Aku mengedarkan pandangan bukan hanya di dalam tapi juga ke luar ruangan. Ke mana Martha???? Cewek mungil, berisik yang memaksaku segera menyusulnya di pusat perbelanjaan secepat mungkin lewat setengah jam lalu. Lambat laun kesabaranku menunggu mulai berkurang, apalagi aku memang kurang suka di tempat yang banyak orang begini. Latteku juga sudah tinggal setengah, tapi Martha belum muncul juga. Beberapa kali aku coba meneleponnya tapi tak diangkat, dia hanya mengirimkan pesan agar aku menunggu di coffee shop yang ada di dekat pintu keluar. Aku menyesap latteku lagi sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja. Rintik gerimis di luar sana, secangkir latte dan lagu melow ... kombinasi yang nyaris sempurna. Kalau moodku sedang bagus, tak ada masalah menunggu selama ini. Tapi moodku memang sedang

