Delapan: Menikah

1754 Words
"saya terima nikah dan kawinnya Qiana Nafeeza binti Zainal Ahmad dengan mas kawin uang sepuluh juta sepuluh ribu dibayar tunai" Qiana tidak bisa membendung air matanya saat suara sah dan ucap syukur para tamu terdengar ditelinganya. Dia, kini sudah resmi menjadi istri seorang Valdo Perwira, laki-laki berumur dua puluh sembilan tahun yang belum lama dia kenal.  Dalam hati, dia juga tidak bisa berhenti meminta maaf kapada Tuhan dan sang ibu karena sudah mempermainkan sebuah pernikahan. Seperti robot, Qiana hanya bisa diam dan mengikuti segala perintah yang diucapkan, mencium tangan Valdo, dikecup keningnya oleh Valdo hingga tersenyum palsu di depan kamera sambil memamerkan buku nikah yang hanya akan berumur dua tahun. "jadi istri solehah ya neng" Elis memeluk Qiana, dia juga menangis. Rasa sedih dan senang bercampur di hatinya. Memanjatkan doa terbaik untuk kebahagiaan sang anak dan mengucap maaf karena belum bisa membahagiakan anaknya itu. Beralih kepada Mira, wanita itu memeluknya dengan penuh kebahagiaan. Memberikan doa terbaik untuk kehidupan anak dan menantunya. Hingga rangkaian acara terus berlanjut hingga selesai. Tamu undangan yang bukan keluarga sudah mulai pulang. Pernikahan tersebut memang dijalankan sesuai rencana, sangat private, tamu undangan hanya keluarga dan beberapa rekan bisnis yang begitu erat saja yang hadir dan bertempat di rumah orang tua Valdo. "makan dulu sayang, kamu belum makan" Qiana tersenyum kepada Mira yang datang dan mengusap lembut punggungnya. Sejak tadi, dia memang sibuk menemani keluarga Valdo yang penasaran dengannya.  "belum lapar bu" jawab Qiana. Nafsu makan dia hilang, dengan apa yang sudah terjadi, dia tidak bisa lagi memikirkan soal perut. "tapi nanti makan ya, jangan sampe sakit" Qiana mengangguk. Mira kembali pergi dan bergabung dengan keluarga yang masih ada dirumah, Qiana tersenyum saat melihat bagaimana ibunya disambut dengan begitu hangat oleh mereka. Tidak terlihat pandangan sinis kepada ibunya, mengingat dia bukanlah dari keluarga yang setara dengan mereka. *** Malam tiba, semua keluarga sudah pulang, hanya tersisa keluarga inti, termasuk Elis. Besok, wanita paruh baya itu sudah akan kembali ke Bandung. Qiana tahu, meskipun Elis disambut dan diperlakukan dengan baik, ibunya itu masih merasa kurang nyaman. Seperti dirinya, ibunya juga merasa malu atau minder. Qiana sudah memakai piyama, lalu naik keatas kasur untuk tidur. Tubuhnya begitu lelah, hatinya juga. Rasanya masih begitu sedih dan merasa bersalah karena mempermainkan sebuah pernikahan. Menarik selimut hingga d**a, Qiana berbaring menghadap kiri, membelakangi pintu kamar. Valdo tidak ada di kamar dan Qiana tidak berniat mencarinya. Dia benar-benar sedang butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Andai saja ayahnya tidak pergi, andai ayahnya adalah sosok yang bertanggungjawab dan menyayangi keluarga. Qiana dan Elis mungkin tidak akan ada posisi sulit, posisi yang akhirnya membuat Qiana mengambil keputusan ini. "Aku benci ayah" lirih Qiana dengan air mata yang mengalir di pipinya. Hingga Qiana langsung menutup matanya, berpura-pura tertidur saat mendengar suara pintu kamar yang dibuka. *** Valdo masuk kedalam kamar, dilihatnya Qiana yang sudah berbaring membelakanginya. Dia menghela napas lalu berjalan menuju kasur. Lalu perlahan naik dan berbaring dengan posisi menatap langit-langit. Diliriknya Qiana, dia tahu jika perempuan yang hari ini sudah menjadi istrinya itu tengah bersedih, bahkan saat ijab kabul, dia tahu jika Qiana menangis bukan karena bahagia. Kata bahagia, jauh dari mereka. Valdo menghela napas kasar, lalu menutup matanya. Memilih tidur. Bangun di pagi hari, Valdo menatap ke tempat disebelahnya, Qiana sudah tidak ada. Sepertinya sudah bangun dan membantu menyiapkan sarapan. Merenggangkan tubuhnya, Valdo mencoba mengumpulkan kesadarannya. Baru setelahnya dia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Pintu kamar diketuk saat Valdo sudah selesai mandi dan memakai pakaian, kemudian muncul sosok Qiana dan menyuruhnya untuk sarapan. Valdo mengangguk, menyuruh Qiana pergi lebih dulu karena dia harus mengisi daya ponselnya. "pagi semua" sapa Valdo setelah tiba di ruang makan. Semua sudah berkumpul disana, kedua orang tuanya, Qiana dan ibu mertua, Elis. "siapin neng" suruh Elis kepada Qiana. Qiana patuh, lalu menyiapkan sarapan untuk Valdo. Laki-laki itu hanya mengulum senyum melihat Qiana yang nampak malu dan ragu. "bener mau pulang hari ini aja? cepet banget sih teh" Mira memanggil Elis dengan sebutan teteh (kakak) agar menghilangkan rasa kaku dalam hubungan baru mereka. Mira ingin besannya menjadi sahabat, tidak canggung dan bisa begitu dekat, karena bagaimanapun, sekarang ini Qiana adalah anaknya juga begitupun dengan Valdo yang sekarang menjadi anaknya Elis. "iya, nanti kalau ada waktu nginep lagi" jawab Elis. "yaudah kalau begitu, naik mobil aja teh, dianterin" "sayang atuh tiketnya. Lagian kalau naik mobil terlalu jauh, suka pusing" Elis memang memilih untuk pulang ke Bandung dengan kereta. Seperti keberangkatannya ke Jakarta. Maklum saja, dia tidak pernah jalan-jalan, jadi sekalinya naik mobil bisa pusing jika terlalu lama. "tapi teteh nanti terus kabarin aku ya" "iya." Selesai sarapan, Qiana membantu ibunya bersiap, dia dan Valdo akan mengantar ke stasiun, sedangkan saat tiba  di stasiun Bandung, akan ada tetangga yang menjemput ibunya. Seperti saat berangkat ke Jakarta, Qiana meminta tolong kepada tetangganya yang seorang sopir untuk mengantarkan ibunya, tidak gratis, Qiana membayarnya. "Nanti jangan lupa kabarin neng, kalau ada apa-apa langsung berkabar" suruh Qiana sambil menutup tas milik ibunya. "Iya neng" Qiana tersenyum, Elis mengusap lembut pipi Qiana. Sekarang anak gadisnya sudah milik orang lain. Tidak banyak yang dia inginkan, hanya kebahagiaan untuk sang anak. "Jadi istri yang baik, yang nurut sama suami. Sopan santun, jangan males" Qiana mengangguk. "baik dan buruknya harus diterima, kalau ada masalah, jangan diumbar. Jagan umbar aib suami. Jangan boros" Elis lanjut menyampaikan pesannya. "iya bu" jawab Qiana. Setelah selesai, Qiana dan Elis keluar dari kamar. Valdo juga sudah siap untuk mengantar. "hati-hati ya teh" pesan Mira sambil memeluk Elis. "iya." Mira dan Farhan mengantar hingga teras. Valdo membantu memasukkan tas Elis kedalam mobil saat Elis berpamitan. "pamit ya, tolong jaga Qiana. Kalau salah, tolong di ajarkan" pesan Elis. Mira tersenyum sambil mengangguk "Qian sekarang udah jadi anak kita, teteh jangan khawatir ya" "terima kasih" Selesai berpamitan, Elis masuk kedalam mobil, duduk di kursi belakang sedangkan Qian duduk di depan, disamping Valdo yang mengemudi. Mereka langsung pergi menuju stasiun dengan kondisi jalan yang cukup lengang. "hati-hati ya bu" ucap Valdo setelah mencium tangan Elis. Mereka sudah sampai di stasiun dan Elis harus segera masuk ke peron. "titip Qiana ya"  Valdo mengangguk "iya bu" Setelah obrolan pamit antara Valdo dan Elis selesai, Qiana langsung memeluk Elis. "ibu hatihati. Kalau ada apa-apa hubungi neng" "iya sayang. Neng jangan lupa pesan ibu ya. Jadi istri yang berbakti" "iya bu" Melepas pelukan. Qiana kemudian mencium tangan Elis sebelum Elis benar-benar melangkah masuk. "hati-hati bu" Qiana melambaikan tangannya. Berdoa dalam hati untuk keselamatan dan kebahagiaan sang ibu. Dia berjanji akan berusaha untuk melakukan perintah sang ibu. Setelah dia pikir, pernikahannya adalah sah, dan statusnya adalah sebagai seorang istri. Kontrak yang ada hanyalah menentukan waktu. Di kontrak tidak disebut bahwa pernikahan ini adalah bohong dan rekayasa. Terpaksa atau tidak, Valdo tetap mengucapkan ijab dan kabul dihadapan penghulu dengan semua persyaratan yang telah dipenuhi.  *** Valdo memperhatikan Qiana dari atas kasur, istri dua tahunnya itu tengah memasukan baju-baju miliknya kedalam lemari. Malam ini, dia memang langsung memboyong Qiana pindah ke apartemennya. Satu fokus yang menarik perhatiannya, dari semua baju yang Qiana masukan, tidak ada satupun yang bermerk mahal. Membuat dia mengerutkan kening dan berpikir, kemana uang lima ratus juta yang dia berikan sebagai uang muka? Gaya berpakaian Qiana, Valdo akui tidak kampungan, hanya saja memang cukup sederhana dan kalem. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang seumurnya, yang cukup berani memadu padankan pakaian. "Qi, boleh tanya?" Qiana membalikan tubuhnya, menghadap Valdo. "tanya apa kak?" "uang lima ratus juta yang kamu minta di awal, boleh aku tahu kamu kemana kan? soalnya kalau aku perhatikan, tidak ada satupun barang mewah yang kamu pakai" jelas Valdo. Qiana tersenyum samar "aku minta uang itu memang bukan untuk belanja dan itu atau barang-barang mewah" "lalu?" "aku pakai buat bayar hutang" "hah?! kamu serius?semuanya?" Valdo benar-benar terkejut, tidak mengira jika Qiana memiliki hutang yang cukup besar. Qiana mengangguk "iya. Semuanya aku pakai untuk bayar hutang" "terus sekarang sudah lunas?" Qiana menggeleng "masih sangat banyak" "kalau boleh aku tahu, hutang apa? maksudku, apa dulu keluargamu bangkrut hingga meninggalkan banyak hutan" Qiana tersenyum miris. "hutang judi ayahku, setelah dia pergi entah kemana, aku dan ibu yang harus membayarnya dan itulah alasan kenapa aku menerima tawaran Kak Valdo, Kak Valdo tenang aja, aku gak akan bikin pusing Kak Valdo tentang hutang itu kok" jelas Qiana lalu tersenyum. Valdo cukup dibuat terkejut, tapi dia bisa dengan pintar mengatur ekspresi wajahnya. Pikirannya di awal salah, dia kira jika Qiana menerima ini karena suatu hal yang lumrah dilakukan oleh perempuan muda sepertinya, tergiur uang banyak untuk memenuhi hasrat jiwa muda. Berbelanja barang mewah, berlibur dan memenuhi gaya hidupnya yang lain.  Valdo menghela napas "Qi, dengar. Aku tahu kalau kamu sangat kurang nyaman denga kondisi ini. Aku juga tahu kalau kamu terpaksa menerima tawaran ini. Tapi aku minta agar kamu bisa menjalaninya dengan baik. Maksudku, kita berdua bukanlah musuh yang saling membenci dan memaki. Sejak pertemuan awal, kita tidak memiliki hal buruk untuk menjadi bahan pertengkaran. Kalau kamu tidak bisa atau berat menjalaninya karena melihat aku sebagai suami, maka lihat aku sebagai teman, sahabat, atau kakak laki-laki. Aku tidak ingin melihat kamu murung setiap harinya" jelas Valdo. Siapa sih yang mau hidup dengan orang yang terlihat selalu murung, seperti orang depresi atau marah?  Qiana tersenyum, lalu mengangguk. Dia bersyukur karena Valdo memiliki sifat yang baik. Tidak seperti pernikahan kontrak yang dia baca di novel, dimana laki-lakinya memiliki sifat kurang baik, ketus, suka marah atau kasar. Valdo berbanding terbalik. Laki-laki itu ramah dan juga sopan.  "ka, boleh aku tanya sesuatu?"  "apa?" "kenapa kakak mau menikah kontrak?" "karena ibu dan ayah" "ibu dan ayah?" ulang Qiana "kamu sayang ibu kamu?" "banget" "kamu pasti berusaha untuk membuat beliau senang" "tentu" "aku juga. Aku hanya mencoba untuk mewujudkan keinginan orang tuaku agar aku segera menikah. Tapi sayangnya, aku tidak cukup siap untuk mewujudkan hal itu, aku tidak siap untuk kembali berkomitmen setelah aku di khianati, tapi aku juga lebih tidak siap membuat mereka kecewa karena sebuah penolakan, selama ini, mereka selalu ada dan sangat mendukungku dan tidak pernah menuntut apapun, jadi saat mereka meminta dan menuntut untuk pertama kalinya, itu suatu hal yang sangat sulit aku tolak. Mungkin, jika kekasihku dulu tidak selingkuh, aku dan dia kini tengah mempersiapkan pernikahan dan apa yang terjadi pada kita sekarang tidak akan pernah ada." Qiana mengangguk, mengerti dengan jawaban Valdo. Mereka memiliki kesamaan, sama-sama mencintai dan berjuang untuk kebahagiaan orangtua. "jadi ayo kita jalani dua tahun ini sebaik mungkin, jika kita nanti berpisah, kita harus berpisah baik-baik karena seperti yang aku bilang, kita tidak memiliki alasan untuk saling memaki dan membenci. Sekali lagi, jika kau tidak bisa melihat aku sebagai suami, maka lihat aku sebagai teman, sahabat atau kakak" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD