Hujan di luar masih turun begitu deras. Kendaraan yang lalu lalang pun tak seramai kalau cuaca cerah. Sementara di seberang, terlihat suasana parkiran kampusku yang juga relatif sepi. Aku menghela nafas berat. Jujur saja, aku masih sangat merindukannya. Aku merindukan semua tentang Syuja. Cueknya, dinginnya, kebiasaannya yang sedikit bicara, yang suka memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu responku, juga kebiasaannya yang suka tiba-tiba berkata manis. Aku sangat merindukannya, dan hatiku masih terasa sakit tiap kali aku mengingat bagaimana dia berdiri dengan tatapan kosong di stasiun. SyujaNiswara : Maaf, Aku melanggar permintaanmu Ijinkan aku bicara, ya? Kita harus bicara. Bisa terima teleponku? Bisa kita bicara? Tolong terima teleponku. Tolong temui aku. Keluarlah, temu

