Bab 9. Licik dan Cerdik

1021 Words
"Ada seseorang ingin bertemu Anda, Pak," ucap Roy, asisten pribadi Bhaskara setelah sebelumnya mengetuk pintu ruangan. "Siapa? Sudah ada janji?" tanya Bhaskara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Namanya Hendrawan. Dia mengaku sebagai mertua Anda dan belum ada janji," balas Roy membuat Bhaskara mengangkat pandangannya. "Mau apa dia ke sini?" tanya Baskara kesal. "Saya kurang tahu, Pak." "Baiklah, suruh dia masuk!" Roy mengangguk kemudian keluar ruangan. Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki masuk ke ruangan Bhaskara. "Ada apa ke sini?" tanya Bhaskara dingin. Lelaki itu bisa menebak kalau Hendra datang ke kantornya pasti untuk meminta uang. "Sorry, Bhas. Aku terpaksa ke sini karena aku butuh uang." Mendengar jawaban Hendra, Bhaskara hanya menghela napas panjang. "Jangan mentang-mentang sekarang jadi mertuaku, lantas kamu seenaknya saja minta uang. Ingat, Maya hanya istri sementara. Setelah tidak membutuhkannya lagi, aku akan membuangnya. Jadi, jangan pernah mengaku sebagai ayah mertuaku pada siapapun lagi setelah ini," balas Bhaskara marah. Sejak awal niatnya menikah dengan Maya hanya untuk melayani kebutuhan biologisnya serta membuat Sarah cemburu dan sakit hati. Bhaskara tidak pernah berniat sungguh-sungguh membina rumah tangga dengan Maya. "Maaf, Bhas. Kamu jangan marah. Sekali ini saja. Aku butuh uang. Maya itu pelit. Uang mahar darimu dia simpan sendiri. Sama sekali dia tidak memberikanku sepeserpun. Padahal aku harus membayar katering, penghulu dan lain-lain untuk pernikahan kalian kemarin. Dapat dari mana aku uang?" ucap Hendra mulai membual. Bhaskara hanya tersenyum miring mendengar ucapan ayah dari istrinya tersebut. Bhaskara tau betul kalau sebenarnya uang mahar yang ia berikan pada Maya telah dihabiskan Hendra untuk bermain wanita dan juga berjudi. Tanpa diketahui Hendra, Baskara mengirimkan orang untuk mengawasi Ayah Maya itu. Bhaskara juga tahu kalau pagi ini Hendra datang ke kampus Maya untuk mengancam wanita itu. Dari orang suruhannya, Bhaskara juga mendapatkan informasi kalau sebenarnya Hendra bukan ayah kandung Maya, bahkan lelaki itu sering melakukan KDRT pada Maya dan juga ibunya. "Baiklah, aku akan memberimu uang, tetapi ini untuk yang terakhir kali. Jangan lagi kamu memerasku." "Aku janji, Bhas. Terima kasih," balas Hendra senang. Lelaki itu tidak menyangka kalau Bhaskara akan dengan mudahnya memberikan uang. "Ingat, ini terakhir kali," tegas Bhaskara. "Iya, aku akan ingat," balas Hendra tak sabar. "Berikan nomor rekeningmu, aku akan transfer nanti." "Jangan ditransfer. Aku mau tunai saja. Aku butuh sekarang," tolak Hendra. Meski merasa kesal, Bhaskara tidak menolak permintaan Hendra. Lelaki itu mengambil sejumlah uang tunai dari dalam laci mejanya lalu memberikannya kepada Hendra. "Ini cukup?" tanya Bhaskara membuat kedua mata Hendra melebar sempurna. Lelaki itu menelan ludah saat melihat tumpukan uang yang diberikan Bhaskara kepadanya. Kira-kira jumlahnya hampir 100 juta. "Cukup, Bhas. Terima kasih," ucap Hendra sembari mengulurkan tangan hendak mengambil tumpukan uang tersebut) Namun, Bhaskara menahannya. "Tunggu dulu! Semua ini nggak gratis." "Apa maksudmu, Bhas?" "Kamu harus tanda tangan surat perjanjian, bahwa kamu tidak akan meminta uang lagi padaku." "Aku akan tanda tangani surat apapun, asalkan uang ini bisa segera aku bawa pergi sekarang juga," balas Hendra yang sudah gelap mata membuat Bhaskara tersenyum licik. Lelaki itu mengambil selembar kertas kosong dan menempelnya dengan materai lalu menyodorkannya kepada Hendra. "Karena aku belum sempat membuat surat perjanjiannya, sekarang kamu tanda tangan dulu di sini. Nanti biar Roy yang mengetikkan surat perjanjiannya," ucap Bhaskara sembari mengambil pena dan memberikannya kepada Hendra. Tanpa berpikir panjang, Hendra pun menandatangani kertas kosong di atas materi tersebut, lalu mengembalikannya kepada Bhaskara. "Baiklah, uang ini sekarang milikmu. Kamu boleh pergi. Ingat, jangan lagi kembali ke sini dan meminta uang padaku," tekan Bhaskara. Hendra pun mengangguk sambil tersenyum dan mengambil uang tunai 100 juta tersebut, lalu masukkannya ke dalam tas. "Terima kasih, Bhas. Aku tidak akan meminta uang lagi padamu setelah ini," ucap Hendra sembari beranjak meninggalkan ruangan Bhaskara. Sementara itu, Roy yang sejak tadi mengawasi apa yang dilakukan Bhaskara dari luar ruangan, segera masuk mendekati majikannya. "Kenapa Anda memberikan lelaki itu uang lagi, Pak? Dia akan terus menggunakan anaknya untuk memeras Anda," ucap Roy setelah Hendra keluar ruangan. "Aku hanya ingin berbaik hati padanya agar dia punya uang untuk sembunyi dari kejaran polisi," balas Bhaskara membuat Roy bingung. "Maksud Anda?" "Aku sudah menipunya. Dia itu lelaki bodoh," kekeh Bhaskara membuat Roy semakin bingung. "Saya masih belum paham, Pak." Mendengar ucapan Roy, Bhaskara menunjukkan kertas kosong yang sudah ditempel materai dan juga tanda tangan Hendra sambil tersenyum licik. "Anda benar-benar cerdik, Pak," ucap Roy setelah menyadari kebodohan Hendra. "Apa yang akan Anda lakukan dengan kertas kosong itu?" tanya Roy sembari duduk di hadapan majikannya. "Tolong kamu tuliskan di dalam kertas ini, seolah-olah Hendra mengakui semua kejahatannya termasuk pernah menjual istrinya sampai punya anak dan sering melakukan KDRT, lalu bawa surat ini ke Kantor Polisi. Aku Ingin lelaki itu masuk penjara karena dia hanya akan menjadi benalu bagiku." "Dari mana Anda tahu semuanya, Pak?" tanya Roy heran. "Aku sudah menyuruh orang untuk mengawasinya beberapa hari ini dan mencari informasi dari teman-temannya nongkrong. Bahkan menurut teman-temannya, Hendra sempat hendak menodai Maya sehari sebelum dinikahkan denganku. Dasar kurang ajar! Benar-benar manusia tak berotak," umpat Bhaskara kesal. Setelah mendengar penjelasan majikannya, Roy mengangguk paham, lalu mengambil kertas kosong itu dan melaksanakan apa yang diperintahkan Bhaskara. Sementara itu di tempat lain Hendra yang membawa uang tunai 100 juta dari Bhaskara berniat mempergunakannya untuk bermain judi. Namun, sebelumnya lelaki itu terlebih dahulu check in ke hotel dan memesan wanita penghibur. Menjelang malam, Hendra bersiap untuk check out dari Hotel setelah menikmati permainan panas dengan wanita penghibur yang ia sewa. Lelaki itu berniat untuk pergi ke tempat biasa ia bermain judi dengan teman-temannya. Namun, salah seorang temannya menelpon sebelum dia meninggalkan hotel. "Gawat, Hen." "Ada apa?" "Kamu sekarang di mana?" "Aku baru saja check out dari Hotel. Memang kenapa?" tanya Hendra penasaran. "Di sini banyak polisi mencarimu. Mereka membawa surat penangkapan resmi. Sepertinya mereka sudah mencarimu ke rumah, tapi kamu nggak ada dan sekarang mereka sudah mengepung tempat nongkrong kita. Kamu harus segera pergi sejauh mungkin dari Surabaya." "Apa? Memangnya atas dasar apa mereka menangkapku?" "Aku juga nggak tahu. Sepertinya ini tentang kasus KDRT." "Apa? s**t!" umpat Hendra kesal. Lelaki itu menyudahi panggilan kemudian segera memesan taksi dan meluncur ke Terminal. Bus adalah transportasi paling aman baginya saat ini untuk menghindari polisi. "Siapa sebenarnya yang melaporkanku? Apa mungkin Maya?" batin Hendra geram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD