Pertemuan Pertama
Pagi ini adalah hari pertamaku berangkat ke kampusku, hari ini aku sengaja memilih kelas pagi agar siangnya bisa pergi ke perpustakaan bareng temanku. Aku mengenakan baju polo putih dan celana panjang hitam untuk kali pertamaku dalam kelas. Oh ya, aku memilih prodi teknik informatika. Alasannya cukup simpel, karena ketika aku ingin mencari pekerjaan, prodi ini memiliki pekerjaan yang relatif simpel dan terkompresi rapi.
Sesampainya di kampus, aku berjalan santai mencari kelas pengantar informatika, yang bukannya aku menemukan kelasku, malah aku tertabrak pundak seseorang saat hendak mencari kelasku.
Aku pun menunduk, lalu berucap, "Maaf.. saya tidak sengaja menabrak," ucapku tak berani menatap matanya yang kini menatap kepalaku.
"Kali ini saya maafkan, lain kali hati-hati." pesan lelaki itu dengan nada datarnya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda olehku. Menyadari sesuatu, aku pun berlari mencegat lelaki itu sebelum ia pergi lebih jauh lagi.
"Permisi, kak... saya kini sedang mencari kelas pengantar informatika, apakah anda mengetahuinya?" aku bertanya dengan menundukkan kepala. Benar-benar tak berani menatapnya langsung. Meski begitu, aku mengingat betul betapa dinginnya suara maskulin itu.
"Di atrium kiri, dekat dengan kelas ilmu komunikasi. Ada tulisan teknik informatika." ucapnya singkat lagi lalu melanjutkan perjalanannya tanpa ragu.
Aku yang sudah mendapat kelasnya, tersenyum lega, lalu menghadap punggungnya, "Terimakasih, kak!" sebelum aku kembali melanjutkan pencarian kelasku. Kini, sudah lebih gampang karena lelaki tersebut. Tak perlu waktu lama, aku sudah menemukannya dengan mudah.
Sayangnya, aku dan temanku terpisah oleh prodi dengan mengenaskan, sehingga kami tidak selalu bisa mengambil jadwal kelas yang sama. Nampaknya, kami akan terus terpisah hingga semester akhir nanti. Aku mengeluarkan napas lelahku membayangkan hal tersebut. Itu adalah mimpi terburukku..
Aku bersiap untuk belajar pertama kalinya di kampus ini. Setelah jam kelas sudah dimulai, tampak seorang lelaki bertubuh tegap, berwibawa, dan.. tampak sedikit dingin memasuki ruangan kelas, di tangannya, ia membawa beberapa buku dan juga ia menggendong tasnya di punggungnya. Ah, ia adalah dosen. Itu yang pertama kali terpikir olehku. Ia menaruh buku-bukunya di meja yang ada di depannya. Ruangan kelas ini sungguh nyaman, sedang, dan hangat.
"Apakah sudah masuk semua untuk kelas kali ini?" Lelaki itu berbicara lantang, tak ada keraguan hingga terdengar sampai ke kursi belakang. Aku yang duduk di tengah saja sudah merasakan hawa-hawa dosen killer.
"Sepertinya sudah, Pak." Kata seseorang dari pojok ruangan.
"Sebelum kelas mulai, saya akan absen kalian satu-persatu, dan pastikan kalian mengikuti kelas saya dengan baik," ujarnya. Ia membuka buku tipis di tangannya dan mulai membacakan satu-persatu mahasiswa yang ada di dalam kelas.
Kini giliran namaku yang dipanggil, "Reina Nashva," panggilnya dengan lantang, "Hadir, Pak!" jawabku juga sama lantangnya. Lelaki itu tampak terdiam sebentar, lalu kemudian melanjutkan daftar hadirnya. Setelah semua terpanggil, ia membuka laptopnya dengan satu gerakan mudah, lalu menampilkan apa yang ia akan bahas di kelas kali ini.
Pengantar Informatika, dan Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari
Kira-kira begitulah judul presentasinya, sebelum ia mulai bersabda kembali, "Sebelum lanjut lebih jauh, alangkah baiknya jika kalian semua mengenal saya, nama saya Haidar Aryaksa, alangkah baiknya jika kalian memanggil saya dengan Prof, karena untuk seterusnya, kalian adalah mahasiswa, dan bukan anak SMA lagi. Baik, mari kita mulai."
Dan kelaspun dimulai dengan ketegangan nyata di dalamnya. Terbukti dari beberapa mahasiswa yang tidak macam-macam selama kelas berlangsung. Tanya jawab terkesan begitu formal dan suasana pun bukannya makin menghangat malah makin mendingin dengan beberapa pertanyaan retorikanya. Sudah mirip sekali jika harus memanggil beliau dengan Professor killer.
Selama empat jam aku habiskan kelas pengantar, akhirnya aku keluar kelas dengan perut yang lapar. Queen, temanku, sedang menjalani kelas pertamanya di kampus ini. Jadi, untuk menunggu temanku itu, aku memutuskan untuk pergi ke kantin dan menunggu di meja outdoor kantin. Beberapa lelaki tampak menghisap vape di kantin outdoor ini, tapi aku tidak merasa keberatan. Toh, memang itu adalah fungsinya. Aku pun dengan santai memakan makanan yang sudah ku beli sembari menunggu sejam sebelum aku bertemu dengan Queen.
Ditengah-tengah makan siang damaiku, notifikasi hapeku berdering pelan merambat di meja kayu kantin. Aku mengambil hapeku yang tergeletak di meja, lalu membaca pesan yang diperuntukkan untukku.
Mama
Malam ini, kita akan makan di resto Hayday jam 8. Jangan telat!
Begitulah isi pesannya. Aku pun mengetik di hapeku untuk membalas pesannya.
Okeh!
Setelah membalas, akupun membuka laptopku guna mengerjakan tugasku tipis-tipis. Padahal baru hari pertama, tapi tugas sudah menunggu untukku, jadi mau tidak mau harus dikerjakan, sembari memakan makan siangku.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya Queen keluar dari kelasnya, dan sedang berjalan menyusulku yang sedang menikmati makan siangku. Sudah jam 11 siang, dan aku masih ingin menikmati pemandangan kampus beserta mengerjakan tugas pertamaku.
"Reina!" panggil Queen sembari berjalan ke mejaku. Aku menoleh ke belakang lalu tersenyum lembut padanya.
"Gimana kelas pertamamu?" aku bertanya setelah menyimpan tugasku dan menutup laptopku.
"Ah! Dosen ku ga asik!! Masa hari pertama udah dikasih tugas kelompok? Belum lagi harus buat essai perkenalan diri," keluh Queen dengan memajukan bibirnya beberapa senti kedepan.
"Jangan keras-keras, nanti ada yang denger.." aku tertawa pelan atas keluhan Queen.
"Oh ya, jadi kah kita ke perpustakaan Nasional sore ini?" tanya Queen mengenai rencana kita berdua. Aku hanya bisa menyengir bagai kuda.
"Abis dari sini aja, gimana? Kayaknya kalau sore gak bisa, deh," aku membalasnya dengan cengiranku. Aku menumpukan tanganku pada meja sehingga aku bisa menaruh daguku pada tanganku. "Sumpah sore ini aku harus pergi..." ucapku untuk membujuk Queen.
"Reina! Kamu udah janji di soree, lhoo." Queen menatapku begitu kesal karena janjinya diubah begitu saja.
"Please, ya? Sekali ini aja... Malam ini keluargaku ada makan malam..." aku menaruh kedua tanganku di depan dadaku, memohon.
"Ya, ya, ya..." jawab Queen yang sudah malas. Akupun tersenyum cerah mendengar balasannya. "Ay, ay, captain!" aku menjahilinya, lalu dengan cepat menghabiskan sisa sisa makan siangku.
"Ayo, kita ke perpustakaan!" aku bangkit dari kursiku lalu menggandeng lengan Queen menuju parkiran motor.
Kami pun pergi menuju perpustakaan nasional sesuai dengan apa yang kami rencanakan sebelumnya. Aku dan Queen membaca buku, dalam hal berlomba-lomba siapa lebih dulu mencapai akhir dari buku tersebut. Hal ini sudah biasa kami lakukan sejak kelas 10, sehingga kami begitu terbiasa untuk membaca jurnal internasional maupun nasional.
Tanpa tahu, bahwa malam ini semuanya akan berubah dalam semalam, bahwa nasibku sebagai mahasiswa dipertaruhkan dengan adanya perjodohan dua pihak tanpa ada aba-aba kepadaku. Aku yang melajang, dalam satu malam sudah berubah status menjadi seorang wanita yang siap menikah. Parahnya lagi... lelaki yang akan kunikahkan adalah seseorang yang begitu penting di hidupku.
PART 1 - Juni 2026