Tiga tahun telah berlalu sejak malam itu—malam ketika mansion keluarga Lucchese di Palermo hancur dalam ledakan. Api menjilat langit, dan jeritan tak terdengar menggema di tengah reruntuhan. Carlo dan Emma Lucchese, pemimpin Cosa Nostra, tewas tanpa sempat melawan.
Dunia mengira Cosa Nostra akan runtuh bersama mereka. Tapi dari abu kehancuran itu, kelima putri mereka berdiri—bukan sebagai korban, tapi sebagai waris sejati darah dan dendam.
___
Sore itu di Trapani, di kediaman baru keluarga Lucchese yang tersembunyi, Nevoncia duduk tenang di teras batu, mengenakan jas linen abu-abu. Tatapannya kosong menembus langit senja.
“Mereka pikir kita hilang dari peta,” gumamnya pelan. “Padahal kita hanya menunggu waktu.”
Annita melangkah datang tanpa suara, laptop di tangan. “Pergerakan senjata dari Napoli. Black Shadow memperkuat sisi utara.”
Nevoncia hanya mengangguk. “Biarkan. Kita potong leher mereka saat lehernya sudah benar-benar telanjang.”
___
Di ruang latihan belakang, Carla menyusun peluru untuk sniper rifle favoritnya—senjata yang kini menjadi bagian dari jiwanya. Di bawah sinar lampu kuning, ia memoles laras panjang itu seperti merawat warisan.
Louise masuk dengan lipatan cetak biru di tangan. “Aku dapat akses ke gudang Ragusa. Jalur bawah tanahnya bisa dijebol.”
Carla tak menoleh. “Kau masuk dari atap. Buat mereka berpikir kau pencuri biasa. Dan jangan gunakan hati. Ingat tujuanmu.”
Louise hanya tersenyum miring. Ia tahu maksud kakaknya. Tugasnya sudah jelas: menyamar dan mendekati Emiliano Luciano—tangan kanan keluarga musuh—untuk menggali informasi. Bagi Louise, itu hanya misi. Tapi ia tahu, pria itu akan jatuh cinta padanya. Itu bagian dari rencananya.
___
Di ruang paling sunyi rumah, Gladys merakit detonator kecil. Tangannya cekatan, wajahnya datar. Sebuah nama tertulis di saku jas putihnya: Elvalyn — identitas samaran yang ia pakai selama kuliah di University of Palermo, bersama keempat saudarinya. Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya saat itu.
Maria: Annita
Deby: Nevoncia
Veanna: Carla
Nerus: Louise
Elvalyn: Gladys
Mereka menyelesaikan kuliah di bidang Informatika, Ilmu Politik, Hukum, Arsitektur, dan Fisika. Tapi malam ini bukan tentang gelar. Ini tentang keluarga. Tentang darah.
___
Malamnya, mereka berlima duduk melingkar. Tak ada kata sambutan, tak ada pelayan. Hanya lima kursi, lima gelas anggur, dan satu warisan dendam.
Nevoncia menatap mereka semua. “Tiga tahun cukup. Sekarang kita balas.”
Annita menutup laptopnya. Carla memeriksa senjata. Louise menatap diam ke luar jendela. Dan Gladys hanya tersenyum kecil.
“Sudah waktunya keluarga Luciano tahu,” kata Gladys dingin. “Apa artinya kehilangan segalanya.”
Malam itu, tidak ada bintang. Tapi di rumah itu, api yang pernah membakar masa lalu... kini menyala lagi. Dan kali ini, tidak akan padam.
TO BE CONTINUED...
___
MAAF JIKA TERJADI KESALAHAN DALAM PENULISAN
Terimakasih, Semoga suka dengan cerita yang saya buat
Jangan lupa komen & like!!!
Dan tetap dukung saya terus ya>>>