20 jam sebelum keberangkatan. Devan menghela nafas untuk menguatkan tekad, didepannya semua orang sedang menatapnya tajam dan penasaran. Beberapa detik yang lalu dia mengaku kalau selama ini dirinyalah yang menjadi mata-mata untuk Stevan yang adalah Paman Daniel. “Bisakah kalian menatap ke arah lain. Sumpah! Tatapan kalian bikin merinding” Kata Devan mengerucutkan bibirnya lucu. Ania memijit pelipisnya yang berdenyut. “Aku akan menceritakan detailnya setelah misi ini dilaksanakan, tapi kita fokus dulu untuk menyelesaikan rencana kita yang sebentar lagi kita lakukan.” Kata Devan lagi membuat sakit kepala Ania semakin menjadi. “Tidak jelaskan semua sekarang Dev!” Ucap Ren lalu memasang kamera untuk merekam apa yang akan dikatakan Devan, mereka sudah tidak bisa mengamuk atau hanya

