bc

Hidden Freedom

book_age12+
812
FOLLOW
8.0K
READ
dark
kidnap
tragedy
Girl Power Counterattack
mystery
scary
genius
first love
friendship
lies
like
intro-logo
Blurb

Ania Felicya baru saja mengecap apa namanya bangku sekolah. Kebahagiaannya itu harus di renggut begitu saja karena teror dari seseorang yang mengincarnya dan tidak ingin melepaskan gadis itu.

Kebebasannya harus terenggut untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi dia harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.

"APA AKU HARUS MATI?!" Ania Felicya

chap-preview
Free preview
BAB 1
    Ania masuk ke dalam kelas lalu melihat ke seluruh isi ruangan, dia menghela napas lega begitu tidak mendapati seorang pun di dalam kelas. Dia mengambil tempat di dekat jendela untuk menghirup udara pagi yang menyejukkan.         Perlahan dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh, dia tidak heran jika belum ada teman kelasnya yang datang. Sekolah yang ditempatinya adalah sekolah yang sangat jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya. Mereka di sini tidak memperlajari pelajaran umum, seperti Matematic atau yang lainnya.         Di sekolah ini mereka belajar sesuai bakat apa yang mereka miliki dan pelajaran apa yang mereka inginkan, ruang serta teman kelas berganti sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah di pilih.         Pelajaran wajib di sekolah ini hanya olahraga dan itu hanya dilakukan satu kali dalam seminggu. Selain itu, pelajaran akan berlangsung hanya dua jam pelajaran dalam sehari. Sekolah yang tidak terlalu ketat mengatur siswa namun mencetak lulusan terbaik setiap tahunnya untuk masuk ke Universitas terbaik di seluruh dunia.         Ania membayangkan begitu dia pertama menginjakkan kakinya di sekolah ini. Begitu banyak tatapan sinis, cemoohan, dan segala sesuatunya tentang uang dan derajat keluarga. Itu tidak lagi di anggap tabu di zaman sekarang.         Jika kau tidak memiliki uang maka kau akan di sisihkan bahkan di anggap tidak ada dan begitulah pandangan orang sekarang, bahkan pelajar. Ania baru tiga bulan bersekolah di sini namun, dia sudah paham situasinya.         “Sedang melamun?” Ania berbalik dan mendapati Elly berada di belakangnnya, berdiri sembari tersenyum manis. Elly, teman sebangkunya dan satu-satunya anak perempuan yang berbicara dengannya di dalam kelas itu.         “Tidak! Aku sedang berpikir.” jawabnya ketika tersadar.          Elly mendengus geli, “Berpikir seperti apa sampai kau tidak mendengar panggilanku sepuluh kali? Sepuluh!”         “Ah, maaf-” ucapnya menyesal. “aku benar-benar tidak mendengarmu.”         “Apa yang kau lamunkan?”         Ania menggaruk tengkuknya, “Hanya mengingat apa yang terjadi saat aku menginjakkan kaki di sekolah ini.”         “Kau pasti tersiksa dengan semua itu, semua siswa sudah mengalaminya kecuali beberapa orang tentunya, mereka yang sudah memiliki nama di sekolah ini.”         Dia menganggukkan kepalanya, pikirannya kembali melayang ke beberapa hari saat dia pertama masuk di sekolah ini.         Ania menginjakkan kakinya disebuah sekolah terpandang di pusat kota Jakarta, Sky Internasional School. Mata hijaunya mengamati lingkungan di sekitar sekolah itu dengan cermat, dia melihat beberapa siswa telah memasuki kelas masing-masing dengan langkah terburu-buru ketika bel masuk telah berbunyi.         Derap langkah dari sepatu gadis itu memecah kebisingan di koridor yang masih banyak di lewati beberapa siswa yang terlambat. Mereka memandangnya dengan berbagai ekspresi mulai dari kagum hingga takjub.         Suara bisik-bisik pun tak terelakkan lagi. Banyak yang membicarakan Ania, dimulai dari penampilan, wajah dan kecantikannya sangat sempurna. Dia memperhatikan tanda nama di atas ruangan dan mencari ruangan TU untuk mengambil jadwal pelajarannya.         Dia meneliti dengan cermat hingga dia sampai ke sebuah ruangan besar dengan beberapa pegawai berpakaian dinas sibuk di dalamnya. Ania masuk tanpa rasa gugup sedikitpun, dia menuju ruangan kepala TU.         "Ternyata ruangannya berseberangan dengan ruangan kepala sekolah." gumamnya setelah mengetuk pintu. Dia di persilahkan masuk dan sekarang Ania duduk di hadapan seorang pria paruh baya yang memadangnya dengan tatapan menilai.         Pria itu membuka map biru di atas meja lalu melirik sekilas ke arah gadis yang duduk di hadapannya. Ania Felicya, lahir di German 19 Juni 2003, tidak ada keterangan tentang alamat dan orang tua ucap pria itu dalam hati.         “Kenapa kau tidak menulis alamat, nama kedua orang tuamu dan pekerjaan mereka?” tanya kepala TU itu dengan nada meremehkan.         Ania mengangkat kepala yang sejak tadi ditundukkannya. Dia mengerutkan kening balik menatap Kepala TU.         “Bukankah itu hak saya? Lagipula bukan saya yang mengurus data-data saya, jadi tanyakan kepada bawahan anda untuk meminta data-data saya secara lengkap jika anda ingin. Di mana kelas dan jadwal pelajaran saya?”         Kepala TU itu menyipitkan matanya, dia memutuskan menyimpan amarahnya dan akan menanyakan persoalan ini kepada pegawai TU yang mengurus pendaftaran siswa baru ini. Pria paruh baya itu memberikan map kuning yang berisi jadwal pelajaran, ruang kelas dan beberapa passcode untuk loker.         Ania berdiri setelah menerima map itu, ketika dia sudah membuka pintu langkahnya terhenti karena ucapan dari Kepala TU dibelakangnya.         “Bagaimana kau bisa masuk ke sini tanpa nama keluarga? Kau tahu sekolah ini sangat ketat untuk menerima siswa baru apalagi siswa lompatan kelas sepertimu, bahkan di sini tidak tertera berkas pemindahan atau nama sekolah dimana dulu kau menuntut ilmu sebelum masuk ke Sekolah Menengah Atas ini?”         Dia kembali menutup pintu yang telah dibukanya sedikit, Ania membalikkan tubuhnya menatap Kepala TU.         Seketika aura ruangan itu menjadi mencekam, bahkan untuk bernapas saja terasa sesak, itulah yang dirasakan Illyas, Kepala TU.         Illyas menatap takut-takut ke arah Ania, kewibawaannya sebagai kepala TU lenyap ketika gadis itu berbalik menatapnya tajam. Ania melangkah perlahan mendekati meja yang membatasi dirinya dengan Illyas.         Dia mengeluarkan ekspresi yang tidak pernah Illyas bayangkan, kejam, tidak memiliki belas kasihan dan penuh dendam. “Kenapa kau begitu penasaran? Kau tidak pernah mendengar orang yang terlalu penasaran akan mati karena rasa penasarannya?”         “Kau seharusnya menjaga harga dirimu ketika menduduki tempat ini tapi, dari yang kulihat kau adalah manusia rendahan yang hanya gila jabatan dan harta. Jangan pernah bermain-main denganku atau,” Ania menghentikan ucapan menusuknya lalu melangkah menuju Illyas yang sedang duduk di kursi kerjanya. “aku akan membunuhmu sebelum kau menyadarinya!”         Jantung Illyas berdetak cepat, dia tidak dapat menggerakkan kepalanya bahkan mengambil napas pun sulit. Sedangkan Ania pergi dari ruangan itu tanpa berbalik untuk melihat apa reaksi Illyas setelah mendengarkan ancamannya.         Ania memijit pangkal hidung, dia memutar kepalanya pelan. Lagi-lagi aku mengingat hari menyebalkan itu batin Ania. Dia tersadar dari lamunannya dan saat itu keadaan kelas sudah ramai.         “Kau masih melamun?!” tanya Elly membuat Ania terkaget, kesadarannya masih setengah.         Ania menghela napas dan mengusap wajahnya kasar, “Maaf,” ucapnya lalu berdiri hendak toilet untuk membasuh wajah.         Baru saja dia ingin menarik gagang pintu tetapi pintu itu telah terbuka dengan suara keras mengiringinya. Ania mendengus kesal, dia menatap seorang lelaki yang baru saja menendang pintu.         “Hai, anak transfer.” ucap anak lelaki itu mengejek.         Ania memutar bola matanya, “Hai, anak arrogant!” balasnya tidak mau kalah.         “ANIA!” bentak Daniel marah, tidak ada orang yang berani balas mengejeknya selain gadis yang berada di depannya.         “Ya! Daniel apa kau bisa menyingkir? Aku muak melihat wajahmu!” ucap Ania ketus. Dia tidak perduli siapa lelaki yang berada di depannya, walaupun bisa saja setelah kelas nanti dia akan mendapatkan SP dari sekolah.         Ucapan Ania membuat semua siswa yang mendengarnya tertawa, lain halnya dengan ketiga teman Daniel yang menatap Ania dengan tatapan takjub. Selama ini tidak ada yang pernah berani melawan Daniel, anak seorang pengusaha yang memegang saham kedua terbesar di sekolah ini.         Daniel tetap berdiri di tempatnya sembari menatap Ania dengan tatapan menantang, dia tidak akan mengalah dengan Ania. Amarahnya berkobar begitu gadis itu malah melewatinya dengan santai, bahkan menabrakkan bahunya dengan sengaja.         “Ania!” langkah Ania terhenti begitu mendengar Daniel memanggil namanya dengan lantang. Tubuhnya di balik secara paksa oleh Daniel dan membawanya kembali masuk ke dalam kelas.         Ania berusaha melepaskan cekalan Daniel yang mulai menyakiti lengannya, “Lepaskan!” pintanya sembari menyentakkan tangannya kasar namun, Daniel tidak menurutinya.         Mereka sampai di depan kelas, membuat semua siswa lainnya bertanya-tanya. Sementara Elly yang memang memperhatikan interaksi mereka berdua sejak tadi membulatkan matanya, bibirnya pucat seketika begitu membayangkan apa yang akan Daniel lakukan nanti.         Tidak mungkin! Daniel tidak akan melakukannya! batin Elly panik.         Apa yang ditakutkan Elly terjadi, tubuhnya lemas seketika begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Daniel.         “Aku menantangmu bertarung denganku di Black Ring!” Daniel menatap Ania dengan seringaian tercetak jelas di wajahnya, dia akan membuat gadis ini menyesal karena berani mempermalukannya.         Ania terkekeh pelan, “Black Ring? Tempat apa itu?” tanyanya santai sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah.         Hening, tidak ada satupun siswa yang menjawab pertanyaan Ania dan itu semakin membuat Daniel menyeringai meremehkan ke arah Ania. Suasana di kelas itu tiba-tiba terasa mencekam, tetapi berbeda dengan Ania. Gadis itu tidak merasakan apa-apa bahkan ekspresinya tampak sangat normal.         “Tempat di mana kau tidak pernah ingin kunjungi sekalipun.”         Ania mengangkat alisnya tertarik, “Sepertinya menarik. Apa kita akan bertanding di sana?”         Daniel tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis kepada Ania.         “Aku terima tantanganmu!” jawab Ania membuat semua siswa di kelas itu terkisap, mereka menatap Ania antara rasa kagum dan kasihan.         Dia menerima jabat tangan dari Daniel, Ania maju beberapa langkah mendekat ke arah lelaki itu dan berbisik di telinganya. “Pastikan kau menang, karena tidak ada yang pernah kalah sekali pun dariku.”         Senyum Daniel lenyap, dia mendengus sembari menatap Ania tajam. “Benarkah?! Mungkin aku yang akan menjadi yang pertama mengalahkanmu. Bersiaplah, pastikan tidak ada barangmu yang tertinggal di sekolah karena aku akan langsung menyingkirkanmu dari tempat ini.”         Ania membalas tatapan Daniel sama tajamnya, namun dia tersenyum. Berbeda dengan Daniel yang hanya menipiskan bibirnya dengan ekspresi.         “Jadi, jika kau kalah maka kau juga akan keluar dari sekolah ini, bukan? Semua harus adil.” Ania melepaskan tangan Daniel yang masih memegang tangannya lalu memperbaiki kerah bajunya yang sedikit miring.         Daniel menahan napas, kesabarannya benar-benar diuji oleh gadis ini. “Kalau itu yang kau ingin maka aku sangat setuju.” Dia membalas perlakuan Ania tadi dengan mengelus pelan rambut gadis itu.          Murid-murid lain tidak ada yang mendengar apa yang mereka katakan tetapi, apa yang mereka lakukan terlihat dengan sangat jelas dan membuat semuanya kaget. Ania yang berani memegang baju Daniel, terlebih Daniel yang mengelus rambut Ania, itu adalah kejadian yang tidak pernah sekalipun terjadi.         “Deal!” ucap Ania lalu pergi meninggalkan Daniel berdiri di depan kelas dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. …

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Rujuk

read
920.1K
bc

RAHIM KONTRAK

read
419.3K
bc

PEMBANTU RASA BOS

read
17.3K
bc

CEO Dingin Itu Suamiku

read
151.8K
bc

Pengantin Pengganti

read
1.4M
bc

When The Bastard CEO Falls in Love

read
371.1K
bc

The Unwanted Bride

read
111.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook