Minuman Sialan
"Itu baru pembukaan, Cantik!" kata Theo seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Giselle.
"Oh, ya?" Ia tersenyum kecil saat jari Theo memijat lembut rahangnya. "Terus habis ini mau ngapain lagi?"
"Nikahin kamu," jawab Theo sembari tersenyum. "Biar kita bisa gini terus tiap hari."
Giselle pun terkekeh. Theo hanya mengerucutkan bibirnya. "Tapi kamu kayaknya masih perawan."
"Enggak, kok ... Cuma itu udah lama banget sih," jawab Giselle.
"Berarti aku berhasil bikin kamu b*******h lagi, dong."
"Emang kamu masih yakin kuat ladenin aku, hah?" goda Giselle.
Theo pun menyentuh ujung hidungnya. "Kurang lebih inilah pekerjaanku."
"Oh?" Giselle melirik sekeliling kamar yang luas itu. "Nggak nyangka loh, ada Gigolo yang bisa sekaya raya ini."
Theo pun tertawa kecil, lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, suara air pancuran terdengar.
"Ayo sini, manis!" bujuk Theo sambil menariknya. "Ronde kedua di kamar mandi."
Giselle langsung mendekatkan bibirnya untuk mencium Theo dengan antusias begitu mereka masuk ke dalam ruang pancuran yang luas itu.
Tatapan Theo terlihat geli.
"Untung kamu tumpahin minuman ke aku malam itu, ya," katanya sambil membersihkan tubuhnya dengan lembut. "Dan untung kita ketemu lagi."
***
(SATU HARI SEBELUMNYA)
Giselle terlalu fokus pada laptopnya, sampai-sampai ia nyaris tidak mendengar barista memanggil namanya. Ia segera berdiri dan berjalan menerobos pengunjung yang memadati kafe.
"Putri Salju ... Pesanan atas Nama Putri Salju!!"
Barista memanggil lagi. Awalnya Giselle bangga dengan nama samaran pilihannya, tetapi kini ia justru menyesal.
"Matcha Frappuccino," tambah barista saat Giselle mendekat untuk mengambil pesanannya.
"Aku di sini," kata Giselle sambil merasakan pipinya memanas karena perhatian semua orang akibat ide konyolnya sendiri.
"Unik juga namanya," ujar barista sambil tersenyum tipis.
"Oke deh." Hanya itu yang bisa Giselle ucapkan.
Ia berbalik hendak pergi. Namun, sebelum melangkah jauh, kejadian yang jauh lebih memalukan pun terjadi.
"Sial!"
Minuman di tangannya tumpah tepat mengenai kemeja putih pria yang berdiri di belakangnya.
"Aduuuuuh, hati-hati dong!"
Pria itu menggeram pelan. Ia menatap noda hijau yang perlahan merembet di bajunya.
"Astaga, maaf banget, a—aku nggak sengaja!"
Giselle panik karena berbalik terlalu cepat tanpa melihat orang di belakangnya. Ia segera membuang gelas kosongnya lalu mengambil tisu. Karena gugup, sebagian tisu malah jatuh ke lantai, sisanya ia gunakan untuk mengelap kemeja pria itu.
Tangan pria itu menahan pergerakannya. Matanya yang berwarna biru terlihat tajam.
Giselle pun terdiam. Ia berusaha menjaga jarak agar tidak tambah salah tingkah. Pria ini adalah orang paling tampan yang pernah dilihatnya.
"Aku bisa bersihkan sendiri," kata pria itu.
Senyumnya membuat Giselle sulit berpikir jernih.
"Ya ampuuuuun." Terdengar suara wanita yang kesal dari samping. "Sudahlah, pergi aja sana."
Wanita itu melambaikan tangan seolah mengusir, seakan Giselle sudah cukup banyak menimbulkan masalah.
Giselle langsung menatapnya. "Setidaknya biarin aku ganti rugi atau bantu bersihin."
Mata wanita itu menyipit tajam. Wajahnya tampak sangat kesal. "Bantu gimana? Mau kamu jilatin noda minuman itu dari bajunya?"
"Udah ... Tolong belikan dia minuman yang baru ya," kata pria itu kepada wanita itu dengan nada setengah bercanda.
"Ohh, jangan ... Kamu nggak perlu suruh pacar ... Hmmm ... Temanmu ganti rugi, ini kan salahku sendiri."
"Dia bukan temanku, apalagi pacarku." Pria itu melirik wanita itu sebentar, lalu menatap Giselle kembali. "Ngomong-ngomong, minuman apa yang berhasil menghiasi bajuku ini?"
Giselle berkedip bingung. Ia tidak mengerti maksud ucapan pria itu.
"Minuman apa?" tanya wanita di sebelahnya dengan nada tinggi.
Keduanya terlihat berasal dari kalangan mampu. Pakaian yang dikenakan pun tampak mahal dan rapi.
"Ini Matcha Frappuccino," jawab Giselle singkat.
Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini dan kembali bekerja.
"Issshhh ... Nama kamu siapa?" tanya wanita itu lagi sambil menyilangkan tangan.
"Eh, iya. Namaku—"
"Putri Salju, kan?" Pria itu memotong pembicaraan. "Tadi kan dipanggil begitu, sebelum kamu tumpahin minuman ini ke bajuku."
"Panggil aku Giselle aja." Giselle pun tersenyum canggung, wajahnya makin memerah.
"Oke, Giselle. Nama yang bagus," balas pria itu sambil masih mengelap sisa minuman di bajunya.
"Kamu kok baik banget sama orang asing yang udah bikin rusak baju mahal kamu, tapi malah jutek sama cewekmu sendiri?" tanya Giselle sambil menunjuk wanita itu.
"Aku cuma kasihan sama orang yang kelihatannya lagi apes," jawab pria itu santai.
Jantung Giselle berdegup kencang mendengar nada bicaranya. "Oke deh, makasih pengertiannya." Giselle tersenyum tipis. "Terus kenapa dia malah ikut marah-marah?"
"Ceritanya agak panjang." Pria itu tersenyum tipis. "Tenang saja, dia nggak akan ngapa-ngapain kok."
"Ya sudah, sekali lagi maaf ya atas kejadian tadi." Giselle menghela napas panjang. "Aku balik ke tempat dudukku dulu ya." Ia menunjuk ke arah mejanya yang berisi laptop. "Waktuku cuma tinggal lima menit buat kirim tugas."
"Karena itu, temanku ini bakal beliin kamu minuman baru sebagai gantinya."
Pria itu melirik wanita di sampingnya.
"Baiklah," dengus wanita itu.
Giselle pun mengangguk. "Makasih banyak ya."
Giselle berbalik dan berjalan kembali ke mejanya. Ia berusaha tidak menoleh lagi, tetapi matanya tak bisa berhenti melirik pria itu sesekali. Ia kemudian menekan tombol kirim di laptopnya tepat sebelum waktunya habis.
Setelah memastikan tulisannya terkirim, ia bersandar di kursi dan mencoba menenangkan diri.
Beberapa saat kemudian, nama samarannya pun dipanggil lagi, tetapi dua sejoli itu sudah tidak terlihat di mana pun. Giselle akhirnya merasa lega.
Kafe masih ramai, tetapi Giselle memutuskan untuk segera pergi. Ia ingin kembali ke kamar hotel dan beristirahat. Malam ini ia sudah berjanji bertemu teman SMA yang tinggal di kota ini. Setelah kejadian tadi, rasanya ia butuh minuman untuk menenangkan diri.
Namun, ia harus ingat bahwa besok adalah hari pernikahan sepupunya. Ia tidak boleh datang dalam keadaan mabuk. Ayahnya sudah memintanya untuk hadir dan bersikap sopan demi kepentingan keluarga.
Giselle mengencangkan tali sepatu hak tingginya. Sepatu baru itu ternyata terasa sangat tidak nyaman. Ia membelinya agar serasi dengan gaun merah yang akan dipakai besok. Ternyata kenyamanan tidak menjadi pertimbangan utama dalam pembuatan sepatu mahal itu.
Setelah memastikan pakaiannya rapi, ia siap berangkat. Ia mencoba merapikan rambutnya, tetapi akhirnya menyerah.
"Sudahlah. Lagian aku juga nggak mau cari pacar malam ini."
Giselle tertawa sendiri mendengar gagasan itu. Ini waktunya memulai bagian awal perjalanannya ke Denpasar, bertemu teman lama yang sudah tidak dijumpainya sejak lulus SMA.
Grab mengantarnya ke depan hotel Grand Paragon yang terang benderang. Bangunan itu langsung menunjukkan kesan kekayaan dan kekuasaan sejak dari pintu masuk.
Bendera berbagai negara pun berkibar di atas pintu utama. Barisan mobil mewah terparkir rapi, membuat mobil Grab-nya terlihat tidak pada tempatnya.
“Apa-apaan ini?” gumam Giselle pelan.
“Bisa aja kamu ketemu artis di sini,” kata sopir Grab.
“Ya ampun.”
Giselle turun dari kendaraan. Ia berjalan melewati mobil dan orang-orang yang masuk bersamanya. Kemewahan terasa di mana-mana, dan ia segera mencari teman-temannya.
“Giselle Marteen,” ucapnya kepada petugas resepsionis sesuai pesan Ramona.
“Nona Marteen.” Petugas Pria itu memeriksa dokumen di hadapannya. “Apakah Anda akan menginap malam ini?”
“Aku cuma mau ketemu teman di lantai atas.”
Petugas itu mencatat di layar komputer.
“Baik ... Komang?” Ia memanggil staf lain. “Tolong antar Nona Marteen ke area rooftop.”
Lift khusus membawa Giselle naik ke atas. Sesampainya di sana, ia bersyukur setidaknya memakai sepatu yang terlihat mahal. Suasana di atas sangat ramai. Tempat ini jelas disediakan untuk kalangan berduit. Ia mengikuti Komang menuju area luar sampai ada yang memanggil namanya. Baru saat itu ia merasa lega.
“Hai!”
Giselle menatap tiga sahabat yang sudah tidak dijumpainya sejak kelulusan sekolah.
“Giselle Marteeeeen! Huaaaaaaa!” Camilla tertawa lalu memeluknya erat. “Kamu makin cantik aja.”
“Makasih. Kalian juga keren-keren banget.” Giselle tersenyum melihat teman-temannya dan orang-orang yang bersama mereka. “Lama banget ya nggak ketemu.”
“Sudah enam tahun,” sahut Ramona. “Oke, aku kenalin dulu. Ini suamiku, Fionn.” Ia lalu menunjuk pria tinggi di sampingnya dengan senyum bangga.
“Giliran kamu, Camilla.”