Bab 10. Terbawa Perasaan

1051 Words
"Siapa yang telepon malam-malam begini?" tanya Bhaskara dengan raut wajah kesal saat ponsel Maya berulang kali berdering, padahal keduanya sudah bersiap hendak melakukan ritual suami istri. Semula Maya berniat mengabaikannya karena takut Bhaskara marah. "Dari Ayah, Om. Biar saya telepon lagi nanti," balas Maya setelah melihat layar ponselnya. Wanita itu berniat menolak panggilan dari Hendra dan mematikan ponselnya karena takut Bhaskara marah. Namun, lelaki itu mencegahnya. "Angkat saja! Siapa tahu penting," ucap Bhaskara sembari memakai kembali ke mejanya, lalu mengambil sebatang rokok. Bhaskara berjalan ke arah balkon kamar dan menyalakan rokonya. Itu adalah salah satu caranya untuk mengalihkan perhatian junior kecilnya yang sudah menegang, tetapi harus tertunda karena Maya menerima telepon dari Hendra. Bhaskara sengaja menjauh agar Maya bisa leluasa berbicara dengan Hendra. Lelaki itu sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Ayah Maya itu lewat telepon. "Halo, Ayah. Ada apa?" tanya Maya begitu telepon tersambung. "Heh, anak durhaka! Kamu pasti yang sudah melaporkan Ayah ke polisi, kan?" tuduh Hendra membuat Maya terkejut. Memang Wanita itu sudah berniat untuk melaporkan sang ayah ke polisi. Namun, belum terlaksana karena hari ini jadwal kuliahnya sangat padat sampai sore. Rencananya Maya baru akan ke kantor polisi besok pagi ditemani Aditya. "Apa maksud Ayah? Aku tidak mengerti," balas Maya jujur. "Jangan pura-pura bodoh, May. Aku yakin kamu yang melaporkan Ayah ke polisi. Kamu pasti sekarang sedang tertawa karena Ayah sekarang jadi buronan polisi." "Sungguh, Yah. Aku nggak tahu apa-apa." "Syah nggak mau tau. Secepatnya kamu harus ke kantor polisi, lalu batalkan laporanmu atau aku akan menyakiti Weni dan Nathan. Jangan kamu pikir mereka sudah aman. Aku tahu di mana mereka." "Jangan sakiti ibu dan Nathan. Sungguh bukan aku yang melaporkan Ayah." "Jangan bohong! Kalau sampai besok kamu belum membatalkan laporan itu, maka kamu akan menyesal, May. Mungkin selamanya kamu tidak akan pernah bertemu dengan Nathan dan Ibunya lagi. Kalau sama-sama masuk penjara, lebih baik sekalian aku bunuh Weni dan Nathan. Kamu tahu aku bisa senekat apa?" "Jangan, Yah. Jangan sakiti mereka. Sungguh bukan aku yang melaporkan Ayah," ucap Maya sembari menangis. Tubuhnya luruh ke lantai membayangkan kalau Hendra benar-benar menemukan ibu dan adiknya yang kini bersembunyi di Kabupaten Malang, lalu membunuh keduanya. "Aku tidak janji. Kalau sampai besok polisi masih menburuku, maka bersiap-siap saja mendengar berita kematian mereka. Pilih salah satu dari mereka, kamu ingin Weni atau Nathan terlebih dahulu yang aku habisi." "Jangan, Ayah! Jangan!" teriak Maya. Namun, panggilan telah diputus sepihak olej Hendra. Gadis itu menangis dalam kondisi bersimpuh di lantai kamar. Maya segera menghubungi saudara Rossa yang rumahnya dikontrak oleh ibunya. Tadi siang, Rossa sempat mengirimkan nomor saudaranya untuk berkomunikasi apabila Maya ingin menanyakan kabar soal ibu dan adiknya. Namun, sayang nomor teleponnya tidak aktif. Menurut Rossa, di sana memang kurang bagus sinyalnya. "Ya Allah, tolong lindungi ibu dan Nathan," batin Maya sembari meletakkan ponsel di dadanya. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan berdoa untuk keselamatan ibu dan adiknya. Bhaskara yang telah menghabiskan sebatang rokok kembali ke kamar dan terkejut menjumpai Maya sudah bersimpuh di lantai dan menangis. Lelaki itu mendekat dan membantu Maya berdiri "Apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis?" tanyanya sembari menatap Maya heran. Bhaskara berpikir seharusnya wanita itu senang karena Hendra sekarang menjadi buronan polisi tapi mengapa malah menangis. "Maaf, Om." Maya menghapus air matanya lalu berdiri. "Apa yang dikatakan Hendra padamu?" tanya Bhaskara penasaran. Terpaksa Maya menceritakan semua pada Bhaskara bahwa ayahnya mengancam keselamatan ibu dan adiknya jika Maya tidak membatalkan laporan. Maya juga menceritakan kalau sekarang ibu dan adiknya sedang diungsikan ke Kabupaten Malang untuk menghindari Hendra. "Tapi masalahnya, bukan saya melaporkan Ayah," ucap Maya sambil terisak. Entah kenapa Bhaskara merasa tak tega, lalu mendekap wanita itu ke dalam pelukan. Maya pun tanpa sadar menumpahkan tangisnya di d**a sang suami. Selama ini, Maya tidak pernah punya sosok lelaki yang menjaga dan melindunginya karena sedari kecil, Hendra tak berperan selayaknya seorang ayah kepada anak perempuannya. Untuk sejenak, Maya merasa nyaman melepaskan beban tangisnya di dalam pelukan sang suami. "Maaf, Om. Saya terlalu terbawa perasaan," ucap Maya sembari melepaskan pelukan Bhaskara. Meski merasa heran terhadap sikap sang suami yang tiba-tiba peduli, tetapi Maya tidak ingin larut dalam perasaannya karena wanita itu takut akan kecewa. Maya tahu pasti apa tujuan Bhaskara menikah dengannya. "Om mau melanjutkan yang tadi? Saya sudah siap," ucap Maya setelah menghapus air matanya. Wanita itu buru-buru berhias di depan cermin dan menempelkan riasan tipis di wajahnya agar bekas tangisnya tak terlihat lagi. Maya takut Bhaskara marah karena malam ini tidak melayaninya dengan baik. "Nggak perlu. Kamu istirahat saja," tolak Bhaskara sembari berniat meninggalkan kamar. "Om marah?" tanya Maya khawatir, membuat Bhaskara berbalik dan menatapnya. "Kamu sedang sedih. Nggak enak dipandang. Istirahat saja dan jangan khawatirkan ibu dan adikmu. Aku akan mengirimkan orang untuk menjaga mereka agar Hendra tidak bisa menyakitinya." Ucapan Bhaskara membuat Maya melebarkan kedua matanya. "Sungguh, Om? Kenapa Om baik sekali?" tanya Maya sembari menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. Ternyata dibalik sisi dingin dan arogannya, Bhaskara masih peduli terhadapnya. "Karena aku nggak mau kamu sedih. Kalau kamu sedih, aku jadi hilang gairah, seperti malam ini," balas Bhaskara membuat Maya kecewa. Tadinya wanita itu berpikir sang suami berbaik hati padanya karena telah sedikit membuka hati untuknya. Namun, ternyata tujuannya tidak jauh-jauh dari urusan ranjang. "Saya minta maaf kalau malam ini membuat Om jadi hilang gairah. Saya--" "Sudahlah! Sekarang tidurlah yang cukup. Barangkali besok pagi aku menginginkanmu." Setelah berkata demikian Bhaskara melangkahkan kaki keluar kamar. Namun, baru beberapa langkah, lelaki itu berhenti dan berbalik menghadap ke arah Maya. "Oh, ya. Aku yang melaporkan Hendra ke polisi karena dia memerasku. Aku rasa lebih baik dia di penjara daripada menjadi benalu bagiku." Ucapan Bhaskara membuat Maya terkejut. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau Bhaskaralah yang telah melaporkan ayahnya ke polisi. Belum sempat Maya menanggapi ucapan sang suami, lelaki itu sudah berbalik keluar dari kamar. Bhaskara melangkah menuju kamar lain yang ada di samping kamar Maya, lalu menutup pintunya rapat. Lelaki itu menempelkan punggungnya di balik pintu dan memejamkan mata. "Ada apa dengan diriku? Kenapa aku ikut merasa sedih saat melihatnya menangis? Mengapa d**a ini berdebar saat dia meluapkan tangis dalam pelukanku? Apa aku sudah mulai terbawa perasaan? Tidak, aku tidak boleh menjadi lelaki bucin dan bodoh lagi. Cukup Sarah yang membuatku sakit karena cinta. Tidak boleh ada wanita lain yang membuatku jatuh ke lubang yang sama," batin Bhaskara sembari mengusap kasar wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD