The Night

1643 Words
18+ "Semenjak saat ini, semua yang ada dalam diriku adalah milikmu. Dan nafas ini berhembus hanya untukmu"–Arsala "Bu, saya sudah tahu siapa gadis yang disukai tuan muda itu" Lapor seorang laki-laki berseragam hitam dan berbadan tegap itu yang merupakan orang suruhan Nara. Nara mengangguk "Baiklah, apa info yang kau dapatkan" Ucapnya seraya berbalik dan duduk di kursi dekat jendela yang menembus ke taman. Dua hari yang lalu Nara setelah Eva menangis padanya karena Arsa yang mencintai gadis lain, Nara langsung mencari tahu gadis itu yang juga datang ke acara ulang tahunya tempo hari. Nara tahu gadis itu cantik, sangat cantik malah dan dilihat dari sikapnya dia sepertinya gadis baik. Jadi tidak heran jika Arsa menyukainya. Tapi meskipun begitu bagi Nara tetap saja dia harus mengetahui siapa gadis itu. Karena itulah dia menyuruh orang untuk mencari tahu. Orang suruhan itu melipat tangannya di depan menunduk segan "Namanya Elina Sanjaya" Ucapnya. Elina mengerutkan kening merasa tidak asing dengan nama belakang gadis itu. Orang suruhan itu melanjutkan "Dia bekerja di sebuah restauran dan hanya tinggal bersama neneknya" "Baiklah, lalu apa kau tahu juga tempat tinggalnya?" Pria itu mengangguk "Iya, dia tinggal di daerah kumuh pinggiran kota" "Antarkan aku ke sana" Ucap Nara langsung, ia beranjak berdiri diikuti pria itu di belakangnya. --- Nara menatap rumah yang sudah sedikit usang itu. Dengan perlahan dan langkah pasti Nara berjalan memasuki rumah itu dan mengetuk pintunya. Lama Nara menunggu sampai terdengar decitan pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang sudah keriput yang masih Nara kenali dengan jelas. Itulah yang membuat Nara tersentak. "Bu Yuna?" Gumam dengan raut sedikit terkejut. Nek Yuna sama terkejutnya "Maaf jika aku salah, tapi apa kau nona Nara?" Tanyanya. Nara mengangguk "Kau tinggal di sini?" "Iya" Yuna mengangguk. Nara bingung, jelas-jelas ini alamat yang dikatakan orang suruhannya. Lalu, jika ini rumah Yuna apa itu artinya..... "Maaf Bu, saya kesini untuk mencarinya seseorang dan alamatnya memang disini" "Memangnya siapa yang anda cari?" Tanya Yuna. "Elina" Jawabnya "Elina Sanjaya" Lanjut Nara. Yuna tersenyum "Ini memang alamatnya, Elina cucu saya" Nara tersentak "Apakah dia putrinya...." Ucapan Elina menggantung. Lagi, Yuna mengangguk "Elina putrinya Erika" Nara menutup mulutnya, ia semakin terkejut. Kenapa bisa seperti ini, kenapa ia seakan lingkaran yang berhubungan dengan mereka. Setelah semua masalalu menyakitkan yang di torehkan wanita itu, kina putraku justru mencintai anak dari wanita itu. Tidak, Nara tidak akan membiarkan. Nara tidak akan membiarkan Arsa mencintai perempuan yang berasal dari seorang wanita yang sudah menghabiskan Nara dan Arsa, membuat mereka menderita. "Ada apa?" Tanya Yuna membuat Elina kembali dari lamunannya. "Tidak, lalu di mana Elina sekarang?" Tanya Nara balik. "Elina pergi bekerja" Jawab Yuna. Nara meronggoh sesuatu dari tasnya lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas "Baiklah, kalau begitu tolong ibu bilang pada Elina untuk menemuiku di tempat ini" Ucap Nara seraya memberikan secarik kertas itu. *** Ellie Kamu di mana? Paddock Aku ke sana Biar aku yg menemuimu (Anggap aja centang satu) "Sh*t" Umpat Arsa saat mendapati pesannya hanya centang satu, gadis itu pasti sudah beranjak menuju tempatnya. Arsa keluar dari padock dan langsung mengumpat lagi saat mendapati di luar hujan cukup deras. Arsa khawatir? Tentu saja. Elina memang keras kepala. Arsa tahu sekali gadis itu tidak mungkin menggunakan uangnya untuk naik taksi. Lalu apa? Tentu saja angkot atau grab, tapi jam segini angkot sudah tidak beroperasi jadi kemungkinan ke dua yang benar. Dan gadis itu hujan-hujanan, Arsa tahu itu. Ellie "Kau di mana?" Baru akan melangkahkan kakinya lagi dari kejauhan Arsa melihat gadis itu dengan pakaian basah dan tangan yang memeluk dirinya sendiri. Arsa langsung berlari menghampirinya. "Kau gila huh?" "Sudah ku bilang aku yang akan menghampirimu!" Geram Arsa gemas dan kesal. "Bisakah nanti saja marahnya?" Tatap Elina dengan bibir sedikit bergetar. Arsa menghela napas "Ayo duduk dulu di sana" Arsa menuntun Elina untuk duduk di depan paddock. Sementara dirinya sendiri masuk lagi ke dalam. "Tunggulah dulu di sini sebentar, aku ambil kunci mobil dulu di Dimas, aku tidak membawa mobil" "Memangnya kita akan ke mana?" "Apartemen" "Aku hanya perlu bicara sama kamu" Elina mendonggak karena Arsa berdiri. "Kau tidak sadar, kau kedinginan! Kita bicara nanti di sana, sekalian melihat-lihat apartemen yang akan kamu tempati" Ucap Arsa lagi. Elina baru saja akan menyela lagi tapi Arsa sudah melangkah masuk ke dalam paddock itu. "Dim, kunci mobil" "Mau ke mana, motormu kenapa?" Tanya Dimas. "Di luar ada Elina, dia kedinginan" Jawab Arsa sembari menggerakkan Kepala ke arah luar. "Elina ada disini, my lovely ku aku harus menemuinya" Toni beranjak dan hendak berlari ke luar tapi dengan cepat Gilang menarik tangannya agar Toni duduk lagi. "Kau ini apa-apaan!" Bentak Toni kesal. "Kau tidak lihat raut wajah Arsa?" Ucap Gilang, dan benar saja saat Toni menoleh pada Arsa tanpak dia menyorot tajam padanya seakan ingin menguliti Toni. "T-tidak usah menatapku seperti itu dong, lagipun kau juga belum resmi kan dengan Elina, jadi kita bersaing sehat" Sanggah Toni gagap. Arsa mengangkat dagunya pada Toni "Kata siapa?" Setelah itu Arsa beranjak dari sana saat sudah mengambil kunci mobil yang di sodorkan Dimas. Arsa melajukan mobilnya bersama Elina di sampingnya, kemudian ia melirik Elina yang tampak cemberut, entah kenapa. Tidak lama mereka tiba di gedung apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Elina dan neneknya nanti. "Ayo" Ucap Arsa, kemudian diikuti Elina yang berjalan beriringan dengan Arsa karena cuma ada satu payung. "Baju aku udah basah, jadi sebenarnya tidak apa meskipun tidak memakai payung juga" Sahutnya. Arsa menoleh "Ini bukan untuk menghindari basah tapi agar kamu tidak sakit" Mendengar itu, Elina mendonggak sebentar guna menatap Arsa, dan tak bisa lagi menahan untuk mengulum senyumnya, Elina senang Arsa memberi perhatian seperti itu. Mereka melangkah menuju lift kemudian keluar setelah bunyi ting dari lift itu. Pintu apartemen terbuka setelah Arsa menempelkan keycard nya. Elina sedikit melongo dan mengerutkan kening tanda bingung. "Ini apartemen aku dan aku membelinya dengan uangku sendiri, sementara apartemen yang waktu itu di beli oleh uang ayahku" Ucap Arsa saat menyadari raut kebingungan Elina. "Apa kamu sengaja membelinya karena aku?" "Tidak, aku memang sudah berencana membelinya untuk tempat tinggalku nanti bersama seseorang" "Seseorang?" "Istriku" "Perempuan yang aku cintai" Lanjut Arsa, takut jika Elina mengira perempuan itu Eva. "Oh" "Pergi ganti baju kamu ke kamar, di lemari ada beberapa bajuku, pakailah yang mana pun" Elina memasuki kamar yang ditunjuk Arsa, kemudian mulai membuka lemari di sana. Ia memilih kemeja hitam dan celana pendek milik Arsa. Jika celana pendek itu selutut di Arsa namun saat di pakai Elina celana itu jadi lebih panjang hingga bawah lututnya, itu karena badan Arsa tinggi sementara Elina hanya sebahu laki-laki itu. Sementara Elina ganti baju, Arsa membuat teh manis untuk Elina dan kopi untuk dirinya. Hingga gadis itu selesai mengganti pakaiannya dan mengikutinya ke dapur. Arsa tak kuasa menahan tawanya hingga ia tergelak saat melihat penampilan Elina "Kamu ngapain pakai celana itu? Oh astaga" Ucapnya seraya tertawa pelan. "Memangnya kenapa?" Heran Elina. "Gak papa, hanya....lucu" Ucap Arsa. "Makasih" Jawabnya nyengir senang. "Dan aneh" Tambah Arsa, kali ini dia membuat bibir cantik itu mengkerucut tak suka. Dengan kesal Elina mengambil teh hangat yang di buatkan Arsa, lalu membawanya ke sofa depan. Arsa menyusulnya dan ikut mendudukkan dirinya di sofa yang sama setelah meletakkan kopinya di meja. "Jadi apa yang mau kau bicarakan padaku hingga hujan-hujanan seperti tadi hanya untuk menemui dan bicara padaku" Raut wajah Elina semakin kesal kala mengingat hal yang akan ia bicarakan pada Arsa "Kamu menyayangi Eva kan?" "Kenapa bertanya seperti itu?" Ucap Arsa seraya menyesap kopinya lalu meletakkan kembali ke meja. "Jawab saja" Decak Elina. "Iya, sudah kubilang sebelumnya tapi jelas itu beda dengan rasa sayangku padamu" Arsa sedikit menjelaskan takut Elina berpikir yang tidak-tidak. "Kalau begitu peringatkan dia untuk tidak berbuat jahat pada orang lain" Ucap Elina seraya menatap kesal Arsa. "Memang apa yang dia lakukan?" Arsa mengkerutkan keningnya. Elina memalingkan wajahnya ke arah lain "Dia mendatangi manager restauran tempatku bekerja dan menyuruh manager itu untuk memecatku tanpa alasan" Adu Elina dengan suara pelan teredam kesal. "Mungkin dia tidak suka karena kamu dekat denganku, lagipula dia masih labil, sikapnya masih seperti remaja" Jawab Arsa santai. "Terus?" Elina mengangkat sebelah alisnya. "Aku harap kamu bisa mengerti dan memaklumi" Elina membuka mulutnya "What! Jadi maksud kamu perbuatan dia bisa dibenarkan gitu?" Ucap Elina tak percaya. "Bukan seperti itu, dia memang keterlaluan aku juga akan memperingatinya nanti, aku hanya minta untuk kamu tidak kebawa emosi" Pelan Arsa menjelaskan. Tampak Elina meremas-remas tangannya melampiaskan kekesalannya. Tadinya ia berharap dengan mengadu pada Arsa dia akan membelanya tapi ternyata tetap saja laki-laki di sampingnya ini masih condong pada perempuan itu meskipun dia sudah mengungkapkan cinta padanya. "Bagi kalian mungkin itu tidak seberapa, tapi bagiku pekerjaan itu sangat berharga untuk menyambung hidup di tengah kota metropolitan yang susah dalam meraih pekerjaan" Kesal Elina menahan matanya yang mulai memanas siap mengeluarkan airnya. "Seharusnya aku memang tidak perlu datang kesini dan mengatakannya padamu" Elina beranjak. "Hey" Arsa menarik lembut tangan Elina "Aku tidak bermaksud untuk membela Eva, aku juga mengerti pekerjaan itu berarti untuk kamu, aku akan membantu kamu mengembalikan pekerjaan kamu lagi" Ucap Arsa seraya mengusap lembut air mata gadisnya itu. Kemudian Arsa mengelus lembut kepala dan pipi Elina "Jangan nangis lagi, oke?" Elina mengangguk dan Arsa membawanya ke pelukannya. Perlahan Arsa mendekatkan wajahnya pada Elina hingga hembusan nafas satu sama lain menerpa wajahnya. Arsa melum*t lembut bibir Elina. Lumat*n yang teramat lembut namun perlahan berubah menjadi lebih menuntut penuh n*fsu. Elina larut dalam manisnya bibir itu hingga ia hanya mengikutinya. Dengan perlahan Arsa merebahkan Elina di sofa kembali menc*mbunya penuh damba dengan erangan yang keluar dari mulutnya dan desahan Ellina yang terdengar merdu di telinganya. Lalu meraih tubuh Elina dan membawanya ke kamar di apartemen itu. Arsa kembali merebahkan Ellina di atas ranjang dengan seprai abu. Ia begitu memuji kecantikan Ellina. Dan sungguh, ia benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini. Malam itu, mungkin menjadi malam yang indah bagi keduanya, yang diisi oleh desahan, lenguhan dan erangan-erangan mereka. Keduanya melenguh saat mencapai pelepasan. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD