosan," jawabnya santai, "kalau Luthfi, aku tahu kamu selalu senyum tiap kali dengar dia bicara."
"Diih, sok tahu!!"
"Tadi bukannya kamu senyum?"
Aku mendengkus kesal karena yang dikatakannya benar.
"Aku ketemu mereka dulu ya?"
"Pergi aja."
"Ngambeknya masih?"
"Siapa yang ngambek??"
"Nih," godanya dengan sepasang mata menyorot jahil padaku, "apa minta dipeluk?"
"Apaan sih???!!" sungutku.
Syuja nyengir, entah kenapa dia terlihat seperti anak kecil tiap kali melakukannya, dan itu membuatku gemas.
Aku mengantarkannya sampai keluar pagar setelah berpamitan pada Ibu.
"Nanti aku telepon," janji Syuja sambil memakai masker.
Aku hanya menggumamkan kata 'hmmm' padanya. Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Tiba-tiba aku langsung teringat dengan apa yang akan aku lakukan besok.
Melihat bagaimana reaksinya tadi saat ada telepon dari rumah, dan betapa benci sorot matanya saat melihat Jane di depannya, aku rasa aku harus menyiapkan mental jika dia sampai marah padaku besok.
Aku menghembuskan nafas dan melangkah masuk ke rumah dengan berat.
***