Tujuh: Ayah Mertua

1898 Words
Qiana sudah kembali ke Jakarta, rasa berat di bahunya sudah terasa berkurang, tinggal menunggu dua tahun dan beban itu akan hilang. Semoga. Dia juga meninggalkan Elis di Bandung dengan tenang, rasanya senang melihat Elis yang begitu terlihat bahagia. Tidak ada lagi teror penagih hutang setiap bulannya. Semakin meyakinkan dan menyemangati Qiana jika pilihan yang dia ambil sudah sangat tepat. Ponsel Qiana berdering, panggilan telepon dari Valdo. Segera Qiana tekan tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo Qi" "iya Kak" "kamu dimana? masih di Bandung?" "aku di kantor" "kapan kamu nyampe Jakarta? kok gak ngabarin" "semalam Kak, aku lupa" "okedeh. Nanti pulang aku jemput, ada yang harus kita urus" "iya kak" "sip. Aku tutup" "iya kak" Sambungan terputus. Qiana menghela napas lalu meletakkan ponsel itu di meja.  "siapa Qi? calon misua?" Indah yang sejak tadi mencuri dengar langsung bertanya. Qiana mengangguk. Bukan dia lupa mengabari Valdo, tapi dia juga merasa itu bukan yang penting dan harus di lakukan, mengingat bagaimana status hubungan mereka, yang dekat hanya karena kontrak, bukan cinta. "calon suami lo, ganteng gak Qi?" Qiana tersenyum mendengar pertanyaan Indah "ganteng" jawab Qiana, dia tidak berbohong, sosok Valdo memang ganteng. "lo kenal dimana sih Qi? kerjaan dia apa? gue kepo banget loh" "itu rahasia dapur" jawab Qiana santai lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Besok, menurut info yang Icha berikan, akan ada pegawai baru yang akan menggantikan posisi Qiana dan Qiana wajib mengajarinya hingga waktu dia keluar tiba. "dasar. Bikin makin kepo aja" Indah mengerucutkan bibirnya dan juga kembali bekerja. Jam lima tiba, waktu bekerjanya sudah selesai, sebelum pulang, Qiana pergi ke toilet terlebih dahulu. Dia juga sudah memberi kabar kepada Valdo dan laki-laki itu langsung bergerak untuk menjemputnya. Qiana yang baru akan keluar dari bilik toilet langsung diam saat mendengar suara beberapa perempuan yang Qiana kenal. Para pegawai dari bagian keuangan.  "gue juga denger. Gak tahu pasti kapan nikahannya itu si Qiana" "gue jadi kepo sama pasangannya. Kerjaannya apa ya" "paling buruh pabrik" Entah siapa yang mengucapkan itu, tapi mereka langsung tertawa kencang setelahnya. Emang apa saahnya jika buruh pabrik? pekerjaan itu halal! "secara si Qiananya begitu ye, rakjel. Gak pernah pake baju mahal, gayanya kampungan. Orangnya diem-diem t**i kucing." "yoi. Gak mungkin lah orang kaya dia dapet laki-laki yang wow. Ini bukan sinetron guys! lagian, orang kaya gak ada yang mau sama modelan Qiana. Cewek jadul" Tanpa bisa Qiana cegah, air mata begitu saja meluncur, membasahi pipinya. Perasaan itu terbukti, arti pandangan mereka juga terbukti. Mereka memang merendahkan Qiana. Padahal selama ini, Qiana sama sekali tidak pernah membuat masalah dengan mereka. Bicarapun tidak pernah. Tapi kenapa mulut mereka bisa begitu jahat kepadanya. Qiana tahu, semua orang bisa mengeluarkan pendapat mereka terhadap orang lain, tapi bukan suatu ejekan yang merendahkan.  Setelah suara langkah kaki terdengar dan suara mereka hilang. Qiana langsung menghela napas, mengusap pipinya yang basah lalu keluar dari dalam bilik toilet. Menatap wajahnya di cermin, Qiana kemudian membasuh wajahnya agar menghilangkan bekas tangisan. Barulah setelah lebih baik, dia keluar toilet lalu lanjut menuju keluar gedung. Tidak ada pesan apapun lagi dari Valdo, jadi Qiana memutuskan akan menunggu laki-laki itu di tempat biasa. Tempat para karyawan menunggu  jemputan mereka. Belum hilang sedih Qiana, Qiana kembali harus dihadapkan dengan penyebab kesedihannya. Di tempat dia menunggu, para karyawan bagian keuangan juga ternyata berada disana. Hingga Qiana terpaksa menulikkan telinga dan berpura-pura menganggap mereka tidak ada. Tapi tawa mereka tidak bisa dicegah untuk masuk kedalam telinga. Sayup-sayup Qiana mendengar jika mereka mengucapkan kalimat 'baru diomongin, anaknya muncul' kalimat yang Qiana tahu tertuju untuknya. Mencoba mengabaikan, Qiana hanya memilih  diam. Hingga dia dibuat terkejut dengan kedatangan Valdo yang tiba-tiba. "kak" "hp aku lowbet. Aku berhentiin mobil di sebrang, males puter balik. Yuk" ajak Valdo. Qiana mengangguk. Lalu Valdo merangkul Qiana untuk menyebrang. Kondisi jalan raya cukup padat karena masuk jam pulang kantor hingga akhirnya mereka bisa sampai di mobil Valdo dengan aman. Menyisakan para karyawan di bagian keuangan yang  terkejut. Terkejut melihat sosok Valdo yang begitu tampan, bertubuh tinggi dengan bahu yang terlihat begitu tegap, mencirikan jika dibalik pakaian itu tersimpan bentuk tubuh yang terawat dan jangan lupa, terlihat kaya, terlihat dari mobil yang dibawanya.    *** Qiana melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Valdo ternyata langsung membawanya menuju salah satu mall untuk membeli cincin. Itulah alasan kenapa Valdo tidak ingin putar balik di depan gedung tempat kerja Qiana.  Cincin dengan bentuk simple, cincin yang Valdo bilang menjadi cincin lamaran. Sedangkan ada cincin lain yang Valdo beli untuk pernikahan nanti. Valdo benar-benar membuat semua terlihat begitu sungguhan. Begitu niat dalam menjalankan rencananya. "pesenan kita belum datang juga?" Qiana mendongak saat Valdo sudah kembali dari toilet. Kini mereka ada di salah satu restoran untuk makan malam.  "belum kak" Valdo mengangguk singkat "gimana di Bandung, gak ada kendala besar kan?" tanyanya lalu duduk di hadapan Qiana. "iya. Gak ada kak" "bagus. Nanti-" Qiana langsung tidak fokus mendengar ucapan Valdo saat melihat rombongan karyawan bagian keuangan masuk kedalam restoran yang sama. Rasanya seperti mendapat sial bertubi-tubi.  "Qian" panggil Valdo karena tahu Qiana tidak fokus. "eh, iya kak" Qiana mengerjap, kembali menatap Valdo. "kenapa?" "gak apa-apa kak" Qiana merapalkan doa dalam hati agar orang-orang itu tidak melihatnya. Tapi nasib baik belum berpihak kepadanya. Dari sudut matanya, dia melihat jika orang-orang itu malah berjalan kearah mejanya dengan senyum yang dibuat-buat.  "Qian" panggil mereka dengan ramah. Dasar medusa! Valdo mengerutkan keningnya melihat kedatangan beberapa perempuan tersebut.  "iya" jawab Qian dengan senyum samar. "bisa pas ketemuan disini. Ini calon suami lo?" tanya salah satu dari mereka yang berbaju biru. Suci. Qiana mengangguk sebagai jawaban. "wah, salam kenal ya. Kita temen-temen Qian di kantor" lanjut perempuan berbaju hitam., Desi. "iya. Salam kenal semua" sapa Valdo mencoba ramah. "oh iya, kita di undang gak nih?di tunggu loh undangannya" tanya Suci lagi. "maaf, acaranya sangat private, cuma keluarga saja yang bisa hadir" jawab Valdo yang secara tidak langsung menjawab jika mereka tidak di undang. Pelayan datang membawa makanan pesanan Qiana dan Valdo, segera para perempuan itu duduk di meja tepat sebelah Qiana dan Valdo. Selain untuk mencuri dengar, mereka juga berharap bisa menggoda Valdo, menyombongkan diri, merasa jika ada perempuan lebih baik dibanding Qian. "nanti pulang ke rumah dulu ya, ada yang mau ibu obrolin" Qiana mengangguk "iya." Keduanya kemudian makan sambil sesekali Valdo bertanya tentang kegiatan Qiana di Bandung atau pekerjaannya hari ini. Dia tidak bodoh untuk sadar jika rekan kantor Qiana memasang telinganya dengan siaga untuk mencuri dengar, jadi Valdo sengaja hanya menanyakan hal ringan dan menutup topik tentang pernikahan dan akan aneh juga jika Valdo dan Qiana hanya diam tanpa saling berbicara. Apalagi Valdo juga melihat jika Qiana kurang nyaman dengan rekan kantornya itu *** "sayaaaaang" Mira langsung memeluk Qiana yang baru saja sampai. Sedangkan Valdo, memilih langsung pergi ke kamar untuk mandi. "gimana? ibu kamu sehat?" tanya Mira sambil membawa Qiana duduk di sofa. "sehat tante" "ibu. Biasakan mulai sekarang panggilnya ibu" tegur Mira. Qiana mengangguk sambil tersenyum.  "malam ini kamu nginep disini ya sayang" "nginep?" "iya, ayah kan belum sempet ketemu kamu. Ayah minta supaya kamu nginep biar besok sekalian ngumpul sambil sarapan. Soalnya ayah baru nyampe rumah tengah malam nanti" jelas Mira. "tapi aku gak ada baju ganti" jawab Qiana dengan wajah bingung. "tenang, ibu punya baju ganti. Bukan punya ibu sendiri, tapi ibu memang sengaja beli" "ibu sengaja beli? buat aku?" Mira mengangguk dengan penuh antusias "iya, pas ayahnya Valdo telepon, ibu kebetulan lagi di mall, jadi sekalian aja ibu beli baju ganti buat kamu" "jadi ngerepotin ibu, maaf" "engga dong sayang. Sama sekali gak ngerepotin ibu. Jadi mau ya? malam ini nginap" Mira kembali bertanya dengan wajah penuh harapnya. Qiana mengangguk, tidak tega untuk menolak.  Senyum Mira terbit, sudah lama dia ingin memiliki teman ngobrol perempuan di rumah ini. Bicara dengan pembantu, kadang suka ngaco. Bicara dengan anak dan suaminya? mereka menyebalkan! Mira membawa Qiana ke kamar tamu, menunjukkan baju ganti lengkap dengan underwear yang dia siapkan, dan setelah Mira keluar kamar, Qiana segera mandi. Dia butuh air untuk menyegarkan tubuhnya yang seharian ini terus bekerja. Tepat setelah Qiana selesai menyisir rambut, pintu kamar di ketuk. Muncul sosok Mira yang datang sambil membawa nampan. "gak usah, ibu bisa" Mira mencegah Qiana yang akan membantunya. Mira meletakkan nampan itu di nakas, mengambil satu cangkir diatasnya dan menyodorkannya kepada Qiana. "kita ngobrol sambil ngeteh. Ibu udah lama banget pengen punya temen ngobrol" ucap Mira. Qiana tersenyum sambil menerima cangkir tersebut. Dia menyesapnya sedikit lalu meletakkan lagi di nakas. Begitupun dengan Mira. Baru setelahnya mereka duduk bersila diatas kasur. Layaknya sahabat yang akan saling curhat. "ibu tuh seneng banget, kaya punya anak perempuan. Bosen banget sama Valdo dan ayahnya, gak asik kalau diajak ngobrol" Mira mulai aksi curhatnya. Hingga waktu terus berjalan dan keduanya mulai mengantuk. Obrolan itu lebih di dominasii oleh Mira dan Qiana lebih banyak mendengarkan. Maklum saja, Qiana kan dalam tahap adaptasi, dia juga masih takut jika salah berbicara. Pagi tiba, Qiana bangun lebih awal dan membantu Mira menyiapkan sarapan. Tentu saja wanita paruh baya itu sangat senang karena Qiana membantunya. Dibantu sama calon menantu beda rasanya dengan dia yang dibantu oleh pembantu. "kamu bangunin Valdo ya, dari tangga kamu langsung ke kanan." suruh Mira. Qiana mengangguk patuh, lalu melangkah ke lantai dua. Mengikuti petunjuk Mira, dia kemudian mengetuk pintu yang dia tebak adalah pintu kamar Valdo. "kak, bangun" ucap Qiana sambil mengetuk pintu. Empat kali dia mencoba, Valdo baru membuka pintunya. Rambutnya berantakan, matanya menyipit seolah pandangannya belum bekerja dengan sempurna. "sarapan dulu suruh ibu" ucap Qiana. Valdo mengangguk "iya, aku nyusul" jawab Valdo. Qiana mengangguk lalu kembali ke lantai bawah. Tiba di ruang makan, ayah Valdo sudah duduk di kursinya.  "nah yah, ini Qiana. Qiana, ini Farhan, suami ibu sekaligus ayahnya Valdo" Mira langsung mengenalkan Farhan dengan Qiana. "salam kenal om, aku Qiana" ucap Qiana dengan lembut. Farhan tersenyum, apa yang di ceritakan istrinya benar. Calon menantu mereka begitu manis. Tidak seperti perempuan muda kebanyakan yang mengobarkan pandangan membara, berani. Qiana lebih terlihat begitu lembut.  "duduk, ayo kita sarapan" ajak Farhan sambil tangannya menunjuk kursi untuk Qiana tempati. Qiana mengangguk, lalu duduk. Membalik piring di hadapannya. Menunggu kedua orangtua tersebut lebih dulu menyiapkan sarapan mereka.  "pagi bu, ayah" sapa Valdo dengan wajah yang lebih segar. Dia langsung duduk di kursi tempatnya, disebelah Qiana. "jadi gimana Do? bener nikahannya mau sederhana aja?" tanya Farhan. Urusan restu, dia akan mengikuti istrinya. Jika istrinya sudah yakin dan merestui Qiana, dia akan menurut. Dia sangat mengenal istrinya dan istrinya bukan orang yang polos dan mudah dibodohi oleh para medusa yang selalu beracting agar dianggap baik. Dia juga sudah dijelaskan oleh istrinya tentang latar belakang keluarga calon menantunya. Dia tidak masalah jika menantunya bukanlah dari orang kaya atau keturunan darah biru, anak tokoh terkenal, pejabat atau pengusaha. Toh dia juga dulu berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Baginya, selama perempuan itu baik juga sopan santun, dia tidak keberatan. Tidak sedikit perempuan muda yang tidak tahu tentang sopan santun. Merasa paling hebat dan modern hingga melupakan hal tersebut. Bahkan sekarang ini, tidak sedikit sopan santun di sebut sebut hal norak dan kampungan.  "iya yah, Qiana juga maunya begitu" "ayah ikut saja kalau begitu. Terus walinya siapa?" "wali hakim aja yah" jawab Valdo. Sebenarnya, Qiana memiliki paman yang bisa menjadi wali, menggantikan ayahnya. Hanya saja, keluarga pamannya itu menjauh dan menutup segala komunikasi sejak ayahnya Qiana kabur dan meninggalkan banyak hutang. Sebagai keluarga, mereka tidak ingin terseret dalam masalah yang ada dan sebelum ketakutan itu terjadi, mereka memilih ikut menghilang dari Qiana dan sang ibu sama seperti ayahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD