“Apa dugaan kalian benar?”Tanya Yuri begitu mereka menutup pintu. Ania maih menatap benda di tangannya tidak percaya. Hanya Rose yang memberikan jawaban kepada Yuri dengan anggukan kepala. “Apa orang tua itu tidak punya perasaan? Bahkan keponakannya sendiri dia tega melakukan itu!” Rose menipiskan bibirnya. “Tentu saja dia tidak punya Yur! Bahkan sudah ribuan orang merasakan sakitnya menjadi kelinci percobaannya!” Yuri menelan ludah gugup, sepertinya dia salah bicara. Ania hanya menatap Yuri maklum sementara Rose sudah melenggang pergi entah kemana. “Apa kau tidak menyukainya?” Tanya Yuri kepada Ania. “Ya aku menyukainya. Rose orang yang baik, hanya saja sifatnya memang seperti itu,” Yuri menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan Rose, An. Tapi orang yang sedang tertidur di dalam ka

