Chapter 7

1015 Words
Hari yang aku hindari akhirnya datang, tepat hari ini aku akan menghadiri reuni 3 angkatan yang akan diselenggarakan di Resto Dello Galaksi. Untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan mereka setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Setelah meminta saran dari bunda. Akhirnya dengan sedikit ragu-ragu aku akan menghadiri acara reuni itu. Sebenarnya aku merasa agak keberatan. Aku takut kehadiranku tidak diterima baik oleh mereka. Tapi ucapan bunda sedikit membantu dan membuatku tenang. 'Sampai kapan kamu akan menghindar kayak gini? Coba kamu temui mereka dan ceritaiin pelan-pelan, pasti mereka akan mengerti. Mereka itu sahabatmu, Ra. Jadi mereka nggak mungkin akan membencimu kalau tau alasan sebenarnya kamu meninggalkan mereka." Itulah kata-kata bunda yang beliau ucapkan ketika di meja makan. Dia mengijinkan aku untuk menghadiri acara itu. Itung-itung untuk memperbaiki silaturahmi yang sempat terputus katanya. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberitahu alasan yang sebenarnya aku meninggalkan mereka. Aku tidak ingin dikasihani oleh siapapun. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Aku hanya perlu menunggu sampai waktu itu tiba. Aku mematut diriku dicermin. Dress pastel selutut yang dilengkapi dengan outter yang berwarna baby pink. Aku juga mengoles wajahku dengan make up natural untuk menutupi wajahku yang pucat. Tak lupa ankle strap shoes dengan hak 3 cm sudah bertengger manis di kakiku. Setelah merasa semuanya oke. Aku keluar dari kamar dengan menenteng kelly bag berwarna pastel seperti dressku. Aku menuruni satu persatu anak tangga dengan hati-hati. Mataku tak sengaja melihat bunda yang sedang menonton acara reality show di salah satu stasiun televisi. Aku menghampirinya. "Bunda aku berangkat dulu ya" pamitku. Bunda menoleh, lalu tersenyum ke arahku. "Hati-hati, Ra. Ingat, jangan makan sembarangan dan jangan lupa minum obat," aku mengangguk lalu mencium pipi bunda sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah itu. Aku berjalan ke halaman rumah, tempat di mana mobilku terparkir. 'Semoga semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan harapanku,' doaku sebelum memasuki mobil. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan standar. Untuk mengalihkan rasa bosan dan gugup yang mendera diriku. Aku menyalakan musik yang ada di mobil. Alunan musik You're Gonna Live Forever in Me milik John Mayer memenuhi ruang mobilku. Sesekali aku bersenandung mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh John mayer tersebut. Fokuskubuyar ketika ponselku berdering. Aku mengambil ponsel yang berada di atas dashboard. Kulihat layar ponselku, terdapat nama yang sangat aku kenal muncul di layar itu. Kak Rey is calling. Aku berdecak pelan. 'Hello kak?' 'Hello, Ra. Gimana? jadi? Acaranya sudah di mulai ini.' 'Jadi kak. Ini aku masih dalam perjalanan.' 'Ok. Gue tunggu. Hati-hati di jalan.' 'Iya.' Aku memutuskan sambungannya lalu meletakkan ponselku ke tempat semula. Aku memang sudah bertukar nomer ponsel dengan kak Rey ketika Kak Rey mengantarkan Lio ke rumah sakit. Ngomong-ngomong soal rumah sakit, aku sudah berbicara dengan Vina kalau hari ini aku izin. Lagi pula kata Vina, daftar pasien yang datang tidak sebanyak seperti hari-hari sebelumnya. Sekitar 4-5 pasien, itupun untuk melakukan kontrol dan pemeriksaan. Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 11.00. Huftt telat deh. Fokusku kembali ke jalanan. Namun sekelebat pikiranku melayang, menerka-nerka apa yang akan terjadi jika aku menampakkan wajahku setelah bertahun-tahun menghilang. Apakah mereka membenciku? Bodoh!!! Tentu saja mereka membenciku, bagamainapun juga aku telah meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun. Aku menghilang bagai di telan bumi dan tentu saja hanya keluargaku yang tahu Karena terlalu berlarut dalam pikiran yang terus berkecamuk, tak sadar jika aku telah sampai di depan sebuah restoran yang sudah dihias sedemikian rupa. Beberapa papan bunga yang telah didekor dengan rangakian bunga telah terpampang di samping kanan kiriku . Beberapa mobil dengan merek terkenal sudah berjejer rapi di sepanjang parkiran resto Dello Galaksi Aku memarkirkan mobilku di samping mobil toyota fortuner. Sebelum aku keluar dari mobil, aku membenahi penampilanku terlebih dahulu. Mengoleskan liptint agar bibirku tidak tampak pucat. Aku memegang dadaku yang bergemuruh hebat. Menghembuskan nafas berkali-kali. Berdoa dalam hati, semoga semuanya akan baik-baik saja 'Semoga semuanya bisa berdamai dengan masa lalu' Aku segera keluar dari mobilku, menoleh kekanan-kekiri mencari seseorang yang mungkin aku kenal. Namun hasilnya nihil, parkiran ini sangat sepi, hanya beberapa orang asing yang ber lalu lalang.Ku langkahkan kakiku memasuki restoran itu. Sayup-sayup aku dapat mendengar suara musik yang mengalun di sekitar resto yang sudah dihias oleh karangan bunga dan sambutan selamat datang. Semakin masuk ke dalam restoran, semakin terdengar jelas pula musik yang sedang berputar. "Rora?" aku menoleh dan mendapati seorang wanita dan laki-laki yang berdiri dihadapanku. Sang wanita tengah menggendong seorang bayi laki-laki yang kuperkirakan berumur kurang dari satu tahun. Bayi itu menatapku dengan tatapan polos, membuatku berusaha keras untuk tidak terpekik gemas. "Lama nggak jumpa, Rora," kata wanita itu lagi. Aku tersenyum canggung, aku lupa siapa orang yang berdiri di depanku saat ini. Mungkin teman sekelasku, satu angkatku atau kakak kelasku? Batinku bertanya-tanya. Menyadari keterdiamanku, mungkin wanita itu mengerti dengan apa yang aku pikirkan. "Lo lupa? Gue kakak dua tingkat di atas lo, yang dulu pernah satu ekstrakulikuler" "Eh maaf kak. Aku lupa," aku tersenyum canggung, "kak Rena, ya?" sekelebat eku mengingat satu nama yang pernah dekat dengaku saat di ekstrakulikuler nari. Begini-begini juga aku mantan ketua ekstrakulikuler nari. "Iya" Kak Rena tersenyum padaku, "oh iya perkenalkan ini suami gue Arga. Dan Arga ini adik kelasku Aurora." "Aurora "Arga" Kami saling bersalaman dan melemparkan senyum ramah. "Gue balik dulu ya, Ra. Anak gue nangis" aku mengangguk. Setelah itu, mereka pergi meninggalkanku di dalam resto seorang diri. Aku menghela napas. Aku kembali berjalan dan sampailah aku ke ruang utama di selenggarakannya reuni. Satu kata yang menggambarkan suasana ruangan ini. Ramai. Bagaimana tidak ramai, jika reuninya 3 angkatan, dimana satu angkatan muridnya berjumlah 400 lebih. Tidak terbayangkan gimana ramainya kan? Aku sebenarnya bingung, aku datang tidak ada yang mengetahui kecuali kak Rey. Dan aku tidak menemukan satu orang pun yang akrab denganku jadinya aku hanya berdiri di depan ruang utama sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Sampai aku mendengar sebuah teriakan yang tidak asing memanggil namaku. "RARA" teriak orang itu membuat semua perhatian kini tertuju padaku. Aku menoleh dengan tubuh yang menegang kaku. Di sana aku menemukan beberapa orang dari masa laluku tengah menatapku dengan pandangan yang berbeda. Aku mencengkram tasku erat. Aku gugup. Sungguh! Ingin rasanya aku pergi dari tempat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD