"Hamil? Sepertinya tidak. Maya mungkin hanya masuk angin karena kecapean," balas Bhaskara cepat. Lelaki itu berpikir, tidak mungkin Maya hamil karena selama ini mereka selalu menggunakan pengaman saat berhubungan.
"Oh kalau begitu. Sebaiknya Pak Bhaskara segera membawa istrinya pulang agar bisa beristirahat," ucap Ika.
"Iya, Bu Ika. Sekali lagi kami minta maaf karena harus pulang lebih awal." Bhaskara merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa Pak Bhaskara, semoga istrinya segera sehat, ya."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Bu." Bhaskara kemudian berpamitan pada petinggi Royal Group hotel dan para staf yang mengikuti meeting dan meminta Roy tetap di sana apabila dibutuhkan.
"Kita ke dokter ya, May. Kamu pucat sekali," ucap Bhaskara saat perjalanan pulang.
"Nggak usah, Om. Aku nggak papa, paling hanya butuh istirahat." Maya bersikeras menolak karena tidak ingin merepotkan.
"Nggak! Kali ini kamu nggak boleh nolak. Aku nggak mau kamu sakit," paksa Bhaskara. Maya pun akhirnya hanya bisa pasrah saat lelaki itu membelokkan mobilnya ke sebuah klinik yang kebetulan mereka lewati. Bhaskara langsung membawa Maya ke IGD agar bisa segera ditangani tanpa mengantri.
"Istri saya sakit apa, Dok?" tanya Bhaskara saat lelaki berpakaian dokter itu keluar dari ruang IGD setelah menangani Maya.
"Istri anda hanya kelelahan dan anemia. Ini biasa terjadi pada wanita hamil di trimester pertama."
"Apa? Hamil? Istri saya hamil?" tanya Bhaskara memastikan.
"Benar sekali, Pak. Istri Anda sedang hamil dan baru masuk minggu ke-5. Jadi, masih sangat kecil dan rentan. Ini vitamin dan obat penguat kandungan. Silakan dibeli di apotek," ucap lelaki berpakaian dokter itu sembari menyerahkan resep kepada Bhaskara,
"Setelah ini istri Anda boleh pulang. Tapi harus banyak istirahat," pesan dokter sebelum berbalik meninggalkan Bhaskara yang masih bengong. Entah kenapa tangannya gemetaran memegang resep pemberian dokter tersebut.
"Maya hamil? Kenapa bisa begini? Kami selalu memakai pengaman kecuali saat pertama kali kami melakukannya. Apa mungkin saat pertama kali itu langsung jadi? Ah, sial! Kenapa Maya harus hamil?" batin Bhaskara sembari memejamkan mata. Lelaki itu kemudian bergegas ke Apotek untuk menebus resep dari dokter.
"Om, sebenarnya saya sakit apa?" tanya Maya saat perjalanan pulang. Bhaskara hanya menghela napas panjang dan tetap fokus menyetir. Maya pun tidak berani bertanya lagi.
"Kapan kamu terakhir menstruasi?" Pertanyaan Bhaskara membuat Maya sontak menoleh ke arah sang suami. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kenapa Om bertanya seperti itu?"
"Jawab saja! Kapan kamu terakhir menstruasi?" Bhaskara baru teringat kalau selama menikah dengannya, Maya sama sekali belum pernah menstruasi. Bahkan setiap malam semenjak menikah, Bhaskara selalu menggempur sang istri dan meminta wanita itu untuk melayani kebutuhan biologisnya setiap hari.
"Kalau tidak salah bulan kemarin tanggal pertengahan sebelum menikah dengan Om," balas Maya membuat Bhaskara melebarkan kedua matanya dan menoleh ke arah wanita itu.
"Jadi, saat kita menikah kamu baru selesai menstruasi?" tanya Bhaskara memastikan. Maya pun menjawab dengan anggukan kepala membuat Baskara mencengkram kuat setir mobilnya.
"Ada apa, Om?"
"Kamu hamil."
"Apa?" Maya terkejut dan menoleh ke arah sang suami dengan penuh rasa tak percaya.
"Maafkan aku, Maya. Aku sudah berusaha memakai pengaman dan aku tak menyangka kalau kamu tetap hamil juga."
"Om tidak menginginkan anak ini?" tanya Maya sedih. Jujur, wanita itu sudah mulai nyaman dengan Bhaskara. Meskipun lelaki itu terkadang dingin dan arogan, tetapi ada sisi pengayom dan pelindung seorang Bhaskara yang tidak ditampakkan.
Maya yang belum pernah mendapatkan kasih sayang seorang laki-laki, bahkan dari ayahnya sendiri merasa menemukan sosok pengayom dari dalam diri Bhaskara. Meski pada akhirnya, wanita itu harus bersiap menelan pil pahit karena sadar kalau Bhaskara menikahinya tanpa rasa cinta. Tentu saja kehadiran anak dalam kandungannya pun tidak pernah diharapkan oleh lelaki itu.
"Aku hanya tidak ingin merusakmu, Maya. Kamu masih muda. Aku berharap suatu hari nanti saat telah selesai denganku, kamu bisa menemukan pasangan yang seusia denganmu dan hidup berbahagia." Mendengar ucapan Bhaskara, Maya sadar kalau lelaki itu tidak akan selamanya menjadikannya istri.
"Om tidak ingin punya anak lain selain Aditya? Om tidak ingin punya anak dari seorang wanita yang tidak Om cinta aku tahu hanya mamanya Aditya yang Om cinta."
"Bukan begitu. Aku hanya tidak pernah berpikir untuk punya anak lagi. Aku sudah tua," sangkal Bhaskara.
"Jadi benar Om tidak menginginkan bayi ini? Apa Om ingin aku menggugurkannya?" tanya Maya sedih.
"Nggak! Jangan, itu dosa. Aku akan tetap tanggung jawab pada anak itu." Maya tidak bertanya lagi. Wanita itu memalingkan wajah ke arah luar kaca mobil dan menyandarkan punggungnya sembari memejamkan mata.
Sementara Bhaskara hanya bisa membuang napas kasar karena tak menyangka kalau benih yang ia tanamkan tanpa sengaja di malam pertama pernikahan mereka akan tumbuh di rahim Maya. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mobil yang dikendarai Bhaskara sampai di rumah.
Melihat Maya yang tertidur pulas, Bhaskara tidak tega untuk membangunkannya. Lelaki itu menatap wajah polos Maya yang terlihat damai saat tertidur. Hatinya berdesir. Ada rasa iba di hatinya jika mengingat saat ini Maya mengandung anaknya.
"Apa ini cara Tuhan untuk memperingatkan aku agar tidak mempermainkan Maya? Apa ini teguran buatku agar menjadikan pernikahan ini bukan sekadar permainan? Aku akan menjadi ayah lagi setelah sekian tahun Aditya tidak punya adik. Mungkin sudah saatnya aku menggantikan posisi Sarah dengan Maya. Dia wanita yang baik dan penurut, meski mungkin itu semua dia lakukan karena takut. Tapi jujur, Maya membuatku merasa lebih muda dan bersemangat."
Bhaskara menyentuh pipi Maya dengan lembut. Bibir mungilnya yang selalu memabukkan baginya seolah melambai-lambai, membuat Bhaskara ingin melumatnya. Bayangan wajah Maya yang mengerang kesakitan saat dirinya beraksi di atas ranjang sukses membuat junior kecil di balik celananya tiba-tiba menegang, seolah ingin berontak mencari sarangnya.
"Ah, kenapa setiap melihat Maya, aku selalu ingin mengeksekusinya di atas ranjang?" Bhaskara tidak tahan lagi. Lelaki itu pun mendaratkan ciuman panas di bibir Maya membuat wanita itu terkejut dan membuka matanya. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan perlakuan sang suami.
"Jangan di sini, Om!" tahan Maya saat tangan Bhaskara mulai bergerilya menyentuh area tubuhnya yang terlarang.
"Kita ke kamar. Aku sudah nggak tahan," bisik Bhaskara, lalu keluar mobil. Maya hanya bisa menghela napas panjang dan mengikuti langkah sang suami menuju kamar mereka.
Bhaskara segera mengunci pintu kamar dan tanpa basa-basi lagi melucuti baju Maya, lalu menyerang wanita itu seperti singa yang kelaparan. Beberapa tanda merah ia sematkan di sepanjang leher d**a dan perut Maya membuat wanita itu seolah melayang di cakrawala.
"Om, apa ini aman untuk kandunganku?" tahan Maya saat Bhaskara hendak melakukan penyatuan. Spontan lelaki itu menjauhkan tubuhnya dari Maya.
"Ah, iya. Tadi Dokter bilang aku harus menahan diri karena kandunganmu lemah," ucap Bhaskara sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Hampir saja lelaki itu kebablasan lagi.
"Jadi?"
"Terpaksa kita tunda dulu. Aku nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan baik kita," balas Bhaskara sembari beranjak dari ranjang dan mengambil kembali baju-bajunya untuk dipakai.
Sementara itu, hati Maya menghangat mendengar ucapan sang suami. Wanita itu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Maafkan saya, Om," ucap Maya saat melihat kekecewaan di wajah Bhaskara.
"Nggak apa-apa. Bukan salahmu juga. Itulah sebabnya aku tidak mau kamu hamil karena mau nggak mau aku harus berpuasa," balas Bhaskara sembari membuang napas kasar. Sementara Maya terlihat kecewa dengan jawaban sang suami barusan.
Bhaskara mengambil sebatang rokok, lalu menyalakan dan menghisapnya untuk mengalihkan perhatian junior kecilnya agar tertidur kembali.
"Pakai kembali bajumu dan makanlah di bawah! Tadi kamu belum makan sama sekali. Kasihan bayi kita," ucap Bhaskara sembari menghembuskan asap rokoknya, lalu beranjak ke balkon agar sang istri tidak terkena dampak dari asap rokoknya. Sedangkan Maya juga kembali memakai pakaiannya dan bergegas ke dapur mencari makanan karena perutnya sudah sangat lapar.
"Nona Maya tumben makannya banyak banget?" tanya Sundari, asisten rumah tangga di rumah Bhaskara yang terheran melihat Nyonya rumahnya tiba-tiba begitu berselera makan.
"Iya, Bik. Nggak tahu, nih. Tiba-tiba pengen makan banyak aja. Mungkin bawaan bayi kali, ya," balas Maya membuat Sundari melebarkan kedua matanya karena terkejut.
"Nona hamil?" tanya Sundari sembari menatap Maya yang hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tanpa mereka sadari, Aditya yang hendak ke dapur untuk mengambil minuman pun terkejut mendengar obrolan kedua wanita itu.
"Apa? Jadi Maya hamil?" batinnya kesal sembari mengepalkan kedua tangan.