Bab 14. Martabak

1098 Words
"Pak Baskara, Anda baik-baik saja?" tanya Roy seusai meeting rutin dengan para karyawan Cafe. "Dari tadi saya melihat Anda gelisah," lanjutnya membuat Bhaskara menghela napas panjang. "Aku baik-baik saja," balas Bhaskara singkat sembari beranjak meninggalkan tempat meeting. Sementara Roy mengikutinya dari belakang. "Anda tampaknya tidak sehat, Pak," ujar sang asisten membuat Bhaskara menoleh. "Aku hanya sedang tidak fokus." "Ada masalah, Pak?" Roy yang kini mensejajarkan langkahnya dengan Bhaskara. "Hanya masalah pribadi," balas Bhaskara sembari masuk ke ruangannya, lalu duduk di kursi kerjanya. Sementara Roy ikut masuk ruangan mengikuti atasannya. "Anda bisa bercerita pada saya, Pak. Barangkali saya bisa bantu," ucap Roy sembari duduk di hadapan Bhaskara. Lelaki tampan itu menatap ke arah asistennya sejenak, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Maya hamil," ucapnya sembari mengusap wajah dengan kasar. "Nona Maya hamil? Dia istri Anda, lalu masalahnya di mana, Pak?" tanya Roy bingung. "Masalahnya aku tidak ingin dia hamil," jawab Bhaskara semakin membuat Roy heran. "Aku sudah memakai pengaman agar dia tidak hamil. Sayangnya saat pertama kali kami melakukannya, aku kebablasan dan lupa memakai alat kontrasepsi." "Kenapa Anda tidak ingin Nona Maya hamil? Bukankah bagus Anda punya keturunan lagi selain Aditya." "Maya masih sangat muda. Umurnya baru 20 tahun sedangkan aku sudah 45 tahun. Dia seusia Aditya, bahkan teman kuliah. Aku merasa egois karena telah menikahi wanita yang seharusnya lebih pantas menjadi anakku. Aku tidak berencana menjadikan Maya pendamping hidupku selamanya." "Maksud Anda?" "Aku akan bercerai dengan Maya kalau sudah ketemu wanita yang tepat." "Anda ingin rujuk dengan Nyonya Sarah?" pancing Roy. "Tidak! Jangan bicarakan soal wanita itu lagi di depanku." "Maaf, Pak. Saya tahu Anda masih belum move on dari Nyonya Sarah, Apa tidak sebaiknya Anda memaafkannya?" "Kamu belum tahu rasanya dikhianati, Roy. Penghianatan tidak akan pernah bisa aku lupakan dan mungkin akan selalu membekas di hatiku sampai kapanpun. Mana mungkin aku bisa hidup dengan seorang wanita yang pernah dijamah laki-laki lain saat dia menjadi istriku. Harga diriku telah diinjak-injak. Meski jujur aku masih mencintai Sarah, tapi tidak pernah terpikir sedikitpun keinginanku untuk kembali dengannya." "Iya, Pak. Saya mengerti perasaan Anda. Lalu kenapa Anda tidak mencoba move on dengan Nona Maya. Sepertinya dia wanita yang baik." "Ya, dia memang baik, polos dan penurut. Hidupnya menderita sejak kecil karena kelakuan Hendra. Justru hal itu membuatku merasa semakin bersalah pada Maya. Dia mungkin tidak bahagia menikah dengan lelaki tua sepertiku." Ucapan Bhaskara membuat Roy tertawa. "Saya rasa Anda belum tua, Pak. Secara umur memang iya, tapi Anda masih awet muda. Apalagi saat melihat Anda mendatangi acara beberapa waktu yang lalu bersama Nona Maya. Anda berdua benar-benar serasi," puji Roy membuat Bhaskara mendecih kesal. "Kamu meledekku," balasnya sembari membuang napas kasar. "Sungguh, Pak. Saya tidak sedang membual. Saya rasa Nona Maya pantas menggantikan Nyonya Sarah." "Sudahlah. Aku lagi ingin sendiri. Tolong keluar dari ruanganku," usir Bhaskara. Roy mengangguk, lalu beranjak keluar ruangan. Bhaskara menyungkar rambutnya dan memejamkan mata. Entah kenapa lelaki itu teringat pada Maya yang kini tengah mengandung anaknya. Bhaskara meraih ponsel, lalu menekan nomor seseorang. "Selamat siang, Pak. Sundari di sini," ucap seorang wanita dari seberang telepon begitu panggilan tersambung. "Apa Maya sudah pulang kuliah?" tanya Bhaskara kepada asisten rumah tangganya itu. "Nona Maya tidak berangkat ke kampus hari ini, Pak." "Tidak ke kampus? Kenapa?" "Tadi pagi saat sarapan, Nona Maya muntah-muntah dan tidak jadi sarapan. Saya memintanya untuk beristirahat dan tidak ke kampus." "Jadi, dari pagi dia belum makan?" "Belum sama sekali, Pak. Setiap makanan yang dimakan Nona Maya selalu dimuntahkan. Jadi, Nona tidak bisa minum obat. Saya coba buatkan bubur tetap saja Nona tidak mau makan karena takut muntah." "Ya sudah. Tolong kamu buatkan jus saja biar perutnya tidak kosong." "Baik, Pak." Bhaskara menyudahi panggilan lalu kembali menyandarkan punggungnya. Lelaki itu merasa dejavu dengan kejadian 21 tahun yang lalu, saat Sarah mengandung Aditya. Waktu itu sarah juga muntah-muntah dan tidak mau makan apapun. Namun, saat melihat penjual martabak di pinggir jalan, tiba-tiba Sarah merengek minta dibelikan dan ajaibnya wanita itu tidak muntah meskipun makan martabak sampai habis satu kotak. "Apa aku belikan martabak saja, ya? Siapa tahu Maya mau makan," batin Bhaskara sembari tersenyum. Lelaki itu kemudian beranjak keluar dari ruangannya dan meminta Roy untuk menghandle Kafe karena dia mau pulang. Dengan penuh semangat Bhaskara mengendarai mobilnya keluar area Kafe menuju mall yang ada di tengah kota, tempat penjual martabak langganan Sarah biasa mangkal. Lelaki itu tersenyum lalu menepikan mobilnya ke arah penjual martabak. Bhaskara memesan dua kotak martabak, lalu berniat kembali ke mobilnya. Lelaki itu tersenyum saat teringat memori kehamilan Sarah 21 tahun yang lalu. "Astagfirullah! Kenapa harus bayangan Sarah yang muncul? Aku harus melupakannya. Benar kata Roy, Maya wanita yang baik. Aku akan mencoba membuka hatiku untuknya," batin Bhaskara sembari melangkah meninggalkan penjual martabak. Namun, lelaki itu terkejut saat membalikkan tubuh dan melihat seorang wanita sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. "Bhaskara, ternyata kamu masih ingat martabak kesukaanku," ucap wanita yang tidak lain adalah Sarah itu membuat Bhaskara membuang napas kasar. "Kamu pasti ingin bernostalgia dengan kenangan kita dahulu, kan, Bhas?" tambah Sarah sembari mendekati Bhaskara. "Jangan mendekat! Aku membelikan martabak ini untuk Maya. Dia sedang hamil anakku. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku belum move on darimu karena sudah ada Maya yang menggantikanmu di hatiku." Mendengar ucapan Bhaskara, Sarah malah tertawa. "Oh jadi wanita itu hamil? Apa kamu yakin janin itu adalah anakmu?" "Maya bukan wanita penghianat sepertimu. Jadi jangan pernah samakan dia denganmu," ucap Bhaskara marah. "Kamu terlalu polos, Bhas. Apa kamu tidak pernah berpikir kalau Maya itu ada main dengan anakmu sendiri, Aditya? Mereka dulu sepasang kekasih." Sarah mulai memprovokasi Bhaskara. "Kamu jangan sembarangan memfitnah. Aku tidak percaya sedikitpun apa yang kamu ucapkan," balas Bhaskara sembari melangkah meninggalkan Sarah. "Kamu boleh tidak percaya, Bhas. Tapi kamu bisa buktikan sendiri. Pulanglah dan lihat apa yang dilakukan istri dan anakmu di rumah." Ucapan Sarah membuat Bhaskara menghentikan langkah. Lelaki itu menoleh ke arah Sarah yang tersenyum licik. Namun, memilih tidak menanggapi ucapan mantan istrinya itu. Bhaskara bergegas menuju mobilnya dan menjalankan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Meski tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sarah, tetapi batin Bhaskara terusik. Ucapan mantan istrinya itu terus terngiang dalam pikiran. Tiba-tiba bayangan Maya dan Aditya yang sedang memadu kasih muncul dalam benaknya. "Tidak, aku tidak boleh termakan oleh omongan Sarah. Dia hanya ingin membuatku marah," batin Bhaskara sembari terus fokus menyetir. Beberapa menit kemudian mobil BMW hitam metalik yang dikendarai Bhaskara telah memasuki pintu gerbang rumahnya. Lelaki itu tidak memperdulikan security yang menyapanya. Bhaskara bergegas menuju lantai dua di kamar utama. Kedua matanya melebar sempurna saat membuka pintu kamar dan mendapati Aditya dan Maya sedang berada di dalamnya dengan posisi yang tak biasa. "Maya, Adit?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD