Elina dikejutkan dengan pemandangan di depannya saat dia tiba depan rumahnya. Setelah kejadian itu Elina memilih untuk pulang dan Arsa juga mengantarnya.
Dari kejauhan Elina melihat neneknya bertekuk lutut pada pria-pria berbadan besar itu yang kini tengah melempar semua barang-barangnya ke luar rumah. Elina segera berlari menghampiri neneknya yang masih dibentak-bentak pria itu.
"Nenek, ada apa?"
"Hoh, pulang juga kamu, mana uang yang kamu janjikan untuk membayar utang-utang ibumu!" Bentak salah satu dari dua pria itu.
Elina berdiri "Begini, gajiku belum turun, bisakah kalian menunggu sebentar lagi" Pinta Elina karena dia memang sedang tidak punya uang.
"Alasan aja terus, sesuai permintaan bos bahwa rumah ini yang ibumu jadikan jaminan maka akan kami ambil" Ucapnya bengis.
"Tidak, ini rumah kami. Aku sudah bilang aku akan membayarnya hanya saja tidak sekarang!" Kekeuh Elina.
"Berani sekali kau membentak, mulut manis mu itu tidak pantas berkata demikian" Haris yang merupakan anak rentenir itu hendak menyentuh dagu Elina tapi itu tidak sampai terjadi karena tangannya keburu di pelintir oleh Arsa.
"Berani kau menyentuhnya, kupastikan kau pulang tanpa tangan!" Desis Arsa.
"Berengsek! Lepaskan aku" Pekik Haris. Arsa menghempas kasar tangan laki-laki itu. "Kenapa kalian diam saja, hajar dia" Perintah Haris pada dua anak buahnya.
Dua orang berbadan besar dan rambut gondrong itu langsung melayangkan pukulan pada Arsa, mencoba memukulnya dari berbagai sisi. Tapi nyatanya badan besar dan wajah sangar mereka tak menjadi jaminan mereka lebih kuat, buktinya justru sekarang mereka terkapar di tanah karena pukulan Arsa.
"Sial! Aku tidak mau tahu, kau harus mengosongkan rumah ini karena itu perjanjiannya yang dibuat ibumu!" Tekan Haris seraya berlalu dari sana.
Arsa kemudian menghampiri Elina yang tengah memeluk neneknya menangis. "Elina" Panggil Arsa menyentuh bahu Elina. "Tinggalah di apartemenku bersama nenek mu" Lanjutnya.
"Tapi Arsa aku tidak mau merepotkanmu, aku juga gak mau dipandang buruk oleh keluargamu karena hal ini"
"Memangnya siapa yang akan berkata seperti itu, apartemen itu milikku, terserah aku mau memberikannya pada siapa" Tegas Arsa.
"Tidak Arsa, aku dan nenek akan mencari kontrakan kecil saja untuk kami bernaungnya"
"Okey, kalau begitu aku menyewakan apartemen itu, dan kau boleh membayarnya semampumu, gimana?" Tawar Arsa tidak kehabisan cara.
Elina menyeka air matanya sejenak "Baiklah" Jawab Elina kemudian.
Arsa tersenyum mengelus sayang kepala Elina kemudian mengalihkannya pandangannya pada Yuna-nenek Elina dan tersenyum juga padanya.
***
"Bunda, kak Aca emang gak suka sama Eva" Eva menangis di pelukan Nara.
Nara mengelus lembut kepala Eva, tidak perlu ditanya lagi, Nara memang sangat menyayangi Eva seperti anaknya sendiri karena mengingat jasa-jasa Dani-ayah Eva, dari dulu Dani yang selalu membantunya di masa-masa terpuruknya. Karena itulah Nara sangat menyayangiku Eva dan tidak akan membiarkan gadis itu terluka.
"Tidak sayang, Arsa menyayangimu" Elis Nara.
Eva mendonggak menatap Nara "Tapi Arsa mencintai perempuan lain, bunda" Lirihnya.
Alis Nara mengkerut "Gadis lain? Siapa? Setahu bunda sikap Arsa yang acuh membuat dia tidak pernah dekat dengan gadis lain selain kamu"
"Tapi kenyataan di pesta kemaren aku melihat kak Aca memeluk dan mencium gadis itu, gadis yang sangat cantik" Terang Eva memelankan kalimat terakhirnya.
"Tenanglah sayang jangan khawatir, nanti bunda akan tanyakan pada Arsa, siapa pun gadis itu tidak ada yang bisa mengambil posisimu" Bujuk Nara seraya memeluk Eva kembali.
***
Sementara itu, esok paginya Elina tidak langsung pindah ke apartemen Arsa. Ia akan mulai pindah besok atau lusa, dia juga sudah meminta izin pada rentenir itu untuk memberinya waktu untuk tinggal beberapa hari lagi di sana dengan catatan Elina harus membayar waktu itu. Perlu banyak hal yang harus Elina urus untuk kepindahannya sehingga ia terpaksa menyetujui syarat rentenir itu.
Sekarang yang harus Elina lakukan adalah pergi ke restauran tempatnya bekerja, sudah dua hari dia meminta izin karena beberapa hal yang harus ia urus.
Meski badannya masih terasa begitu lelah tapi Elina tetap datang ke restauran untuk kembali bekerja, Elina masih ingat betapa sulitnya dulu ia mencari pekerjaan hingga membawa berkas lamaran ke sana kemari di temani pantasnya sang Surya hingga ia di terima di restauran ini. Jadi dia tidak boleh loyo hanya karena lelah yang tak seberapa.
"Semangkuy Elina" Ucapnya pada dirinya sendiri sebelum memasuki restauran itu.
Elina bergegas mengganti bajunya dengan seragam khusus restauran itu, kemudian ia gabung dengan Gilang yang sudah datang lebih awal.
"Hi Lang, wih nyubuh bener udah disini aja" Sapa Elina pada rekan kerja sekaligus temannya itu.
"Eh hey Lin, oh iya dong pejuang cuan" Sapa Gilang balik disusul menyimpan jari jempol dan telunjuknya di dagunya berpose tersenyum dan memainkan alis-alisnya.
Elina menepuk lengan Gilang "Paan sih Lang" Mereka saling tertawa.
"Btw gimana keadaan nenek?"
"Nenek baik, semakin baik mal–"
Ucapan Elina terpotong saat tiba-tiba Yuda manager restauran itu memanggil Elina "Elina, saya ingin bicara sebentar"
"Oh iya pak" Elina melirik Gilang sebentar seolah bertanya "Ada apa ya?" Tapi Gilang hanya mengedikan bahu tak tahu. Akhirnya Elina hanya berjalan mengikuti Yoga dibelakangnya.
"Silahkan duduk Lin" Ucap Yoga mempersilahkan.
"Iya pak, terima kasih" Jawabnya, "Ada apa ya pak manggil saya?" Lanjutnya bertanya.
Yoga tak menjawab dan justru malah menyongsong sebuah amplop ke atas meja "Ini gajih kamu bulan ini"
Elina mengkerdilkan heran belum mengerti "Tapikan ini belum waktunya gajihan pak masih sekitar 2 minggu lagi ke tanggal gajihan"
"Iya memang belum tanggalnya untuk gajihan karyawan, tapi ini gajih terakhir kamu" Ucap Yoga, sungguh dirinya sangat tidak enak pada Elina.
"Saya di pecat pak?" Ucap Elina tak percaya. Yoga mengangguk.
"T-tapi kenapa pak? Bukankah saya selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang merugikan restauran ini...oh atau karena kemarin saya gak masuk? Tapi kan saya sudah izin dan bapak juga mengizinkan" Bantah Elina tak terima.
"Saya sungguh minta maaf Elina, saya juga sebenarnya tidak bermaksud untuk memecat kamu, tapi ini keputusan dari bos untuk menguranginya karyawan" Ucap Yoga menyesal, sungguh jika bukan karena gadis yang bernama Eva itu yang mengancamnya sungguh tidak ingin melakukan ini.
"Ya tapikan ke-ke-napa kenapa harus saya gitu yang dikelu–" Elina tidak melanjutkan ucapannya rasanya percuma ia tetap akan dipecat "Ya sudahlah, kalau begitu terima kasih sejauh ini saya sudah di terima bekerja disini, permisi" Elina beranjak, membungkuk sedikit lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Elina sedikit melempar tasnya di meja restauran itu, ikut duduk sebentar untuk menetralkan pikirannya di sana tidak papa kan meski sekarang dia sudah bukan pekerja restauran itu lagi.
Gilang yang melihat wajah kusut Elina kemudian mendekatinya dan ikut duduk di sebrang gadis itu "Kenapa Lin? Kusut amat"
"Aku dipecat" Jawab Elina kecut.
"Aku sudah menduga, aku turut prihatin Lin, maaf gak bisa bantu kamu" Sesal Gilang sendu.
"Iya gak papa Lang mungkin bukan rejekinya juga" Sahut Elina pasrah. "Eh tapi, kamu bilang tadi apa? Kamu sudah menduganya? Kenapa?" Lanjut Elina.
Gilang menegakkan tubuhnya menyodorkan ponselnya lalu melipat kedua tangannya di atas meja "Kemarin aku melihat perempuan itu datang ke m sini kemudian di mengajak pak Yoga bicara yang tidak sengaja aku dengar juga" Terang Gilang.
Tidak lama setelah melihat potret di handphonenya Gilang Elina terkekeh samar "Sebegitu terancamnya kah dia sampai pengen banget lihat aku makin susah"
"Maksud kamu apa Lin?" Bingung Gilang.
"Perempuan itu orang yang suka sama Arsa dan dia mungkin kesal karena aku deket sama Arsa... terus sekarang gimana aku bayar pengobatan nenek Lang" Elina menangis tertawa.
"Aku akan bantu kamu cari pekerjaan baru Lin, kamu pasti dapat pekerjaan lain lagi"
"Thanks ya Lang kamu selalu jadi teman yang baik, sekarang kamu lanjutin kerja kamu lagi, aku juga harus pergi dari sini" Elina menyeka air matanya kemudian beranjak.
Elina berdiri di pinggir jalan, memberhentikan angkot warna hijau dengan plat merah. Elina memijat pelipisnya sesaat setelah duduk di angkot itu. Sekarang apalagi ujian hidupnya? Setelah di ditelantar ayahnya, rumahnya disita, orang yang dicintainya tunangan dengan orang lain, lalu sekarang Elina juga kehilangan pekerjaannya. Hal rumit apalagi setelah ini yang akan dia lalui. Rasanya Elina ingin meraung mengais, tapi ia tahu itu semua tidak berguna dan tidak akan mengubah apa pun selain sedikit melegakan hatinya. Yang harus Elina lakukan sekarang adalah bagaimana memutar otaknya agar bisa keluar dari masalahnya.
Dan kenapa gadis itu, Eva. Kenapa dia juga senang sekali mengungkit masalah dengannya. Padahal Elina pikir dia tidak pernah mencari masalah dengan dia. Apa semua ini karena Arsa?. Why? Jika Arsa mencintai bukan salah Elina kan?. Elina sungguh muak dan tidak habis pikir dengan gadis itu, di depan orang lain dia seperti gadis lugu dan manis terutama di depan Arsa. Tapi saat berhadapan dengan dirinya gadis itu berubah seperti ular yang menyebar bisanya lalu pergi begitu saja dan kembali menjadi ular yang berlenggok cantik.
To be continued