Aku menghela nafas, lalu turun dari ranjang untuk meredakan seluruh gejolak hati yang aku rasakan. Aku melangkahkan kakiku menelusuri setiap jengkal lantai yang aku pijak. Dengan hanya mengenakan baju tidur berbahan katun. Aku menembus kegelapan ruangan yang hanya disinari cahaya rembulan. Aku memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Aku duduk di sebuah ayunan panjang yang terbuat dari kayu. Menikmati setiap sapuan angin malam yeng terasa dingin di kulitku. Bibirku melengkung membentuk sebuah senyum yang tulus. Memandang cahaya bulan yang menurutku sangat indah. Seketika itu ingatanku langsung berputar pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Kenangan indah yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan dan untaian kata-kata yang selalu aku simpan di dalam sanubariku.
Aku duduk di sebuah bangku taman bersama seseorang yang sangat aku cintai. Memandang bintang dan bulan yang menemani hamparan langit malam yang luas. Udara dingin malam, tidak menyurutkan semangatku untuk memandang benda yang hanya datang pada malam hari itu. Hening. Itulah yang terjadi diantara kami. Namun aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyumanku. Saat lengan kokoh mengusap lembut rambutku. Dia tersenyum kearahku. Dia menatapku dengan pandangan penuh Cinta
"Kamu tau nggak?" tanyanya tanpa mengalihkan pandanganya. Dia menatapku dengan lekat.
Aku diam membisu, mataku terpaku pada tatapanya yang menyiratkan akan keseriusan dan kesungguhan. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku barang sedikitpun. Mataku terkunci pada satu titik yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Iris segelap malamnya mampu membuatku diam tak berkutik. Tapi juga mampu menarikku untuk menyelami gelapnya malam yang bersarang di dalamnya.
"Aku enggak suka dengan bulan" dia berkata dengan raut serius.
"Iyalah, kan kamu sukanya aku" aku mencoba mencairkan suasana kaku yang terjadi di antara kami. Demi apapun jantungku berdetak dengam cepat. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi dia langsung menarik daguku untuk kembali menatapnya
"Tapi disisi lain, aku juga menyukai bulan
"Kenapa?" hanya kata itulah yang lolos di bibirku.
"Bulan memang indah tapi keindahan itu hanya akan kita nikmati sesaat, begitu pula dengam senja. Seindah apapun senja dan bulan, pada akhirnya mereka akan pergi meninggalkan kita saat kita sedang jatuh cinta pada mereka." Dia menghela nafas. Aku diam, mendengarkan setiap ucapannya yang entah mengapa, membuatku merasa sakit. Aku memiliki firasat buruk yang nantinya akan mengubah segalanya tentang aku dan dia.
"Tapi aku juga menyukai bulan. Dia selalu menemani gelap gulitanya malam dengan sinar yang dia dapat dari matahari. Dia akan tetap bertahan walaupun dengan atau tanpa seorang bintang-bintang yang menemaninya" dia memegang bahuku dengan lembut, "aku tidak ingin kamu menjadi seorang bulan yang akan meninggalkanku disaat aku sangat mencintaimu. Tapi aku ingin kamu menjadi bulan yang selalu menemaniku disaat susah maupun senang. Aku ingin kamu yang selalu menyinariku di saat aku terjebak dalam kegelapan hidup ini. Karena aku percaya, hanya kamu lah yang aku inginkan. Yakinlah, hanya namamu yang akan terukir indah di sini" dia menggenggam tanganku lalu meletakkannya tepat dimana jantungnya berada. Aku dapat merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat, sama sepertiku "dia hanya berdetak saat aku bersamamu. Aku sangat mencintaimu, Lian. Entah apa yang terjadi jika suatu saat kamu meninggalkanku."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Jantungku semakin berdetak tak karuan. Lidahku kelu, bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun, aku tidak mampu. Matanya menyiratkan ketulusan dan kejujuran. Tapi jika di telusuri lebih jauh, aku dapat melihat ketakutan yang bersarang di dalamnya.
"Entah mengapa, perasaanku enggak enak. Aku merasa akan terjadi sesuatu dengan kita" aku bisa mendengar disetiap ucapannya ada nada takut yang sangat besar.
'Aku juga. Aku juga memiliki firasat yang sama denganmu' ingin sekali aku berbicara seperti tapi aku tidak ingin dia bertambah khawatir dan takut.
"Semuanya akan baik-baik saja. Tapi jika suatu saat nanti, ada sesuatu hal yang kemungkingan akan terjadi di antara kita. Kamu jangan pernah menyerah ya. ingat kita hanya manusia yang berperan sebagai lakon dalam kehidupan ini . Tuhan-lah yang menentukan skenarionya, dan kita hanya menjalankan peran yang telah Tuhan takdirkan untuk kita" aku mengelus lengannya pelan.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Lian" dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu" gumamku lirih, tapi aku tau dia dapat mendengar ucapanku. Kurasakan pelukannya semakin mengerat. Aku menenggelamkan kepalaku di dadanya. Dapat ku denger jika detak jantungnya bekerja dengan tidak normalnya sama seperti milikku. Aku tersenyum bahagia di dekapannya. Laki-laki kedua yang memiliki pelukan ternyaman bagiku.
Aku tersenyum getir saat mengingat kenangan itu. Dan benar, ketakutan yang saat itu aku dan dia rasakan berubah menjadi kenyataan. Kekhawatiranku menjadi sebuah mimpi buruk yang selama ini aku alami. Bersalah, takut, khawatir, gelisah, bercampur menjadi satu. Membelenggu jiwaku akan penyesalan yang menghantuiku. Aku memejamkan mataku, menghirup dalam-dalam udara segar malam hari. Menikmati hembusan angin yang terasa menusuk tubuhku.
"Sayang?"
Aku membuka mataku. menengokkan kepala saat mendengar suara lembut nan halus memanggilku. Aku mendapati bunda yang sedang memegang sebuah gelas dengan wajah yang ketara sangat lelah dan mengantuk. Aku tersenyum ke arah bunda, "ngapain bunda turun ke lantai satu?" tanyaku setelah bunda duduk di sampingku.
Setelah aku pikir-pikir, pertanyaan yang aku ajukan barusan sama sekali tidak berbobot. Aku sudah melihat bunda yang membawa sebuah gelas, itu artinya bunda haus sehingga dia turun untuk mengambil air putih. Tapi sudahlah, untuk berbasa-basi saja
"Harusnya bunda yang tanya. Kamu ngapain jam segini masih disini?" bunda meletakkan gelasnya di meja yang ada di depannya.
"Cuma cari angin, bun" ucapku tanpa menoleh ke arah bunda.
Hening. Hanya hembusan angin malam yang semakin dingin yang terdengar di telingaku. Aku merasakan kalau bunda terus memperhatikanku dengan lekat.
"Kamu nangis ya?" tanya bunda yang membuatku sontak mengalihkan pandangan, namun setelah itu aku menundukkan kepalaku.
"Rara, kenapa kamu nangis?" bunda bertanya sekali lagi, namun aku kembali diam.
Kudengar bunda menghela nafas kasar, "kali ini apa yang mengganggu pikiranmu, sayang? Coba ceritaiin ke bunda" Aku tetap diam, ingin berbicara namun takut membuat bunda kembali merasakan kesedihan.
Bunda menarikku ke dalam dekapannya, "kamu kenapa, Rara?" tanya bunda lembut, dia mengelus pelan rambutku sesekali mengecupnya. Pertahanan yang ku bangun roboh seketika, aku meneteskan air mataku, "bunda aku capek. Aku udah enggak kuat lagi, bunda"
Pelukan bunda semakin mengerat, "capek kenapa hm?"
"Semua bun. Semua yang aku alami. Aku lelah bun".dengan setia, bunda terus mengusap punggungku, "penyakit, papah, dan semuanya" Aku memang sudah sepenuhnya ikhlas tapi entah mengapa ada saja beban pikiran yang selalu mengganjal di hatiku. Di saat aku sudah ikhlas, sekelebat bayangan masa lalu selalu menghantuiku membuat aku benci akan hal itu.
"Ikhlas adalah kunci utama untuk menjalani kehidupan saat ini, Ra. Kamu harus selalu berpikir positif, jika Tuhan akan memberikan hal lebih jika kamu mampu melewati ujian ini. Ibarat seorang pemanjat tebing, dia akan melewati sebuah tantangan yang bahkan bisa menghilangkan nyawanya. Tapi dengan bekal ketangguhan, kesabaran dan keikhlasan, dia melewatinya dengan senang hati. Rintangan baginya adalah sebuah semangat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jika sang pemanjat tebing bisa melewati semua rintangan yang menghadangnya, dia akan berada di puncak dan dari sinilah dia bisa melihat keindahan. Capek, lelah, penat, semuanya yang dia rasakan akan terbayar dengan keindahan cakrawala dari atas tebing. Begitu pula dengan kehidupan, Ra. Kamu cermati setiap ucapan bunda" bunda bangkit tapi sebelum itu, beliau mencium keningku terlebih dahulu, "bunda ngantuk mau tidur. Kamu jangan terlalu lama di luar ya. Dingin. Enggak baik buat kesehatanmu."
Bunda pergi meninggalkanku dengan keterdiaman. Benar ucapan bunda. Semuanya berawal dari Iklas.
Iklas menjalani takdir yang telah Tuhan berikan.
Ikhlas dengan semuanya yang telah terjadi.
Dan mengikhlaskan seseorang yang sangat berarti untukku. Papa.