Dipaksa Memuaskan Raka

1464 Words
"Gak kuat katanya?" suara Raka rendah, nadanya berubah jadi gelap, mendesak, dan penuh d******i yang bikin bulu kuduk Kiara langsung berdiri tegak. "Kiaraaaa... sayangku, manisku... cantikku..." Dia tertawa kecil, suara rendah yang serak dan jahat itu terdengar jelas dari speaker ponsel. Jantung Kiara yang tadinya masih berdebar pelan sisa-sisa klimaks, langsung berpacu kencang lagi karena ada sesuatu yang beda di nada bicara cowok itu. "Lo pikir gue cuma nonton doang kayak orang bodoh?" Raka bicara pelan, tapi setiap kata menusuk langsung ke otak Kiara. "Dari lima menit yang lalu, gue sengaja rekam adegan panas lo... Dari pertama lo nyibakin selimut, nunjukin d**a lo yang indah itu, sampe lo ngangkang lebar-lebar kayak p*****r, mainin alat itu sampe air kenikmatan lo nyembur-nyembur kemana-mana... SEMUANYA udah aman tersimpan rapi di galeri hp gue, Sayang." Duar!! Dunia Kiara rasanya runtuh seketika. Matanya yang tadi terpejam nikmat, langsung terbuka lebar, bola matanya melotot tak percaya menatap layar ponsel. tenggorokannya rasanya kering seketika. "R-Raka..." suaranya keluar bergetar parau, hampir tak terdengar. Tubuhnya yang tadinya lemas lunglai, kini langsung kaku. Jari-jarinya yang basah dan lengket itu refleks langsung melepaskan benda merah muda yang masih bergetar pelan di dalam liangnya. Alat itu tergeletak begitu saja, separuh masih nyelip manis di celah kakinya yang masih terbuka lebar, basah dan berlendir. "Ka... Lo... kamu rekam??" bisik Kiara gemetar. Rasa malu mulai menenggelamkan sisa-sisa rasa nikmat di tubuhnya. "T-tapi lo udah janji... LO JANJI SUMPAH DEMI APAUN GAK AKAN REKAM!!!" Kiara mulai histeris. Dia mencoba menutupi tubuhnya, menarik selimut, menekuk kakinya rapat-rapat. "Eh eh eh... jangan ditutup!!!" seru Raka cepat. Suara itu bikin Kiara otomatis berhenti bergerak, tubuhnya membeku seketika. "Jangan tutup, Kiara. Tetep posisi kayak gitu. Tetep ngangkang lebar-lebar. Kalau lo berani matiin video call ini..." Raka mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya menatap tajam. "File video itu bakal langsung gue kirim ke Grup Kelas. Lo tau kan gue punya kontak siapa aja? Lo mau seluruh anak sekolah liat gimana Kiara anak paling polos, paling pendiem, paling suci di sekolah, ternyata di kamarnya suka ngangkang lebar-lebar, mainin serabinya sampe becek, terus nyemburin air kencing nikmatnya kayak banjir bandang gitu? Hah? Lo mau?" "Nggak... nggak..." isaknya pelan, kepalanya menggeleng lemah. "Ka... pliiis... jangan Ka... Gue mohon banget... pliiis hapus... hapus videonya sekarang..." Raka di seberang sana cuma tersenyum miring. Senyum yang jahat, puas, dan penuh kemenangan. Dia suka banget ngeliat Kiara kayak gini. Ngeliat Kiara yang tadinya polos, dan jual mahal, sekarang ada di posisi paling bawah, menangis minta ampun, telanjang bulat, dan sepenuhnya ada di bawah kekuasaannya. Rasanya bikin darahnya berdesir cepat, batangnya mulai menegang keras, jadi batang besar dan bengkok. Raka menunduk sebentar, menatap batangnya yang lagi perlahan bangkit lagi, lalu kembali menatap layar dengan mata yang makin liar. Dia udah gak kuat cuma nonton lewat layar. Dia butuh rasain sendiri lubang mungil dan becek yang baru aja dia liat nyemburin air nikmat itu. "Kiara..." suara Raka berubah, dan penuh tekanan yang bikin bulu kuduk gadis itu berdiri lagi. "Gue udah gak kuat." Kiara yang masih tergolek lemas, kakinya masih sedikit terbuka meski dia udah coba nutupin sedikit pakai tangan, mendongak bingung sambil masih terisak pelan. "Gue udah gak kuat cuma nonton layar hp sambil mainin batang gue kayak orang gila, Kiara. Gue cowok normal, Gue liat lubang lo seindah itu, gue denger suara lo teriak-teriak nikmat, liat air lo nyembur kemana-mana... dan gue cuma bisa diam di sini? Sumpah, rasanya nyiksa banget. Rasanya gue mau gila." Dia mendekatkan wajahnya lagi ke kamera, matanya menatap tajam, nafsunya meluap-luap sampai keluar dari layar. "Karena itu... gue mau ke rumah lo. Sekarang. Malam ini." BRAKK!! Jantung Kiara rasanya copot jatuh ke ulu hati. Wajahnya yang tadi pucat, sekarang berubah jadi merah padam ketakutan. Matanya melotot bulat, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. "N-NGAPAIN??" jeritnya tertahan, suaranya melengking kaget dan panik luar biasa. Badannya otomatis menegang, kakinya yang tadinya terbuka langsung ditutup rapat secepat kilat, tangannya sibuk menarik selimut sampai menutupi d**a dan pangkal pahanya, seolah itu bisa melindunginya. "GILA KAA?! Lo GILA YA?!" Dia menggelengkan kepalanya keras-keras sampai rambut panjangnya berantakan. "Ngapain Gila!!! Mama sama Papa ada di rumah!! Pintu gerbang dikunci, pintu depan dikunci, lampu nyala semua!! Kamu gak bisa masuk!!! Dan... dan ini malem, Jangan macem-macem!!!" Kiara panik setengah mati, ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat dia tau direkam. Dia mencoba mengarang cerita, berusaha sekuat tenaga buat menakut-nakuti Raka, berharap cowok gila itu mundur dan batal datang. Tapi reaksi Raka malah bikin darah Kiara membeku total. Dia malah tertawa. Tawa seseorang yang tau segalanya kebohongan mangsanya. Dia tertawa sampe matanya menyipit karena geli melihat Kiara yang masih berusaha main polos. "Ha... ha... ha..." tawa Raka perlahan mereda, diganti senyum miring yang mengerikan. Dia menggeleng-gelengkan kepala pelan, tatapannya menatap Kiara dengan pandangan kasihan. "Kiara... Kiara... sayangku..." suaranya pelan, setiap kata terasa menusuk telinga Kiara. "Lo pikir gue ini bego? Lo pikir gue ini anak kecil yang gampang ditipu omong kosong lo?" Dia mendekatkan wajahnya sangat dekat ke lensa kamera. "Lo pikir sebelum gue ngomong mau ke rumah lo, gue gak cari tau dulu situasinya? Lo pikir gue sembarangan?" Raka mendengus kasar, satu tangannya terangkat, jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah Kiara yang mulai gemetar hebat di kasur. "Dengerin baik-baik, Cewek bodoh. Dengerin ini baik-baik, supaya lo sadar seberapa dalam lo udah gue amatin" Dia jeda sebentar, menikmati detik-detik ketegangan yang semakin menyudutkan Kiara, sebelum membocorkan fakta yang menghancurkan pertahanan gadis itu. "Orang tua lo, Pak Budi sama Bu Ratna..." Raka menyebut nama ayah ibunya Kiara, dengan nada santai seolah dia adalah keluarga dekat. "Mereka berangkat sejak dua hari yang lalu naik mobil Pajero Sport warna hitam, keluar gerbang komplek, arah timur. Mereka pergi ke Surabaya, kan? Ada urusan bisnis proyek konstruksi, katanya. Dan mereka belum pulang. Bener gak?" DUARRRRR!!!! Kiara rasanya seperti disambar petir. Seolah nyawanya melayang keluar badan. Dia gak ngerti. Gimana Raka bisa tau?! naik mobil apa, pergi ke mana, urusan apa. Itu cuma dibicarakan mereka kemarin di meja makan, cuma dia, Mama, sama Papa yang tau! Gak ada orang lain! "Lo... tau... darimana??" suaranya keluar lirih, nyaris tak terdengar, penuh keputusasaan. Raka tersenyum makin lebar, Dia tau dia menang. Dan pertahanan terakhir Kiara udah runtuh saat itu juga. "Gue tau semuanya, Kiara..." bisiknya parau, penuh arogansi. "Gue tau jadwal orang tua lo. Gue tau kamar lo ada di pojok belakang lantai dua, jendelanya ngadep ke pemandian umum." Dia tertawa lagi saat melihat ekspresi wajah Kiara yang hancur total, yang menyadari kalau dia ternyata udah diam-diam dipantau dan diobservasi seperti kelinci di kandang selama berbulan-bulan tanpa dia sadar. "Kiara... lo naif banget. Lo polos banget sumpah." Raka mendekatkan wajahnya lagi, tatapannya berubah jadi tak sabaran. "Gak kuat cuma nonton lewat HP, Kiara," suara Raka berubah serak dan buas, matanya menatap tajam layar. "Gue udah gak tahan. Malam ini gue dateng ke rumah lo. Sekarang. Lewat jendela belakang." Wajah Kiara langsung pucat pasi, matanya melotot ngeri. "APA?! GILA?! GAK BISA!! Mama Papa ada di rumah!!! Lo gila ya Ka?!" dia teriak panik, langsung narik selimut nutupin tubuhnya. Raka cuma senyum miring dingin, sama sekali gak terpengaruh. Dia malah mengangkat HP-nya, jempolnya mengetuk-ngetuk layar galeri tempat video rekaman itu tersimpan. "Kiara..." suaranya rendah dan mengancam. "Lo kayaknya lupa posisi lo sekarang. Lo udah gak ada hak nolak. Lo udah gue rekam HD dari lo buka selimut, mainin alat itu, sampe lo teriak-teriak nyembur air nikmat kayak p*****r. Semuanya jelas, ada muka lo, ada suara lo, ada lubang lo." Dia mendekatkan wajah ke kamera, matanya berkilat jahat. "Gue kasih dua pilihan aja. Satu, Lo nurut. Buka kunci jendela. Gue masuk dan kita puasin nafsu bareng sampe pagi. Kalau lo manut, video ini cuma milik gue, aman selamanya, lo tetep jadi anak polos besoknya." Raka jeda sebentar, nadanya makin tajam menusuk: "Dua. Lo nolak, lo teriak dan kunci pintu. Detik itu juga gue KIRIM VIDEO INI KE GRUP SEKOLAH. Gue bakal kasih judul: 'Kiara si Bidadari, Ternyata Juara Ent*t'. Gue bakal hancurin nama lo, nama keluarga lo sampe kalian malu harus pindah kota. Dan percaya deh, abis gue sebarin, gue tetep bakal masuk paksa, rekam lo nangis-nangis dient*t kasar, terus video barunya juga gue sebar. Lo mau jadi bintang porno satu sekolah? Mau Papa Mama lo pingsan liat anaknya ngangkang?" Kiara gemetar hebat, air mata langsung banjir. Dia tau Raka gak bercanda. Cowok ini gila dan sanggup ngelakuin semuanya. Antara milih dijajah Raka, atau hancur seumur hidup... dia gak punya pilihan. Isaknya pecah, kepalanya tertunduk pasrah banget. "Gue... Gue ngerti..." suaranya lirih, pecah. "J-jangan sebar videonya... Gue... Gue bakal nurut..." dia terisak pelan. "Jendelanya gak gue kunci... Gue... Gue nungguin lo... t-tapi tolong... jangan kasar banget... Gue takut..." Senyum buas mekar di bibir Raka. "Bagus. Anak pinter. Tunggu 10 menit lagi. Dan inget... pas gue masuk, gue mau liat lo udah telanjang, dan siap jadi tempat pembuangan sprma gue." Raka langsung matiin panggilan video.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD