Layar ponsel mendadak gelap. Bunyi ‘tutt' pertanda berakhirnya panggilan itu dan menjadi awal dari kehancuran harga diri kiara.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya, jatuh memantul pelan di atas kasur empuk.
Kiara termenung kaku, tubuhnya masih telanjang bulat, dan alat getar merah muda itu masih tergeletak tak jauh dari pahanya, mati total sekarang.
Air mata menetes turun membasahi pipinya. Kiara menatap ke arah alat getar itu, rasa malu dan sesal menjalar cepat di seluruh perasaannya. Betapa bodohnya dia, percaya pada janji manis Raka, padahal cowok itu sudah merencanakan ini dari awal.
Dengan tangan gemetar hebat, Kiara akhirnya bangkit dari posisinya. Dia berdiri telanjang di tengah kamar, udara malam yang dingin langsung menyentuh kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang. Kakinya lemas, lututnya terasa seperti jelly, tapi rasa panik membuatnya terus bergerak.
Dia mulai mondar-mandir tak tentu arah di antara kasur dan meja rias, langkahnya pendek-pendek dan terhuyung.
Tangannya sibuk meremas ujung jari, bibir bawahnya digigit kuat sampai nyeri. Kepalanya penuh hiruk pikuk pikiran buruk. Raka bakal masuk. Lewat jendela belakang. Kalimat itu berputar terus seperti rekaman rusak di otaknya.
Dia melirik jam dinding, jarumnya berjalan terlalu cepat. Sebentar lagi sepuluh menit, artinya Raka sebentar lagi sampai.
Kiara menelan ludah susah payah. Kakinya melangkah gontai menuju pintu kaca geser yang menghubungkan kamar dengan balkon lantai dua itu.
Tanpa sadar, tangannya terulur membuka kuncinya pelan-pelan, lalu mendorong pintu itu terbuka. Angin malam yang lebih dingin langsung menerpa seluruh tubuh telanjangnya, membuat kulit putihnya dipenuhi bulu yang berdiri.
Dia melangkah keluar, berdiri di pagar besi balkon yang tingginya sebatas pinggang, lalu menundukkan kepala perlahan, menatap tajam ke bawah.
Dari ketinggian lantai dua, pemandangan halaman belakang terlihat samar oleh remang cahaya bulan dan bayangan pohon mangga besar. Rumput taman terlihat gelap, semak-semak tinggi bergoyang pelan kena angin. Kiara menyipitkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak sepersekian detik.
Di sana… di sudut gelap dekat tembok pembatas, persis di bawah jendela kamar mandi belakang, dia melihat sesosok bayangan. Sosok itu berdiri diam, bersandar santai di batang pohon, mengenakan kaos hitam ketat dan celana jeans gelap.
Meski wajahnya tertutup bayangan gelap, postur tubuh itu, gaya berdiri itu, dan aura mengancam yang terpancar dari sana… Kiara mengenalinya seketika.
Itu Raka.
Dia sudah sampai. Dia sudah ada di bawah sana.
Cowok itu tidak menengadah ke atas, seolah dia tau Kiara sedang mengintipnya. Dia cuma berdiri diam, satu tangan masuk ke saku celana, satu lagi memegang ponsel, seolah sedang menunggu waktu makan malam tiba.
Kiara mundur terhuyung, punggungnya menabrak dinding balkon, mulutnya tertutup rapat pakai kedua tangan supaya tak berteriak. Lututnya gemetar hebat sampai rasanya mau ambruk ke lantai.
Rasa takut mulai menguasai dirinya. Kiara tau, hitungan detik lagi, cowok itu bakal mulai memanjat, dan memasuki rumah itu.
Belum sempat Kiara mundur sepenuhnya, Raka tiba-tiba mengangkat kepala, menatap lurus ke arahnya lewat kegelapan.
Dia mengangkat satu jari telunjuk, menyentuhkan ke bibir, lalu menunjuk tajam ke arah jendela kamar Kiara.
Tanpa aba-aba, Raka langsung bergerak cepat. Dia melangkah ke tembok pembatas, melompat ringan naik ke atas, lalu tangannya mencengkeram kuat pipa air yang menempel di dinding.
Darah Kiara mendidih dingin, jantungnya berdegup mau meledak.
Dia membalik badan, lari terhuyung-huyung masuk ke kamar, membanting pintu kaca balkon, lalu memutar kuncinya mati-matian sampai bunyi klik nyaring terdengar.
Matanya terpaku lebar-lebar pada celah pintu kamar yang sedikit terbuka, menatap lorong gelap dan tangga di ujung sana. Dia menahan napas, seluruh indranya menajam, mendengarkan setiap suara sekecil apa pun dari luar.
Tak... Tak... Tak...
Suara itu terdengar jelas. Langkah kaki sepatu kulit menekan anak tangga satu per satu dari lantai bawah. Bunyi itu perlahan naik, semakin keras, semakin dekat menuju lantai dua kamarnya.
Kiara menutup mulutnya erat-erat dengan kedua tangan, tubuhnya merosot pelan hingga terduduk di lantai dingin di balik pintu kaca.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Hening mencekam menyelimuti ruangan selama beberapa detik. Aroma parfum mahal, bau tembakau dan feromon maskulin yang liar samar-samar mulai tercium masuk dari celah pintu, membuat perut Kiara mulas dan otot-otot di celah kakinya refleks berkedut.
Sreeett...
Perlahan, pintu kamar itu terdorong terbuka. Engselnya mengeluarkan suara deritan panjang.
Cahaya samar dari lampu lorong yang redup masuk, membentuk siluet tubuh tinggi yang mengisi seluruh ruang pintu.
Raka berdiri di sana. Dia masih mengenakan kaos hitam, rambutnya sedikit berantakan, tapi senyum di bibirnya itu... senyum orang yang baru saja menemukan harta karun.
Dia tak buang waktu sedetik pun. Raka langsung melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya hingga ruangan itu kembali tenggelam dalam remang cahaya lampu kamar.
Saat pandangannya jatuh penuh pada sosok yang terkulai dilantai, matanya langsung menyala liar dan bernafsu.
Kiara masih terduduk di sana, di lantai dingin, tubuh mungilnya yang putih mulus dan telanjang bulat terpampang nyata di hadapannya.
Karena panik dan malu, kedua tangan mungil Kiara refleks bergerak menutupi bagian paling suci tubuhnya.
Satu tangan mungilnya ditekan kuat di gundukan gunungnya, jari-jarinya rapat menutup kedua tombol kecil yang kencang. Sementara tangan satunya, dia letakkan di pangkal paha, jari-jari lentiknya berusaha mati-matian menutup celah k*********a yang basah dan berkilau.
Lututnya ditekuk, wajahnya ditundukkan dalam-dalam, air mata menetes terus menerus membasahi paha dan lengan.
Pemandangan itu bukannya membuat Raka merasa iba, malah membuat napas cowok itu makin memberat, suaranya tercekat di tenggorokan, dan tatapan matanya makin buas menelusuri setiap inci kulit Kiara.
Jaraknya hanya satu meter di depan gadis itu, Raka jongkok perlahan, hingga wajahnya sejajar dengan Kiara.
Napasnya berat, panas, dan beraroma tembakau samar menerpa wajah gadis itu. Tatapannya membara, penuh nafsu yang tak sanggup disembunyikan, menatap liar dari wajah pucat Kiara, turun ke leher jenjang, lalu menatap tajam pada kedua tangan kecil yang berusaha mati-matian menutupi tubuhnya.
Tangan besar miliknya terulur kasar mencengkeram kedua pergelangan tangan halus Kiara.
Dengan satu tarikan, dia paksa kedua tangan itu terlepas, menjauhkan dari tubuh mungil Kiara, lalu menahannya erat-erat di atas pusar gadis itu, memaksanya terbuka tanpa perlindungan sedikitpun.
"Siapa nyuruh tutup, hah?" suara serak itu keluar dari tenggorokan Raka.
"Buat apa malu? Kan tadi pas video call, lo sendiri yang buka lebar-lebar. Lo sendiri yang tarik bibir serabi lo sampe lubang kecilnya kebuka semua, pamerin daging merah basah dalem sana ke gue. Lo sendiri yang jorokin jari dalem situ, sampe lo teriak-teriak sambil nyemburin air nikmat."
Raka mendekatkan wajahnya makin rapat, hidung mancungnya hampir menyentuh hidung Kiara, matanya menatap tajam, menembus ke dalam manik mata gadis itu.
"Gue udah liat semuanya Kiara. Jadi sekarang... gak usah pura-pura suci, gak usah nutup-nutup lagi. Percuma."
Tangannya langsung meluncur turun tanpa peringatan, menyapu sepanjang celah di antara paha Kiara yang kini terbuka.
"AHHHH—!!" Kiara menjerit tertahan, punggungnya otomatis melengkung naik, kepalanya terlempar ke belakang. Sentuhan itu begitu kasar, dan tepat di area yang paling sensitifnya.
Rasa sentuhan itu langsung merambat cepat dari ujung tulang ekor, naik menjalar ke seluruh sumsum tulang belakang Kiara, seketika membuat otaknya mendidih dan kosong melompong.
Tubuhnya yang tadi kaku ketakutan kini langsung lemas lunglai seolah tulangnya dicabut semua, pantatnya menempel licin di lantai keramik yang dingin.
Jari telunjuk dan tengah Raka begitu lebar dan tebal, terasa besar sekali saat menyapu sepanjang celah bibir serabinya yang merah.
Di antara celah daging halusnya, segalanya sudah basah kuyup dan licin karena cairan bening, dan kental yang membanjir keluar dari dalam liangnya, merembes deras begitu saja hanya karena sentuhan cowok itu.
Lendir itu berkilau jelas di bawah remang cahaya lampu, menempel di jari-jemari kasar Raka, membuat suara gesekan basah begitu nyaring terdengar di ruangan sunyi itu.
Kiara rasanya mau menangis, mau berteriak minta ampun, tapi mulutnya terbuka diam saja, napasnya terengah-engah, dan dadanya naik turun.
Dia rasakan ujung jari kasar itu berhenti di puncak, tepat di atas biji kacangnya. Organ mungil itu begitu sensitif, seolah menjadi pusat seluruh saraf tubuh Kiara saat ini. Begitu kulit jari Raka menyentuhnya, seluruh sel saraf di tubuh Kiara langsung tersentak.
"AAAAAHHH—!! Ahhh... ah... uhhh..."
Suara jeritannya pecah, berubah jadi erangan panjang, suara yang tak pernah dia keluarkan saat dia menyentuh dirinya sendiri. Pinggang mungilnya refleks terangkat melayang dari lantai, punggungnya melengkung tinggi, mendorong area paling bawahnya makin naik, makin menekan diri ke telapak tangan Raka.
Lutut kecilnya yang putih mulus otomatis terangkat tinggi, paha dalamnya yang halus dan berbulu tipis terbuka luas tanpa sadar.
Jari tengah besar itu mendarat persis di celah bibirnya serabinya, lalu tanpa belas kasihan, didorong masuk ke dalam lubang sempitnya.
"HUAAAA—!! Ampun... ampunnn... Raka... hhhh..."
Kiara menggeliat hebat, kepalanya menggeleng liar ke kiri kanan di lantai, rambut panjang hitamnya berantakan menyebar di mana-mana, menempel basah di kening dan lehernya yang berkeringat.
Rasanya sakit tapi nikmat luar biasa. Lubang serabinya yang kecil dan mungil dipaksa meregang keras seketika oleh satu jari sebesar itu.
Dinding-dinding liangnya yang lunak dan merah muda langsung meremas erat jari itu, menjepitnya kuat, dan menyedotnya seolah tak mau melepaskan jari yang baru masuk itu.
"Ah... ah... sakiit... ah... enaaak... hhh..."
"Ini baru tangan gue, apalagi kalo batang ini yang masuk ke situ" Ujar Raka dengan tangan kirinya memegangi celananya yang sudah sempit.