-10-

1396 Words
Syuja menatap lekat saat melihatku keluar menemuinya malam ini. "Kenapa??" "Kok formal?" Aku tersenyum, "formal dari mana?? Biasa aja kok." Kali ini dia yang tersenyum. Padahal aku hanya mengenakan dress sepanjang lutut, warna hitam berlengan panjang, dengan renda putih di bagian d**a dan ujung-ujung pergelangan tangan, serta aksen pita yang juga berwarna putih di bagian pinggang belakang. Aku mengajaknya segera berangkat, khawatir kami terlambat. Sampai di parkiran, dan kami sudah turun dari motor, Syuja menggenggam tanganku erat sekali. Begitu memasuki pintu rumah makan, rasanya aku semakin deg-degan. Lebih dari ketika Syuja memelukku di rooftop. "Kenapa?" tanya Syuja, sepertinya dia merasakan kegugupanku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum padanya. "Maaf, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pegawai perempuan menghampiri kami. Jujur saja, aku tak tahu harus mengatakan apa. Karena Jane juga tak pesan apapun. "Kalian sudah datang?" Tiba-tiba terdengar suara yang sudah cukup aku kenal. Genggaman tangan Syuja kurasakan menguat ketika melihat sosok Jane berjalan dan kemudian berhenti di depan kami. Jane terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun hitam-emasnya yang sepanjang lutut. "Ayo masuk, kami sudah menunggu kalian," ajak Jane ramah. "Apa kamu mengenalnya?" tanya Syuja sambil menoleh dan menatapku. Tatapannya begitu tajam sampai aku tak berani menjawab pertanyaannya. "Apa dia saudara temanmu?" tanyanya lagi. "Cha ... aku ... " "Apa dia yang akan kamu temui?" Aku menarik nafas, kakiku rasanya mulai lemas melihat sorot kemarahan di mata Syuja. "Syuja, nanti dibicarakan di dalam ya, Papa sudah--" "Apa aku mengenalmu?" Kali ini Syuja menatap Jane dengan sorot tak kalah tajam. "Syuja, malu dilihat orang. Kita bicara di dalam," ajak Jane masih dengan nada lembut. "Lalu, apa kamu nggak malu dengan apa yang kamu lakukan?" tanya Syuja sinis, raut wajah Jane berubah, dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas perkataan Syuja. "Ayo!" kata Syuja sambil menarikku untuk pergi. "Syuja!!" Jane mencoba menahannya dengan meraih lengan Syuja. "Jangan pernah berani menyentuhku w************n!" kata Syuja dingin. "Syuja!!" seruku kaget, sambil melepas genggaman tangannya. Syuja menatapku dengan kening mengernyit. "Jaga bicaramu, Ja!" ucapku mengingatkan. Aku bisa melihat Syuja menahan emosi, tatapannya tajam tertuju padaku "Kita pulang," kata Syuja, dia meraih pergelangan tanganku dengan kasar dan menyeretku pergi meninggalkan Jane yang berdiri menatap kepergian kami. Syuja langsung membawaku pulang ke rumah. Waktu aku turun dari motor dan memberikan helm padanya, dia hendak langsung pergi tapi aku dengan cepat menahannya. "Kita bicara," cegahku. Tanpa mengiyakan, dia mematikan mesin motor dan melepas helmnya. Dia berjalan lebih dulu ke teras. Aku bisa melihat kalau dia masih begitu marah. "Ja," panggilku meraih lengannya. "Kapan kalian ketemu?" "Aku jelasin, tapi duduk dulu ya?" "Kapan kalian ketemu?" ulangnya, mengabaikan ajakanku. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dari ketakutanku melihat amarah Syuja. "Hari Minggu kemarin, dan itu nggak sengaja." "Kenapa nggak cerita?" "Dia ... minta buat nggak bilang ke kamu." "Dan memintamu menuruti kemauannya?" tanyanya tajam. "Ja, niat dia baik." "Baik?? Apa kamu kenal dia?? Apa kamu tahu siapa dia?? Apa kamu tahu dia orang yang paling aku benci selain Papaku??!!" tanya Syuja, nadanya sedikit meninggi, dan itu mengejutkanku. Bukan hanya karena nada suaranya tapi juga kalimatnya. "Apa kamu nggak bisa lihat betapa bencinya aku pada wanita itu?" Syuja mati-matian coba menahan emosi, "aku pernah bilang buat nggak menanyakan apapun tentang wanita itu, apa kamu masih belum tahu artinya?" "Gimana aku tahu kalau kamu nggak cerita, Ja?!" "Apa yang harus aku ceritain? Aib keluargaku?" tanyanya dingin, aku tercekat mendengarnya. "Ja, aku sama sekali nggak bermaksud--" "Aku pikir kamu paham kondisinya. Tapi sepertinya aku salah," potong Syuja datar. "Ja, gimana aku bisa paham kalau kamu nggak pernah cerita masalahmu??!" "Apa aku harus ceritain aib keluargaku?" ulang Syuja, "apa aku harus cerita betapa brengseknya Papaku dan betapa murahannya wanita yang kamu bela tadi??" "Ja!! Kenapa kamu terus saja menyebut Jane w************n?? Apa yang salah dengannya??" tanyaku dengan emosi mulai terpancing, "aku ngelakuin semua karena dia bilang hari ini ulang tahun Papamu!! Apa kamu nggak berpikir Papa dan Mamamu akan kecewa mendengarmu menyebut Jane seperti tadi???" "Kalau kamu nggak tahu apa-apa, seharusnya kamu diam," kata Syuja dingin, "jangan bicara seolah kamu tahu semuanya." Aku menarik nafas dan menghembuskannya kesal. "Kalau kamu nggak mau cerita tentang masalah keluargamu, aku paham! Tapi kamu juga nggak pernah mau bilang kalau kamu ada masalah dengan panitia senior di kampus, benar kan?!!" tanyaku yang sudah terpancing dan mengungkit masalah lain. "Aku harus nanya ke Luthfi karena aku tahu kamu nggak akan pernah mau cerita. Setiap kali aku merasa kamu ada masalah, apapun itu, aku harus tanya Luthfi atau Bintang!!" Syuja menatapku tajam. "Kita sering bicarain ini. Kamu selalu minta aku terbuka, cerita semuanya, dan aku lakuin. Tapi saat aku minta hal yang sama, kamu selalu bilang nggak ada yang perlu dikhawatirin, alasanmu selalu sama ... nggak mau membebaniku. Tapi sikapmu yang selalu tertutup setiap ada masalah justru bikin aku khawatir." "Kamu bilang kita akan selalu ada untuk satu sama lain meski jarak menghalangi pertemuan kita, tapi sikapmu ... sekali lagi sikapmu, selalu bikin aku ngerasa nggak berarti karena nggak pernah bisa ringanin beban masalahmu." "Aku selalu menilai betapa buruknya aku karena nggak pernah ada buat kamu, aku ngerasa nggak cukup baik, cuma ngasih kamu beban dengan masalah-masalah yang selalu kuceritain ke kamu. Apa kamu tahu berapa kali aku ngerasa nggak pantas buat kamu karena kamu nggak pernah mau membagi kesedihan, kesulitan, juga kegelisahanmu." "Apa menurutmu aku emang seperti itu?? apa setelah kita bersama kamu baru sadar kalau aku emang nggak pantas buat kamu, karena itu kamu nggak mau terbuka sama aku??" Syuja hanya diam menatapku. Tak ada tanda-tanda dia akan menjawab pertanyaanku. Akhirnya aku pergi dan meninggalkannya sendiri. "Kenapa, Dek??" tanya Ibu ketika melihatku masuk rumah dengan langkah menghentak, beliau melihat Syuja masih berdiri di teras. "Kalian bertengkar??" tanya Ibu lagi. "Ibu suruh dia pulang, aku nggak mau ngomong sama dia," kataku lalu bergegas masuk ke kamar. Setelah beberapa saat, aku mendengar suara motor Syuja berjalan menjauh. * * * Dan setelah itu, semalaman Syuja sama sekali tak menghubungiku. Dia juga tak meninggalkan satu pesanpun untukku. Ibu beberapa kali menanyakan dan membujukku untuk baikan dengan Syuja, tapi aku menolak. Aku masih terlalu marah dan kecewa, bukan hanya pada Syuja tapi lebih kepada diriku sendiri. Apa selama ini kamu baru sadar kalau aku memang nggak pantas untukmu, Ja?? Karena itu kamu nggak mau berbagi masalahmu denganku??? Pertanyaan itu terus menghantuiku. Selama 3 hari berikutnya, Syuja menelepon dan mengirimkan pesan, tapi tak satupun panggilannya kuterima dan tak satupun pesannya kubalas. Dia sempat datang ke rumah, tapi aku tak mau menemuinya. Ibu juga sudah kehabisan kata-kata membujukku. Saat aku packing untuk kembali ke Jogja, beliau juga tak banyak menyinggung tentang Syuja. Farah meneleponku, mengatakan menyesal tak bisa mengantarku karena dia baru mendapat tiket pulang minggu depan. Aku menghiburnya dan mengatakan bahwa kami akan bertemu lagi secepatnya. Rabu pagi. Hari keberangkatanku kembali ke Jogja. Ibu ada pertemuan penting dengan clientnya, dan tak bisa ditunda karena clientnya harus segera terbang ke Jepang. Beliau akhirnya mengantarku hanya sampai di bagian depan stasiun. "Hati-hati ya, Dek? Kalau ada apa-apa langsung hubungi Ibu. Jaga kesehatan dan jangan telat makan," pesan beliau. Aku mengangguk dan memeluk Ibu erat lalu mencium punggung tangan beliau, setelah itu aku keluar mobil. Dengan langkah berat, aku menyusuri lorong menuju lobi stasiun, berulang kali aku menghembuskan nafas panjang. Saat menuju tempat check in, mataku menangkap sosok Syuja. Dia berdiri di sana dengan gelisah, kedua telapak tangannya dimasukkan ke saku jaket. Raut wajahnya terlihat lelah, entah karena memikirkan masalah kami, atau karena kegiatannya. Mata kami kemudian bertemu, aku menguatkan hati dan terus berjalan. Jujur saja, marah dan kecewaku masih bersisa, aku masih ingat betul perkataannya yang mengatakan lebih baik aku diam jika aku tak tahu apa-apa. Bagaimana aku bisa tahu kalau dia nggak mau mengatakan apapun?!! Begitu jarak kami sudah cukup dekat, dan dia hendak mengatakan sesuatu, aku langsung mendahuluinya. "Jangan bicara, aku nggak mau dengar apapun dari kamu mulai sekarang." Setelah mengatakan itu, aku berjalan pergi meninggalkannya begitu saja. Sama sekali tak menoleh ke belakang. Sampai akhirnya ketika gerbong kereta yang aku naiki melewati bagian check in, aku melihatnya masih berdiri di sana dengan tatapan kosong. Mataku mulai terasa panas, mencoba bertahan agar tangisku tak pecah, aku memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Aku sadar sudah mengatakan hal bodoh. Dan aku yakin ... perkataanku pun sudah menyakiti Syuja. Harusnya aku tak mengatakan apapun, menuruti emosi selalu saja membuatku menyesal pada akhirnya. Tapi aku juga tak bisa membenarkan ucapan Syuja malam itu. Untuk pertama kali ... perkataannya menyakitiku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD