Dengan tangan yang masih gemetar, Kiara akhirnya menurut. Jari-jarinya yang licin karena cairan kenikmatannya kembali memegang erat benda merah muda itu.
Napasnya tersendat di tenggorokan saat ia mulai menarik alat itu keluar perlahan, hingga ujungnya yang bulat dan masih bergetar kencang itu hampir lepas sepenuhnya dari liangnya yang basah kuyup.
Plop... Bzzzt...
Suara halus terdengar. Saat benda itu ditarik keluar, bibir bawahnya yang basah ikut tertarik keluar, lalu kembali menguncup saat alat itu menjauh.
Dan saat alat itu keluar, getaran kencang dari ujungnya langsung mengenaj ujung kacang mungilnya didalam celah sempit itu.
"AHHH!!!" Kiara langsung mendesis panjang, kepalanya terlempar ke belakang. Matanya terpejam, dan mulutnya ternganga mengeluarkan suara-suara halus yang terdengar begitu menggoda. "Aaaa... s-sakit... tapi enak... hhhh..."
Perlahan, ia mendorong benda itu kembali masuk. Menembus jalan yang sudah begitu licin, sampai seluruh benda itu lenyap tertelan daging lunak di bawah sana, dan ujung alatnya yang bergetar itu menekan tepat ke dalam perut bagian bawahnya.
"Fuuuuck..." Raka mengumpat serak di seberang sana. Napasnya terdengar berat dan terputus-putus.
Matanya tak berkedip pada pemandangan yang membuat akal sehatnya lenyap itu. Ia melihat dengan jelas bagaimana bibir kemerahan itu meregang, menyedot dan menelan benda merah itu masuk ke dalam lubang sempit Kiara.
Ia melihat bagaimana setiap kali alat itu keluar masuk, seluruh perut bawah Kiara bergetar kena efek getaran yang kuat.
"Gila... Kiara... liat tuh..." suara Raka bergetar, tangannya terlihat sibuk di bawah sana, bergerak cepat di balik kain celananya yang sudah menonjol keras sampai nyeri.
"Sumpah, gue bisa liat dalem sana sampe beriak-riak kena getaran alat itu. Kayak... kayak dia lagi dipukul-pukul di dalem sana. Uuuwww."
Kiara nggak menjawab. Ia cuma bisa merintih pelan, pinggangnya mulai bergerak mengikuti ritme tangan kecilnya.
Gerakan keluar masuk itu makin lama makin terasa nikmat. Setiap kali ujung benda merah muda yang bergetar itu menyentuh titik enaknya di dalam sana, tubuhnya langsung mengejang, punggungnya melengkung naik, mendorong dadanya yang bulat dan penuh makin menonjol ke atas.
Getaran konstan itu bikin setiap gesekan terasa berlipat-lipat sensasinya, rasanya menusuk nikmat ke seluruh dinding serabinya.
"Ka... aaah... Benda ini... hhh... d-dalem dalem banget getarnya..." suaranya pecah jadi bisikan mendesah. "Rasanya... hhh... rasanya penuh banget, kesemutan sampe perut..."
"Iya, Sayang... gue tau..." sahut Raka, suaranya terdengar sudah terangsang habis. Ia kini sudah membuka ritsleting celananya, tangannya menggenggam batang kerasnya yang sudah merah dan bengkak, berdenyut-denyut minta dilepaskan.
Ia menggesek-gesek kepalanya yang sudah berlendir bening itu pelan, membayangkan jari-jarinya adalah jari Kiara, membayangkan tangannya yang sedang mengelus adalah serabi Kiara yang basah itu.
"Terusin... jangan berhenti..." perintah Raka rendah, matanya tak lepas dari layar, menelan ludah setiap kali ia melihat cairan manis itu memancar keluar lewat sela-sela serabinya.
"Gerakin lebih cepet dikit... Ayo, tunjukin ke gue gimana cara lo nyenengin diri lo sendiri pake alat jahat itu. Bayangin itu milik gue yang lagi keluar masuk dalem sana. Rasanya pasti sama enaknya, kan?"
Perintah itu seperti listrik yang menyambar otak Kiara. Rasa malu itu masih ada, tapi sekarang bercampur dengan rasa nikmat yang luar biasa. Apalagi sekarang benda merah muda itu rasanya makin gila dan belum cukup.
Tanpa sadar, ibu jarinya yang basah dan gemetar menekan tombol daya di gagang benda itu sekali lagi.
Bzzzzzzzzztt!!!!
Suara dengungan berat terdengar jelas. Kekuatan getarannya langsung naik drastis ke level tertinggi.
Getaran yang tadinya halus dan berirama, kini berubah jadi hentakan getaran yang kasar, cepat, dan agresif, menggetarkan seluruh alat sampai terasa sangat nikmat.
"AAAAKKKKHHHH!!!!" Kiara langsung menjerit nyaring, kepalanya menggeleng-geleng liar di atas bantal. Keringat dingin langsung membasahi kulit putihnya, membuat tubuhnya berkilau seksi di bawah cahaya lampu.
Dua bukit di dadanya berguncang hebat, naik turun, bergoyang liar mengikuti ritme tangan kecilnya yang kini mulai mempercepat gerakan keluar masuknya. "RAAAAKAAAA!!!! HHHAAAA!!! K-KENCENG BANGETTT!!! AAaaaaahhh!!!"
Kini Kiara nggak main pelan lagi.
Dia mendorong benda merah muda itu masuk sedalam-dalamnya sampai gagangnya nyentuh bibir serabinya, lalu menariknya keluar sampai tinggal ujung bulatnya saja yang masih terbenam di dalam lubang mungilnya sebelum mendorongnya kembali masuk.
Sluuurrpp... Bzzzt... sluuurrpp... Bzzzt...
Suara gesekan basah dan licin, ditambah dengungan benda merah muda itu mulai terdengar jelas, seiring makin cepatnya gerakan tangan Kiara.
Kakinya yang putih mulus kini terbuka makin lebar, lututnya ditekuk tinggi, membuka lebar celah rahasianya tanpa terhalang sedikitpun.
Raka bisa lihat jelas bagaimana setiap kali benda itu keluar masuk, bibir serabinya terlihat sangat basah.
"AAAAhhh!!! Hhh!!! Haaa!!!" Kiara mendesis histeris, napasnya pendek-pendek dan berat. Matanya sayu menatap kamera. "Enaaakkk!!! Aaaah!!! Ka... aku enak banget Ka!!! Alat ini... getarnya nikmat banget... hhhh!!!"
"Iyaaa... gitu... gitu terus, sayang!!!" Raka meraung balik, matanya menatap puas pemandangan surga itu.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana lubang sempit itu terus-menerus meregang dan menyempit, menghisap dan melepaskan benda merah itu. Ia melihat bagaimana cairan bening itu terus mengalir deras, sampai vibrator itu kelihatan berkilauan licin, sampai suara hisapan basah dan dengungan mesin itu bikin telinga Raka panas dingin.
"Lo liat sendiri kan, Kiara?" ucap Raka dengan napas memburu, tangannya kini mulai mngocok batang kerasnya makin cepat.
"Air lo keluar banyak banget, Sayang... sampe benda itu mandi di dalem sana, sampe kedengeran suaranya. Hisapannya... Gila... suara mesinnya campur suara beceknya... itu musik paling indah yang pernah gue denger."
Raka menelan ludah, matanya melotot fokus ke ujung benda merah muda yang menghilang dan muncul lagi di lubang serabi Kiara.
"Lo tau gak Kiara? Kalau gue ada di situ sekarang, Gue bakal pegangin alat itu buat lo. Gue bakal dorong masuk sampe paling dalem, terus gue tahan di posisi paling dalem sambil nyalain getaran paling kencang, biar lo nggak bisa gerak, cuma bisa teriak-teriak kegelian dan nikmat pas dalem celah itu bergetar terus sama alat ini. Terus sementara lo sibuk teriak, gue bakal jilat bibir mungil lo yang merah itu sampe lo lemas."
Kiara menjerit pelan. Tubuhnya melengkung hebat, punggungnya terangkat dari kasur.
Bayangan tangan Raka yang memegangi alat itu serta mulut cowok itu yang menghisap mulut bawahnya bikin otaknya terbang melayang. Rasa nikmatnya udah sampe ubun-ubun, getaran dari benda level maksimal itu bikin dia rasanya mau pingsan.
"AAaaaakkk... Raka!!! RAKAAAA!!!" teriaknya lemas, gerakan tangannya jadi makin cepat.
Kini ia tak peduli lagi dengan penampakannya sekarang di depan kamera. "Iyaaa... pegangin dong Ka... pegangin buat aku... dorongin dalem-dalem... aaaaahhhh!!!"
Dengan nafas memburu, Kiara mempercepat gerakan tangannya sampai batas maksimal. Ia menggerakkan vibrator merah itu masuk keluar dengan kecepatan tinggi, membuat cairan beningnya memercik keluar, sampai terlihat cipratan-cipratan air manis itu membasahi paha, perut bawah, dan tangannya sendiri.
Ia sengaja mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi, menekan perut bawahnya dengan tangan, menampilkan bagian paling dalam dari liangnya yang terbuka lebar dan basah habis-habisan sama benda jahat itu.
"LIAT!!! LIAT RAKA!!!" pekiknya dengan suara manja dan penuh nafsu, matanya melotot ke kamera, tatapannya liar dan basah karena nikmat.
"Liat dalemnya!!! Dia getarin punyaku parah banget Ka!!! Dia bikin aku basah sampe banjir!!! AAAHHHH ENAKKKK!!!"
Pemandangan itu benar-benar membunuh kewarasan Raka.
Melihat lubang mungil itu terbuka lebar, ditambah suara jeritan dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut polos Kiara... itu adalah surga terlarang yang paling nikmat yang pernah ia saksikan.
"YA AMPUN KIARA!!! Sumpah lo nikmat banget itu!!!" Raka meraung, kepalanya terlempar ke belakang, urat lehernya menonjol keras.
Tangannya bergerak seperti mesin di bawah sana, mengocok batang kerasnya dengan ritme yang sama persis dengan gerakan tangan Kiara. Kepala kon yang pucat dan berlendir itu kini terasa begitu panas, berdenyut kencang, siap meledak kapan saja.
"Lo gila ya?! Lo beneran mau bikin gue mati berdiri?! Gila... gila... gila... sumpah Kiara, lo paling indah yang pernah gue tau!!!" Raka mengerang, air liurnya menumpuk di mulut.
"Terusin! Terusin kayak gitu! Kocok dalem lo pake benda itu sampe menyembur! Tunjukin dalemnya! Biar gue liat semua mulut serabi lo yang basah itu! Liatin lo ngangkang! Ayo Kiara... Keluar!!! Keluarkan di depan muka gue! Biar gue liat air kenikmatan lo keluar nyembur-nyembur!!!"
Perintah kasar itu jadi pemicu terakhir.
Tekanan di perut bawah Kiara sudah meluap melebihi batas. Rasa nikmat yang meledak-ledak, ditambah getaran brutal dari benda merah muda itu yang langsung menyerang titik paling sensitif di dalam serabinya... semuanya menyatu jadi satu ledakan dahsyat.
"AAAAAAAAAAAAKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!"
Kiara menjerit sekuat tenaganya, suaranya pecah dan parau. Tubuhnya melengkung kaku seperti busur, seluruh ototnya mengencang keras, kaki-kakinya menegang kaku ke atas.
Matanya terbelalak kosong menatap langit-langit, mulutnya terbuka lebar tapi tak ada suara yang keluar lagi.
Di bawah sana, otot-otot dinding serabinya tiba-tiba berkontraksi hebat, mencengkeram benda yang masih bergetar kencang itu dengan kuat. Bersamaan dengan itu, cairan bening yang kental dan hangat tiba-tiba menyembur keluar dengan deras, memancar jauh keluar dari liangnya, membasahi seluruh benda merah muda itu, membasahi paha, sampai memercik ke perutnya dan seprai di bawahnya.
Prrrtttt... jreeettt... sluuurrrpppp...
Suara basah, hisapan, dan percikan air terdengar bercampur dengungan mesin.
Kiara tergolek lemas di kasur, dadanya naik turun hebat, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya masih bergetar sisa-sisa guncangan klimaks yang dahsyat itu.
Matanya terpejam lemah, air mata nikmat menetes keluar dari sudut matanya. Tangannya yang gemetar dan basah itu masih mencengkeram erat benda yang masih berputar kencang di dalam liangnya yang sekarang jadi sangat sensitif apabila tersentuh.
Di layar, Raka terdiam beberapa detik, matanya terbelalak menatap pemandangan itu.
Melihat bagaimana air kenikmatan Kiara membanjiri benda merah muda itu, mengalir turun seperti air kencing, membuat segalanya jadi makin licin, becek, dan makin menggoda.
"Fuuuuuuuuckkkk...." desis Raka parau, matanya menikmati pemandangan itu. "Sempurna..."
Dan melihat Kiara yang masih terengah-engah, masih terkapar lemas dengan benda merah muda yang masih nyala dan nyelip manis di celah kakinya yang terbuka lebar itu... Raka tau, dia belum selesai sama cewek ini. Dia baru saja mulai.
"Kiara..." suara Raka terdengar berat, dan sangat dalam. "Belum selesai, Sayang... Ambil napas dikit... lalu nyalain lagi getarannya sampe paling kenceng, dan mulai lagi. Gue belum dapet jatah gue... dan lo harus bantu gue keluar, sekarang."
"Udah ka... Gue udah gak kuat untuk hari ini... Gue capek banget sumpah!" Bantah Kiara yang sudah terbaring lemas.
Sementara itu, Raka dari tadi sengaja rekam layar pertunjukan panas Kiara dari awal sampai muncrat tersentak sentak.