Bab 12. Pusing

1153 Words
"Maya, Adit, kalian--" Bhaskara tidak melanjutkan ucapannya saat melihat dua sejoli itu sontak menoleh ke arahnya. "Mas, jangan salah paham dulu. Tadi itu kepalaku pusing sekali kayak mau jatuh. Terus nggak sengaja Adit tolongin aku. Iya kan, Dit?" Maya menoleh ke arah Aditya seolah meminta dukungan. "Iya, Pa. Tadi kepala Maya tiba-tiba pusing dan kayak mau jatuh," balas Aditya membenarkan. "Kamu sakit, May?" Bhaskara yang tadinya sudah hampir marah, seketika melembut melihat wajah Maya yang memang pucat. "Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba kepalaku pusing." "Aku antar ke dokter, ya!" tawar Bhaskara. "Nggak usah, Mas. Hanya pusing biasa, nanti juga hilang. Mungkin tadi malam aku kurang tidur karena nonton drakor sampai larut," tolak Maya. Wanita itu merasa masih baik-baik saja, hanya sedikit pusing tidak perlu ke dokter. "Ya sudah kalau begitu. "Papa tumben nyusul kami ke kampus, ada apa?" tanya Aditya heran. "Papa lupa kalau ada acara penting yang harus mengajak Maya pagi ini. Kamu beneran nggak papa kan, May?" "Insya Allah aku baik-baik saja, Mas udah biasa begini, kok." "Baiklah, hari ini kamu nggak usah kuliah dulu, ya. Ikut aku sebentar." Bhaskara meraih pergelangan tangan Maya lalu mengajaknya pergi. Sementara Aditya mengepalkan kedua tangannya sembari melihat punggung keduanya yang semakin menjauh. "Papa benar-benar sudah melupakan Mama," batin Aditya kesal. Ingatannya kembali pada kenangan satu tahun lalu saat masih bersama Maya. Meski mereka hanya berteman saja, tetapi Aditya punya harapan besar kalau suatu saat nanti Maya akan menerima cintanya. Namun, kini semua hancur karena ternyata Maya diam-diam menikah dengan sang papa. Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ternyata panggilan dari Sarah. "Adit, kamu lagi di kampus?" tanya wanita itu dari seberang telepon. "Iya, Ma. Kenapa?" "Apa Maya bersamamu?" "Tadinya sih iya, tapi tiba-tiba Papa datang dan mengajaknya pergi." "Apa? Jadi beneran Bhaskara mengajak Maya untuk bertemu dengan Royal Group hotel?" tanya Sarah kesal. "Aku nggak tahu, Ma. Tadi Papa tiba-tiba ngajak Maya pergi dan nggak bilang mau ke mana." "Kamu ini bagaimana sih, Dit? Sudah satu bulan kamu tinggal di rumah papamu dan nggak ada hasilnya. Mama memintamu tinggal di sana untuk memisahkan papamu dari Maya. Kenapa mereka malah tambah dekat?" tanya Sarah kesal. Wanita itu benar-benar merasa cemburu pada Maya. Sarah takut Bhaskara akan benar-benar berpaling darinya dan jatuh cinta kepada Maya. Jujur, Sarah menyesal telah menghianati Bhaskara dengan Adrian. "Mama tenang saja. Semua itu nggak bisa instan. Aku harus mengambil hati papa dan juga Maya. Biar mereka percaya sama aku." "Alah, kelamaan. Keburu papamu benar-benar terpikat sama Maya dan ngelupain Mama. Kamu mau seperti itu? Kamu harus bergerak cepat, Aditya) Mama tahu betul saat ini papamu masih mencintai Mama. Maya itu hanya pelarian saja untuk papamu. Lebih cepat lebih baik. Kamu harus segera memisahkan mereka. Mama sudah tidak menemui Adrian lagi. Semua itu demi bisa kembali sama papa kamu." "Iya, Ma. Iya. Mama tenang saja. Aku juga nggak rela kok Papa bahagia sama Maya. Kalau aku nggak bisa memiliki Maya, maka Papa pun tidak boleh." "Apa maksudmu, Dit? Kamu menyukai Maya?" "Iya, Ma. Aku menyukai Maya sejak SMA dan semuanya hancur gara-gara Papa menikahinya." "Adit, lebih baik kamu ngelupain cewek matre itu. Masih banyak gadis lain yang lebih pantas buat kamu." "Tapi Maya Bukan gadis matre, Ma. Adit kenal betul siapa Maya." "Kamu jangan belain dia. Mana ada wanita muda seperti Maya mau menikah dengan lelaki yang lebih pantas jadi ayahnya seperti papamu kalau tidak karena hartanya. Mama dengar, bapaknya Maya itu punya hutang banyak pada Bhaskara dan tidak bisa membayar. Lalu dia menikahkan Maya dengan papamu." "Apa itu benar, Ma?" tanya Aditya tak percaya. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, nggak penting bagi mama. Yang jelas kamu harus segera bergerak bikin mereka berpisah. Juga bikin Mama kembali sama Papa," titah Sarah. "Aku yakin bisa memisahkan mereka, Ma. Tapi untuk membuat Papa kembali pada Mama sepertinya sulit. Papa sudah sangat terluka. Jadi, harus Mama sendiri yang usaha." "Oke Mama pasti bisa bikin papamu kembali. Asalkan wanita itu sudah pergi dari sisinya." "Mama tenang saja. Aku akan segera jalankan rencanaku." "Bagus, Dit. Kamu selalu bisa Mama andalkan. Terima kasih, Sayang." Sementara itu, sebelum mengajak Maya bertemu dengan rekan bisnisnya dari Royal Group Hotel, terlebih dahulu Bhaskara membawa sang istri ke salon. Tidak mungkin lelaki itu mengajak Maya yang berpenampilan layaknya anak abege berangkat kuliah bertemu dengan para kliennya. Bhaskara ingin Maya tampil lebih dewasa sehingga pantas bersanding dengannya. Pemilik salon langganan Bhaskara pun sudah tahu apa yang diinginkan oleh kliennya, sehingga memerintahkan para anak buahnya untuk merubah penampilan Maya yang masih sangat terkesan abege menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun. Bhaskara yang selalu puas dengan hasil kerja mereka pun tidak lupa memberikan uang tips. Sejenak lelaki itu terpesona melihat penampilan Maya pagi itu. Meski hanya menggunakan dress pendek putih dibalut blazer hitam serta rambut yang terurai, tetapi Maya terlihat lima tahun lebih dewasa daripada usia sebenarnya. "Om, aku gugup sekali. Apa yang harus aku lakukan nanti?" tanya Maya saat keduanya sudah berada di mobil. "Kamu hanya perlu mendampingi aku dan jangan berkata apapun kalau mereka tidak bertanya. Sebisa mungkin biar aku yang menjawab pertanyaan mereka nanti. Kamu mengerti?" "Baik, Om." Bhaskara kemudian menjalankan mobilnya menuju Royal Hotel Surabaya. Keduanya sudah ditunggu oleh kliennya di lobby hotel. Sementara Roy sudah lebih dahulu berada di sana dua jam yang lalu. Kedatangan Baskara dan Maya disambut baik oleh petinggi Royal Group hotel. Mereka bahkan terkagum melihat Maya yang begitu cantik dan anggun serta terlihat dewasa. Setelah membicarakan urusan bisnis, tiba saatnya mereka makan siang bersama. Bhaskara merasa lega karena pembicaraan bisnis berjalan lancar serta para petinggi Royal Group Hotel tidak menginterogasi Maya. Lagi pula menurut Bhaskara, Royal Group hotel akan tetap mengajaknya bekerja sama seperti biasa. Tidak seperti dugaan Roy yang menyangka proyek ini tidak akan goal karena tidak mengajak Sarah ikut serta. Saat makanan sudah siap, tiba-tiba perut Maya terasa mual. Wanita itu merasa ingin muntah saat mencium bau seafood yang menjadi menu utama makan siang mereka. Namun, karena takut membuat malu Bhaskara, Maya pun berusaha menahan diri agar tidak muntah. Alhasil, wajahnya tampak pucat dan berkeringat "Jeng Maya kurang sehat, ya? Wajahnya kok pucat?" tanya Ika, istri dari petinggi Royal Group Hotel membuat Bhaskara sontak menoleh ke arah istrinya. "May, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bhaskara sembari memegang tangan sang istri. Namun, seketika Maya tidak bisa menahan lagi. Wanita itu segera berlari ke toilet yang berada tak jauh dari tempat mereka makan dan memuntahkan isi perutnya. Sontak hal tersebut membuat Bhaskara panik. "Kamu kenapa, May?" tanya Bhaskara sembari mengikuti Maya dari belakang. Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Maya pun berbalik menatap sang suami yang sudah berdiri di belakangnya. "Maafkan saya kalau membuat Om malu," ucap Maya sembari menundukkan wajah. Wanita itu terlihat lemas. "Kalau kamu sakit, kita pulang saja. Lagian meetingnya juga sudah selesai," ajak Bhaskara. Entah kenapa lelaki kita tidak tega melihat Maya yang pucat dan lemas. "Apa mungkin Jeng Maya sedang hamil?" Pertanyaan Ika, istri petinggi Royal Group Hotel yang ternyata juga mengikuti keduanya ke toilet membuat Bhaskara dan Maya seketika saling memandang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD