I Bertemu Kembali
Pintu rumah itu dibuka setelah Adrian mengetuk tiga kali. Terdengar sayup sahutan di balik pintu. Mata Adrian sedikit melebar ketika menatap sosok di balik pintu itu. Seorang gadis remaja yang malu-malu menyapa Adrian. “ Cari siapa om?” Nayla bertanya sambil menahan pintu. " Bapak ada? Ini benar rumah Pak Albert?" Adrian menjawab sambil menurunkan tas ranselnya. "Iya" jawab Nayla singkat. " Saya Adrian, mau bertemu dengan Pak Albert" Adrian menegaskan tujuannya, ia tetap menatap wajah gadis manis yang membalas ucapannya dengan anggukan.
" Tunggu sebentar, om". Nayla masuk ke rumah dan memanggil ayahnya yang sedang memperbaiki beberapa kandang ayam yang letaknya sekitar sepuluh meter meter di belakang rumah mereka. Nalya menyampaikan jika ada tamu yang ingin bertemu ayahnya.
Pak Albert, ayah Nayla adalah seorang guru senior di SMP tempat Nalya bersekolah. Ia segera merapikan kandang itu, mencuci tangan dan bergegas masuk ke rumah. Nayla tidak mengikuti ayahnya, ibunya yang baru keluar dari kamar mengikuti ayahnya ke ruang tamu dan membuka pintu.
Nayla hanya melihat dari balik pintu tengah ketika ayahnya menyambut dengan riang tamu yang datang . " Waah, anak Adrian, silahkan masuk nak" Ayah Nayla memeluk pemuda itu, ia berjabatan tangan sambil menepuk pundak Adrian. Ibu Nayla juga sama, ia dengan gembira menyambut kedatangan tamu sore itu.
...
Adrian adalah seorang pemuda yang lulus kuliah keguruan. Ia mengambil pendidikan guru fisika. Setelah merantau untuk kuliah, ia pulang kampung dengan tujuan bisa mengajar di kampung. Setelah satu dua bulan beristirahat di rumah, Adrian berdiskusi dengan orangtuanya untuk mencari lowongan pekerjaan . Suatu hari ia mendapat informasi jika ada lowongan guru fisika di SMP yang tereletak di kampung tetangga, dan mengetahui jika ia megenal seorang guru di sekolah tersebut. Setelah mengumpulkan berkas yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan , Adrian mengirimkan berkasnya itu. Pada saat itu di kampung pengiriman berkas bisa meminta bantuan para supir bus yang meelwati daerah tersebut. Seorang supir bus langganan Adrian dengan senang hati membantu mengirimkan lamaran itu. Sekitar satu minggu kemudian ia mendapat jawaban melalui sebuah surat jika ia diterima mengajar di sekolah itu.
...
"Nayla hati-hati nak.." Ibu Nayla mengejar anak pertamanya yang berusia 5 tahun. Anak perempuan itu aktif berlarian kesana kemari. Tiba-tiba terdengar bunyi "buk!!" Nayla menabrak pot bunga di samping rumah, seseorang segera menggendongnya, pemuda yang menggendongnya menenangkan Nayla yang menangis. Ibu Nayla menghampiri sumber suara, sambil ikut menenangkan Nayla, sang ibu menyambut kedatangan pemuda yang sedang SMA ke rumahnya. Adrian saat itu bersekolah di kota tempat ayah Nayla bekerja saat itu. Adrian anak dari tetangga kampung yang dikenal oleh orangtua Nayla. Orangtua Adrian merupakan orang yang terpadnang di kampung mereka. Saat Adrian hendak melanjutkan sekolahnya ke kota, orangtuanya meminta tolong orangtua Nayla agar bisa menjaga anak mereka. Adiran memang tinggal di asrama sekolah khusus putra, di waktu libur, sesewaktu ia akan bertamu ke rumah Pak Albert. Ia sering betemu Nayla kecil hingga saat ia melanjutkan kuliahnya ke luar pulau, komunikasinya dengan pak Albert sekeluarga terputus. Pada zaman itu masih belum secanggih sekarang, surat menyurat adalah alat komunikasi yang digunakan.
...
Nayla menyuguhkan minuman ke ruang tamu. Ayahnya memperkenalkan Adrian pada anak sulungya, ia mengatakan wajar jika Nayla tidak mengenalnya karena saat itu ia masih kecil. Adrian tersenyum menatap Nayla, dalam ingatannya adalah gadis kecil yang masih bisa digendongnya dulu, kini sudah bertumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Nayla tersenyum malu sambil menyalami Adrian. Ayahnya juga memberitahu jika Adrian akan menjadi guru fisika di sekolah mereka. Nayla mengangguk dan berbalik menuju dapur. Ia benar-benar tidak memiliki bayangan sedikitpun tentang Adrian yang akan menjadi gurunya itu. Kesan pertamanya adalah tampan dan berkarisma. Nayla pun lanjut membantu ibunya untuk mempersiapkan makan malam. Di sela kegiatan di dapur, ibu Nayla menceritakan beberapa kisah yang masih diingatnya tentang Adrian pada Nayla. Nayla membukakan pintu dapur, adiknya baru pulang menjelang maghrib yang disambut dengan omelan ibunya. Riko hanya tertunduk dan segera mengambil handuk, ia melangkah ke kamar mandi, namun ia berbalik ke dapur lalu bertanya siapa tamu ayahnya. Ibunya menyuruhnya segera mandi dan setelah mandi akan berkenalan dengan tamu mereka. Riko yang tidak mendapat jawaban hanya melengos dan masuk ke kamar mandi.
...
Makan malam sudah disiapkan, Ibu Nayla segera memanggil suaminya dan Adrian untuk berpindah ke ruang makan. Malam itu mereka menikmati makan malam bersama. Riko pun berkenalan dengan Adrian saat makan malam itu. Entah mengapa pandangan Adrian lebih banyak ke arah Nayla. Nayla tersenyum malu saat mata mereka tak sengaja beradu pandang. Pak Albert menyampaikan kondisi sekolah yang akan menjadi tempat Adrian bekerja, ia juga memberitahu lokasi rumah dinas guru yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Keluarga pak Albert saat itu sudah tidak tinggal di rumah dinas karena sudah memliki rumah sendiri yang juga berdekatan dengan sekolah. Malam itu Nayla dan Riko tidak tidur cepat, karena malam minggu ada beberapa tetangga yang ikut menonton TV di rumah mereka. Saat itu di lingkungan itu tidak semua rumah memiliki TV, dan itu masih menjadi hiburan utama di kampung. Adrian ikut berkenalan dengan para tetangga yang bertamu malam itu. Hal itu sudah menjadi rutinitas di tiap malam minggu, rumah Pak Albert akan ramai dikunjungi tetangga. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, para tamu sudah berpamitan pulang, sebelum pulang biasanya mereka akan merapikan tikar yang dipakai sebagai alas duduk setiap malam minggu. Nayla dan Riko beranjak ke kamar masing-masing. Adrian beristirahat di kamar tamu, ia merasa kelelahan dan tertidur lelap.
...
Suara ayam berkokok membangunkan Adrian dari tidurnya. Sayup-sayup ia mendengar aktifitas dalam rumah itu. Bu Albert sedang membangunkan anaknya Nayla dan Riko. Adrian masih berada dalam selimut dan berencana menunda bangun paginya, ia mengintip dari balik tirai jendela, di luar masih gelap, terdengar kokok ayam bersahutan. Adrian mendengar aktifitas pagi itu dari balik selimutnya. Beperapa saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk, ia bangun dan membuka pintu. "Ayo minum teh pagi om" Nayla mengajak Adrian ketika ia membuka pintu. Adrian mengangguk, ia ke kamar mandi terlebih dahulu lalu bergabung di meja makan untuk menikmati minuman hangat di pagi hari. Hari Minggu , keluarga pak Albert akan ke Gereja untuk ibadah, Adrian juga bersiap-siap untuk ibadah pagi di Gereja. Selesai dari Gereja, Pak Albert mengajal Adrian untuk melihat-lihat area rumah dinas sekaligus lingkungan sekolah. Adrian bertemu dengan beberapa guru yang pada saat itu berada di rumah dinas.
...
"Nanti panggilnya kakak atau abang saja" Adrian menyampaikan permintaannya pada Riko dan Nayla yang sedari tadi memanggilnya dengan panggilan "om". Nayla dan Riko saling memandang dan tersenyum, mereka mengangguk setuju dengan permintaan Adrian. " Nanti kalau di sekolah baru panggil Pak Guru ya Nay" ucap Adrian. Adrian dan keluarga pak Albert pulang ke rumah dan berisitrahat menikmati hari libur.