Bab 11. Apa Aku Cemburu?

1036 Words
"Alhamdulillah kalau keadaan ibu dan Nathan baik-baik saja," batin Maya beberapa saat setelah dihubungi oleh Kamila, saudara Rossa yang rumahnya dikontrak oleh Weni. Wanita itu mengabarkan kepada Maya kalau keadaan Weni dan Nathan sehat-sehat saja. Bahkan mulai hari ini Weni sudah membuka warung nasi di dekat sebuah tempat wisata yang ada di Kabupaten Malang. Di hari pertama buka warung, dagangan Weni cukup laris karena selain harganya murah, masakan Weni juga sangat enak, sehingga para pengunjung tempat wisata berbondong-bondong makan di tempat ibu Maya tersebut. Sementara Nathan sudah mulai bersekolah di sekolah dasar yang ada di dekat rumah kontrakan mereka. Anak lelaki itu juga sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya. Selain itu, Kamila juga menceritakan kalau ada dua orang lelaki berpakaian hitam yang selalu mengawasi ibu dan adiknya. Mereka mengaku sebagai orang suruhan Bhaskara Adiwijaya yang ditugaskan untuk menjaga Weni dan Nathan dari gangguan Hendra yang sampai saat ini masih menjadi buronan polisi. "Kenapa lo senyum-senyum sendiri, May? Sepertinya hati lo lagi senang, ya?" Pertanyaan seorang laki-laki membuat Maya yang baru saja menerima telepon dari Kamila di taman depan rumah terkejut. Tanpa ia sadari, Aditya sudah berdiri belakangnya kembali tersenyum. "Kelihatan banget, ya?" tanya Maya merasa malu. "Iya, ekspresi wajah lo tuh nggak bisa bohong. Memangnya kenapa?" tanya Aditya ingin tahu. Beberapa hari terakhir setelah tinggal di rumah sang Papa, Aditya mulai mendekati dan mengakrabkan diri Maya. Meskipun keduanya sempat canggung karena di masa lalu Maya pernah menolak menjadi pacar Aditya. Kini saat harus dipertemukan sebagai ibu dan anak tiri, Aditya berusaha bersikap baik, meskipun sebenarnya tidak tulus karena ada maksud tersembunyi. Sementara Maya sangat menjaga batasan dengan ajak tirinya itu, meskipun tidak benar-benar dianggap selayaknya istri oleh Bhaskara. "Gak ada apa-apa, kok," balas Maya tanpa mau bercerita pada Aditya. Maya tidak mau curhat pada Aditya karena takut akan menjadi nyaman dengan lelaki itu. Lebih baik menjaga jarak. Itu yang tertanam dalam pikiran Maya. "Kalau nggak mau cerita, gak papa. Tapi, kapanpun lo butuh tempat untuk berkeluh kesah, gue siap kok mendengarkan cerita lo. Ya ... walaupun kita nggak bisa lagi seperti dulu karena gue sekarang adalah anak tiri lo." "Iya makasih, Dit," balas Maya singkat. "Ya sudah, ayo kita berangkat! Keburu macet," ajak Aditya. Keduanya pun bergegas ke mobil. Tanpa mereka sadari, Bhaskara memperhatikan keduanya dari balkon kamar lelaki yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya itu memperhatikan istri dan putranya hingga keduanya masuk mobil dan berangkat keluar dari gerbang rumah. "Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku merasa nggak rela Maya bersama dengan Aditya. Ya Tuhan, mereka terlihat akrab sekali. Bahkan wajah Maya terlihat sangat bahagia. Apa karena mereka seusia, jadi obrolan mereka bisa nyambung. Atau apa aku sedang cemburu?" Bhaskara mengusap kasar wajahnya. Lelaki itu kemudian bergegas berangkat ke kantor. Satu bulan berlalu. Bhaskara mendapatkan kabar dari polisi kalau Hendra telah ditangkap di sekitar Kabupaten Malang. Lelaki itu memberikan informasi kepada polisi berdasarkan laporan dari anak buahnya yang sedang mengawasi Weni dan Nathan yang tinggal di sebuah rumah kontrakan milik wanita bernama Kamila yang tidak lain adalah saudara Rossa. Anak buah Bhaskara melaporkan kalau Hendra sempat datang ke warung nasi Weni untuk meminta sejumlaj uang, juga mendatangi sekolah Nathan dan berusaha menculik bocah lelaki itu. Namun, hal tersebut digagalkan oleh anak buah Bhaskara yang memang sudah ditugaskan untuk mengawasi dan melindungi keduanya. Berdasarkan informasi anak buah Bhaskara tersebut, polisi segera datang ke TKP dan menangkap Hendra. Kini suami Weni itu telah ditetapkan sebagai tersangka kasus KDRT dan juga penjualan wanita yang dalam hal ini korbannya adalah Weni sendiri. "Akhirnya benalu itu tertangkap juga," batin Bhaskara lega. Lelaki itu berniat memberitahukan kabar gembira ini kepada Maya yang sudah berangkat kuliah bersama Aditya. Namun, ponselnya malah berdering karena ada panggilan masuk Ternyata panggilan dari Roy, asisten pribadinya. "Selamat pagi, Pak. Saya sudah berada di tempat meeting." "Oh, ya? Aku baru mau berangkat," balas Bhaskara sembari melangkahkan kaki keluar menuju mobilnya. Gara-gara mendapatkan kabar dari polisi bahwa Hendra telah tertangkap, membuat lelaki itu sampai lupa kalau harus meeting pagi-pagi. "Anda tidak perlu buru-buru, Pak. Ternyata ada perubahan jadwal. Meeting diundur dua jam dari sekarang dan sesuai permintaan pimpinan pihak Royal Group Hotel, Anda diminta datang bersama istri." "Oh begitu. Baiklah." "Maaf, Pak. Anda akan datang dengan Nona Maya atau Nyonya Sarah? Mengingat istri petinggi Royal Group Hotel adalah teman baik Nyonya Sarah," tanya Roy. "Apa kamu sudah gila? Tentu saja aku akan datang dengan Maya. Sarah bukan lagi istriku," balas Bhaskara kesal. "Maaf, Pak. Saya tau Nyonya Sarah bukan istri Anda lagi, tetapi beliau punya peranan penting dalam menjalin kerjasama dengan Royal Group Hotel. Apa tidak sebaiknya kita mengajak beliau?" usul Roy. Selama ini Royal Group Hotel selalu memilih kafe milik Bhaskara untuk menjamu tamu-tamu penting yang menginap di tempatnya, termasuk tamu-tamu istimewa kenegaraan baik dari dalam maupun luar negeri. Pertemuan kali ini adalah karena Royal Group Hotel diberi mandat oleh pemerintah setempat untuk mengawal tamu-tamu dari kedutaan besar Rusia yang mengadakan kunjungan ke Surabaya. Roy berharap kafe milik Bhaskara bisa dijadikan tempat makan para tamu-tamu tersebut, sehingga semakin go internasional. "Aku tidak mau berhutang budi dengan Sarah. Kalau toh Royal Group Hotel tidak mau lagi bekerja sama denganku dan memilih cafe atau restoran lain karena aku telah bercerai dengan Sarah, itu tidak masalah. Aku tetap akan membawa Maya. Dia istriku sekarang." "Maaf, Pak. Tapi ini tender besar. Apa tidak sayang?" "Kalau mereka tidak jadi kerjasama dengan kita hanya karena aku tidak mengajak Sarah, berarti mereka tidak profesional. Aku yakin akan ada rezeki lain." "Apa Anda benar-benar serius dengan Nona Maya? Atau Anda hanya sedang memanas-manasi Nyonya Sarah? Maaf, Pak. Menurut yang saya dengar, Nyonya Sarah telah mengajak Anda rujuk." "Itu urusanku. Tugasmu hanya menghandle semua yang berhubungan dengan pekerjaan, bukan urusan pribadiku," balas Bhaskara kesal, lalu menutup teleponnya. Sedangkan Roy mengusap wajahnya dengan kasar. Lelaki itu merasa kerjasama kali ini dengan Royal Group Hotel akan gagal. Sementara itu, Bhaskara segera menyusul Maya ke kampus. Lelaki yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah 45 tahun itu membelokkan mobilnya ke area parkir kampus saat sampai di kampus tempat Maya dan Aditya belajar. Bhaskara melihat mobil Aditya terparkir tidak jauh dari tempatnya. Lelaki itu bergegas mendekat. Namun, langkahnya terhenti saat melihat putranya itu memeluk Maya. Seketika darahnya mendidih. "Apa yang mereka lakukan?" batin Bhaskara sembari mengepalkan kedua tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD