Bab 8. Lapor Polisi

1140 Words
"Mau apa Ayah ke sini?" tanya Maya dengan perasaan cemas. Wanita itu yakin Hendra sudah menyadari kalau ibu dan adiknya tidak berada di rumah. Namun, Hendra tidak menjawab pertanyaan Maya. Lelaki itu justru menarik pergelangan tangan anak sambungnya dan membawanya ke tempat yang sepi di belakang kampus. "Apa Weni dan Nathan tinggal bersamamu di rumah Bhaskara?" tanya Hendra setelah melepas tangan Maya. Wanita itu terdiam memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan agar sang ayah tidak marah. "Kenapa diam saja? Apa Weni dan Nathan tinggal di rumah Baskara?" ulang Hendra membuat Maya terhenyak dari lamunan. "Bukannya mereka di rumah, Yah?" balas Maya pura-puta tak tau. "Mereka tidak ada di rumah. Kamu pasti tahu mereka di mana," ucap Hendra sembari mencekal kedua lengan Maya. "Aku nggak tahu, Yah. Mungkin Ibu ke sekolah Nathan." Maya masih pura-pura tidak tahu. "Di sekolahan juga tidak ada. Bahkan kata gurunya, Nathan sudah meminta surat pindah sekolah. Kamu pasti tahu tentang semua ini. Cepat katakan di mana mereka!" paksa Hendra sembari menpererat cengkramannya di lengan Maya. "Sungguh, Yah. Aku tidak tahu. Sejak menikah, aku kan ikut ke rumah Om Baskara dan belum menghubungi Ibu sama sekali," bohong Maya. Namun, Hendra tidak lantas percaya begitu saja. Lelaki itu mendorong tubuh Maya lalu menatap anak sambungnya itu dengan tatapan tajam. "Kamu tahu akibatnya kalau berbohong sama Ayah?" "Sungguh, Ayah. Aku tidak bohong," ucap Maya dengan bibir gemetar. Wanita itu berusaha menguasai diri agar tidak tampak berbohong di depan sang ayah. "Ingat, Maya. Kamu sudah janji akan menjadi budakku. Berikan semua uang nafkahmu dari Bhaskara untukku." "Tapi, Yah. Bukankah uang 100 juta dari Om Bhaskara juga sudah Ayah bawa?" "Uang itu sudah habis." "Apa? Habis? Baru kemarin dan sudah habis?" Maya merasa geram karena uang mahar dari Bhaskara 100 juta yang dibawa ayahnya ternyata sudah habis. Bagaimana mungkin lelaki pengangguran itu bisa dengan cepatnya menghabiskan uang sebanyak itu. "Aku tidak punya uang, Ayah. Om sekarang belum memberiku uang lagi." "Jangan tunggu dia memberi, May. Kamu harus minta. Minta uang yang banyak dan berikan pada Ayah." "Nggak mungkin, Yah. Baru kemarin dia ngasih aku uang mahar. Masak iya sekarang udah minta uang lagi," tolak Maya. "Kalau kamu tidak menurut apa yang Ayah bilang, maka selamanya kamu tidak akan pernah bertemu dengan ibumu ataupun Nathan lagi. Ingat, May! Aku bisa suruh orang untuk mencari keberadaan mereka." "Ayah, bertobatlah! Tolong jangan sakiti ibu dan Nathan. Apalagi Nathan. Dia daerah daging ayah. Mereka keluarga Ayah," ucap Maya membuat Hendra tertawa. "Kamu pikir Nathan itu anakku? Kamu salah, May. Dia sama dengan kamu." "Apa maksud Ayah?" "Aku pernah menjual ibumu pada seseorang yang sangat kaya raya hingga hamil dan lahirlah Nathan. Aku menggunakan Nathan untuk memerasnya. Aku mendapatkan uang setiap bulan darinya, asalkan aku tutup mulut dan membuat rumah tangganya tetap baik-baik saja. Namun, sayangnya sekarang dia sudah mati. Jadi, sekarang Nathan sudah tidak berguna lagi buatku." Maya melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Hendra. Wanita itu tidak menyangka kalau suami ibunya sebejat itu. "Ayah benar-benar jahat, binatang!" maki Maya karena kesal. Hal itu justru membuat Hendra marah dan menampar wajahnya hingga hampir terjatuh. Namun, sebuah lengan kekar berhasil melindunginya agar tidak terjatuh. "Om apa-apaan ini? Kenapa Om begitu kasar kepada Maya?" tanya lelaki yang tidak lain adalah Aditya. Setelah memarkirkan mobil tadi, lelaki itu mencari Maya. Menurut salah satu temannya yang sempat melihat, Maya dibawa seorang laki-laki ke area belakang kampus, sehingga Aditya berinisiatif untuk mengikutinya "Kamu jangan ikut campur. Maya adalah anakku dan aku berhak melakukan apa saja padanya," balas Hendra tak terima. "Om pergi dari sini atau aku akan lapor ke polisi karena tindakan KDRT." Setelah berkata demikian, Aditya meraih ponselnya dan menghubungi security untuk mengusir Hendra dari kampus. Tak berapa lama kemudian, dua orang petugas keamanan mengusir paksa lelaki itu dari area kampus. "Aku akan kembali, May!" teriak Hendra sebelum akhirnya dua orang security membawanya pergi dari tempat itu untuk diamankan. "Lo nggak papa, May?" tanya Aditya setelah Hendra dibawa pergi. "Gue baik-baik saja, Dit. Makasih sudah nolong gue," ucap Maya sembari berlalu meninggalkan Aditya. Namun, dengan cepat lelaki muda itu menahan lengannya. "Tunggu, May! Om Hendra itu benar ayah lo, kan? Apa lo sering diperlakukan kasar seperti tadi?" tanya Aditya heran. "Itu bukan urusan lo. Jadi, jangan ikut campur," balas Maya. "Tapi ini nggak bisa dibiarkan, May. Lo harus lapor polisi." "Iya, thanks sarannya. Nanti gue pikirkan lagi." "May!" panggil Aditya membuat Maya menghentikan langkah dan membalikkan tubuh menghadap ke arah lelaki itu. "Kalau lo butuh bantuan, gue siap bantu lo." "Hmm." "Apa Om Hendra juga yang memaksa lo menikah dengan Papa?" "Maaf, Dit. Gue sedang tidak ingin membahas itu. Thanks buat tumpangannya. Kita ketemu nanti jam pulang kuliah." Setelah berkata demikian Maya berbalik meninggalkan Aditya yang masih bengong. "Gue akan cari tahu sendiri, May. Kalau memang lo terpaksa menikah sama Papa, maka gue akan bantu lo buat keluar dari masalah ini dengan cara gue sendiri," batin Aditya sembari tersenyum dan memandang kepergian Maya. *** "Bagaimana kabar kamu, May? Apa Pak Bhaskara memperlakukanmu dengan baik?" tanya Weni lewat sambungan telepon. Siang itu setelah mengurus kepindahan sekolah Nathan, Rossa menghubungi Maya yang kebetulan sedang jam istirahat kuliah. "Alhamdulillah, Bu kabar Maya baik. Om Bhaskara memperlakukanku dengan baik. Ibu tidak perlu khawatir. Maya baik-baik saja," bohong Maya agar sang Ibu tidak kepikiran. "Kamu serius, May? Kamu tidak sedang membohongi Ibu, kan?" tanya Weni seolah tahu kalau putrinya sedang tidak berkata jujur. "Sungguh, Bu. Asalkan Maya patuh, pasti Om Bhaskara memperlakukan Maya dengan baik. Bahkan Maya diperbolehkan kuliah lagi dengan biaya dan uang saku darinya. Hanya saja--" "Hanya saja apa, May?" "Ayah masih saja memerasku. Ayah menyuruhku untuk meminta uang pada Om Bhaskara. Padahal baru kemarin Om Bhaskara memberikan 100 juta untuk mahar dan semua sudah dihabiskan Ayah. "Astaga, Hendra! Kapan dia bertobat? Ibu sudah lelah." "Kenapa Ibu tidak bercerai saja dengan lelaki biadap itu. Ibu pernah dijual pada orang kaya sampai punya anak Nathan. Kenapa Ibu bertahan sekian lama? Bucin boleh, Bu. Tapi jangan bodoh. Maya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Ibu." "Kamu sudah tahu semuanya, May?" "Iya, Bu. Lelaki biadap itu yang dengan bangga menceritakannya." "Maafkan Ibu, May. Dulu ibu sangat takut kalau Hendra menyakitimu. Berulang kali dia berkata akan merenggut kesucianmu jika Ibu tidak patuh. Ibu terpaksa mengikuti semua keinginannya agar dia tidak melakukan hal gila itu terhadapmu. Namun, sekarang Ibu sedikit tenang karena kamu sudah menikah dengan Bhaskara. Setidaknya Hendra tidak akan mungkin berani melakukannya kepadamu. Hanya saja Ibu takut kamu tidak bahagia, Maya. Bhaskara itu lebih pantas menjadi ayahmu," ucap Weni sembari terisak. "Kalau Ibu mengizinkan, Maya akan laporkan Ayah ke polisi." "Ibu terserah kamu saja, May. Ibu sudah lelah. Apa yang menurutmu baik, Ibu ikut saja." "Apa Ibu bersedia bersaksi atas kejahatan yang Ayah lakukan termasuk KDRT selama pernikahan?" "Insya Allah, May. Sudah saatnya kita melawan lelaki biadab itu. Kita sudah terlalu lama ditindas olehnya. Bebas pun dia tidak ada gunanya, malah membahayakan pada banyak orang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD